Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
S2 : Semakin Mudah Merasa Sesak


__ADS_3

Kepergian Natalia masih terus membekas di hati Risda, setiap malam Risda masih mau menangis sendiri mengingat ibunya, Risda membayangkan bagaimana ibunya berjuang sendiri selama 22 tahun dalam kesederhaan tingkat tinggi. Nyatanya memang, Ibunya baru mulai bisa memagang uang yang banyak dan belanja puas setelah pertemuan Risda dan Haris di pedalaman.


Memang setelah itu, Natalia mengalami banyak perubahan, tidak lagi pernah menahan selera, karena kiriman Haris terlampau banyak untuk dapat di habiskan sendiri olehnya, badan ibunya juga sempat naik bagus karena sudah banyak tertawa dan bisa bermanja ria ke abangnya Haris, ayah kandung Risda.


Kenyamanan Risda juga banyak berkurang, sejak kejadian pingsan dua kali di hari kematian ibunya, Risda selalu terganggu dengan debar jantungnya yang bisa tiba tiba berdegub dan bahkan terasa begitu sakit. Jika saat sedang berkumpul tiba tiba jantung Risda berulah, Risda pura pura ke kamar mandi.


Risda akan berjongkok disana sampai detak jantungnya kembali normal, kadang Risda harus membasuh muka karena denyutan itu bisa membuat Risda keringat dingin. Risda berusaha keras menutupinya karena takut anggota keluarga lain menjadi terganggu, takut semua menjadi resah, sehingga Risda memilih mendiamkan saja apa yang ia rasakan selama ini.


“Kakak kok sering ke kamar mandi ?, kenapa Kak ?”. Reni yang bertanya.


Risda senyum tipis dan menggeleng. “Kakak juga nggak tahu Ren. Tapi nggak ada gangguan kok, Cuma gitu saja”. Risda mengarang cerita.


Reni senyum saja. “Kalau ada yang aneh, jangan didiamkan kak”.


Risda anggukkan kepala. “Iya, kakak nggak mungkin diam”.


Risda memasang senyum semanis mungkin, Risda tak mau yang lain jadi susah karenanya, sepanjang masih bisa di tahan, Risda berjanji menahannya saja. Itu akan lebih baik untuk semuanya, menurut Risda, kebahagiaan semuanya jauh lebih penting daripada rasa sakitnya yang masih bisa Risda tahan.


Agung merenung panjang, kini ia mulai merasa sepi, Dahrul sudah lebih banyak di sekolah, pulang sekolah juga sudah lebih banyak ke bimbel. Sudah jarang Dahrul ikut dengan kakeknya, kecuali hari minggu atau hari libur, itupun jika Dahrul tak pergi dibawa ayah dan ibunya ke rumah yang Asrul bangun untuk mereka.


Semuanya begitu cepat berubah, kegembiraan dan kebahagiaan Agung yang dulu bisa bermain dengan cucunya kini tak seindah itu lagi, keadaan memang yang memaksa demikian, tapi Agung masih merasa kalau semuanya terlalu bersamaan, sehingga merasa bagai di tinggal sendirian.


Empat bulan lalu keputusan sudah di ambil. Karena tak bisa dibiarkan lagi berlarut tanpa pengelola langsung, sering terjadinya miss komunikasi yang mengakibatkan kerugian manajemen, dan banyak hal lain yang cukup mengganggu membuat Agung dan Meeta harus berani mengambil langkah.


Keputusannya, Reni dan Iskandar di putuskan pindah ke Surabaya untuk menangani rumah sakit peninggalan nenek mereka yang sedang mengalami banyak cobaan dan gangguan itu, Agung dan Meeta yakin Reni mampu melakukan itu, karena Reni punya kemampuan bersikap tegas dan bahkan ketus.


Akan sangat sulit jika mengandalkan Mutia dalam hal ini, karena Mutia yang super lembut dan mudah kasihan tidak akan bisa mengambil langkah yang ekstrim, tapi Reni diyakini mampu melakukan itu, ini juga bersambut baik, karena Iskandar juga sedang melanjutkan studi S2 nya disana.


