
Entah kenapa bulu kuduk Haris berdiri semua, mata Haris juga terasa begitu panas, ada rasa haru yang beras menyerang Haris melihat Ibu Muda itu. Ada rasa yang Haris sendiri ngga’ tahu apa menyerangnya dengan telak. Natalia juga ikut merasakan hal yang sama. Haris gendong anak kecil itu, bersamaan dengan Natalia mendatangi meja Ibu muda itu, dan duduk bersama mereka.
“ Haris.. “.
“ Elia “.
“ Natalia.. “.
“ Farhan “.
Haris menatap wanita muda itu sesaat. “ Darimana Ito[1]tahu ?”.
“ Waktu lewat tadi, aku melihat papan Nama ito “.
Haris tertawa, ia melihat papan nama yang ada di pakaiannya, HA Pulungan. Haris sengaja memang menonjolkan marganya, itu adalah bagian kebanggaan Haris akan kebatakannya. Sebab Haris yakin, dengan menonjolkan marga itu, Haris akan banyak dapat hal hal baik, inilah sebagai contohnya, tanpa sengaja, dirumah makan ini Haris menemukan itonya.
“ Lae[2]ku marga apa ?”.
“ Simatupang Lae. Ito ini boru apa ?”.
Natalia menggeleng. “ Aku tak punya Marga Bang “.
Semuanya sama tertawa. Untuk kesekian kalinya Haris merasa betapa indahnya menjadi seorang anak Batak, hanya dengan marga itu, Haris dapat menemukan banyak hal hal yang positif, mudah sekali menemukan keluarga dekat langsung akrab.
“ Tinggal dimana ito ?”.
Haris yang masih memangku Indri masih terus senyum. “ Kalau aku di Daksinapati Ito, tapi kalo Eda[3]mu ini di Daan Mogot “.
“ Yang belum jadi ya.. “.
“ Sekarang belum ito, tapi tak sampai dua minggu lagi lah “.
“ Syukurlah kalo gitu “.
Semuanya kembali sama tertawa. Kali ini Natalia yang terkesan, selama ini Natalia tak begitu dengar semua cerita Mamanya maupun Haris, Natalia tak begitu antusias dengar kehebatan cerita tutur dan sapa orang Batak. Tapi kali ini Natalia merasa kena batunya. Niat mereka kemari hanya makan siang, tapi langsung begitu akrab dengan orang yang hanya kebetulan satu marga dengan Haris, tak lebih dari itu, mereka tidak pernah saling kenal sebelumnya, mereka baru bertemu sekarang, hanya karena marga itu, mereka langsung begitu dekat dan seperti keluarga saja, seakan udah kenal puluhan tahun, luar biasa. Dalam hati Natalia merasa salut juga dengan tata kehidupan Batak ini, tapi setidaknya Natalia tahu, kalau Mamanya juga orang Batak, artinya, ditubuhnya ada darah Batak.
__ADS_1
“ Ito tinggal dimana ?”.
“ Oh.. kami kebetulan Cuma jalan jalan to. Mau ketempat famili Laemu, kalau kami tinggal di Surabaya “.
Haris anggukkan kepala. “ Asal nya To “.
“ Jelasnya dari Selatan lah. Cuma kalau aku udah lahir di Surabaya. Beda dengan Laemu yang masih asli Tapanuli “.
Kembali mereka sama tertawa, keluarlah semua cerita tentang kampung masing-masing. Ternyata, walau lahir di Surabaya, tapi ibu muda itu sering pulang ke kampungnya di Tapanuli Selatan. Dan ke Balige Toba Samosir, tempat tinggal mertuanya. Hampir dua jam baru mereka pisah setelah saling tukar nomor ponsel, semua makanan dibayar oleh ibu muda itu, Natalia senyum aja saat mendapatkan pelukan perpisahan dari edanya itu, satu persaudaraan yang tulus sekali.
Haris panggil taxi dan masuk. Natalia masih terus kepikir pada pertemuan tadi, Natalia masih merasa kurang paham, masa semudah itu hubungan persaudaraan itu langsung muncul.
“ Masa semudah itu aja Bang “.
“ Maksud Lia ?”.
“ Masa gitu aja udah sodara “.
Haris merangkul bahu Natalia dan mengguncangnya. Mata Haris malah menangkap papan ID sang sopir taxi yang jelas terlihat, kesempatan, pikir Haris dan kembali tertawa kecil.
