Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
S2 : Dokter Luar Biasa


__ADS_3

Mutia masuk ke ruangan, duduk begitu saja mendengarkan omelan Reni yang ternyata belum tuntas juga. Mutia hanya bisa menggeleng dan menghela nafas kuat, apa yang menjadi omelan Reni sebenarnya pantas saja, tapi Mutia tidak bisa seperti Reni, punya banyak kosa kata untuk memperlancar omelannya.


Risda sendiri hanya menatap Reni, Risda tahu kalau Reni panjang omelannya karena sayang padanya. Risda juga sama, ia suka sayang pada adik adik iparnya, semuanya, Risda punya kepedulian yang sama, Reni memang sedikit berbeda, karena di rumah, Reni yang paling banyak bicara, sedikit lumayan cerewet di banding lainnya.


Itulah Reni, Farhan mengatakan, suaranya lebih besar dari tubuhnya, faktanya memang begitu, dari semua yang dirumah, yang tubuhnya paling mungil memang Reni, tingginya juga kalah dari yang lain, walau beda usia hampir empat tahun dengan Farhan, tapi tinggi Reni hanya sebahu Farhan.


Tinggi Reni malah sudah hampir imbang dengan Ariana, tapi untuk yang ini, lebih karena Ariana memang punya pertumbuhan yang paling pesat, bahkan diperkirakan, saat SMA nanti, bisa jadi, tinggi Ariana bahkan akan mengalahkan Mutia.


“Pakaian Kakak kok kotor gitu Kak, kenapa ?”.


Risda menggeleng saja. “Kena di parkiran tadi Dek”.


Reni menggeleng. “Abang kan sudah bilang berulang kali, kakak pakai mobil saja, kakaknya nggak mau juga, itu coba ?, jadi begitu kan ?”.


Risda kembali menggeleng dan senyum lagi. “Naik motor enak Dek, bisa ngelak dari macet, cepat nyampenya”.


Reni ikut menggeleng. “Kakak gitu sih”.


Sehebat apapun omelan Reni, tapi Reni tetaplah Reni, dengan mudah ia bisa takluk, utamanya saat berhadapan dengan yang lebih tua, ayahnya, ibunya, Asrul, Risda dan Mutia, pada orang orang ini Reni akan dengan mudah kalah, akan beda jika berhadapan dengan Farhan, bisa berjam jam debatnya.


Tapi anehnya, Reni juga kalah telak jika berhadapan dengan Ariana, Reni sama sekali tak berkutik menghadapi anak bungsu itu, apapun milik Reni bisa melayang secepat kilat, Reni yang merasa kehilangan langsung kebakaran jenggot, tapi langsung mode mute saat tahu pelakunya Ariana.


“Mama sudah minta orang butik antar pakaian kemari”.


Mutia dan Reni tampak senyum merekah, tapi Risda jadi sedikit mendelik. “Ma, Maksud Mama ?”.


Meeta angkat bahu. “Tuh baju kamu kotor, ya, ganti”.


Risda menggeleng. “Cuma sedikit kok Ma”.


“Apanya yang sedikit. Sudah, bentar lagi datang itu”.


Risda hanya menggeleng, terkadang merasa ibu mertuanya berlebihan, masa baju kotor dikit begini harus ganti, gantinya langsung dari butik lagi, kenapa ?, kan bisa di bersihin sedikit, nanti gantinya di rumah. Tapi Risda mau bilang apa, keputusan ibu mertuanya absolut, tidak akan ada yang berani menggugatnya.


Seorang perawat membuka pintu setelah mengetuk dua kali. “Dok, ada pasien”.


Mutia anggukkan kepala. “Okey Kak, saya kesana”.


Perawat yang sudah cukup berumur langsung beranjak, Mutia juga mengambil peralatannya, memandang Kakak Iparnya sebentar, saling berbalas senyum, dan Mutia langsung menghilang, menuju ruang pemeriksaan.