Masalah sekarang ada di Agung dan Meeta. Sekarang untuk bertemu cucu mereka Aditya, Agung dan Meeta mau tidak mau harus terbang ke Surabaya, karena kalau hanya menunggu saja, keduanya hanya bisa ketemu paling paling sekali seminggu, itupun tak jadi jaminan juga, kalau Reni atau Iskandar ada urusan, tak datang.


Kalaupun Agung dan Meeta datang, itupun tak lagi seperti yang dulu, karena Aditya juga sudah sekolah, tak bisa bebas dibawa kemana mana saat seperti Agung dan Meeta lakukan dulu. Keduanya harus menahan diri, untungya Reni dan Iskandar setiap akhir pekan tak ada kegiatan, pilihan mereka selalu pulang ke Jakarta.


Arvia malah lebih jauh lagi, usai mendapatkan gelar profesi doktenya, Faridha menyusul Farhan ke Liverpool. Farhan meneruskan studi disana, sekaligus bekerja di salahsatu rumah sakit disana, satu kesempatan yang Farhan tidak lewatkan. Walau Agung dan Meeta punya rasa keberatan di tinggal Arvia, tapi tak mungkin pula memisahkan sang cucu dengan orangtuanya.


Jadilah Agung dan Meeta yang menanggung rindu, keduanya tak jarang jalan berdua hanya untuk menghibur diri, ke café, keliling keliling dan bahkan ke pantai. Tapi yang menjadi bahasan keduanya tetap pada para cucunya, saat duduk berdua di tepi pantai, bukannya memandang laut, tapi membuka ponsel dan memandangi galeri photo cucu cucu meraka.


Agung tahu kalau Meeta juga merasakan hal yang sama dengan apa yang ia rasakan, rindu yang teramat dalam. Masalahnya mungkin, karena sebelum ini keduanya selalu berdampingan dengan cucu cucunya, sehingga perpisahan itu menjadi begitu menyakitkan, Agung sudah terlalu sering melihat Meeta mengalihkan pandangan sambil menghusap air bening yang mengalir dari sudut matanya.


Keduanya hanya bisa mendengar dan melihat ocehan Arvia lewat video call, selama apapun mereka bicara, toh itu tak mampu menghapus rindu keduanya, karena keinginan terbesar bukan hanya melihat wajah Arvia atau mendengar ocehannya, tapi memeluk dan mencium pipi sang cucu, itulah keinginan yang sesungguhnya.


Agung menghapus air matanya begitu usai bervidio call panjang dengan Arvia, Meeta juga sebenarnya sangat terharu mendengar Arvia yang menyanyikan lagu Indonesia Raya. Tapi Meeta kali ini tak sampai mengangis seperti Agung, Meeta mengelus pundak suaminya, ia tahu Agung sama dengannya, begitu rindu.


“Kita ke Liverpool Bang ?”.

__ADS_1


Agung menoleh. “Adek memang bisa ?”.


Meeta anggukkan kepala. “Kan ada Mutia, ditinggal agak seminggu, rasanya nggak apa apa Bang”.


Agung menghela nafas panjang. Keinginannya tentu sangat besar untuk bertemu Arvia, Agung sudah benar benar tak mampu menahan rindu, tidur siang Agung juga tak bisa nyaman sekarang, bahkan sering tak bisa tidur sama sekali. Ingatan Agung terus mengarah pada Arvia dan Aditnya, terutama Arvia, biasanya saat tidur siang begini, Arvia akan datang mengganggu.


Putri kecil Farhan yang mirip Mutia itu akan naik ke tubuh sang kakek, memencet hidung Agung dan menciumi Agung bukan dengan hidungnya, tapi dengan meruncingkan bibirnya. Agung akan pura pura tidur hingga Arvia kesal dan makin meningkatkan gangguan, akhirnya Agung buka mata, saat itu Arvia akan cekikikan dan menidurkan tubuhnya ke dada Agung.


