
Sudah nyaris sebulan Risda tergeletak di ranjang rumah sakit, Risda sekarang sudah begitu pasrah terhadap keadaannya, Risda paham akan hal buruk yang mungkin menimpanya, Risda tahu kalau dia salah selama ini, tapi untuk menyesal tak ada gunanya lagi, Risda hanya berharap ada keajaiban yang datang padanya.
Dahrul mendekat menyahuti panggilan ibunya, Dahrul duduk di sisi ranjang, menggenggam erat jemari ibunya, Dahrul tahu kalau ibunya sedang mengalami rasa sakit yang sangat, tapi ibunya masih bisa memberinya senyum, dengan begitu Dahrul juga sebisa mungkin melakukan hal yang sama.
“Kamu harus jadi anak yang kuat, pemberani dan dapat membela adikmu nanti”.
“Dahrul pasti bisa Ma, Mama tenang saja”.
Risda tersenyum dan membelai kepala putranya. Dahrul mengarahkan mata ke perut ibunya yang belum mengecil, artinya adiknya belum juga lahir, setelah hampir dua hari mengeluh dan dilarikan ke rumah sakit ini. Dahrul terus berusaha tersenyum, walau sebenarnya jiwa kecilnya meronta.
Walau masih SD Kelas IV, tapi Dahrul tahu apa yang sedang menimpa ibunya, ia tahu bagaimana sakit yang sedang ibunya tanggung saat ini, Dahrul sebenarnya sangat kasihan, iba dan tak bisa memandang ibunya lama lama, apalagi jarak satu keluhan dengan keluhan lain, itu hanya ukuran detik.
“Apapun yang terjadi pada Mama, jadilah anak yang kuat, jangan menangis, Mama nggak suka anak Mama jadi cengeng”.
Dahrul menggeleng. “Dahrul akan jadi kuat untuk Mama”.
Risda tersenyum diantara keluhannnya. “Untuk Adik ..”.
Dahrul anggukkan kepala. “Pasti Ma, Dahrul pasti bisa”.
Suasana menjadi hening, Dahrul terus memandangi wajah ibunya yang kini berusaha memejamkan mata, Dahrul membelai kening ibunya, Risda langsung menggenggam tangan Dahrul dan menciumnya. Dahrul bahkan harus menengadah ke langit langit untuk menahan agar air matanya tak turun.
“Dahrul pulang saja ya, besok pulang sekolah baru kemari lagi”.
Dahrul menggeleng. “Tapi Ma…”.
Risda memaksakan senyumnya. “Mama nggak apa apa Nak, pulanglah dengan Paman Mahdan. Pamanmu dimana ?”.
Dahrul menggeleng. “Dahrul kurang tahu Ma, tadi paman disini kok”.
Mutia yang sejak tadi ada di balik pintu langsung berbalik dan langkah seribu menuju musholla, ia tahu suaminya Mahdan ada disana. Mutia bahkan lansung masuk dan duduk di samping Mahdan saat Mahdan masih dalam posisi tasyahut akhir. Begitu Mahdan mengucapkan salam, Mutia langsung mencolek.
“Abang di cari Kak Risda. Tadi, ini barusan, Kak Risda nanya abang ?”.
Mahdan mendelik. “Sudah bagaimana Kak Risda ?”.
Mutia menggeleng. “Belum ada perkembangan Bang”.
Mahdan menggeleng, langsung berdiri dan pergi begitu saja. Kali ini Mutia yang menggeleng, bahkan Mahdan sama sekali tak menunggunya, Mahdan berlalu begitu saja meninggalkan Mutia yang tentu tak bisa berjalan cepat, kandungan Mutia hanya beda tiga bulan dengan Risda.
Mutia kembali menggeleng, juga melangkah mengikuti Mahdan, tentu saja tujuannya pasti ke ruangan Risda. Mutia paham bagaimana Risda dimata suaminya, bagaimana Risda dalam hidup Mahdan, Risda sudah bagai kakak bagi Mahdan, semua persoalan yang pelik ia sampaikan ke Risda, sehingga Risda memang menjadi tempat mereka mengadu dan mengeluh.
