
Air mata Natalia mengalir cukup deras saat semua pengunjung ramai ramai mengucapkan kata Sah. Itu artinya, Risda sudah resmi menjadi seorang istri. Natalia menangis karena ini adalah akhir dari perjuangannya terhadap Risda, setelah ini, tanggung jawab akan beralih pada suaminya.
Ibu Asrul merangkul bahu Natalia erat, Natalia menyandarkan kepalanya ke bahu ibu Asrul, sang besan menggoyang goyang tubuh Natalia memberikan kekuatan. Apapun itu, Ibu Asrul paham jika besannya menangis bukan karena semata mata sedih, tapi juga ada perasaan lain.
Ibu manapun akan mengalami hal yang sama, menyerahkan anak gadisnya kepada laki laki yang menikahinya bukan sesuatu yang mudah, ada banyak perasaan yang ikut menemani, haru pasti akan menominasi.
“Yakinlah, Risda akan bahagia bersama Asrul”.
Natalia anggukkan kepala. “Saya percaya Kak”.
Ibu Asrul kembali menggoyang bahu Natalia, ia juga bahagia melihat Asrul berhasil mendapatkan apa yang sudah lama Asrul impikan, menjadi suami Risda. Dokter paruh baya ini bahkan diawal sudah pasrah jika keduanya menikah tetap dengan perbedaan yang mereka miliki.
Tapi nyatanya Risda berbesar hati, ini tentu membuat Ibu Asrul senang, karena ketakutannya langsung menghilang. Kini yang di tatapnya adalah bagaimana Asrul kedepan, setelah punya istri, Asrul diharapkan bisa mulai belajar sebagai pengendali untuk meneruskan usaha ayahnya.
Haris juga terduduk tak jauh dari Natalia, Haris tak siap menghadapi banyak perdebatan soal haknya menjadi wali nikah Risda. Haris tak mau ada debat kusir, sehingga melepas saja wali itu ke wali hakim, sehingga Haris hanya ikut menyaksikan saja.
Begitupun Haris sangat bahagia, putrinya kini sudah menjadi istri, putri yang terlahir dari hubungan yang tak seharusnya itu sudah berada di keluarga baru, keluarga yang Haris yakin akan menjaga dan tak akan mengungkit masa lalunya, Risda akan tenang bersama Asrul.
Agung merangkul bahu Haris. “Kita tak lagi sebatas sahabat, tidak lagi sebatas teman, kita sekarang sudah besanan”.
Haris tersenyum lebar. “Putri ku sekarang ada dalam pengawasanmu Gung”.
__ADS_1
Agung tersenyum lebar. “Risda sekarang menantuku, berarti putriku juga. Aku tak akan membiarkan siapun yang berani melukainya”.
Haris tertawa kecil, tapi ada air mata yang mengalir dari sudut matanya, Haris sepenuhnya yakin dengan apa yang dikatakan Agung. Haris hanya angguk kepala, tapi terang sangat bahagia saat Agung mengaku akan menyediakan rumah buat Asrul dan Risda, meminta Natalia ikut dengan mereka.
“Terima Kasih Gung”.
Agung tertawa kecil. “Mari sama sama bahagia”.
Haris tersenyum dan menyambut pelukan Agung. Haris kini sangat lega, hatinya begitu tenang, tak ada lagi beban yang menghimpitnya, seperti apa yang Haris rasakan belakangan ini, terutama setelah bertemu Risda.
Haris malah sudah punya rencana, akhir tahun ia akan mengambil cuti lagi, ia akan membawa Natalia, Risda dan Asrul ke tanah kelahirannya Sibolga. Sehingga Natalia dan Risda bisa mengenal kota dimana Haris di lahirkan, dimana Haris sempat bermain di masa kecilnya.
Apalagi disana masih ada Paman Jamil dan Tante Mila. Mereka tentu akan sangat bahagia melihat keponakan dan cucu mereka, terutama Risda, mereka belum pernah melihat cucu mereka sejak lahir kedunia, hingga kini, hingga Risda malah sudah menjadi istri.
