Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
S2 : Plt Ketua OSIS


__ADS_3

Risda sumringah saat melihat ada lima anak SMA yang tiba tiba muncul saat ingin memasuki ruang guru, pengumannya tadi ada rapat guru, Risda menjadi banyak senyum, karena salahsatu dari anak SMA itu dikenalnya. Ya, itu Risman, teman Farhan yang sudah beberapa kali berkunjung ke rumah mereka.


“Eh, Kakak senama panggilan, Kak Ris, kakak disini ?”. Risman lebih dulu menyapa.


Risda senyum lebar. Benar memang, mereka dipanggil dengan panggilan yang sama, Ris. “Iya, kakak disini. Ngapaian kemari Ris ?”.


“Ada sosialisasi kegiatan lomba debat nasional kak”.


“Risman ikut ?”.


Risman menggeleng. “Nggak kak, cuma kebagian sosialisasi ini saja”.


“Farhan ?”.


Risman anggukkan kepala. “Kalau nggak salah, Farhan salah satu Panelis, penyampai materi, termasuk panitia lokal juga kalau nggak salah dianya Kak”.


Risda hanya anggukkan kepala, sama sama melangkah dengan Risman masuk ruang guru yang dijadikan tempat pertemuan, bukan rapat ternyata, ini sosialisasi bakal diadakannya lomba debat nasional, dimana sekolahan Farhan ditunjuk sebagai tuan rumah untuk tahun ini.


Risda tak begitu menyimak apa yang Risman dan kawan kawan sampaikan, ia lebih fokus pada tugas menyelesaikan koreksi ulangan harian siswanya yang berlangsung tadi pagi, Risda juga lumayan cuek saat banyak pertanyaan yang muncul dari beberapa guru, bahkan ada pertanyaan yang kurang tepat sasaran.


Bagaimana tidak, Risman dan kawan kawan datang hanya menjelaskan akan ada lomba debat nasional di sekolahnya, berharap seluruh guru di sekolah terdekat dapat memberikan sumbang saran mengenai proses pelaksanaan, utamanya pada dukungan kunjungan dan hal lain yang berhubungan.


Sehingga Risman dan kawan kawan menjadi bingung saat ada yang bertanya dan memberikan saran materi yang di debatkan, Risman dan kawan kawan tentu tak bisa jawab, karena itu bukan area mereka, itu bukan lahan pembahasan mereka.


“Itu tidak di arena kita Bu, kita hanya persiapan venue dan tata tekhnis pelaksanaan lomba, untuk materi itu tidak dalam jangkauan kita”. Jelas Risman lembut.


Risda untuk hal ini hanya bisa geleng kepala, kadang kadang memang demikian, sudah diberi penjelasan, masih ada juga yang ngotot dengan pendapatnya, padahal pendapat itu tidak akan ada hubungannya dan mereka yang datang tak punya akses untuk menyampaikannya.


Tapi memang, begitulah adanya, hingga pertemuan ditutup, catatan akhirnya hanya bahasa jurus selamat yang bisa disampaikan Risman dan kawan kawan, hanya mampu memberikan harapan, berjanji akan berupaya menyampaikan semua sumbangan pendapat itu ke yang bertanggung jawab.


Sekali lagi Risda hanya bisa geleng kepala, ia tahu kalau Risman dan kawan kawan hanya menggunakan bahasa menyelamatkan diri, mempercepat penjelasan selesai, Risda nyakin betul itu tidak akan sampai kemanapun, Risda paham itu, karena pernah terlibat seperti yang sekarang sedang di hadapi Risman.


Usai pertemuan, semuanya bubar. Kelas tak ada lagi, dengan begitu pilihan satu satunya adalah pulang, ini yang membuat Risda langsung beres beres dan meninggalkan ruang guru. Risda kembali senyum lebar saat lihat Risman kembali mendatanginya di parkiran.


“Simpan saja Ris, senangkan saja mereka, kalau nggak ditampung jadi panjang ceritanya, catat dan kantongi saja”.


Risman langsung terkekeh. “Kakak tahu saja”.


Risda kembali senyum lebar. “Jadi mau gimana lagi Ris. Dijelakan kita tak punya wewenang itu sudah, kita Cuma mau nyampein ada event, sudah. Masih saja nyampein usul yang nggak gawe kita, mau gimana lagi?”.

__ADS_1


Risman kembali ngekeh. “Iya sih Kak, bingung juga”.


“Ngapain bingung Ris, gitu saja, catat, kantongi, selesai”.


Risman terus geleng kepala dan masih penuh tawa, Risman yakin kalau Risda tahu posisi mereka, penjelasan awal Risda jelas memberikan gambaran itu. Masih terus tertawa kecil, Risman akhirnya permisi duluan, ia menaiki motor temannya dan berlalu meninggalkan Risda.


