
Perputaran hari begitu cepat, tak terasa minggu berganti bulan dan bahkan tahun juga sudah tak sama lagi, sudah bertambah satu, Farhan sudah punya satu kursi di PTN lewat jalur SNMPTN dan mendapat tempat sesuai dengan keinginannya dan juga keinginan keluarga, terutama ayahnya, pendidikan dokter.
Hanya saja Farhan cukup kecewa mendengar khabar dari temannya di Kotawaringin Timur, Tomy. Ternyata Tomy gagal mendapatkan kursi lewat jalur SNMPTN, tapi pengakuan Tomy, dia juga ambil bagian di SPAN-PTKIN tetap dengan pilihan PTKIN yang ada di Jakarta, sekarang masih menunggu pengumuman.
Selain itu, Tomy juga sudah mendaftarkan diri ikut berkompetisi di jalur SBMPTN, pilihannya juga sama, tetap mengambil program studi yang disarankan Farhan, tentu dengan tujuan Tomy bisa terbang ke Jakarta kuliah bareng Farhan, semua sudah sepakat, Agung juga sudah setuju 100% membiayai kuliah Tomy.
Kini Farhan hanya tinggal menunggu Ujian Nasional saja, tidak perlu ikut bimbel atau semacamnya karena tujuan berikutnya sudah pasti, sehingga Farhan kini banyak di rumah, pulang sekolah tak kemana mana lagi, tak ada pembelajaran tambahan kecuali yang disiapkan sekolah.
Ini yang membuat Risda punya mitra baru dalam mengurusi taman rumah, Farhan selalu menemani Risda merawat taman, tidak hanya taman yang ada di rumah utama, tapi juga taman di rumah yang dibangun Asrul, rumah yang hanya di tempati sesekali saja, bahkan sering hanya sekali dua minggu saja Asrul dan Risda menginap disana.
Tetapi Risda punya jadwal kunjungan tetap kesini setiap hari Jumat. Jika Asrul tak ada jadwal kuliah, biasanya Asrul juga akan ikut kesini, tapi jika ada jadwal, maka Risda akan pergi sendirian, Risda tak perlu khawatir tentunya, karena disini ada yang tinggal, ada Mang Supri dan Istrinya Bi Sumi yang bertugas menjaga rumah.
Tidak adanya kesibukan Farhan membuatnya terus ikut dengan Risda, sekalipun ada Asrul, Farhan tetap ikut, karena Asrul tidak akan melakukan apapun untuk taman, malah kadang kadang jadi pengganggu bagi Risda, padahal waktu lajang dulu, Asrul cukup sering peduli ke taman, termasuk menyiramnya pagi dan sore.
Tapi, setelah menikah, Asrul malah enggan ambil bagian, di rumah mereka ini, Asrul lebih banyak mematung di depan kolam ikan, kolam yang tak begitu besar, kolam yang dibuat dengan tangan Asrul sendiri, ada lima jenis ikan yang ditabur Asrul disana, mulai dari Nila, Gurami, Patin, Sepat dan Mas.
Asrul mampu berlama lama disana, hanya memandangi begitu saja, bahkan Risda juga sebenarnya memiliki hobby yang sama, suka melihat lihat ikan yang berenang kian kemari, hanya saja Risda selalu protes, karena menurut Risda, kolam itu tampak luas bagi ikan karena masih kecil kecil, kalau sudah besar, kolam ini terlampau kecil.
Ada banyak yang lucu juga sekarang, Ariana selalu saja cekikikan kalau melihat Farhan yang bertelephon berjam jam dengan Faridha, Ariana akan selalu menjadi pengganggu utama, tapi Farhan nggak bisa bilang apa apa, hanya senyum kecut dan geleng kepala saja.
Farhan juga tidak bisa mengapa mengapa saat Ariana merampas ponselnya dan gantian cerita dengan penuh tawa bersama Faridha. Sialnya, saat bicara selesai, Ariana bukannya mengembalikan ponsel abangnya, malah asyik sendiri main games kegemarannya, yang sudah Farhan hapus berulang kali, tapi oleh Ariana kembali di download lagi.
Paling jika ada Risda, Farhan bisa mengadukan nasibnya, Risda akan selalu maju untuk membujuk adik ipar bungsunya itu agar mau mengembalikan ponsel abangnya, sering tidak butuh waktu lama Farhan bisa kembali menguasai ponselnya, tapi gantian ponsel Risda yang jadi korbannya.
