
Waktu yang ditunggu tunggu Haris datang juga, Haris memang sudah menunggu liburan panjang sekolah ini dengan cukup antusias, karena Haris punya janji dengan Natalia, Risda dan Asrul untuk melakukan perjalanan panjang menuju Kota Sibolga, Sumatera Utara, tanah kelahiran Haris, niat ini sudah ada sejak pertama kali Haris mengetahui keberadaan Risda.
Sudah puluhan tahun Haris tak kesana, bahkan ia juga tak tahu apakah paman dan bibinya, Jamil dan Mila masih ada atau tidak, sehat atau bagaimana, tapi Haris tetap bertekad untuk berangkat, soal bagaimana nanti saat sampai disana sama sekali tak Haris pikirkan, yang jelas berangkat saja dulu.
Haris hanya membayangkan hal yang indah indah saja, disana akan ketemu dengan paman dan bibinya, atau mungkin sepupunya, karena Haris tak tahu apakah pamannya sudah menikah atau bagaimana, Haris hanya yakin kalau ia akan menemukan banyak hal indah disana, itu saja.
Haris kadang memang mengutuk dirinya sendiri, mengakui jika prinsip dan sikap egois yang dilakoninya selama ini adalah tindakan yang sangat salah, kenapa ia sampai sebegitu butanya tentang keberadaan keluarganya, Haris tak pernah berpikir sedikitpun sebelum ketemu dengan Risda di pedalaman Kalimantan.
Sikap egois yang menguasai Haris selama ini membawanya ke setuasi ini, keadaan yang membuat Haris tak tahu apapun tentang keluarga besarnya. Haris berharap, dengan kembali ke tanah kelahirannya bisa membuka kran baru, inilah yang membuat Haris begitu semangat melakukan perjalanan ini.
Haris sudah sampai di Jakarta, Asrul dan Risda juga sudah berada di rumah Natalia, kesepakatannya juga sudah jelas. Dari Jakarta mereka naik pesawat menuju Padang, di sana ada kantor perwakilan perkebunan, singgah sebentar kesana untuk ambil mobil, baru kemudian jalan darat menuju Kota Sibolga, ini akan menjadi perjalanan panjang pertama mereka.
Soal sopir tentu tak jadi persoalan, mereka berempat yang akan berangkat sama sama memiliki kemampuan yang baik soal mengemudi, tapi perempuan tak mungkin menjadi pilihan utama, sebaiknya mereka santai saja menikmati jalanan, sehingga nantinya hanya Haris dan Asrul yang gantian.
Bagi Asrul hal itu bukan satu dilema, sudah beberapa kali keluarganya berangkat dari Jakarta menuju Padangsidimpuan, kampung ibunya, bahkan jalan darat sejak dari Jakarta, perjalanan yang memakan waktu berhari hari, pernah sekali, Asrul yang menjadi sopir sejak turun dari kapal di Bakauheni hingga mencapai rumah kakeknya di Padangsidimpuan.
Pesawat yang membawa mereka sudah mendarat di Bandara Internasional Minangkabau, dulu namanya Bandara Tabing, pihak perwakilan perusahaan juga sudah menunggu, sehingga tak butuh waktu lama mereka sudah memasuki jantung Kota Padang, Risda yang paling antusias, karena memang ini pengalaman pertamanya melihat langsung Kota Padang, belum pernah kemari sebelum ini.
Hadi tampaknya memang paham, ia memang bersengaja lewat jalan ini, padahal ada jalan lain yang lebih dekat, tapi Hadi ingin menunjukkan wajah Kota Padang dari pinggiran pantai, konsep ini ternyata benar benar disambut, khususnya Risda. Walau pantai bukan hal baru, tapi yang namanya pantai selalu menarik hati Risda.
Risda langsung sumringah melihat keindahan pinggiran pantai Kota Padang, pantai yang berada di dalam kota, tapi sangat bersih dan banyak fasilitas yang dibangun, walau tampak sederhana, tapi cukup menarik perhatian dan dapat memanjakan mata, wajar jika banyak pengunjung yang rela datang jauh jauh ke sini.
Photo photo, akan selalu begitu. Natalia mau tidak mau harus menjadi photografer untuk putri dan menantunya, sebenarnya Asrul sudah sangat jengah, segan dan sangat malu, bagaimana ia bisa berpose mesra, memang tak apa apa, teman mesranya adalah istrinya sendiri, masalahnya yang mengambil photo adalalah ibu mertuanya dan dari jarak yang tak jauh, ayah mertuanya nonton sambil tersenyum.
