Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
S2 : Menyusur Panorama Sibolga Tapanuli Tengah (5)


__ADS_3


Masih subuh rombongan Haris sudah mencapai Barus. Perjalanan kali ini di awali menuju komplek Makam Papan Tinggi, mereka tak jalan sendirian, ada penduduk setempat yang di rekomendasi Faisal untuk mendampingi, namanya Satria Limbong, ia lebih suka di panggil marga saja, di panggil Limbong.


Usai sarapan, rombongan langsung menuju target pertama, dari awal Haris sudah ingatkan kalau ini akan menjadi perjalanan yang melelahkan, akan menaiki ratusan anak tangga yang mencapai hingga 1 KM dan mendaki, semuanya hanya senyum dan langsung melangkah mengikuti Limbong dan Haris yang berjalan paling depan.


Awalnya memang tampak indah, semuanya masih tertawa tawa dan bergurau, tapi makin jauh semuanya semakin menemukan kebenaran ucapan Haris, Risda yang tadi begitu semangat sekarang mulai melangkah satu satu, Asrul tersadar kalau istrinya punya riwayat jantung, tapi Asrul diam saja, hanya memelankan langkah dan lebih banyak berhenti, sehingga keduanya tertinggal jauh.


“Gendong Bang”.


Asrul membulatkan matanya. “What ?”.


“Gendong ya …”.


Asrul menggeleng. “Gendong apaan ?, sudah, kita pelan pelan saja”.


Asrul terus menggeleng, gendong apanya, membawa badan sendiri saja sudah entah bagaimana, mau gendong pula ?, kalau tadi yang di gendong anak kecil, mungkin saja memang, ini Risda, yang beratnya hampir 60 Kg, bisa pingsan kita, batin Asrul yang terus menggeleng.



Asrul benar benar sabar menanti dan mengikuti langkah Risda yang tertatih, tapi akhirnya mereka sampai juga. Faridha dan Farhan sejak tadi ternyata sudah menanti Asrul dan Risda di pintu masuk makam, di tangan Faridha juga sudah tersedia air minum, tangan Risda langsung meraih dan meneguknya.


Risda duduk di pintu masuk makam memandang ke arah lautan, seberapa besarpun letihnya, ternyata sampai disini semuanya bisa hilang dengan mudahnya, bukan hanya karena dapat melihat makam seorang aulia, tapi pemandangannya memang luar biasa, hamparan sawah, hamparan lautan dan tumpukan perkampungan.


Semua pemandangan itu membuat perasaan begitu tenang, semilir angin juga menyusup jauh ke sanu bari, sehingga yang ditemukan hanyalah ketenangan, kedamaian dan kenyamanan. Seperti yang lain, Risda juga menemukan itu, sehingga ada banyak senyum yang mengiasi bibirnya.


Hanya beberapa menit saja, Risda sudah kembali normal dan kembali lagi dengan tingkahnya, photo photo. Asrul ditarik kian kemari untuk mendapatkan moment yang paling indah. Asrul hanya menggeleng, untung aktivitas itu tak lama, semuanya sekarang duduk melingkar, ingin mendengar cerita Limbong.


Pada abad ke 7 Masehi, agama Islam telah ada di Barus, kota tua yang terletak di pesisir Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara ini. Barus menjadi pintu masuknya Islam di Indonesia, jauh lebih tua dari sejarah Wali Songo, penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke 14.



Makam Papan Tinggi, Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara


Literatur sejarah banyak menyebutkan bahwa agama Islam di Indonesia pertama kali hadir di Barus. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan makam tua di kompleks pemakaman Mahligai, Barus, pada abad ke-7. Di batu nisannya tertulis Syekh Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi atau 48 Hijriyah, menguatkan adanya komunitas Muslim pada masa itu.


Barus berjarak 290 kilometer dari Kota Medan, ibukota Sumatera Utara. Jika ditempuh melalui jalur darat memakan waktu sekitar 7 jam perjalanan. Dari Kota Sibolga, butuh waktu perjalanan darat sekitar 2 jam saja. Barus merupakan tempat bersejarah dan saat ini menjadi salah satu tujuan wisata religi di Sumatera Utara. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang belum mengenal Barus karena minimnya informasi mengenai kota tua tersebut.


Padahal, Barus banyak menyimpan benda-benda kuno bersejarah seperti perhiasan, mata uang dari emas dan perak, prasasti dan fragmen arca. Selain itu, terdapat makam para auliya dan ulama penebar Islam di Indonesia abad ke 7 silam. Di antaranya Makam Papan Tinggi, Makam Mahligai, Makam Syekh Mahdun, Makam Syekh Ibrahim Syah, Makam Tuan Ambar, Makam Tuan Syekh Badan Batu.