Ketakutan Mahdan soal Risda sangat wajar, Mutia juga sudah tak bisa mengatakan apapun saat ini. Mutia hanya bisa berharap ada keajaiban yang datang membantu kakak iparnya, hanya itu yang bisa, karena dari sisi medis, semuanya sudah tak bisa dikendalikan lagi.
Mutia hanya berdiri di dekat pintu, tapi kode Mahdan cukup membuat Mutia tahu apa yang di inginkan Mahdan. Mutia langsung menarik tangan Dahrul keluar, ada alasan yang cukup, Dahrul belum shalat isya, Dahrul anggukkan kepala dan keluar ruangan ibunya.
“Dan …”.
Mahdan makin mendekat.”Iya Kak, aku disini Kak”.
“Bawa saja Dahrul pulang. Besok pulang sekolah saja baru kemari lagi”.
__ADS_1
Mahdan anggukkan kepala.”Iya Kak, Dahrul shalat dulu”.
Risda anggukkan kepala. “Dan ..”. Risda mengeluh dan memegangi dadanya lagi. “Kalau terjadi apa apa sama Kakak, kau jangan biarkan Dahrul sedih ya Dan”.
Mahdan sudah menghusap matanya. “Kakak jangan ngomong gitulah Kak”.
Risda senyum, walau tampak sangat terpaksa. “Abangmu bisa nggak konsen Dan, kau jangan biarkan Dahrul, jaga dia”.
Jemari Mahdan sudah meremas pinggir ranjang. Mutia melatakkan tangannya di kedua bahu suaminya, Mutia juga sudah tak mampu menahan sedihnya, apalagi Mutia tahu persis keadaan kakak iparnya, sampai hari ini mereka masih menguasahan donor untuk Risda, tapi belum ada sinyal baik sama sekali.
Hanya berselang tak sampai tiga puluh menit dalam diam, Asrul dan Dahrul muncul di pintu. Mahdan berdiri, menarik tangan Dahrul setelah permisi ke ayah dan ibunya, Mutia juga ikut, di pintu, mereka ketemu dengan Haris yang baru sampai dari Kalimantan.
Haris menarik tangan Mutia menjauh dari Mahdan dan Dahrul, Mutia ikut saja, ia merasa Haris punya banyak pertanyaan dan Mutia adalah orang yang tepat untuk menjawab semua pertanyaan itu.
“Sampai dimana kakakmu Tia ?”.
Mutia menggeleng. “Sudah terlampau jauh Paman”. Mutia malah menangis. “Kita hanya bisa berharap ada pendonor dalam waktu dekat”.
Haris tercekat, jantungnya langsung bergemuruh kencang. “Sudah dicari Tia ?”.
Mutia anggukkan kepala. “Sudah Paman, tapi belum ada respon”.
Haris tampak lemas, ini tentu membuat Haris mati kutu, pandangannya malah mulai sedikit kabur, apa jadinya jika pendonor tak ketemu juga, ini tentu sangat membuat hati Haris teriris, sangat pedih. Andaikan boleh mengambil jantungnya, Haris akan dengan senang hati melakukannya.
Haris memeluk Dahrul sangat erat, Dahrul juga melakukan hal yang sama, setelahnya Dahrul melambaikan tangan, Haris membalas dengan hati yang makin teriris, Dahrul berlalu bersama Mahdan dan Mutia, Haris sedih melihat cucunya, walau sedikit tenang karena melihat ada ketegaran dimata Dahrul.
“Ayah, ayah kapan nyampai ?”. Asrul berdiri dan menyalami ayah mertuanya saat melihat Haris masuk.
Haris langsung mendekat ke Risda. “Apa khabar sayang ayah ?”.
Risda mengembangkan senyumnya, Risda menangkap tangan ayahnya, mencium menempelkan telapak tangan itu di pipinya. Haris berulang kali mengecup kening putrinya, matanya sudah berlinang, rasa tak mampu melihat wajah Risda yang sudah menggambarkan penderitaan yang besar.