Jika begini, sering Asrul yang pusing, ada yang mau disampaikan, yang menjawab Ariana, ketus pula, belum lagi Asrul bicara, sudah dimatikan saja, Asrul hanya bisa geleng kepala, dihubungi Farhan, dalam panggilan, Asrul tahu Farhan pasti sedang ngobrol dengan Faridha.
Dalam hal ini, Asrul sering tak bisa apa apa, sesuatu yang seharusnya bisa cepat berubah begitu lambat, Asrul sering bahkan harus pulang dulu agar apa yang dibutuhkannya ketemu, tapi Asrul hanya bisa pasrah dan geleng kepala resah saja.
Asrul tak bisa bahkan sekedar mengumbar kesalnya, nanti yang akan jadi lawannya tentu Ariana, sesuatu yang tak akan mungkin dapat dimenangkan Asrul, melawan Ariana sama saja mengundang lawan enam orang sekaligus, bahkan bisa jadi menjadi tujuh, ditambah Risda.
Asrul langsung menuju kamar dan berdecak kesal, Asrul menemukan Risda sedang baca majalah remaja, tampak santai. Risda bahkan tak dengar saat Asrul masuk, karena memang Asrul tak harus membuka pintu, pintunya sudah terbuka saat Asrul ingin masuk.
“Oh, sayangku … cintaku … manisku …”.
Risda tersentak. “Abang, abang kapan datangnya ?”.
Risda tersenyum manis, berdiri dan langsung memeluk, tentu Risda sedikit bingung karena jam masih jauh dari jam kebiasaan suaminya pulang, ini masih terlampau siang, belum pernah Asrul pulang secepat ini.
Sudah begini, Asrul luluh lantak, kesalnya lenyap dalam sekejap. Asrul memegangi kedua pipi Risda sebelum mendaratkan ciumannya. Risda membalas dengan cara yang sama, Asrul hela nafas, kesalnya sudah tak bermakna.
“Ponsel adek mana ?”.
Risda senyum lebar. “Ariana”.
Asrul tertawa miris. “Sedih Abang Ris”.
Risda agak mendelik. “Lho, kenapa Bang ?”.
Asrul geleng kepala. Ia langsung menuju lemari, ambil berkas yang ia butuhkan, kemudian melakukan scan dengan menggunakan ponselnya. Risda melihat dan kembali mengerutkan keningnya, masa pulang hanya untuk itu.
“Abang pulang hanya untuk ini Bang ?”.
Asrul kembali senyum kecut. “Mau bagaimana lagi, tak ada yang bisa di hubungi”.
__ADS_1
Risda kembali memeluk Asrul. “Maaf dah kalo gitu, tadi Ariana rampas ponsel Farhan”.
Asrul kembali menggeleng. “Ariana juga punya ponsel kan ?”.
Risda ikut menggeleng. “Abang beliin saja yang lebih bagus, yang punya Riana sekarang nggak bisa games yang dia suka”.
Asrul geleng kepala lagi. “Ayolah sekalian, pulang dari kampus nanti kita singgah beli ponsel, lama lama abang pusing di buatnya”.
Risda anggukkan kepala, Asrul lebih dulu keluar rumah. Asrul sudah dalam mobil dan mobil pun sudah di hidupkan, tapi Risda dan Ariana tak muncul juga, Asrul sudah tiga kali melihat jam yang ada di tangannya, sudah berulang kali hela nafas panjang barulah Risda dan Ariana muncul.
Asrul menggeleng, ini mau ke kampus dan mau beli ponsel atau mau ke kondangan, Risda dan Ariana sempat sempatnya ganti baju, Risda bahkan sempat sempatnya pakai make-up, dasar perempuan, batin Asrul. Asrul makin menggeleng saat melihat Ariana yang begitu ceria, heboh, sudah mirip ulat pinang.
Asrul langsung menjalankan mobil, sedikit membalap lurus menuju kampusnya. Sampai kampus, ketiganya langsung turun, Risda tampak ragu, karena ini kali pertama ia ikut ke kampus suaminya, Risda melangkah agak pelan, memperhatikan banyak hal, hingga ketiganya sampai ke ruang biro.
“Bang Rul, berkasnya sudah siap belum ?”.
Asrul tersenyum. “Sudah Vi, tinggal scan ijazah S1 ini saja”.
“Sudah, cepat bang, biar kita bisa sama nanti”.
Asrul kembali senyum sambil angguk kepala. “Ini tinggal berikan ke Pak Munir, sudah ini, semuanya beres”.
Asrul masuk begitu saja ke ruangan, dengan begitu Risda dan Ariana tertinggal diluar, mata Risda dari tadi terus memperhatikan wanita yang tadi nyambar saja bicara dengan Asrul, entah kenapa Risda merasa wanita ini cukup dekat dengan Asrul, jangan jangan, batin Risda, kok malah jadi cemburu.
