
Risda kini memandang Asrul dengan sangat lekat, tapi kemudian Risda kembali mengalihkan pandangannya, rasa was was Risda semakin besar, apakah Asrul benar benar serius menjalin hubungan dengannya, apakah Asrul tak akan pernah ungkit kisahnya di kemudian hari.
“Kok termenung Ris, kenapa ?”.
Risda mendesah. “Abang serius kan sama Risda ?”.
Asrul malah tertawa kecil. “Sangat serius. Kok nanya itu ?”.
Risda menggeleng. “Dengan semua kisah buruk tentangku Bang ?”.
Gantian Asrul yang buang nafas berat. Asrul menatap Risda cukup lama, Risda juga sedang menatap ke arah Asrul, sehingga mata keduanya bertemu, tapi tak lama, Risda memilih mengalihkan pandangan, Risda kalah, ia tak mampu menatap mata Asrul lama lama.
Asrul mendesah lagi. “Jika Abang memang terganggu dengan itu, kenapa Abang masih terus bersikukuh ingin hidup bersamamu Ris ?. jika Abang memang terganggu dengan itu, untuk apa semua ungkapan itu. Satu lagi, itu bukan kisah buruk”.
Risda masih mendesah. “Itu tetap tidak normal Bang”.
Asrul menggeleng. “Apa kamu pikir jika mereka tahu status mereka, kemudian mereka tetap melanjutkan hubungan itu ?, tidak kan ?. Semuanya lahir atas ketidak tahuan, diluar kesadaran. Dimana buruknya ?”.
Risda hanya melirik sesaat, walau jawaban Asrul cukup jelas, tapi Risda masih saja geleng kepala, pertanyaanya kembali ke awal, apakah Risda patut gembira karena menjalin hubungan serius dengan orang yang tahu betul kisah hidupnya, atau itu malah jadi bumerang, Risda benar benar belum memastikan.
“Abang mencintaimu seutuhnya Ris. Itu datang dari lubuk hati abang yang paling dalam, ini bukan perasaan biasa, bukan keinginan biasa, yang abang butuhkan hanya kamu percaya, kalau kita akan dapat membangun keluarga yang bahagia, itu saja”.
Risda masih mendesah. “Entahlah Bang”.
Asrul ikut mendesah juga. “Jangan pernah ragu Ris, keraguan itulah yang justru punya potensi dapat merusak kebahagiaan yang seharusnya mudah kita dapatkan. Abang mencintaimu, hanya mencintaimu, tak peduli cerita tentangmu”.
Risda tertunduk, kembali menghela nafas. “Terima kasih Bang”.
Suasana menjadi hening, hanya sesekali Asrul dan Risda saling pandang, saat mata mereka bertemu, keduanya saling melempar senyum satu sama lain. Risda tampak mulai tenang, pertanyaan yang tadi banyak menyerbunya kini sudah menghilang.
Risda merasa apa yang dikatakan Asrul ada benarnya, yang terpenting sekarang adalah bagaimana ia bisa memberikan Asrul kepercayaan penuh, dan berharap Asrul juga punya rasa percaya yang sama.
__ADS_1
Risda harusnya bisa lebih gembira, karena laki laki yang ia setujui akan menjadi suaminya tahu tentang latar belakangnya, mengetahui sebelum menikah akan lebih baik daripada mengetahuinya nanti setelah pernikahan, itu malah yang dapat melahirkan rasa khawatir.
Setidaknya hari ini Risda juga paham, kalau ia juga memang sangat menyukai dan memiliki rasa cinta yang besar terhadap Asrul, bahkan rasa itu sudah ada sejak lama, utamanya sejak mereka sama sama berada di pedalaman Kalimantan.
Sekarang, menurut Risda, bagaimana ia menyakinkan dirinya kalau keputusan yang ia ambil adalah keputusan yang paling benar, keputusan yang memang seharusnya di ambil, untuk membangun kehidupan dimasa yang akan datang.
Memilih Asrul sebagai calon suami, menurut Risda sudah merupakan keputusan yang paling tepat, karena Risda juga mengakui kalau yang paling mengerti dirinya selama ini adalah Asrul, tidak ada yang lain.
“Berhentilah meragukan Abang Ris, Abang mohon”.
Risda tertegun dengan sikap Asrul yang tampak memang benar benar memohon, bahkan lengkap dengan kedua tangannya yang ikut mengekspresikan gaya bermohon yang baik. Risda tak bisa mengatakan apapun, Risda hanya menggeleng pelan
Risda benar benar luluh, pertanyaannya sekarang sudah berbalik poin, apa yang pantas Risda ragukan soal Asrul, Risda bukan baru mengenalnya, Risda juga tak hanya mendengar, tapi juga sudah melihat dan bahkan merasakan perhatian Asrul, sehingga tak juga pas jika masih membangun ragu.
