
Risda terbangun dari tidurnya dan langsung melonjak. Risdateringat kalau besok ia ada janji kepada anak didiknya disekolah untukmembawakan novel bagus untuk mereka sadur bersama, tapi hingga kini Risda belum punya, bahkan tertidur dan lupa akan akan janjinya.
Risda kemarin agak jengkel karena novel yang dibawa siswa yang ditugaskannya terlampau jauh dari kehidupan remaja. Rasa jengkel Risda makin menjadi karena novel yang tersedia di perpustakaan sekolah sama saja, nggak ada yang cukup baik untuk dijadikan bahan saduran.
Risda kemudian teringat novel yang pernah dilihatnya dilemari depan, Risda ingat ada novel yang tersimpan rapi disana, sejak awal ia pulang dari pedalaman, Risda langsung kesana dan ternyata benar, novel itu ada. Risda langsung menuju kursi dan membacanya perlahan.
Walau belum separuh Risda baca, ia tak lagi tertarik karena cerita dalam novel itu sama sekali tak sesuai dengan kriteria yang ia cari, cerita yang tidak untuk genre remaja, ini cerita untuk genre dewasa, walau tak ada unsur pornografinya, tapi alur ceritanya tak sesuai untuk remaja.
Risda akhirnya mengambil ponsel dari kantong celananya dan menghubungi temannya Sanusi yang ia tahu banyak punya koleksi novel. Tapi Risda kembali harus kecewa karena Sanusi tak menjawab panggilannya, belum ada solusi, ini membuat Risda menyandarkan kepala dan memegangi keningnya.
Natalia meraih novel yang baru diletakkan Risda diatas meja. Natalia membolak balik novel itu seakan membaca. Natalia memandang wajah Risda yang tampak agak lusuh, seperti terasa cukup gelisah.
“Udah habis dibaca Ris”.
Risda anggukkan kepala. “Belum Ma. Tapi udah hampir habislah”.
“Bagus ceritanya ?”.
“Lumayan bagus. Tapi ini kurang bagus kalau disadur dan dijadikan bahan pelajaran SMP Ma”.
Natalia mengangguk anggukkan kepala. “Kenapa ?”.
Risda geleng kepala. “Kurang pas aja Ma”.
Natalia angguk kepala lagi, berdiri menuju dapur dan kembali lagi dengan gelas penuh air putih ditangannya. Belum sedetik Natalia meletakkan gelas diatas meja Risda langsung menyambar dan meneguknya, Natalia hanya geleng kepala, Risda hanya senyum senyum tampak geli.
“Novelnya bagus kan ?”.
Risda agak mendelik. “Yang mana Ma ?”.
__ADS_1
“Yang ini”. Kembali menunjukkan novel diatas meja.
“Tadi kan udah Mama tanya. Kok sekarang nanya lagi Ma ?”. Risda tampak sedikit heran dan bingung.
“Masalahnya… “. Natalia tampak ragu.
Kening Risda berkerut. Risda jelas menangkap ada hal yang sekarang sedang hebat menguasai kepala ibunya. Risda terus memandangi wajah ibunya yang kini malah tampak sedang kasak kusuk, menggeliat tak menentu, ini membuat Risda makin heran dengan puluhan pertanyaan.
"Masalahnya, itu kan ...". Natalia masih tampak ragu.
Kening Risda benar benar berkerut heran. “Maksud Mama ?, masalah apa ?”.
“Nggak ada sih”. Natalia malah berdiri. “Pengarang novel itu kan Papa kamu”. Langsung melangkah menuju dapur lagi.
Natalia langsung berlalu pergi meninggalkan Risda, kepala Risda terangkat dan langsung melotot, tapi ibunya sudah tak terlihat lagi, sudah hilang dibalik pintu. Dada Risda tentu langsung tak tenang, baru kali ini sepanjang hidupnya Risda mendengar kalimat mengejutkan seperti itu, Papa kamu. Ini kali pertama Risda mendengar ucapan itu.
Risda mengambil lagi novel diatas meja dan membaca pengarangnya, Haris Arianda Nst. Ada banyak tanya sekarang di kepala Risda, matanya terus menuju pintu tengah menuju dapur berharap Mamanya kembali lagi keruang tengah, tapi tak juga muncul.
Risda melangkah perlahan dan akhirnya duduk tepat didepan Mamanya, keadaan Natalia tentu membuat Risda tak tenang, berulang kali Risda membaca nama pengarang novel yang ada ditangannya, tapi tak ada jawaban yang cukup bagi Risda untuk setidaknya mengurangi debaran dadanya yang terus bergemuruh cukup kuat.
