
Berempat mereka memilih beranjak ke lantai kapal paling atas, selain disana memang ada tersedia meja untuk sekedar menikmati minuman, pemandangannya juga sangat indah, dapat melihat secara utuh sejuknya pemandangan selat sunda.
“Oh ya, coba telephon Taufiq dulu ya”.
Haris mengerutkan keningnya. “Taufiq ?”.
Lufti anggukkan kepala. “Taufiq anak Sastra Jerman”.
Haris mencoba mengingat ingat. “Kok aku kayaknya payah ingatnya ya Luf”.
Lufti geleng kepala. “Si Pendiam yang pernah kau selamatkan dari amukan anak biologi, masa lu lupa sih Ris, udah tua banget lu ya”.
Haris mendelik. “Anak kecil juga bisa lupa Luf, nggak yang tua saja”.
“Tapi lu parah”.
Haris hanya geleng kepala, dia sudah ingat yang disebut Taufiq, nggak penting juga Lufti ngomong gitu, keparahan. Tapi Haris hanya mampu senyum senyum kecil, tertawa kecil, geleng kepala dan tepuk jidat.
Haris hanya mencoba mendengar saja, percakapan Lufti dengan Taufiq tampaknya sangat renyah, buktinya ada tawa lepas Lufti diantaranya, tapi Haris dan yang lainnya tak tahu pasti apa yang mereka bicarakan.
Natalia dan Widya malah memilih pergi ke anjungan, sama sama berdiri menatap ke tengah lautan sama dengan banyak penumpang lain, pemandangan disini tentu saja sangat menyenangkan, apalagi cuaca sangat tenang, tak ada gelombang, hanya semilir angin sepoi dan menyapu wajah, sangat menyejukkan.
Lufti selesai bicara di telephon. “Taufiq di pelabuhan, nanti kita jumpa disana”.
Haris menatap Lufti sejenak. “Taufiq datang ke pelabuhan ?”.
Lufti menggeleng dan tertawa kecil. “Taufiq kerja di pelabuhan”.
Haris tertawa kecil. “Anak Sastra Jerman kerjanya di Pelabuhan ?”.
Lufti mendengus. “Lu gimana ?”.
“Aku kenapa memang ?”.
Lufti geleng kepala. “Nggak sadar lu, enak saja ngomongin orang, lu sendiri ?”.
“Anak Bahasa Indonesia kerjanya di perkebunan”. Haris meluruskan.
“Itu lu tau. Ngomongin orang lu”.
Haris tertawa. “Iya juga ya. Itulah dunia”.
__ADS_1
Tapi mungkin beda dengan Haris, ia lebih tepatnya meninggalkan profesi gurunya karena semua hal yang berhubungan dengan dirinya dan Natalia. Haris lebih tepat mencoba menjauh dari kehidupan yang sama sekali kurang diterima akal sehatnya.
Itu membawanya jauh ke Kalimantan, yang kemudian membawanya menjadi karyawan perkebunan, awalnya hanya pekerja kasar, tukang bersihkan lahan, hingga pengumpul buah, pikiran kusutnya membuat Haris menjadi kuat.
Saat manajemen tahu Haris seorang sarjana, Haris mendapat tawaran kerja di kantor, terus berlanjut dan berlanjut, hingga 15 tahun kemudian, Haris yang gila kerja di pindahkan ke Kalimantan Barat sebagai kepala pabrik.
Kemudian pindah lagi ke Kalimantan Selatan, masih dengan posisi yang sama, baru setelah itu mendapat mandat di Kalimantan Utara sebagai Junior Manager yang menangani lima pabrik, itu yang dilakoni Haris hingga kini, gila kerjanya terus berlanjut, hingga tersentak saat bertemu Risda di pedalaman.
“Lu renungin apa Ris ?”.
Haris menoleh ke arah Lufti, membuang nafas berat dan kembali mengalihkan pandangan ke Natalia dan Widya yang tampak begitu ceria, entah apa yang mereka lihat, tapi Haris merasa ada sesak yang meninju dadanya.
“Lia benar benar tak menikah Luf ?”.
Lufti ikut buang nafas berat. “Seperti tak ada niat, apalagi saat tahu dia hamil, ia memutuskan untuk nyerahin seluruh hidupnya untuk calon bayi itu”.
Haris menghusap wajahnya. “Aku nggak tahu mau bilang apa. Semuanya terjadi begitu saja Luf”.
Lufti pindah duduk dan mengelus bahu Haris. “Setidaknya hari ini lu ama Lia punya Risda Ris”.
Haris mengangguk. “Benar. Tapi, aku tak tahu cara mengatakannya”.
Haris menatap Lufti. “Maksudmu ?”.
Lufti menggeleng. “Sokong dan berikan yang terbaik ke Risda sebagai orang yang di kenalnya, soal posisimu sebaiknya nanti menjadi bagian Natalia”.
