
Kaki Lufti sudah mulai pegal berdiri di pos satpam, namun Widya belum juga muncul, padahal hasil komunikasi beberapa saat yang lalu, Widya mengaku sudah mengarah ke sekolah tempat Lufti mengajar, Lufti sudah berulang kali buang nafas berat, kini malah sudah masuk ke area resah.
Normalnya, Widya seharusnya sudah sampai lebih dari tiga puluh menit yang lalu, tapi belum terlihat juga, Lufti malah jadi takut ada apa apa yang menimpa ibu dari anak anaknya, Lufti sudah mau hubungi Widya kembali, tapi tak jadi, mata Lufti menangkap mobil mereka mendekat.
Tapi dada Lufti berdesir keras, yang turun dari mobil bukannya Widya, tapi salah satu siswa Widya yang Lufti kenal dengan nama Purnama, tentu membuat Lufti bertanya tanya dan lansung mendekati Purnama.
“Kenapa Pur ?, Ibu mana ?”.
Purnama senyum saja. “Ibu bersama Bu Kepala ke rumah sakit Pak, Ibu minta saya jemput Bapak”.
Kening Lufti lansung berkerut. “Rumah sakit ?”.
Purnama anggukkan kepala. “Suami Bu Kepala kecelakaan, dia gemetar, nggak bisa nyetir, jadi Ibu yang bawa”.
Lufti bernafas lega. “Rumah sakit mana Pur ?”.
“Sentra Medika Pak”.
Lufti anggukkan kepala, menerima kunci kontak dari tangan Purnama dan sama sama kembali ke mobil, Lufti hanya anggukkan kepala saat Purnama bilang balik lagi ke sekolahannya, mobilnya masih disana.
Lufti melirik Purnama sebentar, ada gelengan kepala juga, bagaimana orang tua bisa memberikan anak perempuannya membawa kenderaan mobil ke sekolah, padahal anak masih kelas XI SMA, yang terbayang di kepala Lufti adalah Farhan, sebegitu kayapun Agung, tapi ia tak melepas Farhan bawa mobil kesekolah.
Padahal, jika Agung ingin, membeli mobil bagi Agung sama mudahnya dengan membalikkan telapak tangan, Lufti juga tak begitu tahu bagaimana latar belakang keluarga anak gadis yang kini duduk di dekatnya, tapi tetap saja Lufti merasa, keputusan itu kurang tepat, walau Lufti juga kurang pasti tahu apa alasannya.
Memang tak jauh, sehingga hanya beberapa menit saja, Lufti sudah berhenti di depan gerbang SMA tempat Widya mengajar, Purnama ucapkan terima kasih sebelum keluar dan langsung menuju parkiran tempat mobilnya di titipkan. Sedang Lufti langsung kembali masuk jalan raya.
Lufti baru ingat, Sentra Medika itu rumah sakit milik ibunya Asrul, Meeta. Lufti geleng kepala dan mempercepat laju kenderaannya, karena memang jaraknya cukup jauh juga, saat ini Lufti berada di Jakarta Barat, sedang rumah sakit yang akan ia tuju ada di Jakarta Selatan.
Hampir empat puluh lima menit baru Lufti memasuki area rumah sakit, ini kali kedua Lufti kemari, yang pertama saat peresmian, sehingga Lufti agak tercengang juga melihat peningkatan yang dialami rumah sakit, khususnya masalah fisik, ada banyak bangunan yang saat peresmian belum terlihat.
Sampai di Lobby, Lufti sebenarnya menelphon Widya, tak nyambung, Lufti mendesah dan mencoba lagi, tapi terhalang oleh panggilan Mutia, Lufti membalas senyum Mutia yang mengembang ke arahnya.
Melihat penampilan Mutia, tampaknya ia baru selesai menangani pasien gawat darurat, bahkan Mutia baru membuka sarung tangannya saat berjalan mendekati Lufti, berarti baru saja selesai pekerjaannya, Lufti selalu senang melihat Mutia, ramahnya serasi dengan cantik wajahnya.
“Bibi di ruangan Mama, Paman mau jemput Bibi kan ?”.
Senyum Lufti mengembang. “Memang ketemu Bibimu tadi ?”.
__ADS_1
Mutia anggukkan kepala. “Iya Paman, Bibi langsung sama Mama tadi ke ruangannya, Paman kesana saja”.
Lufti anggukkan kepala juga.”Terima kasih Tia, paman langsung kesana ya”.
Mutia kembali anggukkan kepala.”Iya Paman, Paman tahu ruangan Mama kan ?”.