“ Maksud Abang “
Natalia sedikit heran, dan bahkan jadi terkejut dan bingung saat sang sopir malah matikan argo dan pinggirkan taxinya, taxi malah benar-benar berhenti.
Sang Sopir memutar pandangan ke belakang. “ Siapa Bere[4]saya “.
“ Ini Pak, Cewek yang cantik ini, Tubu[5]Sitompul ini Pak “.
Mata sang Sopir tajam menatap Natalia, Natalia mengembangkan senyumnya, mata Sang sopir tertahan lama diwajah Natalia. “ Boru apa kau Bere ?”.
Natalia geleng kepala. “ Boru Jawa Tulang “.
Sang sopir yang memang marga Sitompul itu senyum saja, tangan sang sopir membelai kepala Natalia, entah kenapa rasa haru muncul tiba tiba dihati Natalia, kali ini Natalia benar benar tersadar, betapa besar makna marga itu, selama ini Natalia tak begitu pedulikan itu.
Setelah mengantar Natalia pulang, Haris langsung menuju rumah kostnya, Pamannya masih tidur. Haris memilih tidur juga, Haris merebahkan badannya disamping Pamannya yang masih lelap. Mungkin juga dengan mimpi mimpi yang indah, Haris sebentar memandang Pamannya, Paman yang lumayan tampan, tapi Haris heran kenapa sampai sekarang Paman bungsunya ini belum juga menikah. Sedang Haris sendiri sudah akan menikah, kan lucu juga, masa nanti Pamannya udah punya cucu tapi tidak punya istri, aneh juga.
__ADS_1
Dirumah Natalia masih terus membayangkan dua kejadian yang baru ia alami hari ini, sangat manis dan membuat kejutan terbesar dalam hidupnya. Tapi Natalia malah kepikir tentang ayah, sejak kecil Natalia tak pernah lihat ayahnya, dulu waktu masih SD Natalia pernah tanya Mamanya, tapi Mamanya bilang nanti aja kalau udah besar. Natalia berfikir saat ini dia sudah cukup besar, malah sudah mau menikah, Natalia merasa inilah saatnya dia ingin tahu siapa ayahnya yang sebenarnya. Natalia berdiri dan menemui Mamanya yang sedang makan.
“ Udah makan Li ?”.
“ Udah Ma. Mama Makan aja “.
Natalia menjadi sedikit ragu melihat Mamanya, ada rasa takut bagi Natalia untuk menanya soal itu, apalagi ditelinga Natalia tiba tiba terngiang kata kata yang pernah dikatakan teman SMP nya dulu, mungkin Natalia terlahir tanpa ayah, Mamanya tak pernah menikah, atau malah yang terburuk, Mama Natalia adalah korban perkosaan yang kemudian melahirkan Natalia. Ada keraguan yang makin dalam diotak Natalia untuk melanjutkan kata katanya, tapi Natalia berfikir apa salahnya hanya menanya itu, lagi pula Natalia merasa itu perlu, sebelum menikah Natalia ingin tahu benar dengan siapa ayahnya.
“ Ma.. “.
Mama Natalia angkat kepala. “ Ada apa Li “.
“ Lia mau nanya sesuatu, tapi Mama jangan marah ya “.
Mama Natalia tertawa kecil. “ Memang Natalia mau nanya apa sama Mama, kok takut Mama Marah “.
“ Benar Mama ngga’ marah ?”.
Mama Natalia geleng kepala. “ Masa marah sih, soal apa memang “.
“ Ayah.. “.
Muka Mama Natalia berubah, sendok yang ingin masuk kedalam mulutnya jatuh kembali kepiring, Natalia jadi merasa serba salah, jantung Natalia jadi tidak karuan, ada rasa takut Mamanya marah.
Mama Natalia buang nafas berat. “ Sebentar lagi kamu bakal punya suami, kamu pantas tahu sayang “. Mama Natalia malah menitikkan air mata. “ Kamu pasti bangga, karena kamu sangat mirip dengan ayahmu “.
[1] Ito = Adik/Kakak (Saudara)
[2] Lae = Abang/Adik Ipar (Panggilan Laki Laki ke Laki Laki)
[3] Eda = Adik/Kakak Ipar (Panggilan Perempuan ke Perempuan)
[4] Bere = Keponakan/Menantu/Anak Adik Laki Laki Ibu
[5] Tubu = Anak Dari (Sebutan bagi marga Ibu)
__ADS_1
..... BERSAMBUNG ...