Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
Membelah Hutan Di Malam Buta


__ADS_3

Risda melihat kalender yang tergantung di kamarnya dan melihat coretan yang ia buat, Risda menghitung dengan jarinya, benar. Risda dan Asrul sudah memasuki penghujung perjalanan menjalankan tugas di pedalaman Kalimantan ini.


Jika dihitung, waktu yang sudah mereka lewati sudah begitu banyak, tak terasa waktu begitu cepat, saat ini Risda sudah memasuki fase terakhir, jika waktu disini dibagi tiga fase, awal, tengah, dan akhir.


Bahkan di fase akhir ini sudah dijalani lebih separuhnya. Risda bersyukur hingga saat ini ia belum menemukan kendala apa apa, semuanya masih berjalan lancar dan berjalan cukup baik dan memuaskan.


Bahkan tak ada program mereka yang mandeg dari segi apa saja, semuanya berjalan sesuai rencana, nyaris tanpa kendala. Sokongan datang dari banyak pihak, tidak hanya sekolah tempat mereka mengabdi, pemerintah desa dan lainnya.


Ada satu pihak yang banyak menyokong dari segi dana, Haris, yang Risda kenal dengan panggilan Pak Nas. Ya, Haris memang selalu tampil kedepan untuk mensupport Risda dan Asrul, bahkan volume hadirnya terus meningkat.


Dari sekali sebulan, menjadi dua kali, hingga kemudian sekali seminggu. Sekarang malah kunjungan Haris ke desa tempat Risda mengabdi meningkat tajam menjadi dua kali dalam seminggu, Asrul yang tahu hanya senyum saja, Risda yang malah tak tahu apa apa, kini sudah sangat dekat dengan Haris.


Acara sekarang lebih banyak tentang administrasi, kunjungan dan visitasi, praktis Risda hanya mengajar tiga hari saja dalam seminggu, karena waktu banyak habis untuk kunjungan ke kota, baik ke ibukota kecamatan, kabupaten, hingga sampai juga ke ibukota provinsi.


Letih, mungkin itu yang paling pasti, kenapa tidak, pagi pagi sekali sekarang biasa harus naik perahu hingga berjam jam untuk mencapai ibu kota kecamatan, naik ojek lagi dengan medan yang luar biasa untuk mencapai ibukota kabupaten.


Jika tak memungkinkan, terpaksa harus menginap, perjalanan yang memakan waktu separuh hari hanya untuk mengejar seminar yang tak sampai dua jam, kadang malah tidak sampai, kemudian akan menghadapi perjalanan kembali, yang sama saja panjang jalan ceritanya.


Tapi, itu masih mendingan, yang paling luar biasa, sudah naik perahu, jalan kaki, naik ojek baru angkutan umum untuk mencapai tempat pertemuan, dan ternyata pertemuannya di tunda karena yang bersangkutan sedang ada urusan, begitu ketemu, pertemuannya tak sampai lima belas menit.


“Di Jakarta, macet berjam jam itu biasa, tapi kita hanya duduk menunggu, semuanya pada waktunya akan lancar lagi. Kita ini, entahlah …”.


Asrul hanya tertawa melihat resah Risda. “Kita hanya tiga tahun begini Ris, tapi kita sudah mengeluh, bagaimana mereka yang memang tinggal disini, apa kira kira yang bisa mereka keluhkan ?”.


Risda menggeleng. “Itu nggak urusanku”. Ketus Risda.


“Terserah elu, mau ngurus atau kagak. Yang jelas, apa pentingnya elu ngeluh”.


Risda menatap Asrul agak lama, kembali geleng kepala. “Aku capek Rul, capek”.


“Itulah salah satu kekurangan lu Ris, lihat gua, aman aman aja”.


Risda mendelik. “Apa kau bilang ?, aman ?, sok. Bukan you yang tadi ngos ngosan, sok ente ?”.