Berselang dua jam setelahnya Risda tiba tiba mengeluh panjang dan memegangi perutnya, Asrul langsung berlari mencari dokter. Tak lama dokter Laila yang ahli kandungan datang dengan seorang bidan di dampingi tiga orang perawat dengan peralatan masing masing.
Setelah melakukan beberapa observasi, dokter Lailamemutuskan melakukan vacum, Asrul menerima saja, Haris juga hanya bisa anggukkan kepala. Proses dimulai, hanya berjarak beberapa menit saja, seorang putri kini terlahir ke dunia, tapi ibunya langsung kehilangan kesadaran.
Semua langsung sibuk, yang paling utama adalah memasangkan oksigen untuk Risda, putri kecilnya menangis keras, setelah dibersihkan, Asrul meraih putrinya dan melantunkan iqamah kekedua telinga sang putri, setelah itu perawat kembali mengambil alih, sang putri dibawa ke ruangan khusus.
Asrul dan Haris sama sama kasak kusuk, dokter Laila langsung telephon dokter Muhli yang ahli jantung, yang selama ini memang menangani dan memantau perkembangan Risda, karena semuanya tahu kalau Risda sakitnya itu. Tak lama, dokter Muhlijuga muncul dan langsung melakukan pemeriksaan panjang.
“Bagaimana dok ?”. Agung yang baru tiba maju bertanya, yang lain tampak mematung, sama sekali tak ada yang bisa mengeluarkan suara.
Dokter Muhlimengeluh panjang. “Kita belum ketemu pendonornya ya ?”.
Semua lansung lemas, pertanyaan dokter Muhlisudah cukup memberikan jawaban tentang apa yang sedang berlangsung. Asrul dan Haris bahkan sudah serasa tak kuat menahan tubuh sendiri, Asrul sama gemetarnya dengan Haris, lutut keduanya sudah goyang, bergetar kuat.
Asrul dan Haris bahkan tidak menjawab apapun saat dokter Muhlipermisi setelah memasang semua peralatan yang dibutuhkan di tubuh Risda. Semua yang diruangan saling pandang, sama sama mengeluh lengkap dengan keresahan masing masing, semua tampak larut dalam kebingungan.
Masih subuh saat Asrul setengah berlari mencari dokter Muhli, sang dokter memang susah wanta wanti, sehingga selesai shubuh Muhli langsung menuju rumah sakit, ia ingin melihat perkembangan menantu pemilik rumah sakit ini. Asrul langsung menarik tangan Muhli yang akhirnya ikut setengah berlari.
Muhli langsung melakukan banyak tindakan, satu persatu Muhli lakukan dengan penuh konsentrasi, tapi untuk yang kesekian kalinya Muhli menggeleng, ia bahkan menghusap mukanya usai memeriksa mata dan nadi Risda. Muhli menghela nafas lebih panjang, membuka alat oksigen Risda.
__ADS_1
“Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun”.
Haris langsung layu, ia benar benar terjatuh ke lantai. Apa yang dikatakan dokter Muhlisudah menjelakan semuanya, putrinya Risda sudah dijemput oleh yang Maha Kuasa, sudah tak bisa melanjutkan baktinya lagi. Haris menyandar ke dinding dan meremas dadanya yang berdenyut sakit, sangat sakit.
Agung juga terpaku, hampir sepuluh menit Agung berdiri bagai patung. Agung tersadar saat beberapa perawat mulai membenahi, angkat tubuh Risda ke ranjang dorong, Agung ikut melangkah, Haris juga ikut tertatih, mengikuti langkah Asrul menuju ambulance.
Seisi rumah sakit gempar, semuanya sama sama menitikkan air mata, bahkan ada banyak perawat yang tersedu sedu, semuanya sama sama terpukul dengan kepergian Risda, rumah sakit bagai berhenti, semua pegawai menyerbu ke halaman, berusaha menggapai jenazah Risda.
