
Lufti berulang kali menghela nafas panjang. Beragam rasa kini menyerang Lufti secara bersamaan, entah mau bilang apa, selera humor Lufti juga spontan menghilang tanpa bekas, Lufti malah banyak memandang ke langit, air matanya juga ikut turun.
Rasanya tak sanggup melihat Haris dan Natalia yang terduduk dengan duka masing masing, Lufti juga sudah kehilangan ayahnya, sampai hari ini Lufti juga belum mampu melupakannya, tapi Lufti masih punya ibu, itu yang selalu membuat Lufti tampak kuat.
Saat Lufti melihat tawa renyah ibunya yang bergurau dengan para cucunya adalah kegembiraan terbesar bagi Lufti, apalagi istrinya Widya juga selalu menyempatkan diri bertemu ibunya, dengan atau tanpa dia, ini yang membuat ibunya selalu bertanya jika Widya tiga hari saja tak dilihatnya.
Bagaimana dengan Haris dan Natalia ?, itu yang sama sekali sulit Lufti bayangkan, mereka yang kakak beradik kandung yang sempat menjadi suami istri, bahkan diantara mereka ada Risda, anak itu bahkan belum tahu tentang sejarah hidupnya, belum tahu bagaimana ia terlahir.
Kini Haris dan Natalia juga tak punya orang tua lagi, bahkan ayah angkat Haris juga ternyata sudah pergi, duka mana lagi yang akan ditemui oleh Haris maupun Natalia berikutnya, semuanya masih sangat mungkin, terutama soal Risda.
Widya mendekati Natalia dan mengangkat tubuh temannya agar berdiri, Natalia langsung memeluk Widya dan tangisnya kembali pecah, Widya hanya bisa mengelus bahu Natalia sebagai upaya untuk memberikan sedikit ketenangan.
Walau Widya tahu itu tak akan menghilangkan kesedihan Natalia, sedikitpun mungkin tidak, akan tetapi, perlakukan itu paling tidak cukup untuk memberi tahu ke Natalia kalau Widya ada bersamanya.
Haris akhirnya selesai juga membersihkan tiga makam orang yang begitu dicintainya selama ini, Haris merasa tak lagi perlu penyesalan kini, apapun semuanya sudah terjadi, yang perlu Haris tahu sekarang, bagaimana agar ketiga makam ini dapat selalu di jaga dengan baik.
Haris bangkit. "Kita cari rumah Kades ya Luf, aku mau ngobrol, mungkin ia bisa tunjukkan kita seseorang yang mengetahui cerita Wak Jainal".
Bukan hanya Lufti, yang lain juga anggukkan kepala, masih Haris yang pegang kemudi, kembali ke desa tempat tinggal Wak Jainal, dimana dulu Haris di besarkan dengan penuh kasih sayang, ingatan Haris tentu masih sangat kuat, di tempat ini dulu Haris menemukan banyak kebahagiaan dan keceriaan.
Baru di kedai pertama, Haris sudah menemukan jawaban dimana rumah Sang Kades, dan untuk kali ini Haris cukup sumringah, karena ternyata, yang menjadi Kades sekarang adalah Maimun, adik kelasnya sejak SMP, bahkan mereka sering main Volly bersama, tuntu Haris sangat mengenalnya.
Hanya berjarak tak lebih tiga ratus meter dari tempat bertanya, Haris sudah ucapkan salam, Maimun yang kebetulan hendak keluar begitu terkejut melihat Haris, senyum Maimun sangat lebar, bahkan sosok Haris sebenarnya sangat di carinya, karena Maimum punya urusan dengan Haris.
"Betulan Bang Haris ini kan ?".
Haris tertawa. "Mana pula mungkin jelmaannya Mun".
Maimun tertawa lebar dan memeluk Haris erat. "Duduk Bang".
Maimun bahkan memanggil istri dan anak anaknya, Maimun memperkenalkan Haris pada mereka, sepertinya Istri Maimun dan anak anaknya seperti pernah melihat wajah Haris, tapi semuanya tampak ragu ingin bertanya.
"Ini Bang Haris, anaknya mendiang Wak Jainal yang katanya hilang itu, eh .. sekarang muncul lagi".
Haris hanya tertawa mendengar gurauan Maimun, tapi memang mungkin benar, orang sekampung akan mengira jika Haris menjadi anak yang hilang, itu sangat wajar karena memang Haris tak terlihat dalam waktu yang lama, bahkan sampai ayah dan Wak Jainal meninggal dunia.
__ADS_1
"Sebetulnya aku juga terus menerus mencari info tentang abang, tapi memang nggak dapat dapat. untunglah Abang masih ingat pulang". Maimun masih tertawa.
Haris ikut tertawa. "Ada ada saja kau Mun".
"Aku serius Bang. Aku memang terus menerus mencari info tentang abang".
Kening Haris jadi berkerut. "Kenapa memang Mun".
"Bentar ya Bang".
Maimun berdiri dan pergi menuju kamarnya, kemudian Maimun kembali dengan tiga buah map di tangannya. Haris belum tahu apa itu, tapi melihat apa yang dipegang Maimun, itu tampaknya surat tanah, atau dokumen semacam itulah.
"Ini Bang".
Haris menerima pemberian Maimun. "Apa ini Mun ?".
"Itu dokumen tanah milik Wak Jainal, saat beliau sakit keras, ia memberikannya ke Kepala Desa sebelumnya, dengan pesan jika abang datang, dokumen itu diserahkan ke abang".
