
Risda bahkan sekarang seperti menikmati kebersamaan dengan Asrul, bahkan sikap manjanya bahkan mulai muncul, hebatnya lagi, denyut kepala Risda malah bergerak menghilang, hampir tak ada denyutan lagi, ini juga membuat Risda lumayan heran, tapi jujur, Risda senang.
Risda kembali menceritakan soal ayah dan ibunya, termasuk cerita soal Pak Nas yang selalu mendukung mereka selama di Kalimantan, yang ternyata adalah ayah kandung Risda sendiri.
Tapi Risda agak bingung melihat Asrul yang hanya senyum tipis mendengar cerita besar yang baru ia ceritakan. Risda awalnya berharap Asrul akan memberikan banyak hal tentang itu, nasehat dan atau semacamnya, paling tidak Risda yakin Asrul akan terkejut.
Tapi apa yang dilihatnya membuat Risda sangat terheran heran, Asrul bahkan sama sekali tak punya respon terkejut atau semacamnya tentu membuat Risda yang balik bertanya tanya dengan sikap Asrul.
“Aku bingung melihat kamu Rul ?”.
Asrul angkat bahu. “Kenapa ?”.
“Kamu tidak tampak respon dengan ceritaku, tidak terkejut atau …”.
Asrul tertawa. “Ya nggaklah”.
Kening Risda jadi berkerut. “Kenapa ?”.
Asrul malah memasang wajah penuh senyum membuat Risda makin bingung, Risda merasa terlampau aneh jika Asrul benar benar tak memiliki respon yang sesuai keyakinan Risda. Tapi memang begitu, Asrul tampak hanya senyum senyum saja.
“Berarti Pak Nas benar, apa yang dikatakan Pak Nas betul, ini putri dan menantu saya, iyakan ?”.
Risda kini tertawa kecil. “Maumu ?”.
“Masa mauku saja, kamu nggak senang menjadi calon istriku ?”.
Risda menatap ke arah Asrul, untuk yang kesekian kalinya keduanya kembali saling tatap, senyum terus mengembang dari bibir keduanya, tapi tak lama, Risda kembali berontak saat Asrul kembali berhasil mendaratkan hidungnya ke pipi Risda.
“Sialan lu ya Rul”. Risda menghapus pipinya.
Asrul tertawa. “Lu kan pacar gua, suka suka gua dong”.
Risda menggeleng, ada hal yang tentu saja membuat Risda jadi kesal, ulah Asrul yang seenaknya saja main sambar membuat Risda terus geleng kepala, sebenarnya kurang terima dengan sikap dan kelakuan yang begitu.
Risda kembali menggeleng. “Kita baru pacaran tak sampai satu jam, tapi lu sudah nyium gua puluhan kali, dihitung bisa satu kali perdetik mungkin”.
Asrul malah tertawa. “Apaan, kalau satu kali perdetik berarti masih kurang, sini”.
Risda menolak dada Asrul dengan kedua tangannya saat Asrul langsung memeluknya, sekuat tenaga Risda menolak, tapi Asrul lebih kuat, Risda akhirnya tak berontak lagi, capek. Dengan begitu Asrul bisa memeluk Risda erat, kini jemari Risda malah sudah bertaut di kuduk Asrul.
Lama keduanya saling berpandangan, kali ini Asrul dan Risda sama sama merasakan gerakan getar di dada masing masing. Risda bahkan menjadi heran dengan gemuruh jantungnya yang berjalan cepat, detak jantung Risda benar benar meningkat.
“Gua benar benar mencintaimu Ris, gua serius dengan semua ini. Yakinlah, kalau kita bisa menghadapi semuanya dengan baik, gua yakin hanya akan menemukan kebahagiaan bersama lu Ris”.
Risda hanya tersenyum, memandang wajah Asrul sedekat ini benar benar membuat Risda takluk. Kali ini Risda yakin kalau memang ia juga menyayangi dan memang mencintai Asrul, bahkan sangat besar. Buktinya, Risda menemukan keteduhan dari rangkulan Asrul.
“Sebenarnya, sejak di Kalimantan aku sudah tahu Ris”.
__ADS_1
Risda mendelik. “Kau sudah tahu ?”.
