
Suasana kamar hening, bahkan sangat hening. Tak ada suara yang terdengar, semuanya memilih diam lebih karena takut mengganggu tidur Ariana yang tampak sangat pulas, Mutia masih tampak berfikir, mengapa adiknya sampai terkena penyakit ini, Mutia tahu kalau ini sangat mengganggu penderita.
Reni keluar sebentar, tapi tak lama Reni masuk lagi dengan membawa beberapa botol minuman mineral. Farhan langsung mengambil alih minuman dari tangan kakaknya dan membagikannya kepada semuanya, ini tentu pilihan bagus, karena semua memang sudah cukup haus.
Meeta tergopoh gopoh turun ke lantai satu setelah mendengar bungsunya Ariana sedang menjalani perawatan di bawah kendali Mutia. saat Meeta sampai, ia mengelus dada dan buang nafas berat, ternyata semua keluarganya ada disana, begitu Meeta masuk, semuanya lengkap, rumah benar benar kosong sekarang.
"Adikmu kenapa Tia ?".
Semua mata langsung mengarah ke Meeta. Mutia mendekat. "Sepertinya Neuralgia Oksiptal Ma, atau mama cek saja dulu".
Meeta anggukkan kepala, sebenarnya ia sudah yakin apapun yang di katakan putrinya, karena Meeta juga tahu kalau Mutia sudah cukup handal sebagai seorang dokter, Mutia bahkan sekarang bukan dokter biasa, banyak pasien yang malah secara khusus meminta di tangani Mutia.
"Ren. Coba cari dokter Irfan".
Reni berdiri. "Disuruh kemari Ma ?".
Meeta anggukkan kepala. "Kalau lagi Free, langsung bawa kemari saja".
Reni anggukkan kepala dan langsung keluar kamar, Meeta hanya mendekat, dan berhenti di bagian perut Ariana, tangan Meeta menyentuh dada Ariana, seperti mencoba melihat gerak nafas Ariana, tampaknya Meeta cukup tenang, tak ada menemukan hal yang menurutnya ganjil, sepertinya semuanya masih dalam posisi yang cukup normal.
Meeta malah mengelus kepala Risda yang tertidur, tampak tersenyum melihat menantunya yang seakan tak mau jauh dari Ariana, jari tangan mereka saling bertaut satu sama lainnya, walapun keduanya sama sama tertidur. Meeta menuju bangku dan duduk di samping suaminya.
Yang lain tetap tampak diam, Agung dan Asrul yang sedikit bertanya, kenapa Meeta malah meminta Reni mencari dokter Irfan, itu dokter spesialis syaraf. Tapi Agung dan Asrul hanya bisa saling pandang dan sama menggeleng, karena keduanya sama buta tentang dunia kedokteran.
“Risda pindahin tidur kenapa Rul, nanti lehernya sakit lho”.
Asrul menatap ibunya sambil senyum. “Itu sama saja membangunkan Ariana Ma, masa mama nggak lihat”.
Meeta menutup mulutnya dengan telapak tangan, baru sadar, mengangkat Risda tentu akan menarik tangan Ariana, sangat berpotensi membuat Ariana terbangun, padahal Meeta juga sepakat, Ariana sebaiknya memuaskan tidurnya, apa boleh buat, memang pilihan terbaik dibiarkan saja.
Entah memang tahu atau bagaimana, Ariana menggeliat terbangun dari tidurnya bersamaan dengan masuknya dokter Irfan dan Reni, Ariana tersentak, Risda juga ikut terjaga, dokter Irfan sudah banyak cerita dengan Reni, sehingga ia langsung menghampiri Ariana.
“Halo cantik … masih sakit ?”.
Ariana senyum tipis, menggeleng. “Nggak sakit lagi dok”.
Dokter Irfan senyum dan duduk di tepi ranjang. “Kepalanya berat tidak ?”.
Ariana mencoba angkat kepalanya. “Sedikit dok”.
“Bisa duduk kalau begitu ?”.
Ariana mencoba duduk dan memang berhasil, tapi Ariana kembali membaringkan diri karena memang dokter Irfan memintanya begitu. Walau masih seperti ada yang terasa lain di kepalanya, tapi Ariana secara umum merasa sudah tidak apa apa, sudah bisa senyum dan tertawa kecil.
__ADS_1
“Sudah aman kalo begitu, kok bisa begitu tadi ?”.
Ariana menggeleng. “Nggak tahu dok, tiba tiba saja kepala pusing, belakang kepala berdenyut denyut, sakit juga, makanya Riana minta pulang”.
Dokter Irfan senyum lagi. “Ya, nggak apa apa lah”.
