Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
S2 : Tanah Kelahiran


__ADS_3

Perjalanan lanjut, masih Asrul yang pegang kemudi, sesekali Asrul melirik ke kaca yang ada di atas kepalanya, memandangi sang istri yang asyik dengan keripiknya, tak ada suara apapun yang terdengar kecuali suara kripik yang pecah di mulut Risda, Asrul kembali hanya bisa menggeleng, heran melihat istrinya yang seperti tak mau berhenti mengunyah keripik yang ada di tangannya.


Masih di Bonjol, suasana susah senyap, Natalia dan Risda sudah sama sama terlelap, Haris juga tampaknya sudah mulai mengantuk, Asrul tak lagi mengajak ayah mertuanya ngobrol, Asrul berharap Haris juga tertidur, dengan begitu ia bisa mengeluarkan jurus balapnya, paling tidak sebelum subuh bisa sampai di Panyabungan.


Tapi sekarang, justru Haris yang banyak omong, Asrul hanya menjawab iya dan tidak saja, hingga Asrul behenti di Masjid Parkumpulan, keduanya sama sama turun menuju kamar kecil, sedang Natalia dan Risda masih tetap dengan mimpi indahnya masing masing.


Hanya sebentar, perjalanan berlanjut, masih Haris yang banyak bicara, tapi itu tak lama, begitu meninggalkan Lubuk Sikaping, Haris benar benar tertidur. Asrul cukup sering melirik, begitu yakin kalau Haris memang sudah tertidur, Asrul pun memulai aksi balapnya.


Dengan cepat mobil yang dikendalikan Asrul sudah melewati Panti, tak sampai tiga puluh menit sudah mencapai Rao, tapi Asrul harus melupakan selera balapnya saat Rao benar benar tertinggal, jalanan mulai sedikit kurang bersahabat, bahkan tanpa sadar, tak sengaja, Asrul melindas lobang yang lumayan.


Lonjakan ini membuat Haris terbangun, Asrul melirik kebelakang sebentar, Asrul agak lega karena yang dua dibelakang hanya bergerak sedikit dan kemudian kembali melanjutkan tidur masing masing, kini Asrul harus lebih konsen, bahkan ada jalan yang sama sekali tak bisa dipilih, nyaris lobang seluruhnya.


“Ternyata belum berubah ya Rul ?”.


Asrul agak mengerutkan keningnya. “Maksudnya Yah ?”.


Haris tertawa kecil. “Tandanya sudah masuk Sumut”.


Asrul jadi ikut tertawa. “Tapi kata Tulang Besar, Tulang Rohim, dari Pasar Maga sampai ke Sidimpuan nggak begitu parah lagi Yah. Kalaupun ada, katanya tak separah ini. Tapi, Asrul nggak tahu juga, sudah lima tahun juga nggak kesini”.


Haris tertawa kecil lagi. “Lima tahun ya Rul”.


Asrul anggukkan kepala. “Sudah lima tahun juga Yah”.


Haris kembali tertawa kecil. “Kalau Ayah sudah berapa tahun ya, 6 kurang 48, berarti sudah 42 ya. Sudah lama sekali ternyata”.


Asrul ikut tertawa. “Itu bukan lama lagi Yah, lama sangat”.


Keduanya kini sama tertawa. Haris jadi dag dig dug, ada rasa kurang sabar sekarang, ingin cepat cepat sampai ke Kota Sibolga, ingin melihat lagi bagaimana kota tempat ia di lahirkan, 42 tahun ternyata, sudah 42 tahun Haris meninggalkan kota itu, dan baru sekarang kembali, terlalu lama.


“Jam berapa Rul ?”.


Asrul melirik jam di tangannya. “Masih Pukul 02.00 WIB Yah”.


Haris anggukkan kepala. “Kalau ada penginapan kita berhenti saja Rul, mudah mudahan ada kamar kosong, istirahat saja dulu, besok pagi baru kita lanjut”.


Asrul anggukkan kepala. “Kita coba singgah di penginapan yang di Dalan Lidang itu saja Yah, mungkin ada nanti”.


Haris anggukkan kepala. “Boleh Rul”.


Dan kejadian lagi, saat berselisih dengan truck, Asrul tak dapat memperhatikan dengan jelas, mobil kembali disambut lobang, yang ini lumayan. Bahkan membuat Natalia dan Risda ikut terbangun, Asrul menggeleng, Haris juga berdecak, ia tahu Asrul tak bisa mengelak.


“Apa sih Bang. Kok kayak naik kuda begini ?”. Risda protes.