Bagaimana Agung bisa melupakan itu dengan mudah, hampir setiap hari Agung menikamati moment itu, kemudian tiba tiba tak ada lagi, Arvia hilang dari pandangan Agung, tapi itu semua, segala ingatan itu, sama sekali tak bisa hilang dari ingatan Agung, semuanya masih menutup rapat ingatan pada yang lain, Agung masih terjerat kuat dengan bayangan Arvia yang terus menerus mengganggunya.


Agung juga sekarang suka masuk kamar Tomy untuk mengambil buku yang bisa ia baca, membaca menjadi pelampiasan Agung yang paling ia pilih. Tomy paham dengan itu, sehingga tak pernah mengunci pintu kamarnya, Tomy bahkan gencar mencari buku buku baru yang menurut Tomy baik untuk di baca Agung.


Sekarang sudah menjadi biasa, usai shalat Isya, Agung, Asrul dan Tomy bergabung di kamar Tomy, kadang ketiganya larut dengan bacaan masing masing, kadang sama sama membahas isi beberapa buku, ini menjadi forum diskusi yang menarik ketiganya, apalagi soal agama, Tomy cukup mumpuni untuk soal yang satu ini.


Pertanyaan demi pertanyaan Agung dan Asrul dapat di uraikan dengan baik dan lancar oleh Tomy. Asrul dan Agung memang sekarang punya ketertarikan yang besar terhadap konten agama, karena memang keduanya cukup lemah dalam hal ini, tidak mengetahui secara detail banyak hal tentang hukum agama.


Jika Mahdan tiba tiba ikut bergabung, pembahasan bisa menjadi beralih ke masalah hukum, sehingga Asrul dan Agung mendapatkan jawaban atas satu masalah dari dua sisi hukum, dari ketentuan agama dan ketentuan hukum negara, ini tentu menjadikan pembahasan jauh lebih menarik.


Tomy juga punya ketertarikan besar terhadap masalah hukum negara, sama dengan Mahdan yang juga selalu tertarik bahas masalah hukum agama, Mahdan memang alumni Madrasah, tapi masalah hukum agama secara detail tentu bukan bidangnya, karena hukum agama yang Mahdan ketahui hanya hukum dasarnya saja.’


Sedang Tomy malah alumni SMA, tapi kuliah S1 di Fakultas Syariah, sekarang juga sedang menempuh pendidikan S2 di Fakultas yang sama, sehingga pengetahuan agamanya menjadi lebih kuat ketimbang Mahdan. Satu kolaborasi yang apik, sehingga membuat Asrul dan Agung mendapatkan asupan ilmu yang tepat.


Agung tertawa kecil. “Ayah jadi pengen kuliah lagi”.


Agung hanya senyum lebar, Mahdan dan Tomy juga tertawa kecil, walau merasa lucu saja, melihat orang tua mereka yang pengen kuliah lagi di usianya yang sudah lebih 50 tahun. Tapi baik Tomy maupun Mahdan merasa tak masalah, karena yang begitu masih banyak, bahkan yang lebih tua juga masih ada yang kuliah lagi.


“Kalau ayah mau kuliah lagi, kira kira jurusan apa yang mau ayah ambil ?”. Tomy yang bertanya, yang langsung diangguki Asrul dan Mahdan.


Agung tertawa kecil. “Apa ya ?, ayah juga bingung. Tapi mungkin kayak Mahdan saja, hukum, cocok ?”.


Asrul, Mahdan dan Tomy sama tertawa. Tapi ketiganya sama sama mengacungkan jempolnya. Agung hanya senyum senyum saja, walau benar benar tertarik, tapi Agung masih mikir ulang. Dia menyelesaikan S1 nya bahkan jauh sebelum Asrul lahir, sudah hampir 38 tahun yang lalu, aneh saja kalau kemudian mau kuliah lagi sekarang, untuk apa ?.


