
Dahrul hanya ikut langkah Lufti yang ia panggil Opa, Dahrul tak punya pirasat apapun kenapa opanya datang menjemputnya ke sekolah, dan kenapa Opa Lufti yang datang, kenapa bukan yang lain, ini kali pertama Lufti menjemputnya, sebelum ini belum pernah sama sekali.
Dahrul juga tak protes, walau sebenarnya waktu pulang masih sangat lama, masih beberapa jam lagi. Tapi Dahrul tentu tak punya keraguan ke Lufti, sejak kecil Dahrul sudah kenal, sehingga yakin jika Lufti datang untuk sesuatu yang sangat perlu, Dahrul ikut saja langkah Lufti yang terus menarik lengan kirinya.
Dahrul belum paham saat semua guru yang ia temui menyalami dan membelai rambutnya, Dahrul hanya senyum kecil dan terus ikut langkah Lufti tanpa mengatakan apapun, keduanya kemudian masuk mobil dan langsung tancap gas meninggalkan komplek sekolahnya.
Dahrul juga tak bertanya kenapa Opanya Lufti membawanya bukan ke arah rumahnya, Dahrul tak protes, karena kalau mau kerumahnya, mobil tidak mengarah kesini, tapi kemudian Dahrul mulai paham, karena jalan yang diambil ini adalah jalan menuju rumah mereka sendiri, bukan kerumah Opa Lufti.
Ada keramaian, itu yang terbersit di hati Dahrul saat sampai di rumah, itu Dahrul simpulkan karena melihat ada banyak orang disana, bahkan ada banyak yang tak dikenalnya sama sekali, malah ada yang baru pertama kali Dahrul lihat.
Dahrul terus ikut melangkah masuk mengikuti Lufti diantara mata banyak orang yang menatapnya dengan lekat, ada yang mendesah ada pula yang sambil geleng geleng kepala, saat sampai pintu, mata Dahrul langsung tertuju di sudut ruangan, ia tahu kalau itu adalah jenazah, tapi siapa ?.
Langkah Dahrul mengikuti lambaian tangan neneknya, saat Dahrul dekat, neneknya langsung memeluk, saat penutup wajah jenazah dibuka, Dahrul terdiam, Dahrul memaku bagai kesetrum, itu wajah ibunya, jenazah itu adalah ibunya, sesuatu yang tak pernah di bayangkan Dahrul sebelumnya.
Lama Dahrul terdiam, mencoba memahami apa yang sedang terjadi, Dahrul terduduk di samping neneknya, terus berfikir, Dahrul menatap sekeliling, ia menemukan banyak wajah yang bersedih, ayahnya, dua kakeknya, Oma Widiya, Om Gunawan dan banyak yang lainnya, kemudian Dahrul sedikit terguncang, usia belianya sudah menangkap semuanya dengan jelas.
Dahrul paham sekarang, sangat paham, paham kalau mulai hari ini ia tak punya ibu lagi, tentu Dahrul sakit hati, ada banyak hayalan Dahrul, ada banyak harapan yang ingin Dahrul lakukan jika ibunya kembali dari rumah sakit, bahkan Dahrul sudah mencatat di buku hariannya.
Dahrul paham, jika semua catatannya tak akan ada yang terwujud, ibunya memang kembali ke rumah, tapi tak akan lama, ibunya dipastikan hanya beberapa jam saja disini, tertidur disini, kemudian akan pergi lagi, kepergian kali ini dengan lebel tak akan pernah kembali.
Usia Dahrul belum genap sepuluh tahun, ia baru akan berulang tahun yang kesepuluh tiga bulan kedepan, tapi itu dipastikan akan menjadi hari tanpa perayaan, Dahrul bahkan sudah menghapus semua harapan yang sudah ia susun untuk hari ulang tahunnya.
Dahrul tetap terduduk di samping jenazah ibunya, tak ada air mata. Dahrul sekuat tenaga mengabulkan permintaan ibunya kemarin yang mengatakan Dahrul jangan menangis apapun yang terjadi pada ibunya, jadilah anak yang tegar, sabar dan berjiwa besar, saat ini, kata kata ibunya terngiang kuat di telinga Dahrul, ini yang membuat Dahrul sekuat tenaga menahan air matanya.
