Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
S2 : Berada Di Tempat Yang Sangat Tepat


__ADS_3

Mata Risda terus menerus melirik sang ayah yang duduk di sampingnya, pikiran Risda benar benar belum bisa beranjak dari pertanyaan yang sama, kenapa ibunya bohong soal ayahnya, apa untung dan tujuannya.


Menjadi kepikiran, karena Risda merasa belum pernah di bohongi ibunya untuk sesuatu yang tak perlu, ibunya berani berbohong pasti karena sesuatu yang sangat penting, ini yang membuat Risda sama sekali tak begitu konsen mendengar obrolan yang sedang berlangsung.


Risda malah membayangkan raut wajah ibunya yang terlihat cukup serius, biasanya kalau ibunya mencoba bohong, Risda akan sangat cepat dapat menangkapnya, tapi pertemuan di kantin sekolah tadi, Risda sama sekali tak menemukan itu sama sekali, ibunya berhasil kali ini.


Terdengar bel pintu berbunyi, tandanya ada tamu, Risda sudah berdiri, tapi kemudian duduk lagi saat mendengar suara Mutia yang berbincang dengan seseorang, Risda merasa tak perlu lagi membukakan pintu melihat siapa yang datang karena sudah ada Mutia disana.


Mutia dan Reni sampai dirumah hanya berjarak beberapa detik dari pengantar barang dengan bungkusan besar, Mutia langsung menerima paket lumayan besar itu, Reni yang ambil alih menandatangani dokumen pengiriman.


“Untuk Kakak Ipar”.


Mutia anggukkan kepala. “Iya, ini untuk Kak Risda”.


Mutia dan Reni hanya berbalas senyum, Reni yang membukakan pintu, keduanya sama masuk, Risda yang terkejut karena paket yang lumayan besar di tangan Mutia diberikan padanya.


“Ini apa Tia ?”.


Mutia geleng kepala. “Mana Tia tahu Kak, itu untuk kakak”.


Risda tampak menggeleng. “Dari siapa ?”.


Mutia dan Reni sama sama geleng kepala. Keduanya memang tak tahu itu darimana, Risda masih tampak bingung, karena memang merasa tak pernah memesan apapun, apalagi sampai sebanyak ini, walau Risda belum tahu apa isinya, tapi Risda dapat memastikan jika itu banyak.


“Sudah, bawa masuk sana, lihat apa isinya”.


Risda akhirnya anggukkan kepala. “Iya Ma”.


Risda berdiri juga, beranjak menuju kamar mereka, Mutia dan Reni usai menyalami Haris juga beranjak mengikuti kakak ipar mereka, keduanya juga penasaran apa isi paket yang cukup besar itu.


Agung menangkap senyum lain dari istrinya, Agung jadi menatap Ibu Asrul instens, Agung merasa ada sesuatu yang disembunyikan istrinya, berulang kali Agung anggukkan kepala ke arah istrinya, sampai sampai membuat Haris dan Asrul jadi ikut ikutan memandang ke arah yang sama.


“Tadi Mutia dan Reni memergoki Risda beli busana muslim, tapi yang dibeli Cuma satu. Makanya Mama ambil inisiatif Rul, mama pesanin lewat on-line, gitu”.


Ketiga orang yang mendengar sama senyum, dua orang anggukkan kepala, tapi Asrul memilih menggeleng. Bukan apa apa, masa main pesan begitu saja, kalau ternyata tidak pas ukurannya bagaimana, kan jadi percuma. Tapi, apapun itu, Asrul merasa begitu bahagia, senang dengan perhatian ibunya.


Sementara di kamar Risda melongo, ia menghitung pakaian yang berada dalam paket, satu, dua, tiga, empat, ada enam pasang, bahkan lengkap dengan jilbab yang senada, Risda tentu bingung, siapa yang mengirimkan ini untuknya, dan berapa harga yang harus dibayar untuk ini, Risda mendesah.


