Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
Memancing


__ADS_3

Risda bisa menghitung, dari desa tempat tinggal Asrul ke sekolah hampir 1 KM, dari sekolah ke tempat tinggal Risda mencapai 400 M, itu artinya Asrul baru berjalan kaki hampir dari 1,5 KM, dengan cuaca yang begitu terik tentu itu bukan perjalanan yang masuk kategori menggembirakan.


“Pak Buang setiap Kamis dan Minggu ke kecamatan Rul”.


Asrul menoleh. “Berarti sekarang berangkat dong”.


Risda anggukkan kepala. “Iya.. mungkin baru berangkat, atau malah belum berangkat sama sekali”.


“Kita ikut yok”.


“Sekarang ?”.


Asrul mengangguk dan berdiri. “Iya.. ayo”.


Risda tertawa kecil. “Semangat kali, minggu depan aja, udah nggak sempat itu sekarang”.


“Nggak sempat gimana ?”.


“Maksudmu aku nggak ganti pakaian dulu, anggak siapan apa apa dulu ?”.


“Iya udah ganti pakaian sana, baru kita ke dermaga”.


“Yakin Pak Buang masih disana”.


Asrul angkat bahu. “Mana aku tahu, udah ganti baju sana”.


Risda akhirnya mengalah juga dan masuk rumah guna mengganti pakaiannya yang lebih santai. Asrul kini yang agak gelisah karena khawatir Pak Buang sudah pergi sebelum mereka sampai ke dermaga.


Asrul husap muka, inilah lemahnya komunikasi disini, andaikan ada sinyal HP dan Pak Buang punya HP tentu saja Asrul bisa telphon dan meminta Pak Buang nunggu, tapi ini pake komunikasi apa, semuanya tak ada.

__ADS_1


Asrul kini malah tambah resah karena Risda yang katanya hanya tukar pakaian tak juga nongol padahal sudah ada 10 menit waktu yang terpakai, Asrul merutuk dalam hati.


Selalu kesal kalau berkaitan dengan wanita, untuk menghadiri acara yang kadang durasinya hanya 5 menit berdandannya bisa makan waktu 30 menit. Asrul sama sekali tak duduk lagi dan matanya terus menuju dalam rumah berharap Risda muncul dengan cepat.


Begitu Risda muncul Asrul hanya mampu menggeleng, heran melihat Risda yang sempat sempatnya berdandan lagi, Asrul langsung beranjak bersama Risda dengan langkah yang lumayan terburu lurus menuju dermaga yang jaraknya cukup lumayan juga.


Asrul dan Risda hanya mampu berdiri dan berkacak pinggang dipinggir dermaga, tak ada lagi siapa siapa disana, kosong, tak ada Pak Buang, bahkan tak terlihat lagi dihamparan sungai, mungkin sudah beranjak sejak beberapa menit yang lalu, sudah menghilang dirimbunnya hutan yang tumbuh menghijau disepanjang tepian sungai.


Asrul menarik tangan Risda menuju pohon besar yang rindang dipingir sungai dan duduk diakarnya yang muncul hingga kepermukaan, pandangan keduanya lurus kedepan, tak ada yang terlihat kecuali arus sungai yang berlari ke hilir.


Pemandangan di desa ini memang indah dan asri, lamat lamat terdengar suara riuh anak anak yang sedang mandi dan berenang disungai, pandangan Asrul dan Risda berbarengan menuju arah suara itu, agak jauh dihulu sana memang banyak anak anak yang berenang sambil bergurau satu sama lainnya.


“Desa memang teduh, andai telekomunikasi bagus, pasti akan lebih baik daerah ini… “.


Risda menoleh dan tersenyum tipis. “Apakah tidak sebaliknya Rul”.


“Maksudnya ?”.


“Negatif thingking”.


Risda hanya geleng kepala. “Keasrian dan peradaban desa ini bisa berubah jika informasi mudah masuk, apalagi saya melihat mereka orang orang yang mudah dipengaruhi”.


Asrul antara terima dan tidak terima dengan apa yang dikatakan Risda, terima karena memang ada benarnya, kurang terima karena merasa Risda lebih mengedepankan rasa khawatirnya, masalahnya bagi Asrul rasa khawatir yang dimiliki Risda masuk dalam kategori yang berlebihan.


Apapun alasannya perkembangan informasi akan membawa dampak yang baik dan positif bagi desa ini, soal dampak negatifnya menurut Asrul dapat diminimalisir dengan melakukan filter yang baik, kuat dan sesuai.


“Pak Guru.. Mancing, ayo …”.


Risda dan Asrul sama sama menoleh, keduanya tersenyum membalas gerakan yang sama dari bibir tiga anak muda yang merapatkan perahunya kepinggir sungai, Piter, Samuel dan Patrik yang minggu kemarin turut ambil bagian membenahi taman sekolah bersana para siswa.

__ADS_1


Patrik turun kedarat dan mengikatkan kapal kecilnya ke batang pohon tak seberapa besar sekitar lima langkah didepan Asrul dan Risda yang sudah berdiri berjejeran.


“Ikut Pak Guru… “.


“Mancing kemana ?”.


“Kemuara”. Patrik menunjuk arah hilir, arah yang berlawanan dengan arah menuju kecamatan. “Sampai dekat laut Pak Guru”.


Asrul mengangguk. “Boleh, tapi lama nggak pulangnya”.


Patrik tertawa kecil. “Sore udah pulang  Pak Guru”.


“Boleh Ikut ?”. Risda ikut menjawab.


Patrik dan Asrul sama sama menatap Risda. Yang paling agak bingung adalah Patrik, yang ada dalam pikirannya, masa wanita secantik dan serapi ini dibawa mancing, belum pernah sejarahnya itu.


“Serius Lu Ris ?”. Asrul menatap ragu.


“Serius”.


Asrul anggukkan kepala, Patrik tak mampu bilang apa, ia jelas kurang setuju dengan keputusan Risda, menurut Patrik, Risda terlalu luar biasa untuk dibawa mancing, tapi karena Asrul sudah angguk kepala setuju Patrik tak punya alasan cukup untuk protes.


Tidak hanya Patrik, Piter dan Samuel juga berkerut dahinya dan angguk anggukkan kepala kearah Patrik saat melihat Risda ikut naik, Patrik hanya angkat bahu dan geleng kepala.


“Bu Guru serius ?”. Piter tampak ragu.


Risda tertawa saja. “Udah, ayo …”.


Walau masih ada sisa geleng kepala Piter hidupkan mesin dan bergerak mengikuti arus sungai yang sama sekali tidak deras menuju arah muara yang sebenarnya tak seberapa jauhnya.

__ADS_1


Risda tak begitu peduli dengan Piter dan Samuel yang terus bisik bisik sambil geleng kepala, masih tak percaya kalau kegiatan mancing kali ini ada Risda, guru muda anak kota yang cantiknya luar biasa, Risda juga tampak cuek dengan Patrik yang langsung menghidupkan mesin dan menjalankan perahunya.


…. Bersambung …


__ADS_2