Ariana hanya memasang senyum saja, tapi jujur, Ariana mengakui kalau tadi di sekolah sakitnya memang minta ampun, di suruh ke UKS hanya untuk tiduran dan istirahat, kepala Ariana makin sakit, bahkan ia sudah menangis, sehingga saat petugas UKS bertanya mau pulang, Ariana langsung anggukkan kepala.
Dokter Irfan senyum ke Risda. “Permisi sebentar Bu Menantu”.
Risda langsung sedikit menjauh, walau agak terkejut mendengar panggilan dokter Irfan, Risda yakin itu karena dokter Irfan tak tahu namanya, tapi ia tahu kalau Risda menantu di keluarga ini.
Dan akhirnya benar benar menjauh, Risda akhirnya memilih duduk di dekat Asrul, Risda memilih memberikan ruang yang banyak untuk dokter Irfan yang kini melakukan pemeriksaan ulang dibantu Mutia dan Reni, Meeta juga mendekat, walau tampak hanya untuk sekedar melihat.
“Bu Menantu masih ngantuk ?”.
Risda langsung manyun, tapi nggak tahu untuk siapa, yang jelas Risda kini memeluk lengan Asrul dan menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya dengan manja, sebenarnya Farhan sudah mau ketawa mendengar panggilan itu, tapi Farhan harus menahan diri, karena dokter Irfan masih serius memeriksa Ariana.
Akhirnya pemeriksaan usai, dokter Irfan menarik kursi plastik dan duduk di depan Agung, Meeta langsung kembali duduk di samping suaminya, sedang Mutia dan Reni hanya berdiri di belakang dokter Irfan.
“Yang dikatakan dokter Mutia itu benar. Ariana terkena Neuralgia Oksiptal. Seharusnya itu tidak berbahaya sama sekali, namun karena itu memang sakit, sangat sakit malah, maka penting untuk di hindari”.
“Penyebabnya dok ?”.
Dokter Irfan menatap Agung sebentar. “Macam macam Pak Gung, tapi yang paling banyak itu akibat kurang istirahat. Atau paling mungkin untuk anak usia Ariana adalah kebiasaan menggunakan ponsel sambil menunduk”.
Dokter Irfan senyum lebar. “Iya, Iya Pak Rul, seperti Bu Menantu itu”.
Kali ini Farhan tak kuat menahan tawa. “Iya nih, Kak Menantu”.
Hal itu ternyata cukup membuat semuanya tertawa, termasuk Ariana. Bahkan Ariana sudah duduk sambil cekikikan, entah mengapa Ariana merasa sangat lucu mendengar panggilan yang di tujukan dokter Irfan pada kakak iparnya, pangilan yang seumur hidup baru kali ini di dengarnya.
Risda senyum kecut juga. “Nama saya Risda dok”.
Dokter Irfan jadi malu sendiri. “Iya .. iya .. saya nggak tahu soalnya, maaf”.
Semuanya kembali tertawa, termasuk dokter Irfan. Dokter yang sudah lumayan tua ini ikut sedikit terpingkal, ia akhirnya sadar kalau panggilannya pada Risda memang terdengar lucu, tapi itu benar benar spontan, karena memang dokter Irfan tidak tahu nama Risda, hanya tahu kalau Risda istrinya Asrul.
“Mengatasinya bagaimana dok ?”. Agung mengembalikan topik.
Dokter Irfan menghela nafas cukup panjang. “Ini mungkin yang sering jadi masalah Pak Gung, karena penanganannya biasa saat seseorang terkena serangan, kalau soal upaya, tentu pola hidup sehat, hanya begitu Pak Gung”.
“Pengobatan kan artinya sudah kena dok ?”.
__ADS_1
Dokter Irfan anggukkan kepala. “Memang begitu Pak Gung”.
“Obatnya apa saja dok ?”.
Dokter Irfan menghela nafas sedikit. “Ada beberapa memang Pak Gung. Pemberian obat obatan penghilang nyeri, pelemas otot, pemberian antikolvunsen atau anti kejang, atau bisa juga dengan penyuntikan pada syaraf atau juga penyuntikan steroid untuk mengurangi rasa nyeri”.
Agung angguk angguk kepala, yang lain juga sepertinya memilih hal yang sama, tapi Risda justru berpikir sangat jauh, ada rasa kasihan pada adik iparnya, khawatir jika sudah pernah mengalami, maka potensi terulang lagi akan sangat besar.
Risda masih membayangkan kepanikannya tadi saat Ariana di antar gurunya ke rumah, wajah pucat dan lemas Ariana sangat meresahkan Risda, sekarang jadi dilema juga, karena tekhnis jelas untuk melakukan pencegahan ternyata begitu mengambang di telinga Risda, tak memberi jawaban penuh.