Asrul malah tertawa. “Lu lahir dan besar di Jakarta Ris, emang elu turunan Sumatera Utara, gua tahu, tapi lu kagak cocok galak tau ?”.


Risda mendengus. “Terserah”.


“Ris. Gua bilang ke lu ya, kalau marah itu ati ati dikit”.


Mata Risda melotot. “Emang kenapa ?”.

__ADS_1


“Lu makin cantik, sumpah”.


Untung Asrul segera menghindar, kalau tidak sepatu Risda mungkin sudah mendarat telak di bahunya. Asrul kembali tertawa, tapi tak lama, ia kembali duduk di samping Risda, merasa aman, karena Risda sudah balik pakai sepatunya.


“Kita balik atau gimana nih Ris, nginap aja kitanya ?”.


Risda membuang nafas berat. “Aku kurang yakin jalan malam diatas perahu Rul, lebih baik kita nginap saja ya”. Risda malah memohon.


“Kenapa ?, itung itung pengalaman”.


Asrul malah menggoda, padahal dia juga bergidik membayangkan akan jalan malam di atas perahu yang jelas jelas tak ada lampunya. Asrul malah membayangkan film film anaconda, bukannya banyak film itu lokasi shootingnya di Kalimantan sini, bulu kuduk Asrul malah sudah berdiri.


Tiba tiba Risda sumringah, malah menampar bahu Asrul pelan. “Iya juga ya Rul, pasti seru itu. Kapan lagi kita melihat hutan kalimantan saat malam, iya kan ?”.


Asrul malah jadi pucat. “Yang serius lu Ris”.


Risda masih tampak ceria. “Iya Rul, kita pulang saja. Penasaran saya”.


Asrul benar benar sangat pucat. “Lu serius napa Ris ?”.


“Ini serius. Telephon Pak Buang cepetan, tungguin kita”.


“Ogah”.


Asrul menghusap wajahnya. “Gua .. gua .. ah, sudah lah Ris, kita nginap saja”.


Kening Risda makin berkerut. “Lho, kenapa memang ?”.


“Gua takut”.


Tawa Risda langsung pecah. Risda malah ambil ponsel dari tangan Asrul dan benaran hubungi Pak Buang. Asrul sudah tak tahu menggambarkan perasaannya, Asrul tak bisa membayangkan jika benaran pulang, malam malam diatas sungai menerobos hutan, mau nyari penyakit apa ?.


Wajah Asrul benar benat memutih, Risda serius meminta Pak Buang menunggu, dan Asrul tak bisa ngomong karena tahu jika Pak Buang mengatakan iya. Itu artinya mereka akan benar benar menerobos hutan saat malam, Asrul benar benar tak yakin ia bisa tenang.


“Ris, nggak usah napa Ris, kita nginap saja lah”. Kini Asrul benar benar memohon.


“Lu aja yang nginap, gua pulang. Besok gua ada kelas, terserah lu”.


“Please Ris, kita nginap saja”.


Risda tetap menggeleng. “Lu aja yang nginap”.

__ADS_1


Asrul menggeleng. “Benaran Ris. Terserah lu, gua nginap, lu mau balik, balik aja sendiri, gua disini”.


Risda ikut menggeleng. “Terserah lu, gua mah balik”.


Asrul jadi serba salah, untung yang ditunggu muncul juga, Asrul jadi beralih fokus pada urusan yang memang menjadi tujuan mereka datang kesini, dan benar saja, apa yang mengharuskan keduanya sampai berjibaku dengan banyak hal, tak memakan waktu lama, semuanya selesai bahkan tak sampai sepuluh menit.


Keluar dari ruangan, Asrul masih belum yakin untuk pulang, malah sudah nanya nanya dimana tempat menginap yang aman dan bagus. Asrul sudah mendapatkan infonya dengan lengkap, tapi tampaknya Risda serius ingin pulang, malah kembali hubungi Pak Buang mengatakan mereka akan menuju pelabuhan desa.


“Kalau kau mau nginap, nginap saja Rul, berarti aku pulang sendiri”.