Berulang kali Dahrul membuka penutup wajah ibunya, Dahrul rasanya ingin terus memandangi wajah yang bahkan tampak seperti sedang tidur itu, tapi Dahrul kembali hanya mengeluh saat neneknya selalu meraih tangan Dahrul untuk kembali menutupi wajah ibunya.
Sikap Dahrul ini membuat kepiluan bertambah tajam, Haris yang terduduk di sudut ruangan merasakan dadanya berdenyut sakit, ingin sekali ia meninju dadanya sekuat tenaga, tapi Haris tak mampu melakukannya, air mata Haris terus mengalir, serasa tak kuasa melihat cucunya yang selalu berusaha menatap wajah ibunya.
Haris tak tahu mau bicara apa lagi, kepiluan saat ditinggal Natalia belum hilang rasanya, tahun memang sudah berganti, bahkan Natalia sudah hampir tiga tahun meninggalkan dunia ini, tapi luka Haris belum pulih, belum hilang sama sekali, rasanya masih terlampau sakit.
Tapi hari ini Haris kembali ditinggal pergi, kali ini oleh putrinya sendiri, gangguan jantungnya ternyata tidak main main, apa yang dikatakan dokter Hasan padanya dulu kini menjadi kenyataan, upaya Risda menutup semua sakitnya berakibat fatal.
Saat ia tak mampu menutupinya lagi, semuanya serba terlambat, pertolongan yang diberikan tak menjawab apapun, harapan adanya donor tak kesampaian, pendonor tak jua ketemu hingga Risda sudah tak ada lagi, sirna sudah.
Uang tak menjawab apapun, ada sekalipun, ternyata tak memberikan jawaban sempurna, berapapun akan Haris siapkan, keluarga Asrul apalagi, tapi tak ada pentingnya sama sekali, karena yang ingin di tebus tak ditemukan hingga titik waktu penghabisan.
Haris terus menatap ke arah Dahrul, kini yang ia punya tinggal Dahrul dan adiknya yang kini masih tinggal di rumah sakit, anak anak dari putrinya Risda, Haris menghusap wajahnya, setidaknya ada hal yang ditinggalkan Risda untuknya, ada Dahrul dan adiknya, pelipur lara, yang mungkin bisa menghapus luka.
Jika semuanya sesuai, seharusnya Dahrul akan bergembira dengan adik perempuannya, tapi itulah bencana awalnya, Jantung Risda tak kuat saat akan melahirkan putrinya, saat itu pula baru ketahuan ternyata banyak sisi jantung Risda yang nyaris tak berfungsi lagi.
__ADS_1
Kondisi Risda semakin hari semakin memburuk, dan pagi ini adalah puncaknya, saat Risda tak lagi bisa meneruskan tarikan nafasnya. Haris tentu menyesal, karena hanya punya kesempatan mendampingi putrinya tak sampai dua belas jam.
Dahrul ikut berdiri saat tubuh ibunya diangkat untuk dimandikan, Dahrul ikut membantu, menyiram dan membersihkan tubuh ibunya, Rubiah mayit bahkan menuntun Dahrul melakukan banyak hal, Dahrul ikut semua perkataan rubiah tanpa suara sedikitpun.
Sikap Dahrul ini kembali membuat banyak pelayat yang menitikkan air mata, bahkan Mutia terduduk lemas nyaris pingsan. Pandangan Mutia berkunang kunang melihat wajah pucat jenazah kakak iparnya yang sedang di mandikan, melihat dua tangan Ariana yang terus mengelus wajah Risda yang tepat dipangkuannya, hati Mutia benar benar hancur lebur.
Mahdan memeluk dan mengangkat tubuh Mutia yang sudah seperti tak bertulang, Mahdan juga tak sanggup menahan air matanya, ia membawa Mutia menjauh, membawa istrinya masuk kamar dan menidurkannya, isak mutia makin terdengar, ia memeluk lengan suaminya yang duduk di tepi ranjang.
