Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
S2 : Selamat Jalan Bunda


__ADS_3

Malam menjelang, semua wajah masih tampak kusut, ini akan menjadi malam yang panjang, Dahrul hanya mampu menyuap dua kali saja, setelah itu ia minum dan meninggalkan makanannya begitu saja, Meeta, Mutia dan Reni hanya menggeleng dan hempaskan nafas sekuat tenaga, Reni bahkan sudah tertunduk dan langsung sesunggukan begitu Dahrul tak tampak lagi.


Iskandar hanya bisa mengelus bahu istrinya, Iskandar juga menengadah ke langit, menggoyangkan kepala dan menutup mata sekuat tenaga, Iskandar juga belum mampu menghilangkan pilunya, kehilangan Risda juga merupakan pukulan besar bagi Iskandar, kakak terbaik yang pernah ia punya.


Mutia sejak siang tadi memang benar benar kehilangan selera makan, yang masuk ke perutnya hanya beberapa roti, itupun setelah di paksa oleh Mahdan, sekarang juga Mutia baru mampu menelan dua kali suapan dari tangan Mahdan, semuanya terasa pahit di lidah Mutia, tapi Mutia juga paham kalau anak dalam kandungannya butuh nutrisi, sehingga tetap menerima suapan Mahdan dan sekuat tenaga menelannya.


Meeta memilih diam, ia memilih membiarkan saja semuanya berlangsung, Meeta tidak memberikan komentar apapun, kepada siapapun.Meeta memilih membiarkan semuanya puas dengan dukanya, karena menurut Meeta itu jalan yang terbaik, jangan ada yang di paksa menghilangkan rasa sedihnya, karena itu akan berpengaruh panjang ke depannya.


Ariana yang dari pemakanan tadi langsung menuju rumah sakit kini terus memandangi keponakannya yang masih terlelap, mungkin air mata Ariana sudah kering, tak ada lagi yang bisa di produksi dari mata Ariana yang sudah bengkak dan memerah. Anak yang cantik, Ariana yakin bayi ini akan tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik, Ariana percaya itu.


Ariana terus mendesah. Ada cerita baru tentunya, keponakannya yang masih bayi ini sudah menjadi piatu hanya beberapa jam dari kelahirannya, ibunya bahkan tak sempat melihatnya, apalagi menyentuhnya, kembali hanya air mata yang Ariana punya, rasa pilu melihat keponakan cantiknya.


“Riana makan dulu”.


Ariana menoleh, ada Lina, perawat senior yang mendekatinya. “Tante Lina”.


Lina tersenyum tipis. “Riana makan dulu gih, biar tante yang jaga”.


Di rumah kediaman Agung.


Malam sudah cukup larut, kegiatan takjiah sudah selesai, para tetangga dan tamu lainnya sudah beranjak pulang. Dahrul berdiri dan menuju kamar tidurnya, matanya sudah begitu sayu, tapi belum ada niat untuk tidur sama sekali, Dahrul seperti kehilangan keinginan untuk tidur.


Dahrul terpaku memandangi photo ibunya yang tergantung di dinding, sangat lama, bahkan sudah lebih dari tiga puluh menit, namun Dahrul masih terus memandangi photo itu dengan serius, berdiri bagai patung.


Akhirnya Dahrul meraih photo ibunya yang tersenyum manis, Dahrul mengelus photo itu perlahan. Kali ini Dahrul kalah, ia tak sanggup menahan air matanya, akhirnya Dahrul terduduk di tepi ranjang sambil memeluk photo ibunya, tangis Dahrul benar benar pecah.


Agung dan Haris menarik Asrul yang ingin mendekat, keduanya membawa Asrul keruang tengah, Asrul serasa tak sanggup melihat anaknya yang begitu terluka, Dahrul tentu belum puas mendapatkan kasih sayang ibunya, dia masih anak kelas III SD, masih terlampau kecil tanpa ibu disampingnya.


“Biarkan Dahrul begitu Rul, sejak tadi pagi, ia sama sekali tak menangis. Ayah malah sempat takut Dahrul termakan di dalam, ayah takut ia memendam sedihnya, itu bisa mengganggu mentalnya Rul. Biarkan dia menangis, biarkan ia puas menumpahkan sedihnya, ia butuh itu”.


