
Haris cepat cepat menghapus air matanya, tapi sepertinya tak cukup. Haris berdiri menuju kamar mandi, itu pilihan terbaik, cuci muka. Dengan begitu, bekas air matanya akan banyak berkurang, bahkan mungkin tidak akan terlihat lagi.
Haris keluar kamar mandi dan kembali ke tempat yang tadi bersamaan dengan suara terompet kapal yang ingin merapat ke pelabuhan. Tidak seperti yang lain tampak buru buru mau turun, Haris, Lufti, Widya dan Natalia masih memilih duduk, nanti baru turun setelah kapal benar benar berhenti.
Begitu mobil keluar dari kapal, semua mata sudah menemukan lambaian tangan Taufiq, Lufti mengarahkan mobil ke arah Taufiq, ambil parkir, semuanya turun, salaman dan pelukan dengan Taufiq, kecuali Widya dan Natailia, dan kemudian semua ikut masuk ke kantin pelabuhan, ikuti langkah Taufiq.
"Kok muka lu kayaknya udah tua banget ya Ris ?". Taufiq tertawa.
Lufti ikut tertawa. "Gua bilang juga apa Ris, emang".
Haris langsung garuk kepala. "Sialan kau Fiq, macam tak tua juga kau".
Tawa Taufiq benar benar pecah. "Gua serius Ris. kayaknya Lu jadi paling senior dari kita kita ini, cuma, kalo yang diomongin muka ya, iya kan Luf ?".
Lufti anggukkan kepala. "Itu benaran lho Ris, lu itu mutu, tau nggak ?".
"Mutu ?, apa mutu ?".
"Itu aja lu kagak tahu, Muka Tua". Taufiq masih ngakak.
Haris mengelus dagunya. "Masa sih ?, kayaknya aku nggak tua tua kalilah".
Lufti mencibir. "Perasaan lu, iya .. nyatanya ?".
Haris mendelik. "Nyatanya apa ?".
Haris hanya bisa kembali garuk garuk kepalanya yang tidak gatal, apa memang benar yang dikatakan Taufiq, Haris juga tidak paham betul. Memang, Haris yakin jika raut wajahnya tampak lebih tua, bahkan soal rambut, dari mereka bertiga, uban Haris paling banyak, Lufti baru sedikit, Taufiq malah belum terlihat sama sekali.
Taufiq masih tertawa tertahan. "Udah Ris, memang kita sudah tua kali ya, anak gua saja bentar lagi mau nikah, gua bakal punya mantu, lha, kalau semua lancar kayak gua dulu, tahun depan gua jadi kakek kakek dong".
Kali ini semuanya tertawa terbahak, bahkan mereka yang ada di kantin ikut melirik, tapi semuanya sepertinya tak begitu ambil pusing, apalagi melihat pakaian Taufiq, semua tahu, kalau Taufiq bagian dari pelabuhan, mungkin itu temannya, cerita mereka mungkin lucu dan nyambung.
"Jadi lu udah mau punya mantu Fiq ?". Lufti agak terkejut.
Taufiq anggukkan kepala. "Semuanya sudah selesai, tinggal nunggu akad nikah doang bulan depan. Eh, lu semua datang dong".
__ADS_1
Lufti anggukkan kepala. "Insha Allah, gua datang".
Taufiq memandang wajah Haris cukup lama, dua puluh dua tahun lebih tak jumpa, baru sekarang ketemu lagi. Taufiq juga tahu apa yang terjadi pada Haris, apa dan kenapa Haris pergi begitu saja, menghilang entah kemana.
Rasanya semua teman yang dekat dengan Haris tahu itu, Taufiq termasuk orang yang kesal dengan kepergian Haris, padahal menurut Taufiq, itu bukan cara terbaik. Apalagi setelah tahu Natalia justru mengandung, seluruh teman teman Haris bahu membahu membantu Natalia, termasuk Taufiq.
"Rencana mau kemana nih Ris, Luf ?".
Haris menghusap wajahnya. "Kita mau ke Bandar Lampung Fiq".
Taufiq masih tertawa. "Emang kampung lu masih disana ?, belum ilang ?".
Haris geleng kepala. "Ilang kemana ?, nggak bisa gerak dia".
Taufiq tertawa lagi. "Siapa tahu aja Ris, puluhan tahun nggak di lihat lihat, nyusut dia, menghilang".
"Dasar". Umpat Haris.
"Gua tu hanya ngingatin aja Ris. Lu mah parah abis, bingung gua lihat lu, ilang bagai di telan buaya, alamat tak ada, khabar juga tak ada. Kemana lu ngilangnya ?".
"Kalau aku ditelan buaya, sekarang udah nggak ada Bro, apa sih ?".
Taufiq masih ngakak. "Lha, lu ditelan apa dong ?, kambing ?, kan nggak mungkin, mana ada kambing makan orang, yang benar, orang makan kambing".
Mata Widya langsung memerah, ia sedang meneguk airnya saat Taufiq ngomong seenaknya, minuman Widya langsung tersembur, untungnya tak ada yang kena, tapi air itu sempat masuk hidung Widya, ini membuat Widya jadi seperti orang yang sedang pilek.
