Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
Memulai Hidup di Pedalaman


__ADS_3

Dari kerumuhan warga, muncul dua anak kecil yang memegang kalungan bunga yang jelas terlihat merupakan rangkaian sendiri. Merasa paham dengan keinginan sang anak kecil, Risda langsung jongkok didepan anak kecil itu, berbagi senyum dulu baru sang anak mengalungkan bunga keleher Risda, spontan Risda memeluk yang dibalas sang anak dengan hangat dan kuat.


“Namanya siapa ?”.


“Meilani Bu”.


“Kelas berapa sekarang ?”.


“Kelas satu Bu”.


Risda mengelus kepala Meilani perlahan. “Terima kasih ya …”.


“Sama sama Bu”.


Risda berdiri lagi dan langsung mengikuti Asrul yang menyalami banyak warga yang menyambut mereka. Warga mengarak Risda dan Asrul ke balai desa dengan terus tertawa dan bernyanyi gembira. Ini yang membuat Risda maupun Asrul merasa bagai orang penting dari Ibukota.


Sambutan ini memang tak bernilai mewah, tapi ungkapan dan nyanyian mereka membuat suasana sangat riuh dan gembira, satu sambutan luar biasa yang Risda dan Asrul sama sekali tak pernah menyangka akan mereka terima.


Waktu berjalan tampak cukup cepat, saat sore menjelang semua sudah kembali kerumah masing-masing. Risda dan Asrul masih terus menerima jabat tangan para warga yang hendak pulang, penuh tawa dan senyum yang saling balas membalas, keadaan baru lengang saat maghrib menjelang. Risda dan Asrul beranjak menuju rumah yang bakal menjadi tempat tinggal mereka.


“Ini kamar Bu Risda, yang sana Kamar Pak Asrul. Silahkan Pak, Bu..”.

__ADS_1


Risda dan Asrul hanya tersenyum dan beranjak menuju kamar masing masing. Risda agak terkejut melihat kondisi kamarnya yang lumayan bagus, jauh dari apa yang dibayangkan sebelumnya.


Kamar yang diberikan kepadanya ini sama sekali tak ada samanya dengan cerita teman temannya dulu yang mengatakan fasilitas didaerah yang bakal ditempati jauh dari kata layak.


Risda duduk ditempat tidur yang pakai kasur cukup bagus. Tangan Risda menuju saku celananya dan mengambil HP yang ada disana. Kali ini Risda baru tepuk kepala, tak ada sinyal sama sekali.


Ini satu dari sekian yang benar dari apa yang disampaikan pihak kampus saat pembekalan mereka sebelum berangkat dulu, saat berada di lokasi mengajar, komunikasi dengan keluarga dalam bentuk apapun akan sangat terganggu.


"Rul". Sapa Risda dan langsung duduk di samping Asrul di halaman belakang.


"Disini sebenarnya asri, tapi ini ...".


Risda hanya tertawa kecil melihat ponsel yang ada di tangan Asrul, ternyata mereka sama, sudah menjadi kebiasaan memang, pada saat sampai di suatu tempat, apalagi yang jauh seperti ini, kegiatan pertama yang biasa di lakukan adalah menghubungi keluarga.


Asrul mengangguk. "Kalo iya juga".


Risda dan Asrul sama tertawa, tapi setidaknya kondisi hari ini baik baik saja, mereka tinggal dirumah Kepala Desa yang jaraknya tak jauh sebenarnya, hanya sekitar 400 meter saja dari lokasi sekolah tempat mereka akan melakukan kegiatan pembelajaran.


"Aku kemarin lupa bawa photo Ibu".


Asrul agak mendelik, tapi senyumnya kemudian mengembang. "Untuk apa ?".

__ADS_1


Risda angkat bahu. "Kalau rindu".


Asrul hanya geleng kepala, sebetulnya sejak berangkat kemarin Asrul memang memiliki banyak pertanyaan tentang Risda yang ngotot ikut kegiatan ini, padahal semuanya tahu jika Risda hanya tinggal berdua dengan ibunya, bagaimana ia malah memilih pergi sejauh ini.


Sementara Risda sama sekali tidak sadar jika Asrul sejak tadi terus memandanginya, Risda mulai dari selesai beres beres barang bawaan hingga keluar kamar masih dikuasai rasa menyesal, mengapa tidak membawa photo ibunya bersamanya.


"Bagaimana disini ?".


Asrul dan Risda sama tersenyum dan sama sama mengacungkan jempol kearah Kepala Desa dan istrinya yang tiba tiba ikut bergabung dengan mereka. Tentu tujuannya adalah ingin ngobrol panjang mengenai program yang akan di jalankan Risda maupun Asrul.


"Kalian merupakan rombongan ketujuh ke kecamatan ini, tapi untuk desa ini, kalian rombongan pertama".


Asrul anggukkan kepala. "Jadi kami orang pertama ini Pak ?".


Kepala Desa anggukkan kepala. "Benar Nak. Sebelum ini belum pernah".


Asrul dan Risda kini hanya mengangguk anggukkan kepala mendengar cerita yang silih berganti disampaikan Kepala Desa dan Istrinya Bu Tania yang juga merupakan Kepala Sekolah tempat Asrul dan Risda di tugaskan saat ini.


Hampir pukul 00.00 baru Risda dan Asrul baru bubar bercerita panjang dengan keluarga Kepala Desa. Suasana dan perbincangan jadi makin panjang dan banyak kamus karena keberadaan Bu Tania sebagai kepala sekolah tempat Risda dan Asrul bakal mengajar.


Baik Risda dan Asrul hanya bisa menjawab sesekali dengan cerita panjang Bu Tania tentang keadaan sekolahnya yang jauh dari kata layak. Cerita Bu Tania membawa Risda pada bayangan apa yang dilihatnya di TV selama ini, cerita tentang perjuangan para guru yang mengabdikan diri didaerah yang terbilang tak terjangkau, terpencil dan terbelakang.

__ADS_1


... Bersambung ...


__ADS_2