“Tadi Mama bilang apa Ma ?”.
Akhirnya Risda bicara juga, bicara dengan sangat hati hati. Risda bicara sepelan yang ia bisa, sangat pelan, bahkan menjadi setengah berbisik. Untung mereka hanya berdua dan ada kebisingan, sehingga Natalia dengar apa yang dikatakan Risda.
Natalia angkat wajahnya, menatap sayu ke arah Risda.“Apa itu kurang jelas ?”.
Risda anggukkan kepala. “Sangat jelas Ma, tapi …”.
Natalia kembali menatap Risda lekat. "Novel itu memang karangan papamu. Karya dari ayah kandungmu".
__ADS_1
Risda menghela nafas dan sudah paham, tapi Risda merasa kurang mengerti dengan apa yang baru didengarnya. Aneh kalau tidak percaya, tapi Risda punya rasa bingung yang tak terukur tingginya. Risda malah merasa semua yang ia dengar bagai suguhan sandiwara, bak sedang nonton sinetron saja rasanya.
“Mama dulu sangat suka dengan semua tulisan papa kamu. Apa saja yang ditulis papa kamu itu selalu menarik. Papa kamu jago nulis”.
Risda kini geleng kepala berulang kali, apalagi setelah melihat ada gerakan tipis di bibir Natalia. Risda masih rada rada bingung binti heran, makin tak mengerti lagi setelah kini malah beneran menemukan senyum tipis ibunya.
Siapa coba yang nggak jadi heran. Tapi Risda tak punya kamus yang lumayan untuk menjawabnya, sehingga pilihan Risda kembali lebih banyak menggelengkan kepala, hanya gelengan kepala, tak ada yang lain.
Risda menghela nafas panjang, ikut menatap ibunya lama. “Papa Risda jago nulis ?, Papa novelis, pemuisi, pujangga, atau ..”.
Natalia sedikit menggeleng. “Papa kamu sama dengan kamu Ris”.
Kening Risda makin berkerut tajam. “Sama dengan Risda ?, maksud mama ?”.
Natalia senyum tipis lagi. “Guru Bahasa Indonesia”.
Kali ini Risda ikut senyum, walau sangat tipis, yang sebenarnya tidak mampu menutup degub jantungnya yang semakin keras tak mau berhenti. Bagaimana Risda bisa tenang, setelah sedewasa ini baru ia mendengar kata itu, baru setelah sedewasa ini, Risda mendengar dan bahkan berbincang tentang papa.
Ada senyum memang, tapi sejujurnya itu hanya sebuah garis tak jelas, tak mampu menjadi pereda debar dada Risda yang sama sekali tak mau diam. Tapi Risda masih belum punya gabungan kata yang menurutnya layak untuk disampaikan kepada mamanya.
Ada banyak kalimat yang tersimpan di kepala Risda, tapi pada akhirnya, tak ada satu katapun yang bisa keluar dengan leluasanya, semua kalimat itu berhenti di tenggorokan Risda, semua mendekam disana, bahkan membuat tenggorokan Risda terasa kering, dan lehernya mulai agak sakit.
Risda benar benar tertahan dalam diam, bungkam seribu bahasa, hanya mata Risda yang terus menerus memandangi cover novel yang masih terus terselip ditangannya, sakin tak mampunya bicara, bahkan Risda juga tak lagi memberikan jawaban ketika ibunya permisi hendak kepasar.
Begitu ibunya keluar dan terdengar pintu ditutup, Risda menghela nafas panjang, mengambil minuman, dan akhirnya lebih memilih kembali masuk kamar dan kembali menuju novel yang ditangannya dan membacanya kembali dari awal, bahkan Risda melahapnya hingga benar benar tuntas.
Bahkan mungkin karena penasarannya belum hilang juga, Risda masih sekali lagi membaca novel yang ditangannya, walau tak lagi semuanya, Risda membolak balik dan membacanya sedikit saja kemudian beralih ke halaman lain.
Dalam hati Risda masih terus diliputi ribuan pertanyaan, siapa ayahnya, namanya sudah tahu, tapi sekarang sedang berada di mana, apa masih ada atau bagaimana, ini yang membuat kepala Risda semakin pening. Hingga akhirnya Risda tertidur dengan novel yang terletak terbuka di sampingnya.
__ADS_1
… Bersambung …