Asrul masih menggeleng. “Lu serius napa Ris ?”.


“Yang nggak serius siapa ?”.


Asrul benar benar pusing. “Benaran lu balik ?, nggak takut ?”.


Risda menggeleng. “Nggak”.


“Serius napa Ris ?”.


Risda balik menggeleng. “Sudah sudah, aku duluan”.


Risda langsung menuju ojek yang memang sudah menunggu, Asrul menepuk jidat dan mengikuti Risda yang sudah berada di atas ojek. Apa boleh buat, Asrul tetap ikut, tak mungkin rasanya membiarkan Risda sendiri, bathin Asrul tak menerima itu, dengan segala gundahnya, Asrul juga naik ojek dan meluncur menuju pelabuhan.


Asrul tak mungkin bisa membiarkan Risda pulang sendiri, walaupun sebenarnya Asrul juga nggak bakal banyak manfaatnya, nggak mungkin juga bisa menolong Risda jika sesuatu yang tak di inginkan terjadi, tapi setidaknya Asrul yakin, Risda akan lebih tenang jika ia ada, itu saja.


Keduanya sampai ke pelabuhan desa yang sebenarnya orang sini juga menyebutnya tangkahan, hanya tempat sandar perahu saja, dibuat dari papan yang di susun rapi, dengan tiang pohon kelapa, walau tampak kuat, tapi saat diinjak goyang juga.


Asrul hanya geleng kepala melihat gaya Risda, saat mereka bertemu pandang, enak saja Risda meruncingkan bibirnya dan langsung buang muka. Asrul sebenarnya ingin tertawa, tapi membayangkan apa yang akan dihadapi nanti, bibit tawa Asrul sudah layu sebelum tumbuh, bahkan daunnya sudah kering dan rontok ke tanah.


Perjalanan dimulai, awalnya memang indah, pemandangannya sangat menggoda dan memanjakan mata, tapi itu hanya berlangsung tak sampai dua jam lamanya, kini alam mulai kehilangan sinar, pertama masih ada yang bias di pandang, tapi menit berikutnya semuanya gelap.


Risda beralih duduk ke samping Asrul, dalam hati Asrul mulai mengutuk, tadi sok, sekarang malah mendekat, tapi Asrul juga paham, apapun itu, di suasana ini, bagi Risda tentunya, duduk dekat Asrul adalah tempat yang paling tepat dan pilihan terbaik yang bisa di ambil.


Semuanya tak ada yang terlihat, sialnya perahu memang sama sekali tak ada penerangan apapun, bahkan saat Asrul menghidupkan senter ponselnya, langsung di larang, karena dianggap dapat mengundang binatang, utamanya ular.


Kali ini yang pucat tidak hanya Asrul, tapi Risda juga. Risda tak menyangka jika akan segelap ini, untung bulan ada nampak, tapi sama sekali tak memberikan solusi apapun, semuanya tetap saja gelap, bahkan lebih pantas di sebut pekat.


Sunyi, yang terdengar hanya suara mesin perahu dan semilir angin yang membuat daun saling bergesek. Risda hampir meloncat saat ada yang terdengar berisik di air dan ada keributan di hutan, sangat jelas terdengar, tapi tak tahu apa, untuk bertanya, keduanya sama sama tak berani.


Sekarang jemari Risda kuat menggengam jemari Asrul, bahkan Asrul merasakan getar tangan Risda yang menggigil plus dingin. Artinya, Risda sekarang dalam posisi yang begitu ketakutan. Asrul buang nafas dan benar benar menyesal.

__ADS_1


Ada rasa kesal, marah, dan entah apa lagi, tapi semuanya tak guna, mereka sudah terlampau jauh masuk menerobos hutan, mau ngajak balik juga tidak mungkin. Sehingga yang bisa Asrul lakukan hanya berdo’a semoga mereka dapat tiba cepat dan dalam keadaan yang selamat.


… Bersambung …


__ADS_2