
Acara tekhnical meeting sudah selesai, semua keluar dari ruangan, ada jeda yang cukup panjang juga, karena final debat yang mempertemukan lima provinsi terbaik baru akan digelar pukul 14.00 WIB, sekarang masih pukul 11.30 WIB, artinya masih ada dua jam setengah lagi.
Faridha kembali terkejut, karena ternyata Risda belum juga pulang. Faridha makin terkejut lagi karena Risda memang sengaja tak pulang, ingin membawa Faridha dan seluruh timnya makan siang, tempat bahkan sudah di booking.
“Tempatnya jauh Bu ?”. Aswin Ketua Rombongan yang bertanya.
Risda menggeleng. “Itu Pak, jalan kaki juga bisa”.
Aswin anggukkan kepala, semuanya langsung bergerak menuju rumah makan yang di tunjuk Risda. Semua anggota tim Faridha sama sama terkejut saat memasuki rumah makan, mereka menyangka ini hanya makan siang biasa, ternyata dugaan mereka salah, ini makan siang istimewa.
Semua mata mulai memilih mana yang mau dimakan duluan, karena yang terletak di meja bahkan menurut Parulian terlampau banyak. Parulian juga berasal dari keluarga yang cukup mampu, tapi untuk makan di tempat seperti ini keluarganya masih mikir dua kali, ini jangkauan tingkat tinggi.
Tak lama, semua mata sekarang mengarah ke pintu masuk, saat Farhan muncul bersamaan dengan Asrul, dua orang yang cukup mirip, walau tidak sangat mirip, tapi melihat keduanya, semua orang akan tahu kalau itu kakak adik. Banyak yang hampir tersedak saat Asrul mendekati Risda, seenaknya saja menunduk dan mendaratkan ciumannya.
Dasar orang kota besar, enak saja, nggak ada segannya, bathin Aswin. Dan ternyata kata hati Aswin itu hampir dirasakan semua anak didiknya, kecuali Lita. Lita sudah terbiasa dengan pandangan itu, abangnya selalu tak kenal tempat, dimana saja jumpa, akan selalu seenaknya saja mencium pipi kakak iparnya.
“Abang makan apa ?”.
Farhan senyum saja menatap Faridha. “Terserah adek sajalah”.
Faridha senyum saja, dengan cekatan ia mengambilkan nasi dan lauk untuk Farhan, pilihan Faridha jatuh ke seafood, karena ia melihat Farhan kemarin cukup lahap memakan itu, keduanya kemudian sama sama makan dan terlibat obrolan kecil, penuh dengan senyuman dan tawa kecil, jelas tampak ada gurauan disana, tampak keduanya nyaris tak punya jarak, sangat rapat, sangat dekat.
“Minum dulu gih”. Farhan meraih gelas dan menyerahkan ke Faridha.
Faridha hanya meneguk sedikit, agak menetralkan nafasnya yang tadi sempat tersedak, tangan Farhan ambil tisu dan melap pinggir bibir Faridha yang sedikit basah, Faridha tampak tenang. Inilah yang membuat Parulian geleng kepala, katanya bingung, tapi buktinya mesra habis, batin Parulian.
Ternyata rekan Faridha yang lain juga memperhatikan itu, Lita tampak senyum merekah, serasa ikut bahagia dengan apa yang dirasakan temannya Faridha, Lita memang sangat menyukai cara pandang Faridha, sikap sikap Faridha yang menurut Lita cukup dewasa, itu yang membuat Lita kagum pada Faridha selama ini.
Tapi kepala Parulian cukup pusing melihat Asrul dan Risda, keduanya sama sama seakan tak merasa ada banyak anak kecil di depan mereka, jika Farhan melap pinggir bibir Faridha masih dengan tisu, Asrul langsung dengan jarinya, sesekali malah menyuapi istrinya, seakan yang menghadapi hidangan hanya mereka berdua.