“Ingat kandunganmu sayang, kamu harus kuat”.
Tangis Mutia makin keras. “Tia nggak kuat Bang, Tia nggak kuat”.
Mahdan membelai rambut Mutia. “Tapi Tia harus kuat”.
“Tia nggak kuat Bang, Tia nggak kuat”. Tangis Tia makin melemah.
Mahdan hanya bisa membuang nafas berat, hanya bisa membiarkan air mata Mutia membasahi lengan bajunya, apapun alasannya, Mahdan juga harus menjamin Mutia menjaga kandungannya, menjaga anak yang sudah hampir 10 tahun mereka tunggu tunggu kehadirannya.
Walau sebenarnya tak ada bedanya, air mata Mahdan juga terus mengalir, bayangan Mahdan sekarang dipenuhi oleh keseharian istri abang iparnya itu, Risda yang bahkan sudah seperti kakak kandungnya, tempatnya bermanja.
Wanita yang lembut, ceria dan periang, tak ada waktu yang ia lewati tanpa tawa dan senyum ceria, perhatian dan selalu siap membantu, Mahdan yakin istrinya sangat terluka, karena selama ini Mahdan tahu kalau istri abang iparnya itu adalah tempat curhat Mutia, bahkan tempat ia bermanja ria.
Mahdan mengingat semuanya dengan baik, itu yang membuat Mahdan begitu terkejut mengetahui kalau kakak ipar istrinya itu punya riwayat gejala jantung, Mahdan selama ini tak tahu itu, sehingga tanpa sadar sempat memarahi Mutia.
Usai shalat jenazah, semua beranjak menuju pemakaman, tapi langkah pengusung jenazah sedikit terhenti saat mendengar ada keributan di depan musholla. Reni yang baru tiba dari Semarang menangis tersedu, ia memaksa ingin melihat wajah kakak iparnya.
Agung memeluk Reni. “Ayo ke pemakaman, disana Reni lihat kakak ya”.
“Kenapa tidak sekarang Yah”. Reni masih terus menangis.
Iskandar mengambil alih Reni dari mertuanya. “Disini nggak mungkin lagi Dek, di pemakaman saja, disana bisa kok”.
“Reni mau lihat wajah kakak Bang”. Reni memelas.
Iskandar mengeratkan pelukannya. “Iya, Abang tahu, disana saja ya”.
Reni mengalah, langkahnya hampir terseok sakin lemasnya, Iskandar jadi seperti sedang menuntun. Iskandar paham apa yang dirasakan istrinya, Iskandar tahu kalau Reni sangat menyanyangi kakak iparnya, pasti Reni sangat merasa kehilangan, apalagi mereka belum pernah ketemu sejak dua bulan terakhir.
Reni terduduk lemas, air matanya mengalir sangat deras saat berhasil melihat wajah kakak iparnya untuk kali yang terakhir, ingin sekali Reni turun ke liang kubur, ingin membelai dan menciumi pipi kakak iparnya, tapi itu tak lagi mungkin, Reni hanya bisa tersedu menahan tangisan.
__ADS_1
Kedua tangan Reni meremas tanah sekuat tenaga saat perlahan papan penutup menutupi pandangan Reni, kini jenazah kakak iparnya tak terlihat lagi, Iskandar menarik Reni menjauh, akhirnya tangis Reni pecah di pelukan Iskandar yang hanya bisa membelai saja, tak tahu mau mengatakan apa.
Sementara Farhan terus menangis memandangi ponselnya yang sedang video call dengan kakaknya Mutia, Farhan yang memang tinggal di Liverpol tak bisa pulang, istrinya Faridha akan menjalani operasi melahirkan malam nanti, bahkan Farhan masih merahasiakan hal ini pada istrinya.
Farhan tentu saja tak berani menyampaikan ini ke Faridha, sudah dipastikan Faridha akan syok, dipastikan akan langsung drop jika mengetahui Risda sudah tak ada. Farhan tak mau ambil resiko itu, sehingga tetap menutup rapat info tentang Risda, walau Farhan tahu, saat Faridha tahu nanti, mungkin ia juga akan marah besar.
