
Ini kegiatan Family Gathering perusahaan tempat Haris bekerja, Haris membawa Asrul dan Risda ikut bersamanya yang dicatat sebagai bagian dari keluarga Haris. Karena tujuannya Kota Tawau, kota indah di Malaysia bagian Sabah, maka baik Risda maupun Asrul semangat ikut serta.
“Ini siapa Pak Haris ?”. Ketua rombongan bertanya.
Haris senyum saja. “Ini keluarga saya Pak Mar, ini Putri dan Menantu saya”.
Martono anggukkan kepala, Risda langsung mendelik, ingin sekali bicara, tapi genggaman tangan Asrul yang sedikit di eratkan membuat Risda tak jadi bicara, tapi jujur ia terus geleng kepala.
Kalau Risda di akui sebagai putri, Risda enjoy enjoy saja, bagi Risda itu bukan masalah, bahkan Risda juga senang dianggap putri oleh Haris. Tapi sebutan Menantu untuk Asrul membuat Risda panik, apa apaan ?, masa Risda harus berperan sebagai istrinya Asrul, ngapain ?.
“Istriku tenang saja, gua akan jadi suami idola, yakin saja”.
“Sialan lu, kesempatan lu, dasar lu”. Umpat Risda berkomat kamit.
Asrul hanya tertawa, ia juga tak menyangka Haris malah mengakuinya sebagai menantu. Tapi Asrul senang saja, teringat kemarin kalimat Haris yang akan sebisa mungkin membantunya, mungkin ini salah satunya, bathin Asrul masih dengan senyum yang mengembang sempurna.
Selama perjalan, jadi Risda yang kikuk, mengata ngatai Asrul juga nggak mungkin, nanti apa kata teman teman Haris, semuanya kadung hanya tahu jika Risda adalah putri senior manager mereka dan Asrul adalah suaminya.
Mau tidak mau, Risda akhirnya memilih bersikap tenang dan sebisa mungkin menahan kesal dari ulah Asrul yang bahkan ambil kesempatan. Untungnya Asrul tak telampau jauh isengnya, kalau nggak, Risda tak yakin tetap bertahan dengan sandiwara yang sedang berlangsung.
Tapi, lama lama Risda melihat sisi positifnya juga, orang orang perkebunan tak ada yang berani dekat dekat apalagi mengganggunya, sedang yang lain banyak yang diserang godaan yang melahirkan emosi tinggi.
Untuk Risda setuasinya berbeda, banyak anak muda seumuran Risda yang ikut serta, tapi semuanya malah menunjukkan rasa hormat, mengangguk menunduk bila bertemu muka dengan Risda, tampak sangat menaruh hormat, malah Risda lama lama merasa mereka malah berlebihan.
Tapi, akhirnya Risda mulai sadar, rasa hormat itu lebih karena Haris, Risda baru tahu jika Haris seorang senior manager di perusahaan tempatnya bekerja, artinya, setelah Haris hanya tinggal pemilik perusahaan yang mereka panggil Direktur. Wajar jika semua karyawan jadi hormat pada wanita yang mereka tahu adalah putrinya.
Entah kenapa, Risda malah merasa kalau Haris melindunginya dari hal hal itu, sehingga mengakui Risda putrinya dan Asrul menantunya, tentu siapapun tak akan berani mengganggu wanita yang bersama dengan ayah dan suaminya.
Inilah yang kemudian membuat Risda jadi enjoy, keadaan jadi berbalik point, kini Asrul yang banyak di kerjai Risda, walau akhirnya Risda harus mengumpul jutaan kesabaran agar bisa tetap senyum saat Asrul meminta di photo dengan memeluk Risda dari belakang, pipi Asrul malah enak saja menempel di pipi Risda.
Sangat risih, kesal minta ampun. Tapi Risda kembali hanya bisa senyum, tak mungkin juga beontak, orang orang perusahaan terlalu banyak, Risda sadar kalau Asrul juga melihat moment itu, sehingga ambil kesempatan, karena yakin Risda akan tetap diam.
Baru kemudian setelah keadaan jadi sunyi, saat yang lain pada pergi, ratusan pukulan dan puluhan cubitan bertubi tubi hinggap di tubuh Asrul, Risda sepuas hati menumpahkan kesalnya, tapi Asrul sudah kadung bahagia, hingga ia menghadapi pukulan dan cubitan itu dengan senyuman dan tawa kecil.
__ADS_1
Setelah Risda berhenti, Asrul malah mencolek pipi Risda. “Istriku yang manis”.
Risda makin melotot. “Apa lu bilang ?”.
Asrul merapatkan badan ke batu karena yakin Risda akan kembali melayangkan tinjunya, tapi ternyata tidak jadi. Asrul jadi senyum sendiri, kini Asrul kembali menatap wajah Risda lekat.
“Ngapain lihat lihat ?”.
“Lah, wong ngeliat istri sendiri kok di larang”.
Risda kembali kepalkan tinjunya.”Sialan lu ya Rul, entar lagi bibir lu gua bogem”.
Asrul tak ciut, ia malah meruncingkan bibirnya dan mendekatkannya ke wajah Risda, ini mebuat Risda kehilangan emosi, malah menjadi merasa lucu, akhirnya Risda tertawa dan mendorong Asrul menjauh.