Asrul yang membukakan kerang dengan tangannya, bukannya ke piring, setelah berhasil membuka kerang dan mengeluarkan isinya, tangan Asrul langsung menuju mulut istrinya, Risda juga cuek saja, begitu tangan Asrul dekat, ia langsung buka mulut dan mengunyah kerangnya.
Akhirnya setelah hampir satu jam, acara makan selesai juga, Parulian ikut melotot melihat bill yang datang, tapi Asrul hanya melirik sedikit saja, ambil dompet dan keluarkan kartu kreditnya. Pelayan mengambil kartu Asrul dan beranjak ke meja kasir.
Parulian dan yang lain sedikit menggeleng dan berbisik dalam hati, ternyata cukup enak jadi orang kaya, hanya dengan kartu saja, nggak mesti bawa uang tunai banyak banyak, tapi memang harus di tempat yang begini pula, kalau hanya rumah makan biasa, tetap saja, harus tunai juga.
Berpisah di depan rumah makan, Asrul, Risda dan Farhan memilih pulang ke rumah, Faridha setelah terlibat obrolan kecil dengan Farhan ikut rombongan teman temannya kembali ke hotel, begitu Asrul, Risda dan Farhan beranjak, baru semuanya sama sama berjalan menuju hotel.
__ADS_1
“Kalau gaya Makcik bisalah, bingung lah, apalah, tapi pas ketemu sudah imbang imbang nya Romoe and Juliet. Makcik .. Makcik .. gayamu”. Rutuk Parulian.
Faridha agak tersentak, ia hanya senyum kecut. Bahkan baru sadar, sekarang jadi malu mengingat apa yang terjadi saat makan tadi, saat Farhan mengelus elus punggungnya yang sedikit tersedak, apalagi saat Farhan mengelap pinggir bibirnya, Faridha malah jadi merasa bodoh sendiri, kenapa tadi malah merasa bagai tak ada apa apa, Faridha kini malah jadi bingung sendiri.
Faridha hanya menunduk mendengar ratusan kata omelan dari Parulian, Faridha malah merasa ada yang aneh, kenapa saat ketemu Farhan semuanya seperti berbeda, Faridha tak merasa canggung sedikitpun, malah mengalir begitu saja, kini Faridha jadi bertanya tanya dalam hati, apakah ia sudah benar benar jatuh hati ?.
Final debat sudah akan dimulai, semua tim yang masuk final sudah ambil posisi masing masing, hanya tinggal menunggu instruksi dari pimpinan debat saja. Senyum Faridha begitu mengembang, kenapa tidak ?, ada rasa terkejut, gembira juga banyak, mata Faridha menangkap keluarga lengkap Farhan di barisan penonton.
Ada Agung, Meeta, Asrul, Risda, Mutia, Reni, dan bahkan Ariana yang langsung melambai lengkap dengan senyumnya saat bertemu pandang dengan Faridha, serta merta ada suntikan semangat besar yang tiba tiba menghujam tepat di hati Faridha, sehingga ia begitu bersemangat memulai debat.
Mutia dan Risda yang paling melongo, karena keduanya yang cukup lemah dalam Bahasa Inggris, mendengar dan melihat Faridha yang bicara bagai air mengalir membuat Mutia dan Risda geleng kepala, tak menyangka Faridha sepasih itu dalam menggunakan Bahasa Inggris, Mutia senang karena tahu jika Farhan memiliki kemampuan yang sama.
Agung dan Meeta terus dikuasai senyuman saat Farhan maju kedepan menyampaikan pidato awal debat tahap kedua tentang lingkungan hidup. Farhan juga sangat baik dalam hal ini, bahkan Farhan sudah sering berkomunikasi dengan turis misalnya sejak masih SMP.
Parulian dan kawan kawan yang kini terkesima, Farhan ternyata bukan hanya mampu Bahasa Inggris saja, akan tetapi juga cukup menguasai Bahasa Jerman dan Francis, ini dibuktikan dengan dialog Farhan dengan juri kehormatan dari Kedutaan Besar Jerman dan Francis.
