
Farhan sudah setengah jam berada di bandara untuk menunggu Tomy, Farhan langsung sumringah melihat lambaian tangan Tomy, keduanya langsung berpelukan, banyak tawa yang menghiasi bibir keduanya, setelah sekian lama, keduanya kembali bertemu, kali ini Tomy akan lama, karena sudah memutuskan mengambil program studi Hukum Pidana Islam di UIN yang ia peroleh lewat jalur SPAN-PTKIN.
Agung setuju saja, Agung tak memaksa Tomy untuk ambil jurusan apa, sehingga saat Tomy memutuskan hal itu, Agung menerima dan tetap dengan pendirian semula, akan membiayai seluruh pendidikan Tomy, tidak hanya sekedar S1, Agung janji menjamin kuliah Tomy hingga ke jenjang S2.
Tomy dan Farhan sudah masuk mobil, jarak antara bandara dan rumah keluarga Farhan yang cukup jauh membuat keduanya banyak bercerita, Tomy mengaku setelah kunjungan mereka dahulu, ia pernah dua kali kembali datang ke perkebunan, sering ketemu dengan Haris, bahkan ayah Tomy sekarang sudah bekerja di perusahaan, bukan di perkebunan, tapi di kantor perwakilan Kotawaringin Timur.
Haris juga yang datang langsung ke rumah keluarga Tomy, menemui ayah Tomy dan membahas mengenai kepindahan Tomy ke Jakarta, ikut dengan keluarga Farhan sebagai anak angkat. itu semua Haris lakukan atas permintaan Agung yang hanya ngobrol dengan ayah Tomy melalui telephon.
Awalnya Haris juga mengaku ingin membawa Tomy ke perkebunan dan bekerja disana, tapi semuanya berubah karena Agung sudah membuat keputusan. Haris tentu sangat setuju dengan keputusan itu, sehingga Haris bahkan ikut ambil bagian menyiapkan Tomy agar bisa menghadapi banyak hal di Jakarta.
Sejak saat itu, Tomy mulai belajar banyak hal atas saran Haris dan juga anjuran Farhan, termasuk mengemudi. Haris mendaftarkan Tomy ke kursus mengemudi, saat Tomy dinyatakan bisa, Haris tak terima begitu saja, Haris melakukan ujicoba yang cukup ekstrim. Haris membawa Tomy jalan hingga ke Palangkaraya, dan Tomy menjadi supir tunggalnya pulang dan pergi, sehingga Tomy menjadi semakin mahir.
Bahasa Inggris Tomy sekarang juga sudah sangat baik, ketekunannya meningkatkan kemampuan bicaranya sangat maksimal, Tomy serius dengan hal ini karena Haris mengatakan, tinggal di ibukota negara akan bersentuhan dengan banyak hal, termasuk yang berkaitan dengan luar.
Memang tidaklah masalah kalau nggak bisa, banyak orang yang demikian. Akan tetapi akan sangat bagus kalau bisa, itu akan menyokong banyak hal, termasuk soal karir dan pekerjaan di kemudian hari. Tomy sepakat dengan itu dan dengan antusias menyiapkan diri, saat itu semuanya mudah, karena disokong penuh Haris.
"Aku nggak bisa bilang apa Far, sama sekali tak terpikir akan sampai dan bahkan menetap disini untuk waktu yang lama. Ini semua karenamu kawan, aku tak tahu bilang apa, kecuali ucapan terima kasih".
Farhan malah tertawa. "Kau ada ada saja Tom, itu bukan masalah. Yang penting belajar yang benar dan temukan cita citamu, Tomy Andrian, SH, pengacara agama, seru kan ?".
Tomy tertawa dan terus gelengkan kepala. "Alhamdulillah Far, entah rejeki apa aku kemarin bisa bertemu denganmu di perkemahan, nasib baik kali ya".
Farhan kembali tertawa. "Itu sudah digariskan sama yang di atas Tom, kita jalani dan syukuri saja, itu jauh lebih penting daripada memuji muji sesama manusia".
Tomy kali ini ikut tertawa. "Mudah mudahan berikutnya ada Ustadz yang berprofesi sebagai dokter, Amin".
Keduanya sama tertawa. Tidak hanya Tomy, Farhan juga tentu sangat bahagia, dengan adanya Tomy, maka ia akan punya teman diskusi yang menarik, selama ini, melalui telephon mereka sering mendiskusikan sesuatu, bahkan sering hingga berjam jam, sekarang, saat Tomy sudah bersamanya di rumahnya sendiri, maka tentu saja Farhan akan dengan mudah dapat memulai diskusi dengan Tomy.