Risda juga masih geleng kepala dan senyum juga. Tapi, jauh dari itu, Risda justru melihat keberanian dan kesiapan Risman dan kawan kawan cukup tepat untuk di acungi jempol, mereka datang tanpa pendamping, hanya siswa utuh, menurut Risda itu hal yang patut di berikan apresiasi.


Risda ingat, saat ia dan kawan kawannya dulu terlibat hal ini di masa SMA, semua kunjungan mereka ke sekolah sekolah lain selalu di dampingi satu orang guru, bahkan di banyak kesempatan, mereka lebih tepat disebut pengawal kalau bukan dayang dayang.


Risda menaiki motornya dan meninggalkan kompleks sekolah, tujuannya tentu saja pulang ke rumah, walau jam masih menunjukkan Pukul 12.00 WIB, Risda merasa tak ingin kemana mana, pulang akan lebih bagus, jika ternyata Asrul sudah pulang ada baiknya, kalau belum juga nggak apa apa.


Benar saja, saat Risda sampai rumah, tak ada satu orangpun yang ada disana, belum ada yang pulang sama sekali, termasuk Ariana. Ya, memang begitu, Risda juga menjadi cepat pulang karena ada kunjungan Risman dan kawan kawan tadi, kalau dalam kondisi normal, Risda juga biasanya sampai rumah pukul 02.00 WIB.


Usai mengganti pakaian, Risda menuju dapur, memakan makanan bekal yang ia bawa tadi pagi, karena tidak jadi dimakan, jam yang seharusnya menjadi jam istirahat berubah menjadi jam pulang, sehingga bekal yang dibawa, di bawa pulang lagi secara utuh.


Istirahat tidur, itu pilihan Risda berikutnya. Setelah merasa masa jeda antara makan dan tidur cukup, Risda kembali ke kamar dan merebahkan tubuh, ternyata tak butuh waktu yang lama, Risda langsung terbang ke dalam mimpi siangnya, hanya menghayal beberapa menit saja, Risda sudah lelap.


Risda terbangun saat merasakan ada yang memeluknya dari belakang, Risda menggeliat dan berbalik, wajah suaminya Asrul langsung terpampang di depannya, juga dalam posisi tidur, bahkan tampak sudah cukup lelap.


Risda memandangi wajah Asrul lama lama, semakin lama di pandang, Risda makin menemukan banyak keindahan di wajah suaminya yang lagi tertidur, yang terbayang di benak Risda sekarang adalah cerita panjang masa lalunya sebelum menjadi istri Asrul, cerita yang penuh dengan banyak catatan kenangan.


Sekarang Risda begitu peduli pada Asrul, ia ingin Asrul terus dalam kebahagiaan yang utuh, kebahagiaan yang sesuai dengan keinginan Asrul sendiri, sehingga Risda selalu berupaya menjadi istri yang sesuai dengan keinginan suaminya, selalu siap menjalankan apapun keputusan Asrul, dan untungnya memang, Asrul tak pernah buat kesimpulan yang macam macam.


Walau sampai hari ini Risda tidak tahu apakah ia sudah berhasil atau belum, yang pasti Risda selalu berupaya untuk itu, semaksimal yang ia bisa. Risda tersenyum dan merapatkan tubuh lebih masuk dalam pelukan suaminya, kemudian kembali memejamkan mata, berhasil.


Disekolah, Farhan masih berdiam diri sendirian di kantin, fokus pada koran yang sedang ia baca, Farhan tak begitu respon dengan pengumuman yang terdengar lewat microfon, jelas itu suara Margono, Wakil Kepala bidang Kesiswaan.


Farhan cuek, karena merasa itu tak menyentuhnya secara langsung, ia hanya wakil ketua di kelasnya, sedang yang diundang hadir ke aula adalah Ketua dan Sekretaris Kelas, otomatis yang harus kesana bukan dia, sehingga Farhan serasa tak dengar apa apa dan terus asyik dengan bacaannya.


“Far, elu kesana gih, di panggil tuh”.


Farhan menoleh, membalas senyum Livia. “Kok malah gua Vi ?”.


Livia angkat bahu. “Lha, kan elu tahu Bambang sakit”.


Farhan tepuk jidat. “Kok nggak bilang dari tadi”.


“Kok malah nyalahin gua lu, sono”.

__ADS_1


Farhan hanya senyum melihat bibir manyun Livia, melipat koran dan berdiri meninggalkan kantin setelah membayar apa yang ia minum. Farhan baru ingat kalau ketua kelas mereka Bambang sudah dua hari tidak hadir karena sakit, otomatis Farhan yang menggantikan posisinya.