Walau sebenarnya ada disediakan penerjemah, tapi ternyata Farhan tak butuh itu, ia menjawab dengan gamblang pertanyaan yang diajukan, sebelum penerjemah bicara, Farhan langsung menjawab dengan menggunakan bahasa yang sama dengan penanya, yang bahkan membuat penanya berdiri dan menyalami Farhan saat turun dari mimbar.
“Farhan memang luar biasa ya Bang, Adek nggak nyangka”.
Asrul senyum mendengar pujian Risda. “Seingat Abang, Farhan itu sudah belajar lima bahasa internasional”.
Asrul tertawa kecil. “Seingat Abang itu Inggris, Francis, Jerman, Arab, dan satu lagi kalau nggak salah Jepang atau Spanyol, abang lupa”.
Risda agak menggeleng, ia sama sekali tak menyangka jika Farhan yang masih SMA ternyata sudah menguasai lima bahasa internasional, Risda tak menyangka kutu buku itu ternyata memiliki kualitas menghafal yang brilian, Risda senyum sendiri membayangkan dirinya, Bahasa Inggris saja masih cekak.
“Abang bisa berapa bahasa Bang ?”.
Asrul senyum kecut. “Banyak juga”.
Risda agak melotot. “Masa ?, Abang bisa bahasa apa saja ?”.
Asrul senyum tipis. “Banyak lah, Bahasa Inggris, Bahas Indonesia, Bahasa Jawa, Banjar, dan …”.
Risda tertawa memang, tapi tampak kesal juga, ujung jarinya sudah mendarat telak di perut Asrul, ini membuat Asrul meringis, tapi ikut tertawa juga, Asrul merasa lucu melihat wajah cantik istrinya yang manyun, tampak menggelikan bagi Asrul.
Tapi, perbincangan itu tak lama, keduanya kembali serius mendengarkan debat, apalagi saat ini Faridha hampir bersitegang dengan wakil provinsi lain yang ngotot kalau apa yang dikatakan Faridha tidak sepenuhnya benar, tapi karena Faridha membawa bukti vidio dan pengakuan ahli, lawan debatnya menyerah dan mengaku kalau ungkapan Faridha dapat di percaya.
__ADS_1
Akhirnya waktu debat usai, seluruh peserta sudah berbaur dengan penonton, Agung dan Meeta sudah mendekat ke kelompok Faridha, begitu Agung dan Meeta sampai, Faridha langsung menyalami keduanya dan mengenalkannya pada semua temannya, semua juga ikut menyalami.
Meeta memeluk Faridha sembari mencium keningnya. “Kamu hebat Sayang, Bou senang, Bou Bangga, Menantuku yang cantik ini, ah, ummm”. Meeta kembali mencium pipi Faridha.
Faridha hanya senyum saja, sedang rekan rekannya tampak seperti kesetrum, mereka melihat dan menyakini kedekatan Faridha dengan calon ibu mertuanya, semua sekarang anggap kalau Faridha sudah kenal lama dengan keluarga Farhan, karena semua memang tak tahu cerita persisnya, Faridha juga tak cerita sampai kesana.
Faridha dan tim sama sekali tak berharap apa apa dalam debat ini, masuk final saja bagi Aswin sudah luar biasa, begitu tadi di umumkan tim binaannya masuk final, Aswin sudah sujud syukur, karena itu sudah memenuhi target yang dibebankan padanya, sehingga apapun hasil pengumuman tidak masalah bagi Aswin.
Saat pengumuman tiba, Faridha dan tim sama sekali tidak mengalami perubahan detak jantung, karena mereka memang hanya mengeluarkan kemampuan sesuai dengan apa yang mereka bisa, semua anggota tim lepas, tidak ada target apapun sehingga tidak ada kehati hatian, tidak ada takut salah kata, semua mengalir deras begitu saja.