Yang tersisa sekarang hanya tinggal Haris dan Natalia bersama tiga pasangan, Agung dan Istrinya, Lufti dan Widya, dan tentunya Asrul dan Risda. Ulah Lufti berulang lagi, sehingga ketiga pria itu kembali dengan masa mudanya, penuh gurau dan canda, bahkan lengkap dengan tawa yang lepas terbahak bahak.
Para wanita kembali hanya geleng kepala, Istri Agung tahu persis hal ini, dokter paruh baya itu kadang malah ikut ikutan, ia juga suka dengan candaan teman teman suaminya, menurutnya lucu dan menyenangkan saja.
Sikap ini membuat semua teman teman Agung, terutama teman kuliahnya kenal baik dan bahkan tak segan menggoda. Ibu Asrul kupingnya cukup tebal juga, di goda bagaimanapun tak ngaruh apa apa, ia tetap santai menjawabnya, bahkan sering buat yang menggoda yang jadi kikuk karena dapat tantangan.
Acara canda berakhir juga, Lufti kini mengarahkan pandangannya ke Asrul dan Risda yang dari tadi hanya senyum senyum saja, kalau Asrul sudah biasa, pemandangan ini tak asing bagi Asrul, sudah puluhan kali ia melihat dan mendengar kehebohan ayah dan teman temannya.
__ADS_1
Tapi, tentu tidak bagi Risda, ini bahkan pengalaman pertama, Risda malah heran ternyata ayahnya begitu, yang Risda tahu selama ini, ayahnya yang ia kenal dengan nama Pak Nas itu orangnya serius, pekerja keras dan tidak banyak kata.
Tapi, yang Risda lihat hari ini jauh berbeda, ternyata ayahnya suka bercanda, Risda menemukan keakraban, kerenyahan dan kekonyolan ayahnya, ayah mertuanya, juga Pamannya Lufti, Risda baru tahu itu, benar benar baru tahu.
“Rul, Ris. Paman harap kalian berjalan sesuai dengan harapan kami semua. Hidup rukun dan saling terbuka. Rul, jika kau menemukan hal yang salah di Risda, maka katakan pada ibunya, atau bisa juga ke bibimu. Kami orang tuamu kini”.
Asrul dan Risda menatap wajah Lufti dan anggukkan kepala. “Asrul tahu Paman, Asrul paham, Asrul janji akan mengikuti semua nasehat Paman”.
“Ris ?”.
Risda menatap Lufti sesaat, tapi tunduk lagi. “Risda janji Paman, akan berusaha seumur hidup Risda, Bang Asrul akan jadi yang pertama dan Insha Allah dapat menjadi satu satunya, selama hidup Risda”.
Semuanya saling pandang, saling berbalas senyum satu sama lainnya. Natalia menjadi pemilik senyum paling cerah, Natalia tentu kenal siapa putrinya, walau cantik, tapi Risda memang tak mau mengumbar kecantikannya, selalu sederhana.
Tak pernah pacaran sama sekali, sehingga benar, jika Asrul adalah orang pertama yang singgah di hati Risda, Asrul orang pertama yang berhasil menaklukkan hati Risda, harapannya juga sama, semoga tidak hanya yang pertama, tapi Asrul harus menjadi satu satunya, Natalia berharap juga untuk itu.
Asrul memandang wajah ayah mertuanya cukup lama, kemudian beralih ke ibu mertuanya, Asrul tak bisa memberikan gambaran bagaimana perasaan keduanya, bagaimana sakit dan pilunya kehidupan mereke sebelum ini, ketidak tahuan membuat keduanya terperangkap begitu jauh.
Selama ini ada banyak luka, ada banyak duka, itu tentu sangat lah wajar, terutama karena adanya Risda. Tapi kini Asrul berjanji akan menghilangkan semua luka dan duka itu, mereka akan melihat Risda berada dialam bahagia di setiap detiknya, Asrul janji untuk itu.
Ibu Risda, Natalia, sudah berjuang membesarkan Risda sendirian hingga sejauh ini, tapi itu sudah cukup, kini Natalia hanya akan mengambil setiap lembar ketenangan dan kebahagiaan yang ia inginkan, karena Asrul janji, setelah ini Risda dan Asrul yang akan gantian berjuang untuk kebahagiaan Natalia.
__ADS_1
OO oo TAMAT oo OO