Mata Mutia mengecil, senyum juga, tentu membalas senyum dua orang yang ada di ruangannya. Tapi jelas, Mutia masih mengingat wajah pemuda itu, ya, adik kelasnya dulu, lama juga satu organisasi dengannya, Mutia tak mungkin lupa, bahkan saat SMA mereka sering dalam kegiatan yang sama.


“Eh, Mahdan ?, siapa yang sakit Dan ?”.


Mahdan anggukkan kepala. “Masih kenal ternyata, saya pikir dokter Tia lupa ke saya”.


Mutia senyum dan geleng kepala. “Masa lupa ?, siapa yang sakit ?”.


“Ini ibu dok”.


Mutia menyalami Ibu Mahdan dan mencium tangannya, ini membuat ibu Mahdan tertegun, seumur hidup, baru kali ini ada dokter yang menyalaminya lengkap dengan cium tangan, sang ibu langsung begitu senang, malah merasa penyakitnya sudah banyak berkurang.


“Ayo Bu, Mutia periksa dulu”.


“Ayo Bu”. Sambung Mahdan.


Ibu Mahdan sudah banyak senyum, ia ikut saja dan membaringkan tubuhnya, Mutia langsung melakukan apa yang seharusnya dilakukan, setelah periksa sana, periksa sini, Mutia meminta ibu Mahdan duduk lagi, baru ketiganya sama ke sofa, duduk bertiga, sang ibu diapit Mahdan dan Mutia.

__ADS_1


“Ibu di rumah sama siapa saja Bu ?”.


Ibu Mahdan menatap Mutia dan senyum tipis. “Cuma berdua sama Mahdan, ayahnya sudah nggak ada, kalau Mahdan kerja, ya, Cuma ibu sendiri saja”.


Mutia membelai bahu Ibu Mahdan, masih dengan senyuman. “Ya, nggak apa apalah Bu, yang penting ibu bisa jaga makanan saja, jangan telat makan utamanya, asam lambung ibu sudah cukup tinggi”.


Ibu Mahdan senyum saja, ada rasa salut yang tinggi sekarang, selama ia kunjungan ke dokter, baru kali ini ia menemukan dokter yang lain dari yang lain, cara bicara dan sikapnya membuat sang ibu benar benar terkesan, bahkan menjadi begitu bahagia.


“Bentar ya Bu”.


“Iya dok”. Sang Ibu mengangguk pelan.


Mutia berdiri menuju menjanya, menuliskan resep, duduk kembali di tempat semula dan menyerah resep ke Mahdan. “Ini resepnya Dan”.


Mahdan menerima. “Nggak ada apotik khusus gitu Tia ?”.


Mutia menggeleng. “Apotik khusus gimana Dan ?”.


“Yang ditunjuk gitu ?”.


Mutia kembali mengeleng. “Nggak lah, bebas”.


“Kalau gitu, kita permisi ya Tia”.


Mutia angguk kepala. “Okey Dan”. Mutia kembali menyalami Ibu Mahdan dan mengulang yang tadi, mencium tangan. “Cepat sembuh ya Bu, jangan telat makannya, obat ibu juga, jangan lupa”.


Ibu Mahdan senyum lebar. “Terima kasih dok”.


Mutia hanya mengacungkan jempolnya, Mahdan membawa ibunya keluar ruangan, menuju perawat yang tadi melakukan registrasi dan terus beranjak keluar, masuk mobil dan berjalan meninggalkan rumah sakit.


Mahdan tertawa kecil. “Mama kenapa nanya lagi, itu tadi Mama lihat, dokter Tia jelas jelas kenal Mahdan kan ?”.


Ibu Mahdan tersenyum. “Dokternya cantik ya Dan ?”.


“Mama suka ?”.