Asrul hanya menggeleng, bagaimana ia bisa membiarkan anaknya begitu, tapi apa yang dikatakan ayahnya ada benarnya juga, Asrul akhirnya memilih diam di tempat duduknya, mendengar nasehat ayah dan ayah mertuanya yang silih berganti mengutarakan isi hati.


Tapi, sejujurnya hati Asrul cukup beku. Ada banyak penyesalan sekarang, kenapa ia tak memperhatikan gelagat istrinya, kesehatannya yang terus menurun, mudahnya ia letih dan banyak hal lain, Asrul seakan lupa kalau istrinya punya riwayat gejala jantung.

__ADS_1


Tapi semuanya sudah terlambat, semuanya spontan begitu saja. Walau tampak begitu aneh, di keluarga ini saja ada lima orang dokter, ibunya dan dua adik perempuannya, adik dan adik iparnya, tapi istrinya pergi karena terlambat di tangani, terasa sakit sekali.


Bagaimana keluarga yang punya dua klinik dan dua rumah sakit besar bisa kehilangan anggota keluarga karena terlambat terdeteksi, baru diketahui saat tak bisa tertolong lagi. Apa yang lebih menyakitkan dari itu ?, Asrul benar benar terpukul, apalagi melihat putranya Dahrul, nafas Asrul sangat sesak.


Di dalam kamar, Dahrul sudah beranjak ke meja belajarnya, tapi masih terus memandangi photo ibunya yang terletak di atas meja, berulang kali Dahrul menghela nafas panjang, tangannya kemudian membuka laci dan mengeluarkan spidol.


Dahrul sudah membuka spidolnya, tapi masih tampak merenung, ingin menuliskan sesuatu, tapi belum tahu mau menulis apa. Dahrul berulang kali kembali mendesah panjang, kemudian kembali membuka tutup spidolnya, perlahan Dahrul mulai menulis, tapi tak banyak yang bisa Dahrul tuliskan, hanya mampu merangkai tiga kata saja, “Selamat Jalan Bunda”.


Ada keributan akibat tangisan yang saling bersahutan di ruang depan, abang dan adik Meeta dengan anggota keluarga lengkap sampai. Kali ini Meeta down. Meeta bahkan nyaris pingsan di pelukan Saniah dan Citha. Untung Fauziah dan Risna segera menangkap tubuh Meeta, kalau tidak, Meeta sudah pasti terjatuh ke lantai karena Saniah dan Citha kalah besar dari Meeta.


"Sabar Meet, sabar, kau harus kuat, kau harus kuat ...".


"Meeta nggak kuat Kak".


"Harus kuat, harus. Kau wajib kuat".


Meeta langsung sesunggukan dipelukan kakak iparnya, Fauziah juga memeluk dan menciumi pipi Meeta berulang kali, Saniah, Risna dan Citha sama sama mengelilingi Meeta dan membelai bahu Meeta perlahan, semuanya sama sama sesunggukan, semua sama sama tak mampu menahan haru.


Asrul dan semua anak menantu Meeta tak bisa memandang lama, semuanya sama sama mengalihkan pandangan sambil menghusap air mata masing masing. Semua paham sekarang, ternyata ibu mereka tak sekuat yang mereka kira. Tadi Meeta begitu tampak memiliki ketegaran, tapi begitu melihat kakak dan adik iparnya yang datang dari Sumatera Utara, Meeta benar benar down.


"Kau harus kuat dek, jangan lemah begini".


Meeta menggeleng dan semakin mengeratkan pelukannya. "Aku nggak kuat Bang, aku nggak kuat, sakit Bang ..". Keluh Meeta.


Rohim menghusap air mata Meeta. "Abang paham Meet, abang paham. Menangislah sepuasmu dek, abang disini".


Yang terdengar sekarang hanya tangisan Meeta, semua sama sama menundukkan kepala, Agung sudah berulang kali menghapus air matanya, tapi tampaknya belum kering juga, Agung menyandarkan tubuh sambil memandang langit langit rumah, Agung semakin terpukul melihat istrinya yang down, isi dada Agung bagai di aduk aduk, sakit sekali.


Citha langsung mengejar Dahrul yang muncul dari balik tirai, semua mata langsung mengarah kesana, semuanya makin kecut melihat Citha yang bertumpu dengan lutut memeluk Dahrul yang masih berdiri, hati semuanya bagai teriris, mengapa tidak, Dahrul begitu erat memeluk Chita, dagu Dahrul bertumpu di bahu Citha.