Haris jadi terharu, mata Haris jadi pedas. "Wak Jainal".
Maimun kembali angguk kepala. "Waktu saya terpilih jadi Kades, saat serah terima, ini termasuk berkas yang di serahkan ke saya Bang. Apalagi Kades sebelumnya tahu kalau kita dekat, maka ia lebih yakin jika berkas itu diserahkan ke saya".
Haris membolak balik berkas yang ada di tangannya, Haris jadi sedikit bingung, untuk apa semua ini bagi Haris, dia juga tidak berada di sini, Haris sudah berjanji, jika tua nanti akan kembali ke Jakarta, akan tinggal di rumah ibunya bersama Natalia, sehingga semua ini sebenarnya tak urgent bagi Haris.
Haris mengingat ingat letak lokasi tanah Wak Jainal, Haris tahu kalau tanah itu hanya tanah kosong, tak ada tanaman disana, Wak Jainal kemarin lebih memilih bagun rumah di kebun, katanya lebih dekat untuk bekerja bercocok tanam, lagi pula jaraknya juga tidak begitu jauh dari keramaian.
"Mun. Kalau nggak salah, ini tanah disampingnya ada Musholla kan ?".
Maimun melirik surat tanah yang ditunjuk Haris dan angguk kepala. "Iya Bang, sekarang malah sedang mau dibangun jadi masjid".
Haris sumringah. "Ah, kalau gitu, kau serahkan saja tanah ini ke masjid Mun".
Maimun tampak terkejut. "Abang serius ?".
Haris anggukkan kepala. "Abang serius Mun, kau serahkan saja".
__ADS_1
Maimun geleng kepala. "Nggak begitu Bang".
Haris jadi mengerutkan keningnya. "Jadi bagaimana ?".
Maimun angkat bahu. "Abang sendiri yang menyerahkan. Malam ini orang abang jangan pulang dulu, bermalam disini, saya upayakan abang ketemu dengan BKM nya malam ini, kalau nggak bisa besok pagi".
Haris memandang Lufti, Widya dan Natalia bergantian,
ketiganya sama sama anggukkan kepala. Dengan begitu Haris juga ikut mengangguk.
Maimun langsung tersenyum lebar dan mengambil ponselnya.
Haris hanya diam dan mencoba mencerna komunikasi Maimun dengan pihak BKM Musholla yang rencananya akan di jadikan masjid. Lufti dan Widya juga sangat sepakat dengan keputusan Haris, kata para ulama, pahala itu akan mengalir terus ke Wak Jainal, itu bagus sekali.
Maimun menutup telephonnya. "Fix Bang, nanti kita ketemunya di lokasi, kita maghrib di musholla itu, serah terimanya kita lakukan di depan jamaah setelah shalat maghrib".
Haris agak sedikit menggeleng. "Kan nggak mesti begitu juga Mun, serahkan saja, kan selesai, kenapa harus pake acara acara segala ?".
Maimun geleng kepala dan tertawa kecil. "Bukan begitu Bang, ini bukan mau pamer, nggak sama sekali, toh habis ini abang akan pergi, belum tentu sekali berapa tahun abang kembali".
Haris geleng kepala. "Kau nyindir aja Mun".
Maimun kembali tertawa. "Bukan Bang. Tapi, dengan kita melakukan serah terima di depan jamaah. Maka seluruh jamaah tahu jika tanah itu sekarang milik mereka, maka mereka akan lebih semangat untuk membangun".
Haris kembali hanya menggeleng. "Entahlah Mun, bagaimana baiknya lah".
"Jamaah juga akan mengenang Wak Jainal, nama wak Jainal akan terpatri di hati mereka, mereka tentu akan mendoakannya, mudah mudahan dengan begitu, Wak Jainal akan lebih bahagia di alam sana".
Haris tertunduk mendengar kata kata Maimun, mendoakan ?. Bahkan Haris nyaris tak pernah melakukannya, Haris terlampau larut dalam kehidupannya, bukan tak pernah beribadah, sering malah, faktanya Haris selama ini nyaris tak pernah tinggal dalam hal beribadah.
Tapi, mendoakan Wak Jainal dan Ibu Indah ?, tunggu dulu. Ibunya Indah memang sering muncul dalam doa Haris, tapi tidak dengan Wak Jainal, bahkan Haris baru tahu jika Wak Jainal sudah pergi menemui Sang Khalik setelah sekian tahun berlalu.
Haris menghusap wajahnya, andaikan ia tak bertemu Risda, maka kelarutan ini mungkin akan terus berlanjut. Andaikan Haris tidak bertemu Risda, mungkin Haris belum tahu apa apa, belum tahu jika sudah banyak orang orang yang dicintai dan mencintainya pergi untuk selamanya.
Bahkan mungkin begitu juga, seandainya Haris tidak ketemu Risda di pedalaman Kalimantan sana, Haris belum berpikir untuk kembali ke Jakarta, belum berpikir untuk kembali ke Bandar Lampung, masih larut dan terkungkung dengan semua ego yang di ciptakannya.
__ADS_1
Menyesal ?. iya, memang hanya itu yang bisa sekarang ini, Haris hanya bisa menyesali diri, menyesali atas semua kesimpulan bodohnya, kesimpulan yang membuat Haris meninggalkan semua orang terdekatnya.
… Bersambung …