Posisi Barus yang terletak di pinggir Pantai Barat Pulau Sumatera dan berhadapan langsung dengan lautan lepas Samudra Hindia membuatnya dikenal oleh dunia pada abad ke-7. Apalagi berkat hasil hutannya, kamper, kemenyan dan emas, Barus menjadi kota yang kerap dikunjungi banyak saudagar-saudagar di seluruh dunia.


Nama Barus juga muncul dalam sejarah perabadan Melayu lewat Hamzah Fansyuri, penyair sufi terkenal. Barus juga dikenal dengan nama Pancur, kemudian diubah ke dalam bahasa Arab menjadi Fansur. Dalam buku “Barus Seribu Tahun yang Lalu” yang ditulis arkeolog Perancis, Claude Guillot dibantu beberapa penulis lainnya menyebutkan, Barus termasuk dalam golongan kota-kota kuno yang terkenal di seluruh Asia sejak abad ke-6 Masehi.

__ADS_1


Di bab terakhir buku itu disebutkan, ada sebuah tempat di perbukitan Barus yang oleh masyarakat setempat perlu mendapatkan perhatian khusus. Makam terpencil yang ditandai dengan dua batu nisan vertikal ini dipercaya sebagai makam seorang wali.


Yang dimaksud adalah makam Papan Tinggi yang memang berada di atas bukit setinggi 215 meter di atas permukaan laut. Untuk menuju makam itu harus melewati 730 anak tangga. Konon di makam ini, ada sebuah guci yang airnya terus ada meskipun musim kemarau. Namun belakang guci itu pecah karena tidak terawat.


Dari sisi bahasa, hampir di setiap batu nisan utama bertuliskan bahasa Arab. Hal ini sangat jarang ditemukan, bukan hanya di Barus tetapi di seluruh Nusantara pada umumnya.


Jika mengulas sekilas sejarah kota tua Barus, Claude Guillot menguraikannya dalam buku Lobu Tua : Sejarah Awal Barus. Buku ini merupakan usaha memecahkan rahasia sejarah Barus sudah dilakukan sejak hampir satu setengah abad lalu, khususnya dalam bidang epigrafi dan pembahasan sumber sumber tertulis. Namun, penelitian yang mendalam di lapangan baru mulai dilakukan pada akhir tahun 1980an atas usaha Pusat Penelitian Akeologi Nasional .


Kemudian pada tahun 1995, berkat persetujuan Prof Dr Hasan M. Ambary, ketika itu menjabat sebagai kepala lembaga PPAN, bersama Ecole francaise d’Ectreme-Orient diluncurkan sebuah program penelitian arkeologi di Barus, khususnya di Lobu Tua dimana pernah ditemukan banyak benda-benda kuno.


Barus adalah salah satu tempat yang sangat berperan dalam awal peradaban masuknya budaya Batak, lahirnya agama Batak Parmalim, masuknya agama Kristen, masuknya Agama Islam hingga perbauran Budaya Melayu. Akan tetapi mengenai hal itu tidak banyak yang tahu karena Barus kini hanya sebuah wilayah yang tertinggal dan terpencil di pesisir Tapanuli Tengah.


Kalau melihat beberapa peninggalan dan keberadaan Makam Papan Tinggi. Di lokasi ini, terdapat makam terpanjang dan mempunyai batu nisan yang besar dan tinggi. Konon panjang makam itu diperkirakan sekitar tujuh meter lebih.


Di batu nisan yang terbuat dari batu cadas tertulis nama Syekh Mahmud Fil Hadratul Maut, Yaman. Yang ditahrikhkan pada 34 Hijriyah sampai 44 Hijriyah yang pada masa itu adalah kepemimpinan Khalifah Umar Bin Khattab. Selain makam panjang, di dalam lokasi Makam Papan Tinggi itu juga terdapat lima makam lain yang menurut cerita adalah makam keturunannya.


Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, banyak utusan khalifah dan saudagar Arab terutama dari Yaman melakukan ekspansi ke Asia. Kala itu Barus menjadi tempat singgah karena daerahnya berhadapan langsung dengan samudera lepas. Para saudagar dari Arab, Yordan, Yaman, Persia dan Hindia juga banyak melakukan pelayaran ke daerah ini untuk kepentingan bisnis rempah-rempah dan pembelian kapur barus.


