
Natalia bergegas menuju pintu yang sudah beberapa kali diketuk dari luar. Air muka Natalia langsung berubah saat membuka pintu dan menemukan sosok lelaki yang berdiri dihadapannya.
“Abang..”.
“Lia..”.
Natalia langsung memeluk Haris dan menangis sejadi jadinya, Haris lebih erat memeluk adiknya, rindu yang dalam tentu bukan hanya milik Natalia, juga milik Haris yang kini sadar sesadar sadarnya betapa egois yang ia punya sudah membuat banyak yang terluka.
Natalia membawa Haris masuk rumah, masih dengan pelukannya yang enggan ia lepas, Haris merasakan getaran di tangan Natalia, ini yang melipat gandakan kegundahan Haris, adiknya sampai gemetaran memeluk tangannya.
Natalia sudah seperti anak kecil yang sedang merajuk, ia terus membenturkan pelan keningnya ke lengan Haris yang dipeluknya, sesekali Natalia juga mencium bahu Haris, luapan rasa rindu yang memang sudah sangat besar untuk bisa di tahan.
“Ibu selalu menanyakan Abang”.
Haris menggeleng. “Abang memang salah Lia. Abang tidak seharusnya begini, ibu tentu sangat terluka.
“Sampai akhir hayatnya, ibu selalu meminta Lia mencari Abang”.
Haris anggukkan kepala. “Ibu pasti sangat terluka, Abang menyesal”.
“Bentar ya Bang”.
Natalia kemudian berdiri dan meninggalkan Haris yang duduk di kursi sofa panjang yang terlihat agak usang, pandangan Haris mengitari seluruh ruangan, rumah ibunya yang belum ada menunjukkan perubahan, semuanya masih sama dengan saat dimana dulu ia tinggalkan.
Disini Haris dulu merasakan kebersamaan dengan Natalia, saat itu adalah saat yang paling membahagiakan, tapi waktunya hanya seminggu, setelah apa yang terjadi di acara pesta resepsi mereka, semuanya berubah arah, Haris terpukul dan memilih meninggalkan semuanya.
Tak lama Natalia datang dengan kopi panas di tangannya, Natalia kembali duduk di samping haris, kepalanya ia sandarkan ke bahu Haris, sedang kedua tangannya erat memeluk lengan Haris.
__ADS_1
Mendapati perlakuan adiknya, Haris juga memberikan ekspresi dengan terus membelai kepala adiknya, sesekali ia juga mencium puncak kepala Natalia dengan penuh kelembutan.
“Abang ketemu Risda di Kalimantan”.
Natalia tersentak terkejut dan bahkan langsung menegakkan badannya, mata Natalia lurus memandang Haris dengan lekat, lama mereka saling pandang, tapi kemudian Natalia mengalihkan pandangan dan menunduk.
“Abang ketemu Risda ?”.
Haris anggukkan kepala. “Selama ini Abang di Kalimantan”.
“Sejak pergi dulu ?”.
Haris mengangguk. “Pertama Abang di Ketapang, kemudian pindah ke Sampit, dan sekarang di Kotawaringin Timur”. Jelas Haris.
“Abang ketemu Risda dimana ?”.
“Jauh tempatnya Bang ?”.
“Itu sudah berbatasan langsung dengan Malaysia”.
Natalia tak bertanya lagi, ia kembali menyandarkan tubuhnya, kembali duduk dengan posisi semula, mengamit lengan Haris dan menyandarkan kepalanya di bahu Haris yang juga kembali mengelus kepala Natalia.
Suasana menjadi begitu hening. Haris hanya menatap lantai, tak begitu sering melirik kewajah Natalia yang tampak terus bermanja padanya. Tapi kemudian, Haris kembali serba salah setelah kembali mendengar isak lemah Natalia yang kembali menangis.
“Lia baru tahu kalau Lia mengandung seminggu setelah Abang pergi”.
Kepala Haris langsung berdenyut sakit bagai tertimpa palu puluhan kilo gram, dadanya juga ikut ikutan berdenyut, sangat sakit, Haris mengatupkan mata sekuat tenaga, dunia tampak gelap dimata Haris.
__ADS_1
Kalimat Natalia bagai sambaran petir yang maha kuat, walau itu sudah menjadi dugaan kuat Haris dan satu alasan yang paling kuat membuat Haris kembali ke Jakarta, tapi kalimat Natalia yang membenarkan kalau Risda memang anaknya membuat Haris benar benar terkejut dan sangat terpukul.
Harapan Haris awalnya Risda adalah buah perkawinan Natalia dengan pria lain jauh dari kenyataan, harapannya Risda adalah keponakannya hanya sebatas angan angan.
“Jadi Risda itu …”.
Natalia anggukkan kepala. “Iya.. anak Abang”.
Kepala Haris makin berdenyut. Yang benar, Risda lahir dari sebuah hubungan yang tak seharusnya, hubungan dua orang manusia yang awalnya memang begitu saling mencinta.
Tapi harus rela berpisah dan membubarkan perkawinan mereka sebulan kemudian, setelah mereka tahu kalau mereka adalah pasangan Kakak Adik yang lahir dari wanita yang sama.
“Risda tahu ceritanya ?”.
Natalia gelengkan kepala. “Risda belum tahu apa apa Bang”.
Haris mendesah. “Apa yang menjadi pemikiran Risda”
Natalia hanya geleng kepala. Ia kembali memeluk erat lengan Haris, kepalanya kembali ia sandarkan ke bahu Haris bermanja manja, Natalia sepertinya tak ingin jauh jauh dari Haris, ia sudah terlampau lama memendam rasa rindu dan kesedingan yang menimpanya seorang diri.
Hingga berjam jam lamanya Natalia tetap dengan posisi yang sama padahal mereka tak ada yang mengeluarkan kata kata. Baik Haris maupun Natalia sama sama merasa tak punya kalimat untuk disampaikan, sehingga keduanya benar benar dikuasai kebisuan.
Haris melirik ke arah Natalia, mungkin karena terlampau lelah dengan tangis yang terus bersamanya membuat Natalia begitu letih dan akhirnya tanpa sadar tertidur di bahu Haris.
Haris akhirnya memilih menggendong Natalia, membawanya ke kamar dan menidurkannya di atas kasur. Lama Haris memandangi wajah adiknya, kembali hanya air mata, Haris sedih melihat wajah Natalia yang tampak lebih tua dari usianya.
Ternyata selama ini Haris berubah menjadi manusia yang egois, manusia yang tak memikirkan orang orang yang mencintainya, egois yang ia punya hari ini membawakan Haris hadiah penyesalan yang sangat dalam, bahkan mungkin Haris tak akan sanggup menyelaminya.
__ADS_1
… Bersambung …