Sudah berulangkali Asrul meminta Risda stop, tapi Risda terus memaksa, sialnya Natalia malah bukan hanya ambil photo, bahkan menjadi pengarah gaya. Kepala Asrul sudah terasa membesar, tapi Risda ya tetap Risda, belum juga selesai inginnya dan Asrul hanya bisa geleng kepala, risih tiada terkira.
“Sudah dong Dek, sana gih photo sama Mama, biar Abang yang ambil”.
Risda malah merengut. “Disitu cantik lho Bang, ayuk …”.
Asrul pasrah lagi. Untungnya tak berlangsung lama, kini tinggal satu photo lagi, berempat, karyawan perusahaan yang tadi menjemput menjadi juru photo, semua tertawa renyah karena sang karyawan Hadi, ternyata suka melucu dan berhasil membuat suasana menjadi meledak penuh tawa.
“Kita langsung ke kantor saja Di”.
Hadi anggukkan kepala. “Siap Pak Ris”.
Haris merasa perlu singgah sebentar di kantor perwakilan, bukan hanya untuk mengantar Hadi, tapi juga Haris ingin bertemu dengan kepala perwakilan disini, Indra Muliawan. Selama ini, mereka hanya bincang lewat telephon, tapi belum pernah ketemu langsung, sehingga Haris merasa perlu untuk sekedar berbincang.
“Selamat datang Pak Haris, mari masuk”. Indra ternyata sudah menunggu.
Haris ikut tertawa kecil. “Sehat Pak Indra ?”.
Indra mengacungkan jempolnya. “Aman dan Terkendali Pak Ris”.
Berikutnya kedua orang ini terlibat omongan serius, tentu mengenai perusahaan dan perkembangan yang saat ini sedang berlangsung, Natalia, dan Risda hanya diam saja, sama sekali tak paham apa yang sedang Haris dan Indra bicarakan, sedikit beda dengan Asrul, karena Asrul bahkan pernah terlibat langsung dengan proyek Key Performance Indeks (KPI), sehingga cukup paham.
__ADS_1
Sebenarnya Asrul malah ingin menyela, karena ia menemukan celah yang kurang pas dalam perbincangan soal KPI itu, tapi Asrul segan, Asrul tak punya keberanian untuk ikut ikutan, ia tak punya kaitan apa apa dengan perusahaan, sehingga Asrul memilih diam walau hatinya pingin untuk meluruskan.
Ada banyak alasan tentunya, Asrul juga belum tahu sifat orang yang berbincang dengan ayah mertuanya, belum tentu juga orang yang bisa menerima jika dicampuri saat sedang berbicara, diam dan mendengar, adalah pilihan yang paling baik, Asrul lebih memilih itu.
Untungnya pembicaraan tak lama berganti topik, kini membahas soal keberangkatan Haris dan keluarganya menuju Kota Sibolga, dari sini masih butuh waktu lebih dari 12 jam, itupun dengan kecepatan yang standar, jika berjalan lamban, setuasinya tentu akan berubah, akan ada banyak tambahan waktu.
“Jadi Pak In, kita pakai mobilnya beberapa hari nggak masalah kan ?”.
Indra senyum saja. “Nggak masalah Pak Ris. Perlu sopir ?, penunjuk jalan ?”.
Haris menggeleng. “Nggak Pak In. saya masih kelahiran Sibolga, saya tahu semuanya, ibu dari menantu saya ini juga masih asli Padangsidimpuan, dia sudah berulang kali kesana, jadi aman”. Haris mengacungkan jempolnya.
Indra mengangguk. “Oh ya … Okey kalau begitu Pak Ris”.
Haris berdiri. “Kalau begitu, kita berangkat dulu Pak In”.
Indra sedikit mendelik. “Ini sudah lumayan sore lho Pak ?”.
Haris menggeleng. “Anak anak maunya nginap di Bukit Tinggi Pak”.
Indra anggukkan kepala. “Kalau begitu, okelah Pak Ris.
Indra menerima jabat tangan erat Haris, Indra masih terus anggukkan kepala, menginap di Bukit Tinggi termasuk pilihan yang bagus juga. Disana akan ada banyak yang bisa di nikmati, utamanya Jam Gadang. Melihat Jam Gadang di waktu malam memiliki nilai tersendiri.