Vivi juga seperti merasa sedang diperhatikan Risda, malah mendekat. “Adiknya Bang Asrul ya ?”.
Risda agak mengerutkan keningnya. “Adik ?. Iya juga sih, Bang Asrul memang lebih tua dari saya”.
Vivi jadi ikut mengerutkan keningnya. “Bukan adiknya ?”.
Mata Risda sudah agak melotot sebenarnya, tapi bibirnya masih mampu melempar senyum diantara bibit kesal yang mulai beranak pinak di hatinya, Risda kini malah bertanya, siapa wanita ini, kenapa tampak begitu dekat dengan suaminya, bahkan tadi ngobrol seakan tak ada Risda disana.
“Kalau bukan adik, siapanya Bang Asrul dong, teman ?”.
Ariana jadi ikut menatap Vivi lama. “Memang tante siapanya Bang Asrul ?”.
Vivi gantian menatap ke Ariana. “Saya temannya”.
“Oo”. Ariana anggukkan kepala. “Saya adiknya Bang Asrul, ini Kak Risda, Kakak Ipar saya”.
Vivi tampak terkejut. “Emang Bang Asrul sudah nikah apa ?, nggak pernah dengar tuh kayaknya”.
Asrul yang baru keluar cukup terkejut mendengar omongan Vivi, Asrul mendekat dan kini berdiri di samping Risda. “Kapan lu bisa dengar Vi, lha wong saya nikahnya sebelum masuk kuliah, gimana sih ?”.
Vivi masih dengan mode terkejut. “Jadi Abang sudah nilkah ?”.
Asrul menggeleng. “Masih nanya ?”.
Vivi tampak masih setengah percaya, malah kini memandangi Risda cukup lama, Vivi mengakui kalau Risda memang cantik, jauh lebih cantik dari dia malah, Vivi akhirnya jadi gugup sendiri, karena selama ini, yang ia tahu Asrul belum menikah, bahkan belum punya pacar.
Hal ini disimpulkan Vivi karena melihat Asrul yang sama sekali tak pernah dekat dengan wanita manapun, bahkan tak pernah membicarakan wanita manapun, sehingga Vivi punya keyakinan kalau Asrul sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan wanita manapun.
Beberapa teman Asrul yang lain muncul, dari beberapa teman itu, ada tiga yang mengenal Risda dan mengetahui siapa Risda untuk Asrul. Irna yang juga teman Risda saat masih kuliah S1 langsung mengejar dan bahkan nyaris melompat lompat sambil memeluk, Risda tentu spontan melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Melihat ini Vivi semakin ciut, ternyata ia menaruh hati pada orang yang salah selama ini, pantas saja Asrul sangat dingin, tak menyahut apapun tindakan Vivi, hari ini baru Vivi sadar alasannya, ternyata sudah ada wanita cantik yang selalu menunggunya di rumah.
“Lama nggak jumpa, lu makin padat aja ya Ris”.
Risda tertawa kecil. “Padat apanya Ir, ada saja lu mah”.
Irna ikut tertawa kecil. “Serius gua Ris, makin berisi lu, uda isi belum?”. Irna memegang perut Risda.
Risda hanya menggeleng. “Belum rejeki kali Ir”.
“Ah, si Abang kurang kencang nih”.
Asrul yang disindir melotot. “Enak aja lu ngomong, gua mah all ready”.
Semuanya jadi sama sama tertawa, hanya Vivi yang tidak, Vivi hanya bisa senyum, itupun sangat tipis,Vivi malah merasa sedih, kecewa dan banyak perasaan lain yang sebenarnya cukup mengganggu, Vivi selama ini punya harapan, tapi ternyata harapan itu mungkin tak akan pernah kenyataan, bahkan sebelum diungkapkan.
“Hus, ada anak kecil”. Sela Sumpeno sambil merangkul bahu Ariana.
Ariana menatap keatas untuk melihat wajah Sumpeno. “Riana sudah SMP Kelas IX Mas No, mana kecil lagi”. Ariana malah manyun. “Kalau Mila iya, anak kecil dianya”.
Sumpeno mencubit hidung Ariana dan tertawa tentunya. “Mila tuh bayi Riana”.
"Iya kan ?, anak kecil dianya".
Sumpeno menggeleng. "Berarti Riana sudah besar dong ?".
Ariana mengangguk. "Iya dong. Mas nya aja yang bilang anak kecil".
