
Pagi baru aja muncul, ketukan pintu yang berkali kali membawa Natalia menuju pintu, tak jauh Mama Natalia juga kearah pintu, tapi ia berhenti di pintu tengah saat melihat Natalia udah dekat dipintu. Natalia langsung membuka pintu, begitu pintu terbuka Natalia terperangah, didepannya ada orang tua yang rambutnya udah putih semua, tapi Natalia merasa kenal dengan orang tua itu, cukup lama Natalia memandanginya. Kemudian …
“ Papa Kan ?”.
Orang Tua itu anggukkan kepala. “ Kamu benar Nak “.
Natalia langsung menjerit memanggil Papa, membuat semua yang ada dirumah itu keluar, termasuk Haris. Semua tak kuasa menahan air mata yang langsung mengalir, Natalia terduduk memeluk kaki Pram ayahnya. Pram juga tertunduk dan membelai kepala Natalia dengan penuh kasih sayang, dada Pram bergemuruh tak terkendali. tapi ia tetap berusaha tegar dan mencoba memberikan kekuatan pada putrinya.
Haris langsung mendekat dan mendirikan Natalia, begitu Natalia berdiri, Pram langsung memeluk keduanya, kali ini Pram benar benar yang bisa bertahan, gemetar bibirnya yang dari tadi berontak kini benar benar tak tertahankan, Pram akhirnya runtuh dalam tangisan, ini tentu membuat tangisan Natalia kembali pecah sepecah pecahnya, Ireth mama Natalia tak sanggup memandang ketiga wajah itu terlalu lama, Iret memilih merapat kedinding, terduduk luse dan kembali ikut menangis dengan menutup wajah dengan kedua tangannya.
“ Maafkan ayah Nak, ayah yang salah atas semua ini “.
“ Ayah.. ayah.. ayah.. “. Natalia menggelengkan kepala terus memeluk erat Pram.
__ADS_1
“ Sabar Nak, Sabar.. “.
“ Ayah.. ayah.. ayah.. kenapa begini ayah“.
Suara Natalia makin pelan, makin pelan, dan terhenti, Pingsan. Haris langsung membopong Natalia kedalam kamar, Pram ikut masuk, Pram duduk ditepi ranjang dan terus membelai rambut anaknya, sesekali ia mencium keningnya dengan lembut, Pram tak tahu apa lagi harus berbuat apa, matanya tak lekang dari wajah pucat putrinya, ada ribuan rasa yang bergemuruh tak henti didalam dadanya, sehingga terasa sangat sakit.
“ Bang.. “.
Pram memutar pandangannya. “ Reth.. kamu “.
Maghrib tiba. Pram langsung sholat maghrib, selesai sholat Pram kembali menangis, ada banyak rasa sesal yang membuatnya merasa bagai orang bodoh. Kenapa dulu Pram begitu melepas Haris atas kemauan almarhumah Indah, Pram juga hanya tertawa saat Indah buat akta kelahiran Haris sebagai anak mereka,
Pram tak merasa apa-apa saat disekolah Haris terdaftar dengan marga Jainal, bukan marganya, Pram tak pernah merasa itu hal yang bermasalah, lagi pula dulu itu karena Almarhumah Indah yang begitu sayang pada Haris. Penyesalan memang selalu datangnya belakangan, kenapa Harus membiarkan semua itu, jika Haris tetap dengan marga yang sebenarnya, pasti Ireth curiga, dan mungkin Ireth juga akan katakan kalau mereka itu ito, satu marga. Ini merupakan dosa besar yang tak disangka oleh Pram bakal menimpa anaknya. Marga mestinya begitu sakral, tak boleh diganti ganti.
__ADS_1
Didalam kamar Ireth terduduk lesu ditepi ranjang. Matanya fokus pada Patung Jesus yang berdiri tegak dipangkal ranjangnya. Ireth menangis sesunggukan, Ireth merasa dialah yang paling patut disalahkan dengan semua ini. Ireth dulu yang pergi tinggalkan Pram dan anaknya Haris, semua jadi kabur, tetap saja, penyesalan selalu datang terlambat. Kenapa mereka terlalu egois dengan diri mereka sendiri.
Kalaupun memang harus berpisah, mesti berpisah, silahkan berpisah. Tapi pisah mestinya hanya lahirnya saja. Bathin mestinya tak berpisah, demi kelanjutan dan agar tak terjadi hal yang semacam ini perpisahan itu mestinya tidak lantas membuang kamus komunikasi.
Jika Ireth tidak egois, jika ia masih menyisakan informasi dan berusaha memberi informasi pada Pram, dapat dipastikan hal ini tak perlu terjadi, tapi nasi sudah jadi bubur, kini anak merekalah korban dari semua ini, boleh dikatakan Haris dan Natalia adalah korban dari rasa egois orang tuanya, egois yang mestinya tidak perlu dikembangkan.
OO oo OO
Satu tahun kemudian.
Natalia tiduran sambil menyusui Risda Nalia. Anak perempuan mungil yang baru dilahirkannya dua bulan yang lalu. Seminggu Malam indah yang mereka lalui bersama Haris membawa Risda padanya. Ini tetap anugerah. Walau tanpa Haris disisinya, Risda belum pernah mendapat belaian ayahnya, dan mungkin saja tidak akan pernah, Haris pergi jauh ke Pulau Kalimantan, bekerja diperkebunan yang ada disana.
Sebelum pergi setahun yang lalu Haris bersumpah tak akan menikah, cukup Natalia yang pernah tidur dengannya, takkan ada yang lain. Haris bersumpah membuang cinta dari nafasnya. Sama seperti sumpah Natalia sesaat setelah Bidan Martha menunjukkan ada seseorang yang hidup dalam tubuhnya.
__ADS_1
.... BERSAMBUNG ...