“Bagaimana bisa ?”.
Lufti kembali menggeleng. “Jika lu berterus terang ke Risda, iya kalau anak lu paham dan menerima, kalo ternyata ia syok, bagaimana ?”.
Haris terdiam, pikiran Lufti ada benarnya, belum tentu Risda bisa menerima apa yang sebenarnya terjadi padanya, kemarin Natalia sudah menegaskan kalau Natalia belum tahu apa apa, ini harus dipikirkan juga, batin Haris.
“Risda sekarang di pedalaman, ia tak dekat dengan ibunya, jika lu cerita sekarang, kemana Risda menumpahkan emosinya. Kita nggak tahu apa isi kepala anak itu, apa dia kuat atau tidak, tak ada yang tahu”.
Haris sudah menitikkan air mata, Lufti kembali hanya mampu mengelus bahu Haris pelan, Lufti merasa apa yang sedang di rasakan Haris. Tapi Lufti juga berpikir panjang, jika nanti Risda malah stress mendengar semuanya, apa yang terjadi ?.
“Kalaupun Risda harus tahu, dan memang harus tahu. Tapi, baiknya ia mengetahui itu saat sudah di Jakarta, saat berada di samping mamanya, itu pilihan terbaik”.
Haris hanya kembali bisa menatap Lufti lekat, apa yang dikatakan Lufti sangat benar, Haris jangan terburu buru untuk memberi tahu Risda jika ia adalah ayahnya, ayah yang tidak seharusnya menjadi ayahnya.
“Sebaiknya lu nahan diri dulu Ris, jangan terburu buru. Sebisa mungkin kawal Risda dan teman temannya disana, jadikan mereka nyaman, bila perlu sertakan seluruh fasilitas yang kau punya, buat dia bahagia”.
__ADS_1
Haris kembali tak bisa membendung air matanya, tapi yang dikatakan Lufti semuanya benar, Haris memang harus menahan diri, karena tak tahu seberapa besar mental Risda. Tapi ya, Haris janji akan memenuhi semua perkataan Lufti, akan mengawal Risda dan Asrul, membuat mereka nyaman.
“Okey Bro, lu udah tangkap ngomongan gua ?”.
Haris mengangguk. “Terima Kasih Luf. Aku janji untuk itu”.
Lufti kembali mengelus punggung Haris. “Gua sahabat lu Ris, kita tidak sebatas teman, gua paham lu, lu juga paham gua, Widya cari rumah di samping Lia juga tujuannya itu”.
Haris menatap Lufti sekilas. “Terima Kasih Luf”.
“Gua paham Widya, gua ngerti isi hati bini gua, gua juga kasihan ama Lia, gua juga pengen buat dia dan Risda nyaman, sama seperti niat Widya, itu yang buat gua ikut semua keinginan Widya, Firman juga dorong gua untuk itu”.
Haris semakin menunduk, bagaimana teman temannya begitu sayang dan perhatian kepada Natalia dan Risda, hingga Risda sedewasa ini, sedangkan Haris malah larut dalam egonya, ini seperti kata pepatah, menyesal datangnya selalu terlambat.
“Aku nyesal Luf. Nyesal sekali, kenapa aku sampai seegois ini”.
Lufti menghela nafas panjang. “Penyesalan sudah tak perlu Bro, kini pandang ke depan, tatap ke masa yang akan datang”.
Haris mengangguk. “Terima kasih Luf. Terima kasih untuk semuanya”.
Lufti tertawa kecil. “Terima kasih lu kagak penting penting amat. Gua, Widya, Firman dan yang lain tulus, sangat tulus. Firman bela belain diri jadi Wali Risda untuk sekedar terima raport, hampir setiap semester”.
Haris terkejut, memandang Lufti lama. “Firman ?”.
Lufti anggukkan kepala. “Lia wali kelas Bro, dia pasti nggak bisa. Maka Firman yang ambil alih. Firman nggak mau Risda sedih tak punya wali”.
“Sejak kapan ?”.
Lufti angkat bahu. “Sejak Risda SD”.
“Setiap semester ?”.
Lufti anggukkan kepala. “Bahkan Firman sering bareng kalau Rasti sempat”.
Haris geleng gelengkan kepala yang mulai denyut. “Kalian memang sahabat terbaik, aku yang bodoh”. Haris sudah terisak, benar benar rapuh.
Lufti merangkul bahu Haris dan menggoyang tubuhnya, ini yang bisa Lufti lakukan untuk membuat Haris tenang. Lufti juga tak mau Haris terlampau larut, nanti kalau Natalia melihat, ini juga akan jadi masalah baru, Natalia tak boleh melihat Haris rapuh, nanti Natalia jadi melemah juga, itu pasti.
“Hapus air mata lu Ris, tenangkan diri, Widya ama Lia ngarah kesini”.
… Bersambung …
__ADS_1