“Kita langsung ke rumah dulu ya Tom. Besok saja kita ke kampus, gimana ?”.
Tomy anggukkan kepala. “Begitu juga boleh Far, aku juga sudah nggak sabar pengen ketemu ayah sama ibu”.
Farhan anggukkan kepala penuh senyuman, Farhan mempercepat jalannya mobil, walau tidak cepet cepat amat, tapi tindakan itu bisa mempercepat keduanya sampai di rumah kediaman keluarga Farhan. Cerita keduanya masih saja panjang, topik utama masih seputar Kotawariringin Timur dan perkebunan.
Tomy hampir tersedak, bibir Tomy tiba tiba begitu kelu saat mobil masuk pekarangan rumah Farhan, itu baru luarnya saja, dada Tomy makin berdesir saat melangkah masuk, tak menyangka kalau ternyata kawannya Farhan hidup dalam keluarga yang begini, Tomy jadi ciut, senyumnya juga jadi getir.
“Ini rumah kamu Far ?”.
Farhan anggukkan kepala dan balik senyum. “Iya Tom, ayo”.
“Besar sekali Far”.
Farhan hanya tertawa saja. Tomy makin ciut dan sekarang malah sedikit gemetar saat sampai di ruang tengah, disana semua anggota keluarga Farhan sedang berbincang sambil nonton TV, semua mata langsung mengarah ke Tomy saat Farhan mengenalkannya kepada semua.
__ADS_1
Tomy menyalami dan mencium tangan semuanya, kecuali Ariana, karena Ariana langsung yang melakukan hal tersebut, Tomy jadi senyum kecut, ada rasa minder besar sekarang, apalagi melihat wajah wajah penuh senyum yang ada disana, yang laki laki tampan semua, yang perempuan cantik luar biasa.
Mata Tomy langsung menangkap wajah Risda, ingatannya langsung tertuju pada ruang tengah rumah Haris di perkebunan, mengingat photo besar wajah Risda yang terpampang disana, ternyata aslinya jauh lebih cantik, bedanya photo yang disana tidak pakai jilbab, sedang yang ini begitu anggun dengan jibabnya. Dengan kikuk, Tomy ikut duduk di samping Farhan.
Farhan kemudian memperkenalkan semuanya ke Tomy, kebetulan memang sedang lengkap sekarang, Tomy hanya angguk anggukkan kepala saja, perlahan Tomy mulai tenang, karena dari tadi, semua wajah yang ada disana menunjukkan senyuman yang ramah dan terbuka, Tomy mulai memiliki rasa percaya diri.
“Memang sudah final dengan jurusan itu Tom ?”. Agung yang tanya.
Tomy anggukkan kepala. “Iya Yah, sudah final. Tomy juga sejak SMP memang ingin jadi pengacara agama”. Tegas Tomy.
Agung anggukkan kepala, memang sejak pertama kali komunikasi dengan Tomy dan memutuskan menjadi ayah angkat Tomy, Agung memintanya memanggil ayah saja, Tomy tentu siap dengan panggilan itu, sehingga saat bertemu langsung seperti ini, lidah Tomy sedikitpun tidak kaku memanggil Agung dengan sebutan ayah.
“Masih ada kesempatan lho Tom, kalau mau ganti, ambil mandiri misalnya”. Sela Mutia yang tampak kurang sreg dengan jurusan Tomy.
Tomy kembali menggeleng. “Itu sajalah Kak, peluang kerjanya banyak juga itu, di kementerian atau di pengadilan agama”.
Mutia dan yang lain akhirnya sama anggukkan kepala, Tomy memang sudah final dengan pilihannya, lagi pula rasanya kurang bagus juga sekarang tiba tiba bilang mau ganti dan coba yang lain. Menurut Tomy itu sangat tidak etis rasanya, semua biaya sudah dibayarkan, sekarang tinggal nunggu kegiatan pengenalan saja, kok malah mau ganti jurusan.
Tomy dalam waktu singkat langsung terkesan dengan keluarga ini, sekarang Tomy mendengar nasehat yang silih berganti datang dari Meeta, Asrul, Mutia dan Reni. Semuanya memberikan kesan yang begitu mendinginkan hati Tomy, sehingga senyum Tomy terus mengembang, ia sama sekali tak menyangka memasuki keluarga yang penuh kehangatan seperti ini.