Perbincangan menjadi begitu renyah, ketiganya sama sama mendorong Agung untuk benar benar mewujudkan niatnya untuk kuliah lagi, tapi Agung hanya senyum senyum nyengir saja, kesimpulannya sudah jelas, Agung hanya sekedar tertarik, tidak ada keinginan untuk betul betul mewujudkannya.


Perbincangan kali ini cukup lama, bahkan hampir larut malam. Agung, Asrul dan Mahdan sama sama mengeluarkan ponsel, sama sama menggeleng. Sama senyum kecut dan sama sama berdiri meninggalkan Tomy yang hanya pasang senyum. Tomy tahu kalau itu pesan dari Istri masing masing, menyuruh kembali ke kamar.


Setelah ketiganya keluar, Tomy menutup pintu dan senyum sendiri, kadang memang begitu, laki laki yang perkasa dan ditakuti banyak orang, pada akhirnya punya rasa takut juga jika menghadapi istri, buktinya ini tadi, pengusaha besar, dosen, pengacara terkenal, langsung berdiri saat mendapat pesan dari istri.


Saat sarapan pagi, ada kericuhan di ruang makan, ternyata yang memicu kericuhan itu adalah khabar hamilnya Mutia setelah lebih sepuluh tahun menikah. Mahdan bagai tak Mahdan lagi, bagai anak kecil yang terus memeluk dan menciumi istrinya, bahkan tak peduli sedang berada di depan kedua mertuanya.


Agung dan Meeta hanya tertawa renyah, ini khabar yang sama mengejutkannya dengan khabar kehamilan kedua Risda yang hampir bersamaan dengan Faridha tiga bulan yang lalu, itu artinya, Agung dan Meeta dalam tahun ini akan mendapatkan tiga cucu baru, Risda dan Faridha yang nanti lebih dulu, baru tiga bulan kemudian disusul dengan anak pertama Mutia dan Mahdan.


Hari hari Mutia sekarang tambah semangat, Mahdan juga selalu tersenyum, saat rekannya tahu apa yang terjadi, semuanya langsung sumringah, semuanya tentu bahagia mendengar itu, apalagi Mahdan sudah menunggunya lebih dari 10 tahun, usia Mahdan sekarang sudah 34 tahun, sedang Mutia sudah 36 tahun, sehingga keduanya sama sama ekstra menjaga kehamilan Mutia.

__ADS_1


Tapi dokter Laila selalu memberikan jempolnya, memberikan keyakinan pada Mahdan dan Mutia kalau Mutia dalam posisi yang tak punya masalah apapun, semuanya dalam kondisi yang baik, tak ada tampak tanda tanda kendala, ini juga membuat Mahdan lebih tenang, tapi ekstra perhatiannya sama sekali tak kurang.


Dokter Laila justru takut melihat Risda, ada banyak hal yang membuat Laila merasa kalau Risda mengambil resiko untuk melanjutkan kehamilannya, tapi Laila tak bisa apa karena Risda tetap bersikeras ingin memberikan adik buat Dahrul yang kini sudah berusia 10 tahun.


Perkembangan Risda juga menjadi perhatian dokter Muhli, walau Muhli termasuk orang yang cukup kesal, Muhli kesal karena Risda dianggap bermain main dengan sakitnya, dianggap tak peduli dengan penyakit yang di idapnya, membiarkan begitu saja hingga menjadi lebih berbahaya.


Masalah muncul saat kehamilan Risda memasuki bulan ke delapan, Risda kehilangan tenaga dan terus bernafas sesak, Risda sama sekali tak bisa lagi menutupi semua hal yang selama ini berusaha Risda tutup dari semuanya, kali ini sama sekali tak bisa disembunyikan lagi, Risda tak kuat lagi.


Mau tidak mau Risda menerima anjuran untuk di rujuk ke rumah sakit agar bisa mendapatkan penanganan yang intensif sesuai dengan kebutuhan yang seharusnya Risda perlukan. Mau tidak mau Risda memang harus mau, karena tak ada yang bisa Risda alaskan dan tutupi lagi.