Ibu Mahdan senyum lebar. “Tentu saja. Ibu sangat suka, sangat suka malah, dokter luar biasa, belum pernah ibu ketemu dengan dokter yang seperti itu, ibu suka sekali. Sudah nikah nggak dia itu Dan ?”.


Mahdan menggeleng. “Setahu Mahdan belum Ma”.


“Wah, bagus itu Dan”.


Kening Mahdan agak berkerut. “Maksud Mama ?”.


“Berarti kan, kamu masih punya kesempatan”.


Mahdan hanya menggeleng, walau sejujurnya itu memang inginnya Mahdan, sejak SMP dulu, Mahdan memang sudah menyukainya. Tadi saja, Mahdan sebenarnya sengaja, awalnya manggil dokter, tapi kemudian Mahdan sengaja memanggil nama, ingin melihat respon Mutia.


Tapi memang tak ada, Mutia tampak biasa saja Mahdan memanggilnya dengan nama, tak ada yang berubah dari raut wajahnya, ini yang membuat Mahdan makin tertarik untuk berterus terang kalau memang menyukai Mutia, tapi Mahdan belum tahu bagaimana caranya, tapi Mahdan akan mencari celahnya.


Di rumah sakit, pakaian ganti Risda benar benar sampai, walau masih geleng kepala, Risda akhirnya ke kamar mandi juga untuk mengganti pakaiannya, di kamar mandi Risda kembali menggeleng, pakaian yang datang itu sangat sesuai, ukurannya pas, tak ada yang ganjil.


Begitu Risda keluar dari kamar mandi, Meeta langsung berdiri, Mutia dan Reni hanya anggukkan kepala, Meeta langsung mengajak Risda keluar, menuju pasar dan langsung pulang, dengan begitu kunci motor beralih ke tangan Reni, bahkan baju kotor Risda juga sudah diamankan Reni.


Lina dan Lisa sama sekali tak berani mengangkat wajah saat Meeta dan Risda lewat, hanya Shinta dan Ros yang berbagi senyuman, setelah keduanya lewat, baru mata Lina dan Lisa mengekor hingga Meeta dan Risda hilang di balik pintu.


“Berarti kurir tadi dari butik dong ya, sudah ganti baju saja di mbak nya”. Celutuk Shinta yang tampak cukup heran.

__ADS_1


Ros tertawa kecil. “Namanya juga menantu Bos, mana mungkin keluar pakai baju nggak bersih, kenapa sih Shin ?”.


Shinta ikut tertawa kecil. “Iya juga sih. Kan tinggal pesan saja”.


Ros menggeleng. “Enak gitu ya ?”.


Shinta senyum saja. “Tapi Bu Risda itu setahu saya sebenarnya sudah senang dari sononya Kak, sudah biasa kali begitu”.


Ros agak mengerutkan keningnya. “Maksudnya Shin ?”.


“Ayahnya Bu Shinta itu seorang Senior Manager di Perkebunan, kalau nggak salah di Kalimantan gitu Kak”.


Ros kembali menggeleng. “Senior Manager, gede gajinya tuh ?”.


Shinta angkat bahu. “Kata Paman adiknya ayah, hampir 100 juta juga Kak”.


Ros mendelik. “Sebulan ?”.


Shinta anggukkan kepala. “Ya, iyalah Kak, masa setahun”.


Keduanya kembali sama tertawa, Ros kembali banyak menggelang, anak orang kaya memang biasanya akan ketemu dengan anak orang kaya juga, apalagi menurut Ros, penampilan Risda memang tampak bukan berasal dari keluarga biasa, jika ayahnya senior manager, wajarlah, batin Ros.


Ros yang juga sering browsing sedikit paham berapa dana yang harus di keluarkan untuk mendapatkan pakaian baru seperti yang sedang di pakai menantu bosnya, Ros hanya menggeleng, untuk ukuran pekerja seperti dia, hanya bisa sebatas mimpi untuk mendapatkan barang begituan.