Lufti anggukkan kepala, membalas senyum Mutia dan langsung bergerak menuju lift rumah sakit, untuk mencapai ruangan Ibu Asrul memang sebaiknya dengan lift, karena Lufti tahu kalau ruangan Meeta ada di lantai empat.
Setidaknya Lufti bersyukur untuk pertemuan dengan Mutia. Untung saja Lufti bertemu Mutia, kalau tidak, Lufti dapat di pastikan akan bingung juga, apalagi saat Lufti mencoba menghubungi kembali, bahkan sudah berulang kali, ponsel Widya tetap tak menyahut, tidak aktif.
Lufti membuka pintu ruangan Ibu Asrul, tersenyum dan langsung masuk saat dua wanita yang sedang berbincang melambaikan tangan memanggilnya, Lufti ambil duduk agak jauh, membiarkan dua ibu rumah tangga itu melanjutkan perbincangan mereka yang sedang asyik asyiknya.
Tapi, acara pembiaran yang dilakukan Lufti sama sekali tak lama, dengan jelas Lufti mendengar kalau keduanya sedang membincangkan mengenai Asrul dan Risda, Lufti menggeleng dan menatap lama wajah istrinya, Lufti tak menyangka ia kalah selangkah, ternyata Widiya lebih dahulu mengambil langkah bertanya.
Lufti pada dasarnya sekarang lebih banyak menguping pembicaraan, dan pada akhirnya Lufti paham jika Asrul tak memulai bekerja karena ingin fokus ke dunia pendidikan, setelah tamat nanti, Asrul ingin jadi dosen, setelah memiliki NIDN, Asrul bahkan berniat lanjut ke jenjang doktoral.
Lufti kembali hanya bisa geleng kepala, akan tetapi Lufti mau bilang apa, keadaan ekonomi keluarga Agung memungkinkan semua cita cita dan harapan Asrul dapat terwujud dengan mudah, bahkan mungkin, seumur hiduppun Asrul tak bekerja, tabungan ayahnya tetap akan cukup baginya untuk menikmati hidup mewah.
Anak anak Agung bisa melakukan itu dengan baik, tentu berbeda dengan anak anak Lufti, bagi kedua anak Lufti, mencari pekerjaan yang bagus akan menjadi prioritas saat menamatkan kuliahnya, kondisi ekonomi Lufti tidak memungkinkan anak anak Lufti bisa lebih santai dan memilih belum bekerja.
Hampir satu jam juga, bahkan Lufti sudah mulai bosan, baru Widiya dan Ibu Asrul menyudari perbincangannya, hanya Widiya yang permisi, sedang Lufti hanya angguk kepala saja, keduanya keluar ruangan, turun ke lantai bawah, ke parkiran dan beranjak pulang.
Widiya anggukkan kepala. “Iya Mas, mereka yang sepakati itu”.
“Sepakati ?”.
Widiya kembali anggukkan kepala. “Mereka pengen agar Asrul fokus pada studinya dan dapat maksimal, jangan terganggu dengan ribetnya pekerjaan, katanya begitu”.
Lufti geleng kepala. “Orang Kaya mah, suka suka saja”.
Widiya jadi tertawa. “Iya juga memang. Mereka bisa mengambil kesimpulan apapun, emang kenapa ?, mungkin gitu ya Mas ?”.
Lufti hanya senyum saja. Kehidupan Lufti memang jauh beda jika dibanding dengan Agung, bahkan kalau dilihat dari segi pemasukan, Haris bahkan jauh lebih bagus, Lufti mulai sadar, pemikiran kenapa sudah menikah tapi belum memikirkan kerja mungkin hanya berlaku bagi orang orang seperti mereka.
Sementara untuk orang orang seperti Agung mungkin bukan pertanyaan penting, nilai sebuah fokus mungkin lebih memberikan nilai ketimbang menyibukkan diri dalam pekerjaan, tidak ada hal yang perlu di khawatirkan, Agung pada faktanya, duduk duduk di rumah saja, uangnya masih terus mengalir masuk.
“Mas nggak begitu tahu bagaimana pemikiran orang kaya, karena kita nggak kaya, mungkin kalau kita seperti Agung, bisa jadi pemikirannya akan sama”.
__ADS_1
Widiya tertawa kecil. “Emang guru honor ada yang bisa kaya ?”.
Lufti jadi ikut tertawa. “Mungkin juga”.
“Darimana mungkinnya, pemasukan saja hampir berimbang dengan pengeluaran, kapan nabungnya, kapan kayanya ?”.
