Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
Kembali Ke Jakarta


__ADS_3

Akhirnya waktunya tiba. Kemarin ada acara penyambutan, hari ini acara pengantaran, anak anak hingga orang tua sama sama ramai berada di pelabuhan, tujuan mereka untuk mengantar Risda dan Asrul pulang ke Jakarta. Masa pengabdian mereka sudah usai.


Risda tampak tak tenang, ada dua wajah yang ia cari, Meylani dan Pak Nas. Tapi, tak satupun yang Risda temui, hingga air mata semuanya, terutama ibu ibu ikut antar Risda dan Asrul naik ke perahu Pak Buang, hanya lambaian yang tersisa, itupun ikut hilang saat perahu memasuki tikungan.


Risda kini tersedu, ada rasa sedih yang mencuat langsung ke dalam hatinya, Risda terus tertunduk dan terisak isak, Asrul membiarkan saja, Asrul merasa, membiarkan Risda akan lebih baik, nanti pada saatnya, saat ia puas, semuanya akan reda.


Yang paling Risda sedihkan sebenarnya adalah Meylani, ingin sekali Risda melihat wajah anak kecil itu sebelum benar benar pergi, tapi Risda tak menemukannya sama sekali, Risda tahu kalau Meylani sakit, tapi Risda belum bisa menjenguknya.


Padahal setelah naik ke perahu ini, akan sangat sulit atau bahkan bisa jadi tak mungkin lagi bagi Risda datang ke desa terpencil ini, rasanya tak mungkin lagi seumur hidupnya bisa jumpa dengan Meylani.


“Kita benar benar akan kembali Rul ?”.


Asrul tertawa kecil. “Apa lu nggak senang kita balik Jakarta ?”.


Risda mendesah. “Gua rindu sama Mama”.


Asrul kembali tertawa. “Apa lu pikir gua nggak Ris ?. Sudah tiga tahun tak dengar omelan mama, tentu rindu gua, masa nggak ?”.


Risda menggeleng. Sekalipun mau kasih contoh, nggak juga dengan kata omelan juga, masih banyak kata lain yang lebih tepat. Tapi, memang benar juga, Risda sedih meninggalkan pedalaman yang selama tiga tahun ini menjadi tempat tinggalnya.


Tapi Risda juga mengakui rasa gembira akan kembali memeluk dan tidur dalam belaian mamanya. Itu sebenarnya cukup mampu menutup kesedihan Risda, kini yang memenuhi kepala Risda malah senyum ibunya.


Risda akhirnya tertawa kecil, tapi air matanya masih mengalir deras. “Mama sudah bagaimana ?, apakah dia sehat sehat saja ?”.


Asrul geleng kepala. “Mama gua mah sadis, salah ngomong dikit aja main tabok”.


Risda menatap ke Asrul, kembali senyum tipis, menggeleng lagi. “Ngatain mama sendiri dosa lu Rul”.


Asrul angkat bahu. “Emang calon mertua lu itu begitu, ya memang gitu”.


Akhirnya Risda tak kuat lagi, walau sedang diatas perahu, Risda benar benar tak peduli lagi, ratusan tinjunya kini telak mendarat di bahu Asrul, Asrul hanya bisa menunduk dengan memegangi kepalanya, pasrah.

__ADS_1


Pak Buang dan dua temannya hanya senyum saja, ketiganya makin yakin kalau dua guru muda ini punya hubungan khusus, tiga tahun bersama sama di pedalaman tentu mampu melahirkan banyak hal, seperti kata orang orang, cinlok, cinta lokasi.


Sampai, perahu sudah merapat di pelabuhan kecamatan, Risda dan Asrul menyalami Buang dan dua kawannya, kemudian turun, orang kecamatan sudah menunggu, bahkan sudah juga ada rombongan lain yang lebih dulu sampai, termasuk rombongan Wiwik.


Yang perempuan langsung menjerit dan saling kejar, berpelukan dan sama sama saling melompat, lama tak bertemu membuat semuanya tampak begitu riang. Sedang yang laki laki hanya saling salam dan tepuk bahu.


Setelah semuanya sampai, ramai ramai bersama pihak kecamatan naik mobil pickup menuju ibu kota kabupaten, jalanan yang antah barantah sering membuat mereka yang jadi penumpang hampir jatuh, tapi yang ada hanya tawa, riang sekali, hingga perjalanan tak terasa, sudah mencapai ibukota kabupaten.


Disana keributan para wanita terulang lagi, semuanya saling kejar, pelukan dan sama sama melompat lompat lagi. Disini semuanya sudah lengkap, tiga puluh tim, atau enam puluh orang sudah berkumpul. Ini akan lebih mudah, karena bupati bersedia menyiapkan tiket pesawat menuju ibukota propinsi.


