Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
Perjuangan Dimulai


__ADS_3

Risda tersenyum simpul melihat Asrul, Risda sama sekali tak menyangka Asrul yang ia tahu orang yang suka usil, kadang ngomongnya juga asalan dan terkadang jahil bisa larut dan menangis.


Jujur, Risda juga terenyuh dengan kondisi yang kini dihadapi, ruang kelas yang hanya tiga, lantai tanah, atap tak sempurna dengan dinding yang banyak bolongnya.


Berbanding terbalik dengan semangat anak anak yang menjadi siswa, semangat yang ditunjukkan luar biasa walau dengan kondisi yang apa adanya, hanya beberapa siswa yang pakai alas kaki, itupun umumnya lusuh.


Selebihnya sama sekali tak punya, buku tulis juga tak layak bentuknya, buku pelajaran nyaris tak punya dan lain sebagainya.


Risda agak repot menerima serbuan para siswa yang berebut menyalaminya, Asrul juga mengalami hal yang sama. Setelah dikenalkan oleh Kepala Sekolah dan berkenalan dengan dua guru yang sudah ada pembelajaran dimulai, Asrul kebagian kelas IV sedang Risda kebagian ruang kelas VI.


Melihat kondisi siswanya Risda mencoba bercermin walau tanpa kaca, ada banyak hal yang membuat Risda merasa kikuk dan akhirnya risih sendiri, Risda merasa penampilannya dengan pakaian yang rapi terlalu kontras dengan kondisi sekolah dan semua penghuninya, bukan hanya siswa saja, termasuk guru yang sudah ada.


Risda pada muaranya menjadi getir sendiri, Risda akhirnya sadar kini, mungkin inilah yang membuat Asrul terpukul dan jatuh dengan linangan air mata. Kondisi ini memang diluar dugaan, sangat diluar dugaan, Risda tak pernah membayangkan kondisinya hingga separah ini.


Hari pertama yang cukup terasa banyak yang harus ditata, apalagi Asrul dan Risda sepanjang hari ini mengajar dengan banyak pendamping, manyoritas orang tua ternyata bertahan disekolah untuk melihat sang guru baru, mereka berjejer diluar ruangan dan menatap kedalam, dari jam pertama bahkan hingga jam pulang.


Risda tak begitu peduli memang, ia terus menjalankan aktivitasnya sesuai dengan yang ia tahu. Paling tidak Risda gembira dan merasa apa yang dilakukannya baik, karena hampir semua siswa termasuk orang tua yang menonton tampak antusias dan larut dengan tebaran senyum mengindikasikan kebahagiaan.


Pulang sekolah sama dengan cara datang pagi tadi, jalan kaki. Kalau tadi pagi Risda merasa biasa saja karena suasananya masih sejuk tak sama dengan keadaan pulang dengan terik matahari yang lumayan memanggang. Tadi pagi Risda juga cukup terganggu dengan sepatunya yang behak lumayan tinggi, siang ini lebih parah lagi, belum separuh perjalanan kaki Risda terasa ngilu.


“Capek Ris ?”. Asrul seakan tahu apa yang dirasakan Risda.


Risda cemberut. “Pake nanya lagi”.

__ADS_1


Asrul tertawa kecil. “Kalo gitu istirahat dulu”.


Risda tak menjawab lagi, ia langsung ikut duduk disamping Asrul dibalai bambu yang ada didepan rumah warga. Begitu duduk Risda langsung buka kedua sepatunya dan mengelus elus telapak kakinya, sementara Asrul sibuk anggukkan kepala dan membalas senyum banyak warga yang menegur sambil berlalu didepan mereka.


“Besok pakai yang lebih tinggi Ris, biar …”.


Asrul tak melanjutkan kata katanya karena harus mengelak dari cubitan Risda yang hampir mendarat telak diperutnya. Asrul sampai harus berdiri, tapi tak lama duduk lagi setelah melihat Risda tak lagi mengeluarkan ancaman cubitan.