Dokter Irfan berdiri. “Pada dasarnya ini tidaklah membahayakan sekali, namun begitu, seperti yang saya katakan tadi Pak Gung, jika terserang memang sangat sakit, maka hindari saja hal yang mungkin memicunya”.
Agung hanya anggukkan kepala, yang lain juga demikian, dokter Irfan meninggalkan ruangan setelah berbincang sebentar dengan Mutia, tentang obat lanjutan jika Ariana kembali mengalami hal yang sama, Mutia tampak terus anggukkan kepala tanda mengerti apa yang dijelaskan dokter Irfan.
Begitu dokter Irfan menghilang, Ariana langsung seperti beres beres, lihat sana lihat sini, perbaiki sana perbaiki sini, walaupun sebenarnya nggak tahu apa gunanya, Mutia dan Reni terus mengikuti kemana Ariana melangkah, walau sudah hampir mirip menonton bulu tangkis.
Ariana hanya membuka dan melihat isi semua yang ada pintunya, termasuk kamar mandi, lihat lihat ke bawah meja dan keatas, hampir semua sudut sudah didekati Ariana, kadang hanya menggeser sedikit saja, betul betul entah apa gunanya.
Akhirnya Ariana menyudahi beres beres entah apa gunanya itu, mendekat dan menarik tangan Farhan hingga harus berdiri. “Pulang yok Bang”.
“Emang adek sudah sembuh apa ?”.
Ariana tak peduli, tetap tarik tangan Farhan. “Kita pulang, ayo …”.
Mutia dan Reni kembali menggeleng. Farhan akhirnya ikut saja tarikan adiknya, Agung yang jadi mengalah, ikut melangkah mengikuti Farhan dan Ariana, karena kesini tadi memang bersama Farhan.
Meeta juga ikut berdiri, hanya menebar senyum tipis saja dan langsung berlalu begitu saja menuju ruangannya di lantai empat. Meeta buru buru karena ingat sesuatu yang ia tinggalkan saat tadi tergesa gesa mendengar bungsunya sakit.
“Bu Menantu pulang juga ?”.
Risda langsung merengut. “Apa sih Bang ?”.
Asrul tertawa saja. Berdiri dan menarik tangan Risda, tentu Risda langsung menurut, keduanya melangkah keluar kamar inap bahkan tanpa permisi ke Mutia dan Reni yang masih duduk di sofa yang tadi di duduki ayah mereka.
Begitu Asrul dan Risda menghilang, praktis kembali Mutia dan Reni yang tinggal, tapi keduanya juga nggak lama lama, hanya ukuran detik saja, Mutia dan Reni kembali keruangan mereka, saat keluar Reni menyempatkan diri menutup pintu kamar.
Kehebohan hari ini karena sakitnya Ariana tuntas sudah, yang bersangkutan bahkan sudah menghilang bersama ayah dan abangnya, kini Ariana malah sudah membuat Farhan geleng kepala, sepanjang jalan menuju pulang, Farhan harus berhenti berulang kali karena ingin membeli sesuatu.
Sang Ayah malah menuruti semuanya, ikut turun dan membayarkan semua permintaan Ariana, Farhan sudah berulang kali buang nafas berat, tapi mau bilang apa, andaipun mungkin saat ini hanya ada mereka berdua, kejadiannya bisa jadi hampir sama, mungkin tak akan ada bedanya.
Jam juga sudah menunjukkan pukul 17.15 WIB, itu artinya Mutia dan Reni juga hanya menunggu beberapa menit lagi untuk menyusul yang lainnya pulang, Reni sudah berkemas, beda dengan Mutia yang memang tak terbiasa membawa banyak peralatan bersamanya, sehingga tak begitu butuh waktu untuk berkemas.
Namun, Meeta sepertinya belum bisa pulang sesuai jam biasa. Ia harus lebih dulu memastikan pasien yang tadi menjalani operasi benar benar normal tanpa ada gangguan yang membahayakan, sehingga Meeta membutuhkan waktu beberapa jam lagi agar bisa pulang ke rumah dengan nyaman.
__ADS_1
Kebiasaan itu sudah hal yang lumrah selama ini, Agung sebagai suami sudah paham dan hafal betul kondisi kerja istrinya, komunikasi mereka juga selalu bagus, sehingga semuanya dapat berjalan dengan baik, sejauh ini keduanya belum pernah menemukan benturan yang besar, semuanya masih dalam standar yang wajar.
…. Bersambung …