Hingga hanya beberapa jam kemudian, seluruh rombongan sudah berada di kapal yang akan membawa mereka menyeberangi lautan menuju pelabuhan Merak. Kondisi masih sama, yang perempuan tak juga selesai ribut ributnya, sedang yang laki laki masih dengan keademannya.


Risda terkejut saat Asrul malah mendekatinya, padahal Wiwik juga berada di kapal yang sama, tapi Risda masih memberikan senyum juga, dan membiarkan Asrul duduk dekat dengannya, bahkan sangat dekat, hingga bahu mereka bertemu satu sama lainnya.


“Apa khabar Ris ?”.


Risda langsung mendelik. “Apa sih Rul ?”.


“Emang lu nggak lihat ?”.


“Gua juga pengen dengar langsung dari lu”.


Risda makin menggeleng, ia melihat Asrul yang makin tak masuk akal, masa baru tadi pagi sama sama dari pedalaman, hanya berjarak sekian jam saja sudah nanya khabar, apaan coba ?, aneh saja menurut Risda.


“Lu jauh jauh napa Rul. Gua nggak mau di semprot ama Wiwik ya”.


Asrul menggeleng. “Lu mau tahu siapa teman lu itu ?”.


Risda mendelik. “Emang apa ?”.


Asrul berdiri dan menarik tangan Risda, walau awalnya berontak, tapi tenaga Asrul jauh lebih kuat, sehingga Risda ikut melangkah dengan tangannya yang masih kuat dipegang Asrul, keduanya menuju ke atas, ke anjungan kapal.

__ADS_1


Risda mendelik. Tak bisa ngomong apapun lagi, apa yang dilihatnya membuat Risda mati kutu, terlihat Wiwik begitu santai menyandarkan tubuhnya di dada laki laki itu, dan si laki laki memeluk Wiwik dari belakang, tangan keduanya bertaut di atas perut Wiwik, jelas semuanya, sangat jelas.


Risda malah kembali memilih turun, Asrul seperti mengejar di belakang, keduanya kembali ke tempat semula, kini tidak duduk bersampingan lagi, tapi duduk saling berhadapan, tetap dekat, buktinya kedua lutu mereka saling bertemu.


“Itu beneran Wiwik kan Ris ?, bukan yang lain”.


Risda anggukkan kepala. “Wiwik tidak punya kembaran”.


“Itu Wiwik yang selalu lu bilang setia, buktinya apa ?”.


Risda geleng kepala. “Kemudian lu mau gua gantikan Wiwik, begitu ?”.


Asrul ikut menggeleng. “Gua emang sayang sama lu Ris, gua emang cinta ke lu, ini nggak ada kaitannya dengan sahabat lu itu”.


Risda mencibir. “Belagu”.


Asrul mendesah panjang. “Gua mau gimana caranya nyampein ke elu kalau gua benaran sayang. Lu ajarin gua lah Ris, biar bisa beneran hidup sama lu”.


Risda malah berdiri. “Gua ngantuk, jadi pusing liat lu Rul”.


Asrul hanya menatap Risda yang berlalu dan bergabung dengan teman teman wanita yang lain dan benar benar tertidur. Risda tak bisa memberikan apapun pada Asrul, banyak pertimbangan yang harus Risda pahami.


Risda tahu kalau Asrul berasal dari keluarga mewah yang ribuan kali lipat bedanya dengan dirinya, seorang anak yatim yang hanya punya ibu yang sangat sederhana, belum lagi keyakinan mereka yang berbeda, menurut Risda, salah besar kalau ia kalah dan larut dengan itu, ia bukan tipenya Asrul, kurang layak untuk Asrul.


Hari masih begitu pagi, saat semuanya terbangun oleh kuatnya terompet kapal yang akan bersandar. Semuanya sudah siap dengan bawaan masing masing, bahkan sudah banyak yang mulai mengarah ke pintu keluar saat kapal baru saja berhasil sandar.


Ya, Risda dan kawan kawannya sudah sampai di pelabuhan Merak, ada rasa gembira yang besar bagi semuanya, apalagi semua yang pulang hari ini disambut oleh keluarga masing masing, Risda tak lagi melihat Asrul yang padahal sibuk mencarinya.


Natalia bahkan sudah hampir dua jam di pelabuhan guna menunggu Risda pulang, begitu turun dari kapal Risda langsung melihat mamanya yang berdiri sendirian, Risda tentu tersenyum lebar dan langsung mengejar ibunya.


Natalia yang melihat Risda mengejarnya hanya berdiri menunggu, tapi tangannya ia rentangkan. Risda langsung menjatuhkan tasnya dan memeluk erat ibunya Natalia, tentu ada air mata, sangat deras malah.

__ADS_1


… Bersambung …


__ADS_2