Tomy jadi tertawa kecil dalam hati mengingat ungkapan beberapa tetangganya yang mengatakan, orang kaya itu biasanya akan ada yang sombong, kalau tidak suami, maka istrinya yang angkuh, jika suami istri baik, maka anaknya yang akan demikian, maka kita harus tahu diri, jika ingin terus, maka harus mampu menahan semua kemungkinan, termasuk hinaan, bahkan cacian.
Tapi apa yang Tomy lihat dan rasakan sekarang sepertinya jauh dari apa yang dikatakan para tetangganya, bahkan si bungsu Ariana tak lekang sedikitpun senyum di bibirnya, Tomy yakin gadis kecil ini pasti manja, buktinya saja sekarang sudah terlihat, ia enak saja naik ke pangkuan ayahnya, padahal sudah cukup besar.
Jika memang ada yang sombong seperti kata para tetangganya, begitu jumpa itu pasti sudah tertangkap oleh mata, tapi yang Tomy lihat sama sekali tak ada, wajah dan sorot mata semuanya menunjukkan keteduhan, sehingga Tomy sangat yakin, haqqul yakin, kalau tak ada yang sombong satu orangpun dalam keluarga ini.
“Kamarmu lebih separuh dari rumahku Far”. Tomy tertawa menggeleng.
Farhan jadi ikut tertawa. “Ada ada saja kau Tom”.
Tomy terus menggeleng, menyusun pakaiannya di lemari yang di tunjuk Farhan, Tomy menyusun pakaiannya dengan masih terus menggeleng, bagaimana ia bisa tinggal di rumah semewah ini, satu hal yang Tomy tak pernah bayangkan sebelum ini, Tomy memang yakin Farhan anak orang kaya, tapi bayangan Tomy tak sampai seperti ini, ia hanya melihat beberapa orang kaya di kotanya.
Usai shalat isya dan makan malam, Tomy ikut dengan Farhan ke ruang belajar, kening Tomy agak berkerut, disana hanya ada Risda, Farhan langsung duduk di depan Risda dan memulai kegiatan mereka belajar membaca Alquran, Tomy walau bingung tetap ikut duduk di samping Farhan dan mengikuti kegiatan keduanya hingga selesai.
Begitu Risda hilang, Tomy langsung mencolek Farhan. “Kakak Ipar itu ?”.
Farhan tertawa kecil dan anggukkan kepala. “Kakak ipar itu Muallaf Tom, tapi dia cepat belajar, kau dengar sendiri tadi, sudah sangat baik kan ?”.
Tomy cukup terkejut, tapi angguk kepala juga. “Sudah sangat baik malah Far”.
Farhan dan Tomy langsung masuk kamar, rasa terkejut Tomy masih belum hilang, apalagi penjelasan Farhan jelas, itu kebiasaan baru bagi Risda. kebiasaan yang sama sekali belum lama, tapi Risda memang benar benar menunjukkan keseriusannya, tidak hanya sebatas tahu, tapi Risda inginnya paham.
Farhan masih membayangkan wajah Risda dan cara berpakaiannya, teringat kembali photo besar yang terpajang di rumah Haris di perkebunan, Risda tampak memakai hijab, anggun dan sangat mempesona, sehingga Tomy merasa, itu bukan hal baru bagi Risda, seakan sudah terbiasa, dan memang sangat cocok, termasuk saat Tomy melihatnya secara langsung untuk pertama kalinya.
__ADS_1
Pagi begitu cepat datang, Farhan dan Tomy usai sarapan langsung beranjak keluar, tujuan mereka adalah kampus Tomy, untuk melakukan registrasi terakhir yang memang harus di lakukan di kampus. Farhan setia saja menunggu Tomy hingga selesai, untungnya antriannya tidak panjang, belum genap 60 menit, Tomy sudah keluar, urusannya sudah kelar.
Farhan mengikuti semua saran Tomy yang memintanya membawa Tomy ke tempat tempat penting keluarga Farhan, sehingga keduanya sudah seperti keliling saja, mulai dari sekolahannya Ariana, tempat mengajar Risda, kampus tempat Asrul mengabdi, klinik hingga rumah sakit ibunya, bahkan lengkap dengan rutenya menuju rumah.
Tomy merasa hal ini penting, dengan begitu jika Tomy dibutuhkan dapat mencapai tujuan dengan baik. Karena setahun belakangan ini, selama duduk di kelas XII, Tomy mengikuti semua saran Farhan, mulai dari memperkuat Bahasa Inggrisnya hingga belajar mengemudi, Tomy dengan serius mengikuti semua itu, sehingga saat ini Tomy sudah dapat dikatakan mahir dalam banyak hal.