Asrul menggeleng. “Manggil abang kenapa Ris, kan aku calon suamimu”.
Risda mencibir. “Apaan ?”.
“Iya, supaya mesra gitulah”.
Risda menggeleng lagi. “Iya Bang”.
Asrul tersenyum lebar. “Gitu dong. Kan enak dengarnya”.
Risda kembali geleng kepala, tapi memang pada dasarnya Risda juga memiliki banyak hal yang pantas membuatnya tertarik pada Asrul, semua sikap yang Asrul tunjukkan saat mereka bersama di pedalaman bukan hal yang kecil.
Semua sikap Asrul sangat membantu Risda, ia tahu Asrul tulus dengan semuanya, selama ini Risda yang memang sengaja menjauh dari Asrul karena tak yakin dengan dirinya sendiri, perbedaan mereka dalam banyak hal, Risda merasa tak pantas masuk dalam keluarga besar Asrul.
Faktanya sebenarnya terbalik, Risda juga punya rasa kagum pada Asrul, rasa suka dan banyak lainnya sejak mereka di Kalimantan, terutama sejak apa yang menimpa Risda, Asrul lah satu satunya orang selain Pak Nas yang begitu pedulu padanya dalam kondisi yang bagaimana saja.
Itu juga mungkin tadi yang membuat Risda dengan mudah masuk dalam jebakan Asrul, karena pada dasarnya, Risda juga punya perhatian dan sebenarnya juga sudah lama jatuh jati pada Asrul.
Risda kembali menatap Asrul lekat. “Jadi Abang sudah tahu sejak masih di Kalimantan ?”.
Asrul penuh senyum dan anggukkan kepala. “Sudah. Ayah mertua sudah bicara banyak ke Abang soal itu Ris, jadi tahu semuanya”.
Risda kembali menggeleng, pertama Asrul ternyata tahu tapi tak mau bicara, kedua enak saja manggil ayah mertua. Tapi Risda cuek saja akhirnya, sekarang menurut Risda suka sukanya Asrul sajalah, terserah mau bilang apa, Risda tak mau ambil pusing lagi.
Dan, kali ini Risda diam saja saat Asrul kembali daratkan ciuman tipisnya di kedua pipi Risda, entah apa pun itu, Risda merasa tak perlu berontak lagi, toh Risda sudah memilih yakin untuk menerima tawaran Asrul untuk hidup bersamanya.
Asrul kembali geleng kepala. “Ayah Mertua yang melarangnya”.
Kening Risda agak berkerut. “Kenapa Bang ?”.
Asrul angkat bahu. “Entahlah Ris, yang jelas beliau tak ingin kamu terluka”.
Risda menggeleng. ”Buktinya sekarang aku terluka Bang”.
Asrul kembali tertawa kecil. “Tapi disini, bukan disana. Jika kamu terluka di sana, kepada siapa kamu harus menumpahkannya. Tapi, jika disini setuasinya berbeda Ris, disini banyak orang tempatmu bersandar dan mengadukan masalah”.
Risda anggukkan kepala, apa yang dikatakan Asrul memang ada benarnya, Risda juga tak bisa membayangkan jika ia mengetahui tentang kisahnya saat masih di Kalimantan, semuanya pasti akan sangat kacau. Disini memang akan beda, selain ibunya, Risda juga punya Paman Lufti dan Bibi Widya setidaknya.
“Abang bangun kesepakatan dengan Pak Nas”.
Risda agak mendelik. “Kesepakatan ?”.
Asrul anggukkan kepala. “Kami sepakat untuk tidak meyampaikannya padamu Ris, biar mamamu yang menyampaikannya setelah kita pulang dari daerah pengabdian”.
Risda kembali anggukkan kepala, tapi anggukan itu berhenti saat Asrul kembali menarik Risda ke dalam pelukannya, kini Asrul malah seenaknya membelai kening dan pipi Risda dengan jemari tangannya.
__ADS_1
Risda menghela nafas panjang. “Tapi aku tak berani berlama lama begini Bang, aku takut”.
Kening Asrul sedikit mengerut. “Maksudnya ?”.
“Ini baru pertemuan pertama, tapi abang sudah ganas begitu, bagaimana pertemuan berikutnya, habis aku Bang”.