Sedangkan para ulama yang merupakan utusan Khalifah menginjakkan kaki ke Barus untuk menebarkan mulai menebarkan Islam di Indonesia. Tak heran, jika di kawasan Barus terdapat banyak makam ulama. Salah satunya adalah Makam Papan Tinggi.


Selain Makam Papan Tinggi, di Barus juga terdapat lebih dari 200 makam yang terletak di atas perbukitan Desa Dakka, Kecamatan Barus. Makam ini disebut Makam Mahligai dengan batu nisan yang besar dan kecil. Di lokasi itu, terdapat salah satu makam Tuan Syekh Rukunuddin, wafat tahun 672 Masehi atau tahun 48 Hijiriyah abad ke 7 Masehi. Syekh Rukunuddin wafat dalam usia 102 Tahun.


Bukti arkeologis ini menunjukkan kalau Syekh Mahmud adalah seorang pendatang yang telah lama bermukim di Barus. Batu nisan makam Syekh Mahmud bukan batu biasa yang digunakan oleh penduduk Barus, melainkan sejenis batu yang didatangkan dari India.


Syekh Mahmud merupakan penyebar Islam dari Hadramaut, Yaman, yang datang ke Barus sejak abad ke-7. Selain Papan Tinggi dan Mahligai, ada juga makam Makam Tuan Syekh Badan Batu. Makam ini disebut Makam Aulia 44 Negeri Barus terletak di atas bukit Desa Bukit Hasang, sekitar 2 kilometer dari Kota Barus.


“Presiden sendiri mengakui bahwa Barus merupakan kota Islam pertama dan tertua di Indonesia. Pemerintah sudah meresmikan tugu titik nol sebagai pusat peradaban Islam Nusantara disini di Barus ini. Nanti kita lihat, habis ini kita istirahat sebentar, dhuzur, baru kita ke Makam Mahligai”. Jelas Limbong.


“Jadi ini makam sahabat Pak ?”. Asrul yang bertanya.


Limbong mengangguk. “Perkiraannya begitu Nak Asrul, dari beberapa bukti sejarah yang ada, peluangnya benar juga banyak”.


Asrul anggukkan kepala. “Itu juga yang menjadi alasan kenapa Barus di tetapkan sebagai titik nol masuknya Islam di Nusantara ?”.


Limbong kembali angguk kepala. “Begitulah Nak Asrul. Mereka tentu memutuskan itu dengan banyak pertimbangan, penelitian dan kegiatan ilmiah lainnya. Tentu tidak mudah memutuskan itu. Bahkan yang meresmikannya langsung Presiden”.


Semua anggukkan kepala, sebenarnya Haris masih punya banyak pertanyaan, tapi melihat jam, Haris merasa akan lebih baik bertanya sambil berjalan turun, itu juga akan positif menurut Haris, karena bisa membuatnya lebih rileks nantinya.


Setelah semua merasa cukup, rombongan turun, sebetulnya kaki Risda masih gemetar, tapi Risda pura pura tegar dan ikut melangkah di belakang Asrul, Risda tak ada respon apapun mendengar cerita ceria Farhan dan Faridha yang sejak tadi asyik tertawa terus.


Asrul juga tak banyak komentar, Asrul sebenarnya tahu apa yang Risda rasakan, tapi Asrul memilih diam, membiarkan Risda menyusun kekuatan dengan sendirinya, itu ada bagusnya juga untuk Risda, sebagai media untuk mengukur kekuatan dan kemampuan Risda yang selama ini tak pernah dicoba.


Rombongan sudah mencapai Pemakaman Mahligai, Limbong menjelaskan satu demi satu keberadaan kuburan yang ada disana, tapi hanya Haris, Asrul dan Risda saja yang ikut mendengar, Farhan dan Faridha mengambil jalan sendiri, melihat lihat dan membaca, tampak berdiskusi berdua saja, kali ini tampak serius, karena keduanya sama sekali tanpa tawa, sedang Natalia menunggu di luar, tak ikut masuk.

__ADS_1



Makam Mahligai, Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara


Hanya sebentar di Makam Mahligai, rombongan  kembali turun, terus mengikuti Limbong yang memilih tetap dengan motornya, Risda terus menatap ke luar jendela saat Limbong mengarahkan jalan melalui jalan yang berbeda, melewati jalan kecil dan persawahan, sangat menyejukkan mata.