Risda sangat yakin jika itu bukan ibunya, uang yang harus dikorbankan untuk semua ini tidaklah kecil, rasanya sangat tak mungkin sang ibu punya dana hingga sebesar itu, atau apa ayahnya ?, Risda kurang yakin juga, tak ada bayangan apapun, sehingga Risda sama sekali tak bisa memikirkan dan menebak, siapa yang melakukan itu semua untuknya.


“Wah … coba dulu kak, cepat cepat ..”.


“Apa sih Tia …”.

__ADS_1


“Cepatan kak, coba dulu”.


Risda menyerah. Akhirnya hanya bisa pasrah saat kedua adik iparnya memaksa agar Risda mencoba. Risda hingga enam kali ganti pakaian, Mutia dan Reni bergantian memastikan semuanya tampak bagus, Reni sudah selesai memasangkan hijab kakak iparnya dan memandangi dengan senyuman.


“Sip, kakak ipar sangat cantik ..”. Reni mengacungkan jempolnya.


“Ada yang kurang”. Sambar Mutia.


Kening Risda sedikit berkerut, tapi kembali hanya bisa pasrah saja saat Mutia mengambil gincu dan mengolesi bibir kakak iparnya, memang sangat tipis, tapi tetap saja merubah warna bibir Risda.


Mutia bahkan sampai mencium kedua pipi Risda. “Baru pas”.


“Apa sih Tia ..”. Risda bergumam saja.


“Serius, kakak makin cantik. Abang harus lihat”. Sambung Reni.


Risda menatap dua adik iparnya bergantian, menggeleng, tertawa kecil. “Kakak kan memang sudah cantik sejak lahir”.


Tawa Mutia dan Reni langsung pecah, keduanya sama memeluk sambil mencium pipi kakak ipar mereka. Ketiganya akhirnya sama tertawa, Mutia dan Reni sejatinya memang tahu dan paham kalau kakak ipar mereka memang cantik, tapi dengan pakai hijab begini, ternyata makin cantik.


Dengan terpaksa Risda mengikuti tarikan tangan kedua adik iparnya keluar kamar menuju ruang depan. Begitu ketiganya sampai, semua mata tertuju pada Risda, Haris, Agung dan Ibu Asrul langsung melongo. Ibu Asrul bahkan sampai berair sudut matanya, senang dan bahagia sekali melihat penampilan menantunya.


Asrul langsung berdiri dan mendekat ke arah Risda yang berdiri mematung memandangi Asrul dengan senyum malu malu. Asrul memberi kode menjauh kepada kedua adiknya, Mutia dan Reni mencibir, walau pada ujungnya melangkah menjauh juga sesuai permintaan Asrul.


Mutia dan Reni menutup muka, Ibu Asrul, Agung dan Haris menggelengkan kepala berulang kali, membuang nafas berat, menunduk dan garuk garuk kening, kesal. Kenapa tidak ?, didepan semua orang, seenaknya saja Asrul mengecup bibir Risda.


Ibu Asrul yang terus buang nafas berat dan belum berhasil menghentikan gelengan kepalanya. Ya, memang boleh saja, namanya saja suami istri, tapi tak dihadapan banyak orang begini juga.


“Kak Risda ..”.


Asrul berbalik, tangannya langsung lepas dari wajah Risda saat melihat Farhan dan Ariana. Asrul malah menjauh saat Farhan terus melangkah dan melihat wajah kakak iparnya dari dekat.


Farhan tersenyum lebar. “Ternyata benaran Kakak”.


Kening Risda berkerut. “Memang siapa lagi Han ?”.


Farhan menggeleng. “Farhan pikir bukan kakak, untung benaran kakak, kalau nggak, Farhan sudah mau memalu ini nih ..”. Jempol Farhan mengarah ke Asrul.


Semuanya menjadi tertawa lebar, plus dengan gelengan kepala masing masing. Tapi Haris punya beberapa tetes air bening di sudut matanya, bibir Haris memang senyum lebar, tapi hatinya penuh dengan rasa haru, sangat haru.


Haris melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Risda di mata seluruh keluarga suaminya. Bahkan Farhan yang masih SMA sudah menunjukkan rasa sayangnya, kata kata Farhan tadi dapat sengat jelas maknanya, ia akan menghajar abangnya jika menyakiti hati kakak iparnya.