Ini yang membuat Indra hanya mengangguk saja, malah setuju dengan kesimpulan Haris, lagipula jarak Kota Padang ke Kota Bukit Tinggi dalam waktu normal bisa di tempuh hanya dua jam saja.
Benar saja, Risda yang langsung duluan turun, bahkan mobil belum rapi benar cara parkirnya, Asrul kembali hanya bisa menggeleng, mengikuti instruksi juru parkir hingga mobil benar benar nyaman. Haris turun dan mendekati Risda, ia tahu persis bagaimana istrinya kalau melihat panorama alam seperti ini, langsung tak sabaran.
Terulang lagi, Risda kembali meminta ibunya menjadi juru photo, walau mendesah dan masih kurang terima, Asrul tak bisa mengatakan apapun, kali kedua harus ikuti apapun yang diinginkan istrinya Risda, Asrul sudah tak tahu bagaimana gambarkan rasa segannya kepada sang mertua, tapi melawan keinginan Risda sama saja memetik luapan badai merajuk, Asrul tak akan sanggup menelannya.
Perjalanan akhirnya lanjut, mereka memasuki Kota Bukit Tinggi saat adzan maghrib berkumandang, Asrul memasuki kompleks masjid, semuanya ikut turun untuk melaksanakan shalat, kecuali tentunya Natalia, ia memilih tetap di dalam dengan membuka sedikit pintu mobil, Natalia agak segan juga untuk turun.
Usai makan malam, Asrul langsung mengarahkan mobil menuju Jam Gadang, begitu melihat apa yang terpampang di depannya, Risda begitu gembira, kalau ia Ariana, dapat dipastikan akan melompat lompat kegirangan, ini tempat yang sangat Risda impikan selama ini.
Risda selalu berharap sampai kesini, sehingga begitu melihatnya dengan mata kepala sendiri, Risda girangnya minta ampun. Suasana Jam Gadang saat malam hari memang melahirkan aroma romantis. Asrul lega kali ini, Risda memilih selfie saja berdua, tak lagi memaksa ibunya menjadi juru photo.
Haris dan Natalia yang sekarang duduk dan terus memperhatikan Asrul dan Risda sama sama senyum sumringah dengan isi pikiran masing masing, muara dari pikiran mereka sama persis sebenarnya, baik Haris maupun Natalia sama sama sangat bahagia melihat Sang Putri yang begitu gembira dengan suaminya.
“Belum ada tanda tanda kita bakal punya cucu ya Dek ?”.
Natalia agak mendesah. “Tampaknya belum Bang”.
“Sudah berapa tahun mereka menikah ?”.
Natalia tampak seperti menghitung. “Sudah lebih dua tahun ya Bang ?”. Natalia malah jadi bertanya.
__ADS_1
Haris tampak anggukkan kepala. “Iya juga ya, sudah lebih dua tahun”.
Keduanya kini sudah mengitari semua sudut kompleks Jam Gadang dengan pandangan masing masing, tapi tak menemukan Asrul dan Risda, entah kemana keduanya menghilang. Tapi Haris dan Natalia tentunya tak perlu pusing dengan itu, kemanapun keduanya pergi, tentu tak mengapa.
“Kita nginap disini atau lanjut saja Bang ?”.
Haris menggeleng. “Kita tanya Asrul sama Risda saja, kalau mereka bilang nginap, kita nginap, kalau mereka bilang lanjut, kita lanjut”.
Natalia tertawa kecil, jawaban Haris menurut Natalia memang yang terbaik, saat ini hidup Natalia memang hanya untuk Risda, apapun dan bagaimanapun keputusan yang Risda ambil bagi Natalia itulah yang paling benar, Natalia akan melakukan apapun untuk Risda, apalagi kalau hanya sekedar keputusan, Natalia siap menerima keputusan apapun yang Risda ambil.
Faktanya, ada kebahagiaan besar yang saat ini terus menerus mampu menguasai isi hati Natalia, ada banyak perubahan yang begitu signifikan, perubahan perubahan yang mengarahkan Natalia langsung ke pintu gerbang kebahagiaan, terutama soal menantunya.
