
Pembicaraan selesai bersamaan dengan masuknya waktu isya, muadzzin sudah mengumandangkan adzan, semua bersiap siap untuk melaksanakan shalat isya berjamaah, Haris berdiri lebih dulu menuju tempat whudu, Haris sudah kurang yakin dengan whudu nya, apalagi tadi, Haris sempat menangis.
Usai shalat isya, saat Haris dan Lufti ingin beranjak pulang, semua jamaah kembali mendatangi, menyalami dan bahkan ada banyak yang juga lengkap dengan pelukan, termasuk Ustadz Soleh, keduanya bahkan berpelukan cukup lama, sempat juga berbincang dan saling tukar nomor telephon.
Semuanya sudah selesai, semuanya kembali ke rumah masing masing, begitu juga dengan Haris, Lufti dan Maimun yang berjalan beriring menuju rumah kediaman Maimun yang tak begitu jauh dari musholla.
“Abang kok nggak bilang dari awal kalau mau begitu Bang ?”.
Haris hanya tersenyum. “Memang niat awalnya sudah begitu Mun”.
“Iya, kenapa Abang nggak bilang tujuannya”.
Haris tertawa kecil. “Kejutan”.
Maimun tertawa, Haris dan Lufti juga ikut tertawa. Maimun benar benar salut dan bahagia mendapatkan perlakuan Haris, semua juga tahu, andaipun Haris menguasai semua harta peninggalan Wak Jainal, tak akan ada seorangpun yang bisa protes.
Sehingga semuanya terkagum, saat Haris malah dengan mudah menyerahkan semua milik Al marhum Wak Jainal untuk kepentingan umum. Maimun yakin, dengan sikap Haris yang begitu, akan banyak rahmat yang datang padanya, semua orang akan mendoakannya hidup lebih bahagia kedepannya.
“Nanti kalau mereka mau balik nama, bantu maksimal lah Mun”.
Maimun langsung mengangguk. “Kalau itu aman Bang. Pasti”.
Haris tertawa bahagia, Haris yakin Maimun akan melakukannya dengan baik, Haris dulu sangat dekat dengan Maimun, sehingga sedikit banyak Haris sudah paham bagaimana cara berpikir Maimun, ini juga membuat Haris jauh lebih tenang.
Keberadaan Maimun sebagai kepala desa membuat Haris semakin yakin jika semua akan dapat berjalan dengan lancar, seingat Haris, bertahun mereka dulu bersama, belum sekalipun Maimun mendustai Haris.
Begitu sampai di rumah, Istri Maimun langsung mempersilahkan ketiganya untuk makan malam, hanya tinggal bertiga, karena yang lain sudah lebih dulu, itu juga tadi atas persetujuan Maimun sebelum berangkat ke musholla.
Maimun merasa, mereka akan bakal lama di musholla, sehingga Maimun mengatakan yang tinggal di rumah makan malam lebih dulu saja, tidak usah menunggu, karena yang ditunggu tak ada kepastian pulangnya jam berapa.
“Bang Haris masih di Jakarta ?”.
Haris geleng kepala. “Nggak Mun, abang di Kalimantan”.
Mata Maimun agak mendelik. “Kalimantan ?, abang tinggal di Kalimantan ?”.
Haris anggukkan kepala. “Iya, Abang tinggal disana”.
Maimun menggeleng. “Kalimantan dimana Bang ?”.
__ADS_1
“Kota Waringin Timur, Kalimantan Selatan”.
“Kerja apa Bang ?”.
“Perkebunan”.
Maimun anggukkan kepala, memang di Kalimantan perusahaan yang besar besar adalah perusahaan yang mengelola perkebunan kelapa sawit, pasti Haris bekerja di salah satu perusahaan besar itu. Setahu Maimun, orang yang kerja disana gajinya lumayan juga.
Itu mungkin yang membuat Haris begitu mudah menyerahkan warisan yang didapat olehnya dari Wak Jainal. Maimun yakin, jika Haris punya pendapatan besar, sehingga tidak begitu berminat menguasai semua lahan yang di tinggalkan Wak Jainal untuknya, Maimun sangat yakin soal itu.
“Abang istirahat saja, aku lihat abang sudah capek”.
Haris tertawa kecil. “Kalau itu betul sekali Mun”.
“Apa adanya saja lah ya Bang, maklum lah Bang, namanya juga di kampung”.
Haris kembali tertawa. “Itu juga sudah luar biasa itu Mun”.
Karena kamar Maimun yang kosong Cuma dua, maka Haris dan Lufti satu kamar, sedangkan Widya dan Natalia di kamar yang satunya lagi. Ini tentu menjadi bahan pertanyaan Maimun, sejak awal, perkiraan Maimun kalau Widya itu istri Haris, sedang Natalia istrinya Lufti.
Kenapa Maimun berpikiran begitu, karena melihat wajah Haris dan Natalia, Maimun yakin jika keduanya saudara kandung, Maimun sangat yakin jika Natalia memang adiknya Haris, hanya memang Maimun heran juga, mengapa Natalia tak menutup kepala seperti Widya.
“Lia adik kandungku betul Mun, dia ini memang adik kandungku”. Jelas Haris sambil menunjuk Natalia. “Tapi, Widya istrinya Lufti”.
Maimun tertawa lebar jadinya. “Maaf Bang Luf, Kak Wid. Aku salah duga berarti”.
“Anggapanmu tadi memang bagaimana Mun ?”.
Maimun kembali tertawa dan berulang kali menggelengkan kepala. “Aku pikir Bang Lufti ini adik ipar abang”.