Haris terharu melihat semuanya, seluruh keluarga Asrul tampak dengan jelas punya rasa sayang yang tinggi pada Risda. Haris yakin jika saat ini Risda memang sudah berada di tempat yang tepat, Haris yakin Risda akan sangat bahagia berada di rumah ini.

__ADS_1


Farhan dan Ariana kini mengarah ke Haris, keduanya langsung menyalami Haris bergantian. Ariana langsung beranjak pergi, Mutia dan Reni juga ikut pergi, Risda kembali duduk, tapi tak lagi di tempat yang tadi, kini ia duduk di samping ibu mertuanya, karena tempatnya yang tadi sekarang di tempati Farhan.


“Paman. Jarak dari Pontianak ke tempat Paman jauh nggak Paman ?”.


Haris merangkul bahu Farhan, tertawa kecil. “Jauhlah, sudah beda propinsi”.


Kening Farhan agak berkerut. “Paman emang dimana ?”.


Haris kembali senyum tipis. “Paman di Kalimantan Tengah, Kotawaringin Timur. Itu sudah hampir sembilan ratus kilometer, perjalanan darat dari Pontianak hampir tujuh belas jam”.


Farhan makin mendelik. “Jauh amat ya Paman ?”.


Haris anggukkan kepala. “Kenapa memang Han ?”.


Farhan tertawa kecil. “Bulan depan ada Jambore Pramuka disana Paman, di Kubu Raya”.


Haris menepuk pelan bahu Farhan. “Itu malah lebih jauh dari tempat Paman Han, itu sudah lebih sembilan ratus kilometer, perjalanan darat lebih dari delapan belas jam dari Kotawaringin Timur”.


Farhan geleng kepala, Farhan lumayan terkejut, ia memang kurang paham tentang Kalimantan, selama ini baru pernah melihatnya di peta, kalau bulan depan jadi ikutan, maka itu akan menjadi kunjungan pertama Farhan ke tanah Kalimantan.


Saat suara adzan ashar terdengar, para lelaki langsung beranjak keluar, tujuannya tentu musholla yang berada tepat di samping rumah, tapi Asrul hanya senyum kecut dan garuk garuk kepala, tak ikut berdiri, mana mungkin Asrul bisa ikut, setelah kejadian tadi, ia sama sekali belum mandi.


"Mandi sana .. ".


Asrul hanya cengengesan menatap ibunya. "Iya Ma".


"Cepat, sana".


Risda yang juga juga merasa lumayan malu ikut melangkah pergi, Risda berjalan di belakang Asrul, kepalanya bersandar di punggung Asrul, sedang kedua tangannya berada di pinggang sang suami, benar benar tampak malu, sama sekali tak berani melihat wajah ibu mertuanya.


Ibu Asrul hanya geleng kepala melihat ulah anak dan menantunya, padahal keduanya sudah cukup dewasa, sudah berusia dua puluh lima tahun malah, tapi tingkah keduanya sering masih tampak seperti anak kecil, Ibu Asrul semakin sadar kini, benar kalau menantunya ternyata punya sikap manja diatas rata rata.


Sampai didalam kamar Asrul berbalik dan menyerang Risda, yang diserang secara tiba tiba tak mampu berkutik, sekuat tenaga Risda melawan, tetap saja ia kalah, bukannya mandi seperti perintah ibunya, Asrul dan Risda malah kembali bereaksi.


"Abang mandi sana Bang, sholat".


Asrul malah menggeliat memperbaiki posisi tidurnya. "Bentar lagi".


Risda menggoyang tubuh Asrul sekuat tenaga. "Bang ..".


Asrul akhirnya duduk, menatap Risda cukup lama, kemudian Asrul berdiri, Risda hampir menjerit saat Asrul malah menggendongnya, tapi kemudian Risda menjadi tertawa saja saat Asrul membawanya masuk kamar mandi. Begitulah, lagi lagi reaksinya terulang lagi.


…. Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2