Semuanya kembali tertawa, Sumpeno nggak jawab lagi, ia tahu kalau Ariana akan punya banyak jawaban jika terus dipertanyakan, Ariana terkenal pandai bicara, sejak kecil sudah begitu memang, dulu Sumpeno suka menggoda Ariana, Sumpeno sudah berteman dengan Asrul sejak SMA.
Istri Sumpeno juga sangat gemas kalau ketemu Ariana, ia akan mengejar dan menciumi Ariana sepuasnya bila ketemu, Ariana selalu seakan tahu dan membiarkan saja, bahkan ikut juga mencium istri Sumpeno membuatnya menjadi makin gemas, Istri Sumpeno mengaku suka dengan garis wajah Ariana, mempesona.
Asrul hanya geleng kepala, masa Ariana membandingkan diri dengan putri Sumpeno yang masih belum genap setahun. Asrul menatap adiknya lama, memang badannya sudah besar, bahkan sudah hampir mengalahkan kakaknya Reni, tapi Asrul masih melihatnya sebagai anak kecil, adik kecil manja yang sering bersikap semaunya.
“Kita duluan ya, ada yang mau dicari juga ini”. Ungkap Asrul.
“Ok, silahkan bro”.
Hanya Sumpeno yang jawab, yang lain hanya anggukkan kepala dan memasang senyum merekah saja mengiringi langkah ketiganya. Sumpeno masih tampak senyum lebar, pandangannya masih ke Ariana, memang sudah besar sekarang, tidak lagi anak kecil yang dulu suka ia gendong.
Asrul bersama Risda dan Ariana melangkah meninggalkan semuanya, mata Vivi masih terus mengekor hingga ketiganya hilang, Vivi masih cukup terkejut dan bahkan merasa tertekan karena baru tahu kalau Asrul sudah punya istri.
Vivi akhirnya menghela nafas panjang, merasa ada untungnya juga sekarang, untung Vivi sama sekali belum ungkapkan inginnya kepada Asrul, untung selama ini Vivi masih mampu memendam, berencana baru ngomong setelah seminar proposal tesis mereka kelar, kalau tidak, entah bagaimana rasanya di tolak.
Tak lama, ketiganya sampai juga ke toko ponsel, hanya Risda dan Ariana yang masuk dan langsung memilih. Asrul sudah tahu bakal apa yang akan terjadi, kedua wanita yang disayangnya itu dapat dipastikan akan menggunakan banyak waktu, ini yang membuat Asrul lebih memilih menunggu diluar, akan merepotkan sekaligus melelahkan jika ikut masuk ke dalam.
Pandangan Asrul terus mengarah ke keduanya yang tampak terus asyik bertukar pendapat, walau tampak penguasanya adalah Ariana, tapi dia juga tampak serius jika Risda menjelaskan sesuatu, satu pandangan yang sangat menyenangkan bagi Asrul, istri dan adiknya yang sangat dekat.
Ini juga salahsatu kelebihan Risda di mata Asrul, Risda tidak hanya memainkan peran sebagai istrinya saja, akan tetapi juga sukses menjadi kakak untuk adik adik Asrul, semua punya catatan yang menyejukkan soal Risda, mulai dari Mutia hingga Ariana, semuanya menjadikan Risda sebagai tempat mengadu selain ibu mereka, dan sejauh ini Risda mampu menunjukkan peran dengan sangat baik.
Kini Asrul malah lanjut pada kegiatan memikirkan hal lain, Asrul teringat kalau ia ternyata sudah menjadi suami Risda nyaris dua tahun, ternyata sudah selama itu mereka bersama dalam biduk rumah tangga, tapi Asrul rasanya baru kemarin mengucapkan ijab kabul untuk Risda. Asrul tersadar kalau minggu depan mereka genap dua tahun menjadi pasangan suami istri.
Asrul mendesah sendiri, waktu ternyata begitu cepat berlalu, waktu berlari selalu dengan kekuatan penuh dan tak akan pernah berhenti. Jadi, kitalah yang harus membangun kekuatan, memupuk kemampuan agar tidak terjatuh dan tergilas tak mampu melawan keadaan saat harus berlari bersama waktu.
__ADS_1
Akhirnya Asrul bernafas lega dan langsung menuju mobil saat melihat istri dan adiknya sudah selesai mendapatkan pilihannya, Asrul menggeleng saat melihat jam yang ada di tangannya, nyaris dua jam. Asrul menggeleng, hanya untuk menentukan pilihan ponsel mana yang akan dibeli, Risda dan Ariana membutuhkan waktu selama itu, mengherankan.
…. Bersambung …