“Belum pernah jalan sejauh ini Ris ?”.


Risda geleng kepala. “Pernah sih pernah. Lebih jauh juga pernah”.


Asrul anggukkan kepala. “Tapi setuasinya beda”.


“Udah.. ayo lanjut”.


Risda ikut berdiri dan melangkah lagi. Baru seratus meter kaki Risda terasa lagi, langkahnya terhenti, Asrul juga ikut berhenti. Risda membuka sepatunya lagi dan kembali melangkah, tapi kali ini lebih singkat, tak sampai lima langkah Risda berhenti lagi, sambil manyun mengeluh panas kembali memasang sepatu dan melangkah perlahan lagi.


Asrul hanya senyum senyum, tapi Asrul juga tak punya komentar cukup. Apa yang dialami Risda terasa cukup biasa, gadis kota yang tiba tiba tinggal dipedalaman, bagaimana tak kelabakan.


Justru Asrul punya sedikit kesan terhadap Risda yang menurutnya cukup berkelas, maksudnya Risda melakukan banyak hal yang tak biasa ia lakukan dengan cukup sabar dan tidak menunjukkan banyak keluhan, jikapun ada keluhan, tidak ada kesan berlebihan.


Pada akhirnya Asrul hanya bisa senyum senyum melihat Risda yang melangkah tampak sangat hati hati, tampak cukup lucu bagi Asrul.

__ADS_1


“Kenapa senyum senyum ?”.


Asrul cekikikan juga akhirnya. “Lucu”.


“Apa yang lucu”.


Asrul geleng kepala. “Nggak ada”.


Risda tampak cemberut, mukanya yang tampak memerah dihantam sinar matahari dengan keringat yang mulai membasahi wajahnya membuat Asrul geli sendiri, sudah empat tahun lebih berteman dengan Risda, Asrul baru kali ini melihat cemberut yang seserius itu dengan muka yang memerah.


Tapi Asrul justru suka memandanginya, ternyata Risda menunjukkan tingkat kecantikan yang jauh lebih tinggi dengan keadaan seperti ini ketimbang Risda yang ia kenal selama ini. Kulit putih Risda yang memerah membuatnya tampak semakin cantik.


Risda memilih mencoba cuek aja dan melangkah terus disamping Asrul yang masih senyum senyum tak henti, walau ada rasa kesal yang muncul Risda tak berusaha mengekpresikannya hingga sampai kerumah dan masuk kamar. Risda langsung rebah ditempat tidur mencoba mengurangi rasa panas dan penatnya.


Jarak jalan kaki yang mencapai 400 meter lebih sesungguhnya bukan lah perjalanan yang cukup jauh, tapi dengan sepatu cukup tinggi tadi membuatnya tampak berbeda, kaki terasa pegal karena ditambah dengan terik matahari yang sangat panas.


Risda agak tercenung karena ia tak punya sepatu lain yang lanyak untuk menghindar dari setuasi ini, memang ada tiga sepatu yang ia bawa, dua dengan tipe yang sama, satu lagi sepatu olahraga.


Kan nggak mungkin juga kalau pakai baju mengajar biasa disuit dengan sepatu olahraga, aneh kalo begitu, kalau Risda begitu pasti Asrul akan pecah ketawanya, pasti terbahak dia nantinya.


Ini membuat Risda agak bingung juga, mau beli sepatu kemana disini, itu artinya Risda akan mengalami hal yang sama besok, lusa, besoknya lagi hingga waktu yang belum tahu kapan berakhirnya, hal tersebut mungkin akan lama karena peluang untuk memiliki sepatu masih belum jelas bentuknya.


Risda berdiri dan keluar kamar mengikuti panggilan putri pemilik rumah tempat tinggal mereka, Risda melangkah menuju ruang tengah, ruang makan keluarga. Disana sudah ada semuanya, termasuk Asrul.

__ADS_1


.... Bersambung ...


__ADS_2