Asrul hanya terdorong dua langkah, tapi kemudian mendekat lagi, kini keduanya sama berdiri bersampingan sambil menyandar ke batu, tangan keduanya terlipat rapi di di dada, saat keduanya saling pandang, Asrul memanyunkan bibirnya, Risda tertawa kecil dan mengalihkan pandangannya.
“Tapi, jika diberi kesempatan menjadi suamimu, gua bahagia Ris”.
Risda menatap Asrul sesaat dan menggeleng heran. “Gua lama lama bingung lihat lu Rul, serius, lama lama gua mikir mau bawa lu periksa, kayaknya ada yang konslet di kepala lu”.
Risda benar benar menggeleng. “Bisa nggak sesekali serius Rul ?”.
Asrul kembali tertawa kecil, geleng kepala juga. “Demi Tuhan, gua benar benar serius ama loe Ris”.
Risda kembali menggelengkan kepala, malah beranjak meninggalkan Asrul, otomatis Asrul mengikut dan berjalan santai di sisi Risda, tak ada pembicaraan lagi hingga keduanya kembali bergabung dengan kelompok, ternyata momentnya tepat, saat Asrul dan Risda sampai, semuanya memang sudah diminta naik ke bus.
Pemandu mengatakan, perjalanan akan menuju Columnar Basalt. Asrul dan Risda hanya saling pandang, sama sekali belum pernah dengar dengan nama itu. Perjalanan tak lama, mata keduanya langsung fokus pada pemandangan indah dari sungai dengan batuan unik.
Asrul dan Risda cukup serius mendengar penjelasn pemandu yang mengatakan kalau fenomena alami Columnar Basalt ini terbentuk dari letusan gunung berapi dua puluh enam ribu tahun yang lalu. Menbentuk elemen unik dan menarik, ini hanya ada di Tawau dan tidak ada di tempat lain di seluruh Malaysia.
Perjalanan terus berlanjut, rombonga bermalam di Balung River Eco Resort membuat Risda bagai serasa di alam mimpi. Penginapan dengan efek alam yang luar biasa, semuanya terlalu indah, Risda benar benar riang, Asrul tak bisa apapun, menjadi begitu lemas, karena Risda menariknya kian kemari.
Haris yang menyaksikan itu hanya tersenyum dan sekarang banyak menyimpan harapan di pikirannya, berharap Asrul benar benar mampu menaklukkan hati Risda, sehingga bisa menatap masa depan bersama.
__ADS_1
Kekhawatiran Haris tentang kondisi jantung Risda hanya ditanggapi ketawa oleh Asrul, dengan tegas Asrul mengatakan, itu sama sekali tak ada pengaruh untuknya, menurut Asrul, ada banyak cara untuk mengendalikan itu, dan Asrul akan melakukan apapun jika itu memang di perlukan.
Asrul masih terus mengikuti semua tarikan Risda, menjadi juru photo yang budiman dan sesekali Asruk juga ambil kesempatan dengan mengabadikan Risda yang bahagia dengan ponselnya, bahkan sesekali mereka selfie juga.
Inilah yang membuat Risda kembali menunjukkan tanduknya, Asrul dengan segala triknya berhasil mendapatkan selfie saat pipi mereka bertemu, sialnya saat itu, keduanya sedang tersenyum lebar.
“Hapus nggak Rul ?”. ancam Risda.
Asrul menggeleng. “Nggak mau”.
“Hapus nggak ?”.
Asrul tetap menggeleng. “Nggak mau”.
Hampir terjadi pertengkaran, tapi Asrul berhasil membawa Risda duduk tenang, saat banyak orang perusahaan yang lewat. Ini kelemahan Risda, ia tak bisa unjuk kesal saat rekan rekan Haris banyak berlewatan.
“Ris ..”.
Risda mendelik. “Apa lagi ?”.
Haris tersenyum tipis. “Jikapun lu nggak nek lihat gua, walaupun lu nggak mau jadi istri gua, itu terserah elu Ris, gua mah bisa apa. Tapi, paling tidak beri gua satu kesempatan bahagia, bisa nyimpan photo bareng lu, please”.
Risda malah tertawa. “Lu itu bukannya sama kayak gua, Calon Guru Bahasa Indonesia, masa lu lagu gua juga Rul”.
Asrul menggeleng. “Gua serius Ris, please, sekali ini saja”.
Risda menepuk bahu Asrul pelan dan berdiri. “Terserah Lu Rul, gua pasrah”.
Asrul terseyum dan ikut melangkah, Asrul memberanikan diri merangkul bahu Risda, ternyata yang di rangkul diam saja, sehingga begitulah mereka berjalan hingga sampai ke penginapan, istirahat.
Paginya perjalanan usai, rombongan akan naik feri kembali ke negaranya, tujuan tentu saja ibu kota kabupaten. Baru dari sana nanti kembali akan berjuang melewati halang rintang alam, kembali ke pedalaman.
Asrul dan Risda sama sama sepakat, jika Tawau, kota terbesar ketiga di Sabah setelah Kota Kinabalu dan Sandakan memang menyimpan banyak keindahan, bagusnya lagi, semua objek itu terjaga dengan rapi, dengan fasilitas lengkap dan banyak keunggulan lain.
__ADS_1
Sejujurnya, Asrul maupun Risda merasa ada sedikit malu, jika dibanding dengan objek wisata di negara mereka, padahal jauh lebih bagus bagus, tapi perawatan yang jelek dan akses yang sulit membuatnya sama sekali tak bergerak membaik, merangkak di tempat.
… Bersambung …