Harapan I dan II sudah diumumkan, tak ada nama tim Faridha, kali ini barulah jantung Aswin sedikit berubah, ini artinya mereka masuk tiga besar, saat Pemenang III disebut Aswin makin berdebar, saat Pemenang II disebut Aswin langsung terduduk, itu artinya mereka berada di pringkat pertama.
Gemuruh terdengar saat Tim Faridha dan kawan kawan di umumkan sebagai Pemenang I Lomba Debat tahun ini, Risda, Mutia, Reni dan Ariana bahkan sudah melonjak lonjak gembira, mereka langsung mengejar Faridha yang berada di depan berbaur bersama yang lain.
Faridha sendiri hampir tak bisa menahan tubuhnya yang langsung lemas sakin terkejutnya, kalau tidak di tangkap Risda, mungkin Faridha sudah terduduk ke lantai, Risda memeluk dan menciumi Faridha sepuasnya, baru disusul Mutia, Reni dan Ariana yang juga tak mau ketinggalan.
Ariana bahkan melompat lompat tak karuan membuat Faridha dan kawan kawannya ikut tertawa girang. Semuanya menggeleng melihat kehebohan Ariana, bukan hanya tim Faridha, tim yang lain juga ikut tersenyum, ikut senang dengan kegembiraan yang di tunjukkan Ariana.
Farhan mendekat, hanya tinggal satu langkah saja dari Faridha, Farhan merentangkan tangannya. “Selamat Sayang, Kamu benar benar yang terbaik”.
Entah jin mana yang mendorong Faridha, yang jelas ia langsung menghamburkan diri ke dalam pelukan Farhan, tentu saja Farhan menyambutnya dengan sangat baik, saudara saudara Farhan tampak sumringah, anggota tim Faridha hanya bisa geleng kepala, mau bilang apa, di halangi juga nggak mungkin.
Pelukan akhirnya lepas juga, Faridha serasa sadar, agak malu dan melangkah mundur sekali memberi jarak dengan Farhan. Tapi, telapak tangan Farhan masih dengan mudah menjangkau pipi Faridha dan membelainya.
“Selamat sayang. Kamu benar benar hebat”.
Tangan Faridha malah memegangi tangan Farhan dan mencium telapaknya. “Terima kasih Bang”.
Parulian yang paling menggeleng, tapi jujur ia juga bahagia, suka dengan kasih sayang yang ditunjukkan keluarga Farhan. Parulian yakin, pada saatnya nanti, Faridha akan hidup bahagia, Parulian sangat yakin itu.
Usai menerima hadiah yang sekaligus penutupan, tim Faridha harus langsung ke bandara, penerbangan mereka menuju Medan akan terbang pukul 20.00 WIB, artinya mereka harus sudah sampai bandara pukul 19.00 WIB. Tapi, untuk kali ini semuanya kembali bersyukur, karena mobil yang dibawa keluarga Farhan masih bisa mengantar tim ke bandara.
Kali ini mesranya nampak, Farhan dan Faridha yang duduk berdua di bangku paling belakang tampak saling berbisik, tangan Farhan jelas merangkul bahu Faridha, sedang kepala Faridha bersandar di leher Farhan, seperti pasangan yang jadian lama.
Farhan mengeluarkan kotak cincin dari kantongnya, membuka, meraih jemari Faridha dan memasangkannya. Faridha hanya senyum getir, tak tahu mau bilang apa, tapi memang ada banyak getar di hatinya, getaran yang sama sekali tak sanggup di tahan Faridha.
Setelah salam perpisahan yang lumayan panjang, Faridha masih berulang kali menoleh kebelakang, sampai akhirnya tak guna menoleh lagi, karena memang tak akan tampak lagi, barulah Faridha berjalan tunduk tanpa menoleh, berjalan lurus menuju ruang tunggu khusus penumpang.
__ADS_1
…. Bersambung …