Tak ada suara memang, tapi Dahrul semakin mempererat pelukan pada nenek kecilnya, ia memejamkan mata sekuat tenaga, dari sudut matanya air mengalir begitu deras, sangat deras, seakan Dahrul lah yang ingin menenangkan Citha, bukan sebaliknya.


Hati semuanya semakin kecut saat Sabar mendekat, sekarang, kedua tangan Dahrul seperti menyatukan kakek dan nenek kecilnya, wajah Dahrul ada di antara wajah Sabar dan Citha, masih seperti yang pertama, tak ada kata kata, Dahrul masih memejamkan mata sekuat tenaga, air matanya masih deras tak terbendung. Satu pemandangan yang membuat yang lain kembali sesunggukan.

__ADS_1


Lebih dua jam baru setuasi sedikit berubah, Meeta masih bersandar di bahu Rohim yang juga masih merangkulnya, dan yang dirangkul Rohim tak hanya Meeta, tapi juga Agung, sehingga Agung dan Meeta sekarang sama sama menyandarkan kepala di kedua sisi bahu Rohim, suasana sangat hening, hanya sesekali terdengar sisa sisa sesunggukan dari para wanita.


Sebagai anak tertua, satu satunya abang Meeta, membuat Rohim menjadi sasaran duka Meeta, Agung ikut karena sebagai anak tunggal, Agung tak punya saudara kandung, sehingga abang iparnya yang menjadi tujuannya, Rohim sangat paham itu, Rohim paham, dialah pengganti orang tua kini, dialah yang harus paling tegar.


Mungkin sudah terlampau letih, Dahrul bahkan sudah tertidur dalam pelukan Tantenya Yulia, ini juga pandangan yang unik, ternyata Yulia mampu menenangkan Dahrul, padahal usia mereka hanya terpaut tiga tahun, Yulia masih SMP sekarang, tapi ia ternyata berhasil membuat keponakannya terlelap.


Deasy inisiatif angkat Dahrul dari pelukan Yulia, Deasy tahu dimana kamar Dahrul, Deasy membawanya kesana dan sama sekali tak muncul lagi, apalagi Yulia dan Feby pergi menyusul, tampaknya mereka memilih tidur mendampingi Dahrul, semua juga sepakat dengan itu, karena setelah Ariana, Dahrul memang sangat dekat dengan tante tantenya, walau mereka tak begitu sering ketemu.


"Farhan nggak bisa balik ya Kak ?".


Mutia menggaguk lemah ke arah Taufiq. "Faridha mau melahirkan Fiq, operasi pula, mungkin malam ini sedang berlangsung".


"Kakak juga sebentar lagi, jangan larut larut lah Kak, kakak harus tegar".


Mutia anggukkan kepala. "Insha Allah Fiq, istrimu mana ?".


"Ke rumah sakit nyusul Ariana, nggak ada teman Ariana disana".


"Sama siapa saja Fiq ?".


"Orang rumah, Bang Usman sama Kak Nadia, Istrinya Bang Lukman juga Kak".


Mutia sedikit mendesah. "Geovanni sedang hamil kan ?, kok ikut dia ?, kok dibiarin sama Lukman".


Taufiq menggeleng. "Maksa dia tadi Kak, Bang Lukman nggak bisa cegah".


Mutia anggukkan kepala. "Anakmu dibawa kesana ?".


Taufiq menggeleng lagi. "Nggak Kak, sudah tidur sama Kak Reni".


"Baguslah kalo gitu, nggak bagus juga anak anak di rumah sakit malam malam".


Taufiq hanya anggukkan kepala, bagaimana ia bisa mencegah istrinya kesana, Lita, istrinya Taufiq, bukan hanya teman dekat Faridha, tapi juga sangat akrab dengan Ariana, kalau mereka sudah telephonan, Taufiq saja nggak bakal di acuhkan. Taufiq sudah yakin sejak tahu Ariana di rumah sakit menjaga putri Asrul, Lita pasti akan nyusul kesana, untung saja anaknya bisa aman bersama Reni, kalaupun andainya tidak, pasti anaknya juga akan dibawa kesana.

__ADS_1


... Bersambung ...


__ADS_2