Lufti langsung mendekat, melap bibir Widya, mengurut pelan bahunya dan mengelus punggung Widya dengan perlahan. Kegiatan Lufti baru berhenti saat Taufiq mendehem keras, Lufti duduk di samping Widya, dudk di tempat yang tadi di duduki Natalia yang sudah pindah ke samping Haris.
"Mesra juga lu ya Luf".
"Pala lu mesra. Ulah lu ni mah, istri gua yang cantik jelita jadi begini".
Taufiq tambah kuat saja tawanya. "Perasaan gua kok kayak nggak enak ya".
Haris tertawa. "Kau kenapa Fiq ?".
__ADS_1
Taufiq menggeleng. "Preman Rawamangun tobat nih mah".
"Tobat apanya Bro ?". Haris membulatkan matanya.
Taufiq angkat bahu. "Liat sendiri atuh, darah banditnya udah pada ijo, kagak merah lagi, udah diaduk cat mungkin ama Widya, hebat lu Wid. Ilang garang si kawan".
Lufti kembali geleng kepala, memang susah kalau sudah ngomong dengan Taufiq, dari semua teman temannya, yang paling banyak ngomong memang Taufiq, ada saja yang menjadi kamusnya, banyak orang yang mati kutu dibuatnya.
Sudah hampir dua jam, Haris, Lufti, Widya dan Natalia pamit ke Taufiq. Kembali Taufiq memeluk erat Haris, ada banyak kenangan yang tak mungkin Taufiq lupakan pada Haris, bukan hanya sebatas indahnya pertemanan, tapi Haris juga pernah datang tepat waktu dan menyelamatkan hidupnya.
"Sehat sehat lu Ris. Sekali waktu datang, jangan kayak begini, kita jumpa di pelabuhan, sekali lagi nyampe rumah, bermalam".
Haris mengangguk. "Siap Fiq, Insha Allah".
"Gua tunggu Ris, jangan cuma janji doang".
Taufiq melambaikan tangan hingga mobil yang masih di sopiri Lufti menghilang dari pintu pelabuhan. Taufiq mengelus dada, sejak tadi sebenarnya ingin sekali bertanya pada Natalia, khususnya tentang Risda, tapi Taufiq serasa tak berani, sehingga hanya memilih tak jadi bertanya, padahal Taufiq ingin sekali tahu khabar terakhirnya.
Lufti membawa mobil dengan kecepatan sedang, jarak dari pelabuhan ke tempat dulu Haris di besarkan tidaklah jauh, hanya menyusuri pinggiran pantai tak sampai lima belas kilo meter, mereka akan sampai.
Ini yang membuat Lufti menjalankan kenderaan dengan biasa saja, sambil menikmati pemandangan selat sunda, juga perkampungan penduduk pinggaran pantai, semuanya tampak begitu indah di pandang mata.
Sakin asyiknya menatap dan menikmati keindahan alam, keempat orang ini tak satupun yang bersuara, semuanya memilih larut dengan pandangan masing masing, bahkan Haris mulai terharu, saat mulai menemukan tempat tempat yang dulu biasa ia kunjungi saat berada di sini.
Haris dan yang lainnya hanya menemukan rumah kosong yang tergembok rapi, tak ada orang. Sudah hampir dua jam, tetap tak ada yang datang, disini memang tak ada tetangga, jadi memang tak punya tempat untuk bertanya, yang bisa dilakukan hanya menunggu, tapi yang di tunggu tak kunjung tiba.
Haris yang dari tadi menghela nafas panjang akhirnya berdiri, meminta kunci mobil ke Lufti dan mengajak semuanya meninggalkan rumah kosong Wak Jainal. Tujuan Haris adalah makam ibunya Indah, jiarah dulu, nanti balik lagi kesini.
Sampai di makam Haris terduduk, air matanya mengalir deras. Makam yang ditemui tidak hanya makam Indah yang penuh rumput, tapi juga ada makam Wak Jainal dan makan ayahnya Pram, Wak Jainal ternyata sudah tak ada.
Natalia langsung setengah menubruk makam ayahnya, Natalia juga akhirnya jatuh dalam tangisan, dulu ia tak bisa datang saat ayahnya meninggal karena Risda mengalami demam tinggi, hingga ini kali pertama ia melihat makam ayahnya.
Haris bersimpuh didepan makan ketiga orang yang begitu di cintainya, ternyata, tak ada lagi yang tersisa, tak ada lagi yang tertinggal di Bandar Lampung, semuanya sudah pergi, hanya menyisakan barisan makam yang dipenuhi rumput, tanda makam yang jarang dikunjungi.
Lufti merangkul bahu Widya lekat, Widya juga langsung memeluk pinggang Lufti dan menyandarkan kepalanya ke leher Lufti, tidak hanya Haris dan Natalia, Widya juga tak bisa membendung air matanya, hatinya juga sakit melihat keduanya, terutama sahabat karibnya Natalia.
__ADS_1
… Bersambung …