Usai melakukan pemeriksaan menyeluruh, Dokter Muhli hanya bisa menggelang kepala dengan gelengan yang begitu panjang, ini sama sekali tak lagi di tutupi, ini sudah terlampau jauh untuk di hindari, kondisi Risda memang benar benar sudah berada dalam posisi yang begitu mengkhawatirkan.


Muhli dengan semua kegundahannya akhirnya menyampaikan keseluruhan tentang keadaan Risda tanpa ada yang Muhli tutupi lagi, benar benar membuka semuanya dengan lengkap.


Meeta menutup mulut dengan tangannya. “Kok bisa gitu dok ?”.


Muhli menggeleng. “Seharusnya saya yang bertanya dok, kok bisa begitu ?, kenapa di biarkan sampai separah itu, kenapa beberapa tahun belakangan ini sama sekali nggak pernah periksa, kok bisa dok ?”.


Meeta menggeleng, tak tahu harus menjawab apa. Apa yang dikatakan Muhli sepenuhnya benar, Meeta bahkan tak pernah tanya kondisi Risda, tak pernah menyarankan Risda untuk periksa. Tapi, itu semua Meeta lakukan karena tidak menemukan keluhan apapun dari Risda, semua melihat Risda yang baik baik saja setiap harinya, sehingga sama sama terkejut.


Asrul membuang nafas berat. “Menurut dokter selama ini istri saya seharusnya punya keluhan, begitu dok ?”.


Muhli anggukkan kepala. “Itu bukan seperti kecelakaan Pak Rul, bukan berubah drastis dalam hitungan detik, tapi ada proses. Bu Risda selama ini berarti menutupi sakitnya, menutupi keluhannya”.


Asrul kembali hempaskan nafas berat. “Mengapa Risda jadi begitu”. Keluh Asrul.


Muhli menggeleng. “Sekarang serba sulit, usia kandungan Bu Risda itu 8 bulan, usia yang tidak tepat untuk di lahirkan. Saya pikir, kita semua paham itu, maka untuk melakukan tindakan operasi, kita harus menunggu hingga 9 bulan”.


“Operasi dok ?”. Asrul mengerutkan keningnya.


Muhli angkat bahu. “Bu Risda dalam kondisi ini tak akan mampu melahirkan normal, detak jantungnya tak akan mampu, kondisi jantung Bu Risda itu, hanya tinggak 50% lagi”.


“Mengatasinya dok ?”. Masih Asrul.


Muhli menghela nafas panjang. “Kita bisa melakukan dua operasi sekaligus, melahirkan adiknya Dahrul dan mengganti jantung Bu Risda. Kita butuh donor untuk itu, kita daftar pencarian donor mulai saat ini”.


Asrul menggeleng panjang. “Lakukan yang terbaik dok”.


Muhli anggukkan kepala, walau gelengannya masih sangat panjang. Muhli benar benar kecewa dengan kondisi Risda, padahal jika dari awal ada penanganan yang intens, Risda tak harus menghadapi yang separah ini. Tindakan Risda yang mencoba menutupi rasa sakitnya benar benar berakibat fatal, dan ini masih bisa terus berkembang lebih buruk.


Apa yang dibayangkan dokter Muhli benar benar menjadi fakta, kondisi jantung Risda semakin hari semakin memburuk, Risda memang masih sadar, tapi yang membuatnya bertahan hanya semangatnya yang tinggi, keinginannya agar keluarganya tidak tegang.


Dokter Muhli benar benar pusing, ribuan rasa sama sama menyergap Muhli, ini membuat sang dokter benar benar resah dan gundah gulana, karena kondisinya sekarang jelas, tak ada yang bisa di lakukan sekarang kecuali menunggu donor jantung, yang ada sekarang, di perbaiki juga sudah sangat kurang memungkinkan, kondisi jantung Risda sudah boleh di katakan sekarat.

__ADS_1


…. Bersambung ….


__ADS_2