Semuanya jadi tertawa, pikiran Maimun bisa jadi begitu, karena memang sejak awal sampai ke rumah Maimun, Widya dan Natalia hampir tak pernah komunikasi dengan Haris maupun Lufti, mereka duduk berdekatan dengan jarak yang jauh dari Haris dan Lufti, wajar jika Maimun salah duga.
Sebenarnya Maimun masih ingin tanya kenapa Natalia tak pakai jilbab seperti Widya, tapi Maimun segan saja, memang kenapa juga kalau tidak pakai jilbab, banyak juga yang begitu, di kampung ini saja banyak, batin Maimun, walaupun sebenarnya penasarannya tak hilang juga.
Usai itu, tak ada lagi obrolan, masing masing langsung menuju kamar yang disediakan untuk beristirahat. Haris, Lufti, Widya dan Natalia sama sama sudah letih dari perjalanan panjang mereka hari ini. Sehingga pilihan istirahat ini juga sebenarnya cukup terlambat.
“Aku benar benar capek Luf”.
Lufti tertawa kecil. “Emang Cuma elu yang capek, gua juga, badan udah sakit semua ini, kita tidur saja Ris”.
__ADS_1
Haris anggukkan kepala. “Iya lah, capek juga”.
Seharusnya, sudah dari tadi sore mereka rehat, tapi karena ada cerita baru saat mereka sampai, maka istirahat baru bisa dilakukan malam ini, tentu membuat keempatnya langsung terkapar, tak ada lagi cerita yang terdengar, begitu masuk kamar, semuanya langsung pasang kuda kuda untuk tidur.
Pagi pagi sekali semuanya sudah bangun, hanya perempuan yang mandinya di rumah, Haris dan Lufti sepakat pergi kesungai bersama Maimun. Bagi Haris, itu tentu akan membangkitkan kenangannya, sedang Lufti ingin mencoba, karena seumur hidupnya belum pernah mandi sungai.
Saat Haris dan Maimun sama melompat, Lufti turun kesungai begitu hati hati, bahkan terkesan takut, ini yang membuat Haris dan Maimun jadi menertawakan Lufti, yang ditertawakan cuek saja, keselamatannya bagi Lufti jauh lebih penting, tak masalah di tertawai, silahkan saja sampai puas, batin Lufti.
Tapi, lama lama Lufti asyik juga, ternyata mandi di sungai itu enak juga, Lufti kemudian menemukan keberanian juga, dan mulai menenggelamkan diri sepuas hati, bahkan orang terakhir yang naik ke darat adalah Lufti, ia bahkan seperti sedang berolahraga sakin puasnya.
“Segar ya Ris ?, Lu dulu mandi sini terus ya ?”.
Haris tertawa. “Hampir tiap hari malah Luf”.
Lufti masih menggerak gerakkan badannya. “Dingin memang, tapi segar”.
Haris kembali tertawa. “Di Jakarta mana ketemu yang begini”.
Lufti jadi ikut tertawa. “Mimpi kali”.
Sekarang Maimun juga ikut tertawa, Maimun juga paham, di Jakarta mana ada sungai yang begini, semuanya sudah berada di tengah rumah penduduk, yang banyak ditemui disana adalah sampah, tentu beda dengan kondisi sungai di desa yang masih asri dan segar airnya.
Saat ketiganya pulang, pembahasan masih seputar keindahan desa, tapi menurut Maimun, apapun masalahnya semua sama sama memiliki nilai positif, mereka yang tinggal di kota akan berpikir jika tinggal di desa itu enak.
Semuanya masih alami, udaranya segar dan lain sebagainya, sebaliknya mereka yang tinggal di desa akan mengatakan jika tinggal di kota itu enak, karena ramai dan semuanya serta ada, apapun yang dinginkan dapat dengan cepat.
Padahal jika mereka yang terbiasa didesa akan resah jika lama tinggal di kota, dan mereka yang di kota akan merasakan hal yang sama jika lama tinggal di desa, itu kondisi yang lumrah dan akan dirasakan siapapun.
Menurut Maimun, yang benar sebetulnya adalah bagaimana orang yang tinggal di desa sesekali waktu menyempatkan diri bawa keluarga datang ke kota, dan mereka yang tinggal di kota, sekali waktu bawa keluarga juga berkunjung ke desa, pertukaran iklim dan setuasi hati.
Haris dan Lufti hanya tertawa, apa yang dikatakan Maimun sepenuhnya benar, semua orang pasti melihat yang lain lebih baik, padahal yang lain juga melihatnya dengan anggapan dia pasti lebih baik.
Haris campurkan dengan gelengan kepala, kedua orang ini tentu tak tahu dimana dan bagaimana Haris hidup selama dua puluh dua tahun belakangan ini, hidup dan tinggal di perkebunan, malah boleh di katakan belantara, yang terkadang tak ada listriknya.
Haris tidak yakin jika Lufti dan Maimun bisa hidup begitu, jika sedang berada di pedalaman dan ada gangguan di perjalanan, bisa terpaksa menginap di pinggir hutan, jika sedang pakai mobil atau truck, maka akan tidur dalam truck.
Jika kebetulan pakai sepeda motor, andai desa terdekat tak mungkin di capai, maka akan bermalam di tenda dengan berbagai rasa, tidak hanya sebatas dingin semata, akan tetapi juga kekhawatiran kemunculan binatang yang dapat memberikan gangguan.
Bukan hanya binatang buas saja, binatang melata juga menjadi hal yang paling di jaga, tidak hanya ular saja, bahkan makhluk kecil yang penuh bisa seperti lipan, kala jengking dan yang sejenis dengannya juga bisa melahirkan masalah.
__ADS_1
… Bersambung …