Sejak menikah dengan Risda dan hingga saat ini, Asrul malah lebih intens berkomunikasi dengan Natalia, Asrul bahkan sering menemuinya tanpa Risda dimana saja, di rumah, di sekolah, di bimbel, kadang kadang hanya untuk mengantar makanan kesukaan Natalia, itu hal yang selama ini membuat Natalia semakin nyaman menjalani hidup, ada banyak kebahagiaan yang menghampirinya.
Yang dibayangkan Haris bagaimana nanti kalau dia punya cucu, bagaimana ia bisa menahan rindu, pasti Haris akan bolak balik Kalimantan Jakarta, itu sudah pasti. Sekarang saja, Haris sudah tak kenal waktu jika ingin menuju Jakarta, ada waktu libur sehari dua hari saja, Haris langsung terbang, konon lagi kalau nanti ada cucu, pasti lebih parah lagi nantinya.
Haris senyum sendiri, ia yakin kejadiannya akan begitu, itu sudah sangat pasti, sedang pada putrinya saja Haris tak mampu tak bertemu lama, bagaimana pula nanti dengan cucunya. Ah, Haris menghusap muka, tak berani membayangkannya berlama lama, itu akan membuatnya melayang terlampau jauh.
Haris memeluk bahu Natalia, dengan begitu, Natalia menyandarkan kepala ke bahu Haris. Ini juga posisi yang selalu Natalia rindukan, bisa bermanja manja pada abangnya. Haris adalah satu satunya abang kandung Natalia, kisah mereka yang terlampau buruk membuat Natalia selalu ingin dekat dengan abangnya.
Natalia langsung menegakkan badannya saat Asrul dan Risda muncul dengan banyak bungkusan plastik, Natalia senyum lebar, ia tahu itu pasti makanan kecil khas Bukit Tinggi, Natalia juga sangat suka makanan kecil, dulu ia pernah juga sekali makan yang berasal dari sini, dan itu enak.
Belum sempat duduk, Asrul sudah bicara. “Kita lanjut saja kenapa Yah ?, kita nanti istirahat di Madina saja, supaya siang besok kita sudah di Sibolga”.
Haris menggeleng. “Terserah saja Rul. Ayah siap siap saja”.
“Kalau kita nginap disini Yah, bisa malam kita baru nyampai tu, bagaimana Yah ?, maksudnya supaya nyaman saja”. Jelas Asrul lebih lanjut.
Haris angkat bahu, Natalia tak ada respon, tapi Risda agak mendelik. “Madina ?”.
Asrul menatap ke Risda. “Kenapa Dek ?”.
“Madina apanya Bang ?”. Risda masih tampak bingung.
“Madina, kenapa ?”.
Risda kembali geleng kepala. “Iya, memang Madina ?”.
Asrul tertawa kecil, malah mengucek kepala Risda yang langsung manyun, Haris dan Natalia hanya senyam senyum saja, ada banyak yang lucu menurut keduanya, terutama melihat bibir Risda yang manyun itu.
“Madina yang ini bukan Madina yang Adek kira, itu singkatan sayang, panjangnya Mandailing Natal, itu Kabupaten perbatasan Sumatera Barat dengan Sumatera Utara, itu lho Dek, yang ada Pesantren besar itu”.
Risda menggeleng, memang nggak tahu. Tapi kesepakatan sudah diambil, semuanya langsung beranjak ke mobil, masih Asrul yang pegang stir, rasanya kurang bagus juga jika Asrul yang masih fit malah memberikan stir ke ayah mertuanya, Haris juga tampaknya paham, ia santai saja, Haris 100% yakin dengan kemampuan Asrul, atau bahkan Asrul malah lebih bagus dari Haris malam malam begini.
Perjalanan belum beberapa menit, Asrul sudah harus menggelengkan kepala, tapi tetap saja menepi, Risda melihat ada penjual makanan kecil yang berderet panjang begitu mereka keluar dari Bukit Tinggi, salahsatu pusat penjualan oleh oleh khas Bukit Tinggi.
__ADS_1
Asrul menggeleng bukan karena apa, toh di bagasi sudah sangat banyak makanan kecil yang bisa jadi bentuk dan rasanya serupa, bahkan di pangkuan Risda juga ada yang sudah terbuka, belum habis malah, tapi masih mau beli juga. Tapi itu tadi, keinginan Risda bagi Asrul adalah prioritas utama, sehingga akan selalu ikut dengan apa yang Risda mau, walau ada kesal kesalnya.
…. Bersambung …