Persinggahan berikutnya adalah Tugu Titik Nol Masuknya Islam di Nusantara yang diresmikan presiden beberapa waktu lalu, terletak di Kelurahan Pasar Batu Gerigis, pusat Kota Tua Barus. Walau lahir dan masa kecilnya di Sibolga, namun Haris memang belum pernah kesini sebelumnya, justru Asrul yang sudah pernah, tapi dulu tugu itu belum ada.



Limbong membawa rombongan Haris singgah sebentar ke Pelabuhan Barus yang belum beroperasi, melihat ini, isi kepala Haris langsung ke memancing, tapi tak mungkin juga, bisa jadi lama kalau Haris masih memainkan hobbynya, sedang waktu terus berjalan, tempat yang layak di singgahi juga masih banyak.


Disimpang Si Gambo Gambo rombongan berhenti, mereka harus berpisah dengan Limbong disini, Limbong tak mungkin ikut lagi, ia hanya memberikan penjelasan beberapa tempat yang layak disinggahi, mulai dari Kade Tigo, Sibintang, Pulo Pane, hingga Pantai Binasi di Sorkam.


Semua menjabat tangan Limbong dengan penuh senyum yang dibalas dengan senyuman yang sama juga, orang terakhir yang menyalami adalah Asrul, setelah berjabat tangan dan ucapkan terima kasih, Asrul memasukkan sesuatu ke kantong depan Limbong yang terus mengembangkan senyuman.


Saat mobil yang dikemudikan Asrul menjauh dan hilang, Limbong mengambil apa yang tadi dimasukkan Asrul ke kantongnya, Limbong langsung terbeliak, bukan hal aneh ada rombongan yang dari jauh dibawa oleh Limbong dan memberikan penjelasan tentang destinasi wisata di Kota Tua Barus memberikan Limbong ucapan terima ksih dan sumbangan uang, tapi belum pernah ada yang sebanyak ini.


Limbong menggeleng kepala dan kembali menghitung, benar. Uang yang ada di tangannya memang benar berjumlah 2 Juta rupiah. Limbong kembali menggeleng, biasanya para tamu itu paling besar hanya dua ratus ribuan, bahkan akan yang hanya seratus ribu saja.


Sehingga pemberian tamu yang Limbong tahu berasal dari Ibukota Jakarta ini membuat Limbong sangat terkejut, luar biasa terkejut, bahkan sudah ada haru di hatinya. Dan sekarang Linbong hanya bisa berikan doa, mudah mudahan rombongan itu sehat wal afiat dan tetap terus berbahagia.


Asrul menepi saat melihat ada yang berjualan lemang, dan ternyata semua juga punya selera yang sama. Tak tanggung tanggung, mereka memesan tiga batang lemang, padahal yang ingin makan hanya enam orang, itu artinya satu batang untuk dua orang.


Kali ini Risda yang mendelik, ia baru habiskan dua potong lemang, sedang Asrul sudah hampir enam, bahkan sebatang lemang yang mereka hadapi hanya menyisakan dua potong lagi, karena satu batang hanya sepuluh potong saja, Risda baru akan mengambil potongan ketiga, piring sudah tak ada sisa, Risda menculik dari piring ayah dan ibunya, eh, Asrul ikut ikutan ambil bagian, Risda makin menggeleng.


“Sudah berapa potong Bang ?”.


Asrul senyum. “Ah, baru sembilan, belum 10 kan ?”.


Risda mendelik. “10 ?, satu batang Cuma sama abang doang ?”.


Asrul tertawa kecil, mencolek pipi istrinya yang sedang memandangnya dengan tatapan bingung dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya mengarah ke piring Farhan dan Faridha, lengkap, 10 potong, 1 batang masuk ke perut Asrul.


“Abang apa sih ?, itu beras pulut lho Bang, kurang bagus ke ususu kalo banyak”.


Asrul hanya senyum kecut. “Habis enak sih, salah siapa ?, siapa suruh lemangnya enak, salah lemangnya, kenapa enak”.


Risda kembali hanya menggeleng, rasa beruntung juga saat melihat piring yang lain sudah kosong semua, kalau nggak, Risda yakin Asrul akan kembali mencomotnya, bisa ceritanya bukan hanya sebatang, tapi sudah sebatang plus satu.


Sudah hampir ashar, semua sepakat jalan saja dulu, dimana nanti ketemu masjid baru singgah, tak ada lagi niat untuk singgah singgah lagi kecuali di masjid, cukup melihat dari jendela mobil saja, sehingga Asrul menjalankan mobil dengan cukup lambat, agar semuanya dapat menikmati pemandangan dengan baik.


__ADS_1


Pantai Barus


…. Bersambung …


__ADS_2