Ros tentu harus berpikir ratusan kali untuk membelinya, harga satu pakaian itu sudah setara dengan empat pakaian terbaik milik Ros, suatu hal yang sama sekali tidak masuk dalam kategori pilihan.


Itu yang membuat Ros hanya mampu geleng kepala, orang orang yang mampu tentu berbeda dengan mereka, untungnya, Ros bekerja di usaha yang keluarga pemiliknya luar biasa baik.


Lina dan Lisa juga saling pandang, mereka teringat dengan teman kost mereka Martina, seminggu yang lalu kehilangan pekerjaan karena berbenturan dengan menantu pemilik perusahaan tempat dia bekerja, padahal hany masalah sepele.


Lina maupun Lisa awalnya juga sudah pasrah dan siap untuk hengkang, tapi hingga kini, bahkan sang menantu sudah pergi, tak ada panggilan untuk keduanya, nyatanya sekarang masih duduk bekerja seperti biasanya.


Dan ternyata, panggilan itu datang juga, Lina dan Lisa langsung memucat saat perawat senior meminta mereka menemui dokter Mutia, yang ditakuti keduanya bukan dokter muda yang cantik jelita itu, tapi adiknya Reni, sang calon dokter yang tadi sempat mengacungkan tinjunya.


Lisa dan Lina mengetuk pintu dan masuk dengan wajah yang menunduk, keduanya baru berani duduk saat Mutia meminta duduk, sekilas keduanya menatap ke arah Reni yang sepertinya malah cuek, ia sibuk dengan laptopnya, bahkan memandang ke Lina dan Lisa juga tidak.


“Lina, Lisa. Saya hanya ingin memastikan, tidak ada satu orangpun setelah ini yang meninggikan suaranya kepada siapapun, kapanpun dan dimanapun, bisa ?”.


Lina dan Lisa sama memandang sebentar ke Mutia yang tampak sangat tenang, keduanya langsung anggukkan kepala dan sama sama menjawab. “Siap dokter”.


“Saya marah bukan karena yang jadi korban Kakak Ipar saya, tapi kepada siapapun nantinya, saya juga akan marah. Ini rumah sakit, tidak ada yang dibenarkan anggar suara disini, jelas itu ya ?”.


Lina dan Lisa angguk kepala lagi. “Jelas dokter”.


Mutia menghela nafas. “Ya, sudah. Kembali ke posisi”.


Lina dan Lisa langsung berdiri, sekali lagi melirik ke arah Reni, tapi tetap saja tak ada respon, jangankan bicara, melihat kearah keduanya saja sepertinya Reni enggan, ia tetap saja sibuk dengan laptop yang ada di depannya.


Lina dan Lisa berjalan cepat menuju meja kerja mereka, ada rasa lega di hati keduanya, dengan begini tentu keduanya tenang, mereka akan tetap bekerja disini, bahkan tak ada hukuman apapun yang harus mereka terima, sehingga keduanya hanya bisa janji akan bekerja lebih baik lagi.


“Kita bekerja di usaha orang kaya yang tidak mengekploitasi kekayaannya untuk menunjukkan kuasa. Saya salut dengan sikap semua anak anak dan menantu dokter Meeta, tak ada yang sombong sedikit saja”.


Lisa dan Lina angguk kepala mendengar apa yang dikatakan Ros, keduanya sepakat yang dikatakan Ros 100% benar, jika bukan disini, kemungkinan mereka kehilangan pekerjaan akan sangat mudah, sudah banyak cerita yang begitu terdengar dimana mana, bahkan sudah menimpa teman kost mereka.


Tapi ternyata, Reni yang tadi sempat begitu emosi, ternyata hanya emosi sesaat saja, tidak berkepanjangan, ini yang membuat Lina dan Lisa merasa malu, bagaimana mereka meninggikan suara kepada menantu bos mereka, keduanya berharap, ini pengalaman pertama sekaligus terakhir, jangan pernah lagi setelah ini.


…. Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2