
Minggu yang cerah, namun begitu Risda baru bangkit dari tempat tidurnya setelah berkali kali terdengar suara ketukan dipintu kamarnya. Risda membalas senyum lepas yang mengarah padanya saat membuka pintu, didepannya kini berdiri Meilani dengan pakaian yang lumayan rapi.
Risda berjongkok untuk memeluk Meilani yang mungil walau sudah kelas 1 SD, tentu jauh beda dengan Risda yang memang punya postur cukup tinggi, 171 CM. ukuran tinggi bagi wanita itu sudah diatas rata rata.
Tinggi badan Risda bahkan hanya beda 1 CM dari Asrul yang 172 CM, sehingga kalau Risda pakai sepatu hak tinggi terlihat kalau Risda lebih tinggi dari Asrul, dan memang banyak teman teman Risda yang laki laki sejak SMP sampai Perguruan Tinggi dulu berpostur lebih pendek darinya.
Risda berdiri. “Tapi Ibu belum mandi nih, bagaimana ?”.
Meilani senyum aja. “Ibu mandi aja dulu, Lani tunggu”.
“Okey.. tunggu sebentar ya”.
Meilani tertawa kecil aja, Risda bergegas kekamar mandi sedang Meilani masuk aja ke kamar Risda. Meilani tak merasa segan masuk karena memang sudah biasa, Risda juga merasa nggak apa karena Meilani memang yang paling sering mengunjunginya.
Anak yang bertugas sebagai pengalung bunga waktu Risda pertama datang dulu memang langsung dekat dengan Risda, malah setiap minggu seperti ini Meilani rutin mendatangi Risda untuk sama sama melaksanakan kebaktian walau rumah keluarga Meilani berada diujung desa cukup jauh dari tempat Risda tinggal.
Tapi Meilani tak pernah mengeluhkan itu, setiap ada kesempatan ia pasti berkunjung ke tempat Risda, sedang Risda sampai sekarang ini baru sekali datang ke rumah Meilani.
Risda dan Meilani beranjak pergi, sebetulnya bagi Risda pribadi ini terlalu cepat, karena kebaktian untuk dewasa baru dimulai pukul 10.00 tapi untuk Meilani, Risda tak masalah untuk pergi lebih awal.
Sambil menunggu Risda biasanya menggunakan waktu yang ada untuk membaca buku yang memang sengaja dibawanya, hal itu dapat dilakukan karena dihalaman gereja ada bangku panjang yang teduh.
Sama seperti hari ini, Meilani langsung masuk karena kebaktian anak anak sudah dimulai, sedang Risda melarutkan diri dengan buku yang memang sengaja ia bawa dari rumah.
“Bu Guru …”.
Risda menoleh dan tersenyum. “Ibu Meilani kan ?”.
Ia mengangguk. “Saya Tamia Bu Guru, tantenya Meilani”.
__ADS_1
Risda mengembangkan senyum. “Saya pikir ibunya Meilani”.
Tamia juga senyum kecil. “Ibu Meilani sudah nggak ada Bu Guru”.
Risda langsung mendelik. “Sudah tiada ?”.
Tamia mengangguk, kemudian ia menceritakan tragedi yang menimpa kakak tertuanya, saat itu Rania ibunya Meilani sedang hamil tua, tapi dukun beranak yang biasa membantu persalinan tidak berhasil mengeluarkan anaknya.
Ada bidan yang tinggal di desa sebelah, ayah Meilani menjemput bidan ini, karena medan yang sulit dan waktu itu turun hujan, maka bidan baru berhasil sampai ke kampung mereka saat sore menjelang.
Hasil pemeriksaan mengatakan bayi Rania sunsang dan ususnya sudah membelit, bidan menyarankan agar membawanya ke ibukota kecamatan, disana ada puskesmas dan dokter yang berjaga, tapi itu mendapat tantangan dari warga.
“Tantangan ?”. Risda lumayan terkejut.
Tamia mengangguk. “Warga tidak membenarkan orang yang hamil di bawa keluar kampung karena alasan melanggar pantangan”.
“Jadi bagaimana ?”.
Risda makin tertarik, tapi cerita berikutnya membuat Risda bergidik, bulu kuduknya langsung naik dan perasaannya bagai sedang berada di atas awan, gamang, kesal, dan takut juga ada.
Melihat istrinya yang terus mengalami kesakitan, ayah Meilani tak tahan, diam diam ia mengajak saudaranya mengendap endap membawa istrinya meninggalkan kampung menuju ibukota kecamatan, mereka berjalan menerobos malam yang sedang hujan gerimis.
Sialnya, ada warga yang memergoki dan melaporkannya ke warga yang lain, ini memicu emosi, ramai ramai warga mengejar ayah Meilani dan sepupunya yang mencoba melarikan diri, bagaimana orang yang sedang menggendong wanita hamil besar, tentu jalannya lambat.
“Warga menemukannya ?”.
Tamia geleng kepala. “Tidak. Tapi kakakku tak selamat”.
Wajah Risda memucat. “Tak selamat ?”.
__ADS_1
Tamia anggukkan kepala, saat dikejar kejar warga, sepupu ayah Meilani menyerah dan berbelok arah. Ayah Meilani terus mencoba membawa istrinya, tapi ia tergelincir di pinggir tebing dan terjatuh ke sungai.
“Ibu Meilani ?”.
Tamia menggeleng. “Ayah Meilani hanya mampu menyelamatkan dirinya”.
“Jadi ?”.
Tamia mengangguk. “Kakakku Rania terseret arus malam itu”.
“Oh … Tuhan”. Keluh Risda sambil menghusap wajahnya.
Kemarahan warga tidak reda, sehingga hanya keluarga saja yang berusaha melakukan pencarian, mereka menemukan ayah Meilani yang pingsan siang harinya, ia diserahkan ke warga yang menjatuhkannya hukuman karena mencoba melanggar pantangan.
“Ibu Meilani bagaimana ?”.
Tamia geleng kepala lagi. “Keluarga yang mencari baru menemukan mayatnya dua hari setelahnya, ia di makamkan di tempat dimana ia ditemukan”.
Risda tak punya kata kata lagi, walau sebenarnya cerita seperti ini pernah ia baca di majalah berita, tapi mendengar langsung tampaknya lebih menegangkan. Yang terbayang oleh Risda adalah wajah ceria Meilani, bagaimana anak itu bisa memiliki nasib yang seperti itu.
“Ada hal lain selain itu Bu Guru”.
Risda langsung menatap Tamia lekat. “Apa lagi Bu ?”.
“Penyakit Kakak Rania menurun ke Meilani”.
“Penyakit ?”.
Tamia anggukkan kepala. “Iya Bu Guru, sesak napas”.
__ADS_1
Risda tercekat, itu bukan penyakit biasa, jika tidak di tangani dengan baik, bagaimana Meilani dapat melanjutkan hidup, pertanyaannya, dalam kondisi kampung yang begini, darimana Meilani mendapatkan penanganan yang baik.
… Bersambung ….