“Kita bisa benar benar bahagia kan Bang ?”.
Asrul tak mampu menahan tawa, pertanyaan Risda terdengar sangat lucu bagi Asrul, pertanyaan yang tak seharusnya ditanyakan, tapi setidaknya Asrul kini paham kalau Risda sudah memiliki kepercayaan penuh, ragunya sudah hilang.
Itu tentu sangat membuat Asrul lega dan begitu bahagia. Asrul kembali menarik tengkuk Risda dan merapatkan kepala Risda hingga bersandar didadanya, kali ini Risda malah memeluk Asrul lekat, tapi hanya beberapa detik saja, kemudian keduanya kembali dengan posisi semula.
Asrul sesekali masih melirik ke Risda yang tampaknya sangat fokus memandangi bunga bunga yang tumbuh di taman. Dalam hati Asrul sudah punya janji, akan sebisa mungkin membuat Risda bahagia, dan Asrul yakin itu akan sangat mungkin.
Asrul benar benar larut dengan bayangannya sekarang, membayangkan Risda akan benar benar menjadi istrinya, tentu itu akan sangat membahagiakannya, saat ini Asrul memang benar benar ingin melegalkan semuanya, karena usia mereka juga sudah sangat cukup untuk memulai membangun dan membina rumah tangga.
Tiba tiba Asrul mengingat sesuatu. “Abang masih punya sesuatu untukmu”.
Risda kembali mengerutkan keningnya. “Apa lagi Bang ?”.
Asrul kembali tertawa. “Ayo kedalam”.
Risda makin bingung, tapi tak mampu menolak tarikan tangan Asrul yang membawanya masuk kedalam rumah mereka, melangkah masuk dengan sedikit tergesa gesa, bahkan keduanya hampir menabrak sofa.
__ADS_1
Risda terus ikut tarikan tangan Asrul yang membawanya jauh kedalam hingga keruang tengah, lewat lagi hingga keruang dapur, lewat juga keluar pintu belakang dan masuk halaman belakang. Asrul baru berhenti ditaman belakang, Risda juga ikut berhenti.
“Pa..”.
Panggilan Asrul pada papanya sih tak berpengaruh, biasa aja. Tapi yang menoleh ada dua. Papanya Asrul sih udah biasa Risda lihat, tapi yang duduk bersamanya itu, yang tadi duduk membelakangi mereka itu yang membuat Risda termangu, itu orang yang dikenalnya sebagai Pak Nas, pengarang novel itu.
Haris yang langsung berdiri dan mendekati Risda yang terpaku berdiri tak punya kata kata. Tak ada kalimat yang mampu keluar dari mulut Risda. Tapi Risda tak kuat juga, saat Haris makin dekat, Risda mengejar dan memeluknya erat, Risda sekuat tenaga memeluk Haris yang juga langsung memeluknya.
Berulang kali Haris mengecup ubun ubun Risda, air matanya ikut ambil bagian, baik Risda maupun Haris sama sama tidak mampu menahan diri, Risda malah sudah menangis sejadi jadinya, Haris terus memeluk Risda erat dan terus mengecup kepala Risda seakan tak mau berhenti.
Haris tak lagi perlu menjelaskan ke Risda siapa dia, karena Haris tahu jika Risda sudah tahu semuanya dengan lengkap, Natalia dan Lufti mengatakan kalau Risda sudah tahu jika Haris adalah ayah kandungnya, Natalia sudah bercerita keseluruhannya, bahkan Haris sebenarnya sudah berencana menemui Risda.
Hati Risda benar benar buncah, ia tak tahu mau bicara apa, yang jelas ia sekarang sedang dipeluk dan memeluk ayah kandungnya, ayah yang harus meninggalkannya, ayah yang baru tahu kalau dia ada setelah ia begitu dewasa.
Tapi Risda benar benar sadar kalau Ayahnya tak salah, Risda memahami semua tindakan ayahnya, seluruhnya, Risda paham itulah yang terbaik yang harus dilakukan oleh ayahnya.
Setidaknya hari ini Risda paham dan bersyukur atas kekerasan hatinya untuk pergi ke Pulau Kalimantan, jauh ke perbatasan. Disana ia tak hanya mendapat banyak pengalaman, tapi juga membawanya cerita baru, seorang Ayah.
Kadang kasih itu memang begitu …..
Punya cerita sendiri …. Sesukanya waktu.
Akan tetapi……
Kasih tetaplah kasih,
Ia selalu sejati….
Ia selalu berarti …
Ia takkan mau pergi …
__ADS_1
…. Selama dunia tak mati.
… Bersambung ..