Asrul jadi tertawa renyah. “Sayang ada ada saja, masa begitu”.
Risda geleng kepala. “Buktinya apa ?, abang tak terkendali”.
Asrul cengengesan. “Namanya juga senang, sayang gimana sih ?”.
Risda kembali geleng kepala, kembali mata Risda bertemu pandang dengan Asrul, kembali lagi Risda memilih kalah. Risda kembali menatap ke tanah, menunduk cukup dalam. Tapi kemudian Risda kembali menatap ke Asrul, hanya sesaat, pandangan Risda kembali ke tanah.
“Kalau Abang setuju, aku akan ikut keyakinan ayah, dan aku meminta, saat itu terjadi, aku ingin Abang tak sekedar temanku, tapi juga suamiku”.
Asrul tersenyum lebar. “Pasti sayangku, pasti”.
Risda hanya senyum kecil, jika memang menginginkan hubungan ini nyata, maka menurut Risda itulah cara terbaiknya, Risda tak mau mengulang sejarah Kakek dan Neneknya, tak juga mau mengulang sejarah Ayah dan Ibunya, salah satu harus mengalah, Risda merasa, dialah yang paling tepat untuk itu.
Sejujurnya, Asrul bagai terbang di awan, keinginannya untuk sesegera mungkin mempersunting Risda bahkan mendapat respon yang sebelumnya Asrul tak duga, ayahnya kemarin bahkan sudah setuju, sekalipun mereka tetap mempertahankan perbedaannya.
Walau ibu Asrul sempat menolak keras, tapi kemudian tak bisa bicara juga saat Asrul mengatakan akan tetap melanjutkan niatnya. Sang ibu hanya geleng kepala dan pergi begitu saja, tentu mendengar ini akan membuat ibunya luluh, Asrul yakin itu.
Asrul bahkan beberapa hari ini sudah berpkir akan datang melamar Risda, walaupun Risda masih belum menerima pernyataannya, Asrul sangat percaya kalau Risda akan menerimanya, sehingga Asrul berani ungkapkan semua pada orang tuanya.
Dan ternyata Asrul mendapatkan semua harapannya, tentu Asrul bagai mendapat durian runtuh. Apapun alasannya, Asrul tak akan mau berlama lama, Asrul janji akan sesegera mungkin meresmikan hubungannya dengan Risda, harus tahun ini, harus sebelum ia daftar S2.
“Besok orang tuaku akan datang menemui Tante Lia, biar mereka yang mutuskan kapan waktunya”.
Risda agak mendelik. “Secepat itu ?”.
Asrul menatap sesaat dan tertawa kecil. “Aku sudah tak tahan ingin memiliku”.
Risda menggeleng. “Dasar”. Umpat Risda.
Tapi Risda juga ikut tertawa kecil, ikut membayangkan akan hidup bersama Asrul, entah itu bagaimana nanti, tapi Risda hanya punya satu keyakinan, menjalin hubungan hanya membutuhkan kejujuran, ini akan menjadi pengalaman pertama bagi Risda, karena sebelum ini Risda memang tak pernah pacaran.
“Tapi, ada satu lagi yang perlu sayangku ketahui”.
Risda mulai menggeleng lagi. Entah apa ucapan sayang itu, Risda geli mendengarnya keluar dari mulut Asrul, tapi lihat lihat di televisi, memang sepertinya begitu, banyak pasangan yang menggunakan panggilan itu, tapi nyatanya Risda geli mendengarnya, kuping Risda bagai dimasuki bulu ayam rasanya.
“Apanya Bang ?”.
“Abang akan memulai kuliah lagi bulan September yang akan datang. Kalau bisa, abang mau, kita sudah menuntaskan hubungan kita ke jenjang final sebelum itu”.
Risda hanya menggeleng. “Aku pasrah Bang. Kapan saja siap”.
__ADS_1
Asrul tampak sumringah, ini impian yang sudah sangat lama Asrul idamkan, tentu dengan cara apapun, Asrul akan sesegera mungkin akan melegalkan hubungan mereka, bila bisa, semuanya dapat tuntas bulan ini juga, walau itu mungkin terdengar aneh, terlampau cepat.
…. Bersambung …