Saat keduanya makan siang, ada telephon dari Risda yang mengatakan motornya rusak, Asrul tidak bisa di hubungi, Farhan mengatakan tunggu saja, begitu selesai makan, keduanya langsung menuju sekolah tempat Risda mengajar, keduanya menemukan Risda di pos satpam. Farhan dan Tomy sama sama turun.
“Motornya mana Kak ?”. Tanya Farhan.
“Tuh”. Risda menunjuk motornya yang berada di samping pos satpam.
Farhan garuk garuk kepala. “Gini saja kak. Kakak balik saja dengan Tomy, biar Farhan yang bawa motornya ke bengkel, gitu saja”.
Risda awalnya ragu, tapi desakan Farhan menang. Ini menjadi ujicoba pertama Tomy untuk jalanan Jakarta, Tomy yang berada di belakang stir. Risda memilih duduk di depan, tak enak rasanya duduk di belakang, Tomy adik iparnya, anak angkat ayah mertuanya, bukan sopirnya.
Tomy batal menjalankan mobil saat Farhan kembali memanggil. “Iya Far ?”.
“Jangan lupa jemput Ariana”.
Tomy anggukkan kepala. “Okey”.
Hampir tiga ratus meter berjalan, Risda masih terus memandangi Tomy, seperti ada ragu kalau Tomy bisa, tapi setelah itu Risda memilih santai, gaya Tomy bawa mobil hampir imbang dengan gaya Farhan, perlahan. Cara Tomy menjalankan mobil sudah cukup baik, Risda berikutnya sudah benar benar tenang, sekarang benar benar yakin kalau Tomy memang sudah menguasai sepenuhnya.
Walau agak heran, tapi Risda tak bertanya kenapa Tomy tahu arah ke sekolahan Ariana, hati Risda semakin bertanya tanya saat mobil berhenti tepat di pos satpam sekolahannya Ariana, artinya Tomy memang tahu dimana Ariana sekolah.
Saat mereka sampai anak anak sudah ramai di pinggir jalan, Tomy turun dan mencari cari Ariana, tak butuh waktu lama, Tomy berhasil menemuan Ariana sedang berbincang sambil tertawa riang dengan beberapa teman temannya, Tomy memilih mendekat ke Ariana dan kawan kawannya.
“Riana”.
Ariana menoleh pada yang memanggilnya. “Eh, Bang Tomy”.
“Kita pulang ?”.
Ariana anggukkan kepala, tapi sebelum pergi Ariana lebih dulu mengenalkan Tomy pada teman temannya, Tomy hanya tersenyum saat Ariana dengan jelas mengenalkan dirinya sebagai Abang Baru Riana. Tomy menggeleng saja, ikut langkah Ariana menuju mobil, Ariana tertawa renyah melihat ada Risda, sehingga Ariana langsung masuk ke kursi tengah.
Kini yang merasa heran bukan cuma Risda, tapi Ariana juga. Setahu mereka, Tomy masih satu hari tinggal dengan mereka, tapi ini jelas, Tomy memang menjalankan mobil di jalan yang tepat menuju arah rumah mereka, Risda maupun Ariana sama sama menatap Tomy agak lama, mereka heran kenapa Tomy sudah mengetahui rute dengan baik.
Sedangkan Tomy hanya senyum kecil, setidaknya saat ini Tomy sudah merasakan makna keinginannya tadi mengetahui semua tempat penting bagi keluarga Farhan. Tomy cukup mudah mengingat sesuatu, ini pula yang membuat Tomy dengan mudah dapat mencapai rumah keluarga Farhan.
Tomy hanya anggukkan kepala saat Risda dan Ariana sama sama mengucapkan terima kasih. Tomy kemudian malah menggeleng, ada rasa kagum yang bertambah sekarang, ternyata lidah orang orang yang tinggal di rumah ini begitu mudahnya mengucapkan ungkapan terima kasih.
Sesuatu yang sangat menyenangkan sekaligus menyejukkan bagi Tomy, padahal tak ungkapkan itupun, sama sekali tak ada masalah.Tapi mereka selalu melakukannya dengan baik, itu yang membuat Tomy menjadi begitu kagum.
__ADS_1
…. Bersambung …
Selamat Hari Raya Idul Adha 1442 H