Lufti kembali tertawa kecil, tapi memang sepertinya begitu, apa yang dikatakan istrinya sepenuhnya benar, jika hanya mengandalkan pendapatan dari guru honor, menjadi kaya sudah masuk ke ranah kemustahilan, karena itu tadi, pemasukan hampir sama angkanya dengan pengeluaran.
Dengan keadaan itu, apapun jalan ceritanya, untuk menjadi kaya, ya harus punya sumber pendapatan lain, karena kalau hanya mengandalkan gaji guru honor saja, sudah dipastikan tak akan bisa, untuk bisa hidup sederhana saja untuk memiliki banyak rintangan.
“Mama Fariz memang pengen jadi orang kaya ?”.
Widiya melirik sebentar, kemudian tertawa kecil. “Nggak kepikir Mas”.
“Nggak kepikir gimana, mau kaya nggak ?”.
Widiya kembali tertawa kecil, ia merasa cukup geli mendengar pertanyaan suaminya, hanya wanita yang kurang normal yang mengaku tidak mau menjadi orang kaya, tapi menurut Widiya, jikapun pada nyatanya berjodoh dengan orang yang bukan kaya, hal untuk menyesali satu hubungan sama sekali tak ada kaitannya.
Bahkan menurut Widiya, keluhan karena harta juga ada point yang menjadi ukuran valid, apakah itu penting atau tidak, pikiran Widiya soal harta tidak panjang, ia hanya ingin sebuah kesederhanaan, tidak mengapa tabungan tak banyak, asalkan hutang tak ada, tak masalah uang tak berjuta, yang penting hutang tak punya.
Widiya kembali gelengkan kepala. “Mas ada saja, yang penting itu kerukunan dan kesanggupan menerima apa yang ada, menyesuaikan semuanya hingga menjadi kolaborasi yang indah, dengan begitu kata bahagia akan dekat jaraknya”.
Lufti melirik Widiya sesaat dan kembali tertawa kecil. “Mudah mudahan tetao begitu, tak ada beban yang mengejar”.
Widiya angguk angguk kepala berulang kali. Widiya percaya, semua orang pasti ingin menjadi orang kaya, semuanya pasti mendambakan keadaan menjadi orang yang berkecukupan dan bebas melakukan apapun untuk kebahagiaan keluarganya, semua orang pasti begitu.
Akan tetapi, Lufti juga sadar, tidak mungkin keinginan semua orang bisa terwujud dengan sempurna, pasti banyak yang berhasil, tapi apapun itu, faktanya jumlah orang yang tidak berhasil mendapatkan dambaannya selalu akan lebih banyak perolehan angkanya, mungkin sampai kiamat akan tetap begitu kisahnya.
“Kekayaan itu tidak selalu dipandang dengan jumlah harta yang berhasil di kumpulkan atau jumlah harta yang bisa di belanjakan. Akan tetapi juga termasuk kemampuan memenuhi kebutuhan yang lain, pemikiran, hati dan juga perasaan, uang memang yang nomor satu, tapi uang bukan satu satunya penentu”.
Lufti kembali hanya melirik sebentar dan geleng kepala, ini yang sering membuat Lufti semakin tak bisa menjauh dari istrinya, Lufti selalu merasa menjadi orang yang paling bahagia, lebih karena sikap istrinya yang sangat dewasa, bahkan kadang lebih baik dan lebih hebat dari Lufti sendiri.
Inilah kekayaan Lufti yang sesungguhnya, inilah harta Lufti yang tak ternilai harganya, ia punya istri yang selalu tenang dan mengambil keputusan selalu dengan menggunakan logika, tak ada egois, tak ada keinginan untuk menang sendiri, tidak manja dan tidak banyak pinta.
Sejauh ini Lufti merasa, tak ada lagi yang kurang dalam hidupnya, dalam keluarganya juga ada sepasang anak yang kini sudah menginjak usia dewasa, keduanya bahkan sudah memiliki pekerjaan, sudah berada di posisi cukup aman.
Sekarang, keadaannya sudah berbalik, jika dulu mereka yang pontang panting memenuhi kebutuhan anak anaknya, sekarang anak anaknya bahkan sudah mulai meningkatkan kebutuhan mereka, kedua anak Lufti bukan hanya sebatas mandiri, akan tetapi juga sudah mampu membantu orang tua.
__ADS_1
Lufti merasa semuanya sudah maksimal, tak ada keluhan lagi, sekarang bersama istrinya, Lufti sudah sampai ke tahap bersyukur, dapat menatap hari tua dengan tanpa beban apa apa, semuanya sudah melebihi harapan yang ada.
…. Bersambung …