Farhan hanya bisa melihat proses pemakaman kakak ipar yang sangat disayangi dan menyayanginya itu dari kejauhan, air mata Farhan benar benar tak terbendung, bahkan dokter Smith yang duduk disamping Farhan juga ikut menangis, dokter Smith pernah dua kali ketemu Risda saat ia ke Indonesia.
Video call terputus saat pemakaman selesai, Farhan mengantongi ponselnya, menengadah ke langit dan masih terus terisak. Dokter Smith merangkul bahu Farhan dan menggoyangnya, Farhan tahu, itu upaya sang dokter untuk memberinya kekuatan.
Farhan sekarang tertunduk, setidaknya ia menyesal kemarin menolak permintaan istrinya Faridha untuk pindah saja ke Indonesia, seandainya Farhan ikut saran itu, ia punya peluang untuk mengikuti proses fardhu kifayah kakak iparnya, satu hal yang seharusnya tak pantas ia lewatkan.
Farhan berdiri, menghusap air matanya, bahkan cuci muka di wastafel sebelum kembali masuk ke ruangan Faridha. Farhan memaksakan senyuman saat ia duduk di tepi ranjang Faridha, sang istri juga tampak tersenyum, jemari Faridha menuju wajah Farhan, heran melihat matanya yang memerah.
“Mata abang kok merah Bang ?”.
Farhan menggeleng. “Ada kemasukan binatang kecil tadi”.
Faridha mengerutkan keningnya. “Dua duanya Bang ?”.
Farhan anggukkan kepala. “Kompak mereka”.
Faridha akhirnya tertawa, walau sebenarnya masih ada pertanyaan lain. Faridha sama sekali belum yakin dengan jawaban Farhan, tapi Faridha memilih tak bertanya lagi, sekarang memeluk lengan kiri Farhan dan berusaha memejamkan mata, Faridha masih terus berusaha tidur setelah lebih 36 jam tak tidur tidur.
Faridha juga merasakan ada yang aneh dengan jantungnya, debarannya semakin lama semakin kencang, Faridha merasa ada keresahan yang tiba tiba menghampirinya, ingatan Faridha malah utuh ke Jakarta, wajah wajah orang orang yang disayanginya silih berganti menguasai pikiran Faridha, terutama ke Dahrul. Entah mengapa, Faridha begitu rindu ke keponakannya itu.
"Sudah lama tak telephon Dahrul ya Bang".
Farhan anggukkan kepala. "Kenapa Dha ?".
Faridha menggeleng sedikit. "Adek rindu sama Dahrul, entah kenapa, adek sangat pengen ketemu Dahrul".
Farhan memaksakan tawa. "Mungkin Dahrul juga rindu. Nanti setelah lahiran dan kuat, kita balik ke Jakarta".
Faridha senyum tipis. "Janji ya Bang".
Farhan anggukkan kepala, Farhan membelai rambut Faridha dengan lembut. Farhan membuang nafas berat, mungkin Faridha merasakan sakit seperti apa yang di rasakan Dahrul hari ini, ada kontak bathin mungkin, karena Faridha memang sangat menyayangi Dahrul, kepiliuan Dahrul menular ke tantenya, itu hal yang lumrah.
Sayangnya, mana mungkin Farhan jujur tentang apa yang sedang berlangsung di Jakarta saat ini, kondisi Faridha sama sekali tak mendukung, bisa bisa Faridha ikut dalam bahaya jika mengetahui apa yang sedang menimpa keluarga besarnya di Jakarta sekarang, apalagi jelas sekali, Farhan yakin, Faridha tak akan mungkin kuat mendengarnya.
__ADS_1
Farhan terus memandangi wajah istrinya, sesekali Farhan mengecup kening Faridha dengan lembut, perlakuan Farhan ini begitu membuai Faridha, hingga Faridha perlahan mampu memejamkan mata, tertidur.
… Bersambung ….