Ada kegalauan di sekolahan Farhan, saat semua sedang sibuk sibuknya mempersiapkan diri menjadi tuan rumah lomba debat tingkat nasional, ada khabar yang mengejutkan, Ketua OSIS Handoko mengalami kecelakaan tunggal dan meninggal dunia.


Ini tentu memberikan imbas di sekolah, karena persiapan sebagai tuan rumah lomba debat banyak mengandalkan keberadaan OSIS, jadi dilema karena bagaimana mengandalkan organisasi yang sedang kehilangan ketuanya.


Ini yang membuat Wakil Kepala Bidang Kesiswaan Margono meminta adanya musyawarah khusus yang melibatkan pengurus OSIS bersama Ketua dan Sekretaris Kelas secara keseluruhan dan lengkap.


Margono yang juga ditunjuk sebagai Ketua Panitia Lokal Lomba Debat merasa perlu membahas dan menentukan estafet kepemimpinan OSIS berikutnya, minimal untuk mengamankan persiapan tuan rumah lomba.


Setelah melalui perdebatan panjang dan alot, ternyata kesimpulan akhirnya hanya menunjuk Pelaksana Tugas (Plt) yang kerjanya khusus untuk penanganan persiapan sebagai tuan rumah lomba, dan bahkan nyaris 100% peserta rapat yang setuju, jika Plt yang ditunjuk berasal dari Kelas XII.


Ketua definitif baru akan di pilih usai pelaksanaan lomba debat berlangsung, ini menurut semuanya akan lebih nyaman, karena pemilihan ketua tentu membutuhkan banyak hal dengan proses yang panjang, itu semua akan sulit dilakukan maksimal jika dilaksanakan saat ini.


Bukan hanya sekedar karena akan adanya lomba debat, tapi proses pemilihan ketua OSIS yang baru membutuhkan tenaga yang banyak dan waktu yang tidak pendek, maka penunjukan Plt menjadi solusi yang paling rasional untuk saat ini.


Margono langsung masuk ke inti pokok, meminta peserta rapat untuk mengajukan nama nama yang layak untuk dipilih. Tapi, yang terdengar malah kasak kusuk, saling bicara yang pada muaranya melahirkan suara suara yang berbaur dan memekakkan telinga, sehingga Margono kembali mengambil inisiatif.


Untuk lebih memudahkan mendapatkan calon, Margono langsung main tunjuk saja siapa yang bicara, tapi tampaknya yang ditanya banyak yang memilih geleng kepala dan siap untuk abstein, lebih karena rata rata menemukan kesulitan untuk menentukan pilihan yang dianggap paling tepat.


Hingga akhirnya salah satu ketua kelas dari kelas XI mengatakan, sebaiknya yang di tunjuk adalah mereka yang sudah lebih dulu terlibat dalam lomba debat, baik itu yang panitia atau mereka yang ditunjuk sebagai salahsatu yang terlibat langsung dalam kegiatan lomba, usul ini disetujui banyak orang.


Farhan yang duduk santai di belakang terkejut saat namanya disebut sebagai salah satu kandidat, sialnya lagi, Farhan yang awalnya cuek saja, yang sama sekali tak begitu fokus pada rapat hampir melonjak saat ramai ramai peserta rapat menyetujui usulan itu.


Mau tidak mau, dengan menggelengkan kepala dan menepuk pelan keningnya, Farhan berdiri dan maju kedepan, Farhan jadi bertambah volume gelengan kepalanya saat banyak tepuk tangan yang mengiringi langkahnya ke depan.


Farhan akhirnya benar benar pasrah, tak ada perlawanan apapun yang bisa Farhan ungkapkan, bukannya meminta persetujuan yang bersangkutan, Margono bahkan langsung melaksanakan prosesi pelantikan.


Dengan begitu, Farhan secara resmi ditunjuk menjadi Plt Ketua OSIS, satu hal yang sama sekali tak pernah Farhan bayangkan sebelumnya, kehadirannya di ruangan ini saja hanya mewakili, karena ketua kelas mereka berhalangan.


“Baik Farhan. Tugas pertama kamu adalah memastikan semua persiapan untuk lomba debat nasional yang menjadi urusan siswa tertangani dengan baik”.


Tak ada pilihan lain, Farhan anggukkan kepala. “Siap Pak”.


Pertemuan bubar, banyak teman Farhan yang menyalami dan mengucapkan selamat untuk penunjukan itu, Farhan hanya geleng kepala, tapi apa mau di kata, tetap memilih membalas senyuman semuanya dengan baik, sebaik baiknya.


Walau dalan hati Farhan mengumpat, ngapain juga ngucapin selamat untuk orang yang akan banyak kehilangan waktu untuk aktivitas lain, dengan begini, Farhan otomatis akan masuk dalam jajaran panitia, hari hari kedepannya akan lebih meningkat kesibukannya.


…. Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2