Bahkan saat ambulance sudah meninggalkan rumah sakit, masih ada ratusan perawat yang terduduk lesu di teras. Masih banyak yang menangis, rasa terkejut dan kehilangan yang dalam menyerang mereka hingga menusuk dalam. Sikap dan prilaku Risda selama hidupnya terhadap mereka membuat para perawat tak kuasa menahan haru, merasa terpukul dan bersedih dengan keadaan ini.
Agung sudah mulai menemukan kekuatan, Agung mengeluarkan ponselnya, tangannya begitu gemetar mengetik pesan berkabung kepada teman temannya, Agung merasa perlu untuk menyampaikan hal ini kepada semuanya, termasuk kepada saudara iparnya.
Widiya langsung meletakkan sendoknya, niatnya untuk sarapan hilang seketika, air mata Widiya sudah mengalir deras, berulang kali ia membaca pesan WA itu, benar, itu memang pesan dari Agung yang mengabarkan kalau menantunya sudah tak ada, sudah pergi untuk selamanya.
Gunawan yang baru keluar kamar mandi terkejut melihat ibunya. “Mama Kenapa ?”.
Widiya menatap Gunawan. “Kakakmu Gun”.
Dengan penuh penasaran Gunawan mengambil ponsel ibunya. Tangan Gunawan langsung bergetar, Gunawan terduduk dan kembali membaca pesan yang ada di ponsel ibunya.
“Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun. Telah Berpulang ke Rahmatullah menantu kami Risda Nalia Binti Haris Arianda Nasution, Istri dari anak kami Asrul Sutrisno, pagi ini pukul 06.25 WIB di RS Sentra Medika. Kami yang berduka Agung Laksana / dr. Meeta”.
“Kakak Risda … Kakak”.
Gunawan malah sudah meraung, ia menangis keras bagai anak kecil, Widya hanya bisa memandangi saja, Widya tahu apa dan siapa Risda bagi Gunawan, bukan hanya sebatas tetangga dan anak teman ayah dan ibunya. Tapi Risda jauh lebih dari itu, Risda bagi Gunawan adalah kakak, kakak terbaik yang pernah ia punya.
Saat kecil, Gunawan terbiasa tidur dalam pelukan Risda, memandikan dan mengganti baju Gunawan, membawa Gunawan jajan, menyuapkan, hingga menemani Gunawan jalan jalan. Saat Gunawan kuliah ke Surabaya, Risda adalah orang yang paling ia rindukan setelah ayah dan ibunya, Gunawan sangat terluka.
Lufti setengah berlari mendengar raungan Gunawan, dan makin terkejut saat melihat yang menangis bukan hanya anaknya, tapi juga istrinya. Widya hanya memberikan ponselnya, Lufti juga terperanjat saat membaca pesan Agung. Lufti meletakkan ponsel Widya, ambil ponselnya dan menghubungi Agung.
“Gung .. ini ..”.
Agung terdengar mendesah. “Iya Luf. Menantuku sudah tak ada”. Agung kembali menangis. “Risda sudah pergi Luf”.
“Iya, Iya, gua kesana Gung, gua kesana”.
“Luf, minta tolong Luf”.
“Iya, Iya.. kenapa Gung ?”.
“Jemput Dahrul ke sekolahnya”.
“Iya Gung … Iya”.
"Bawa ke rumah langsung ya Luf".
"Iya .. Iya Gung, iya .. gua jemput sekarang".
Lufti bagai orang linglung, bingung. Widya juga ikut berdiri, Widya tak bisa sabar, ia memilih naik motor bersama Gunawan, menurutnya terlalu lama jika harus memutar menuju sekolahan Dahrul. Lufti tak bisa bicara apa, begitu istri dan anaknya menghilang, Lufti mengeluarkan mobilnya dan ikut keluar.
Lufti menjalankan mobil dengan sangat perlahan, dada Lufti naik turun, tak ada kekuatan apapun yang mampu menahan air mata Lufti yang langsung mengalir begitu deras, Lufti membiarkan saja air mata itu membahasai pakaiannya, bayangan senyum Risda terus mengisi kepala Lufti yang sekarang sudah mulai berdenyut, ada banyak rasa sakit yang menendang jantung Lufti.
__ADS_1
…. Bersambung …