Asrul malah tertawa mendengar protes Risda. “Kuda apaan sih Dek”.


“Ini jalannya”.


Asrul kembali tertawa kecil. “Itu mah lobang”.


“Kok ada lobang ?”.


Asrul hanya menggeleng, tidak tahu mau jawab apa lagi. Risda menatap keluar, ada rasa terkejut, ia tak menyangka jalannya begitu, perasaan Risda tidak seperti ini, tampaknya Natalia juga sama, kini keduanya malah asyik memperhatikan jalanan, tak ada niat untuk tidur lagi.


“Ini jalan apa namanya Bang ?”.


Asrul menggeleng. “Nggak tahu, namanya apa Yah ?”. Asrul malah nanya Haris.


Haris ikut menggeleng. “Jalan Lintas Sumatera kali ya”.

__ADS_1


Risda tertawa mendengar jawaban ayahnya, padahal memang itu, tapi Risda merasa lucu saja, masa ada namanya jalan lintas, biasanya kan nama itu identik dengan beberapa hal, paling populer nama pahlawan gitu, tapi Risda akhirnya milih cuek saja, terserah namanya apa, yang jelas jalan lanjut.


Benar ternyata, begitu masuk Pasar Maga, jalanan mulai membaik, tapi Asrul tak lagi punya selera balapan, karena semuanya sudah bangun, walau bicara hanya sesekali saja, tapi semuanya tak lagi ada yang mencoba untuk memejamkan mata, malah sekarang sama sama memperhatikan daerah yang mereka lewati.


“Nah, ini dia pesantrennya Dek”.


Risda sedikit menegakkan tubuhnya. “Semuanya ini Bang ?”.


“Sekolahnya yang sebelah kiri saja, yang kanan itu pondok tempat tinggal santri laki lakinya, mereka begitu disini, yang perempuan saja yang berasrama”.


Risda terus memperhatikan, mobil memang semakin melambat, Asrul sengaja begitu agar Risda dapat melihat dengan sepuasnya, mobil terus berjalan dan beberapa menit kemudian Asrul belok kiri, masuk ke hotel yang tadi mereka bicarakan dengan Haris sebelum ini.


Ternyata ada, semua sama sama turun. Asrul paham mengapa ayah mertuanya ambil tiga kamar, itu artinya Asrul dan Risda kebagian satu kamar. Asrul hanya ambil tas kecil dan langsung menuju kamar bersama Risda. Asrul tentu saja cukup mengantuk sekarang, tidur adalah pilihan yang sangat brilian.


Tapi mau bilang apa, Asrul tak bisa langsung memejamkan mata, geliat Risda buat Asrul jadi bereaksi, walau dalam kondisi yang capek, ternyata urusan yang satu itu jadi juga, setelah itu baru keduanya sama sama memejamkan mata, tertidur.


Asrul hampir melonjak, kenapa tidak. Saat ia membuka mata, yang pertama dilihat adalah jam di tangannya, ternyata sudah pukul 08.55 WIB, bolehlah sudah dikatakan jam 09.00 WIB, patut saja perutnya sudah demo, Asrul menepuk pelan pipi Risda.


“Bangun Dek, sudah jam sembilan ini”.


Risda membuka mata sedikit. “Jam berapa Bang ?”.


Asrul mendekatkan jam tangannya, mata Risda langsung melotot, buru buru berdiri dan langsung ke kamar mandi, Asrul akhirnya menyusul dan langsung mandi sama sama, gerakan mandi yang super cepat, karena Risda juga sudah sangat merasakan gerakan berontak perutnya minta di isi.


Keduanya sama keluar, untung memang, Asrul dan Risda langsung menemukan Haris dan Natalia yang sedang berada di café hotel, keduanya sama menyusul, sama memesan dan sama sama menyantap sarapan masing masing tanpa mengeluarkan satu katapun.


Ingin cepat, begitu selesai sarapan, hanya berjarak tak sampai tiga puluh menit, semuanya sama sama menuju mobil, kali ini Haris yang ambil alih kemudi, berjalan tak begitu kencang menuju Kota Sibolga, tak banyak cerita yang muncul hingga memasuki Kota Padangsidimpuan.


“Kita singgah dimana nih Rul ?”.


Asrul menggeleng. “Nanti pas pulang saja Yah, Tulang lagi nggak disini, Tulang Kecil juga nggak disini katanya, Asrul sudah hubungi tadi”.


Asrul anggukkan kepala. “Iya Yah, langsung saja”.


Asrul rasanya memang tak pantas lewat begitu saja, sejak dari Lumban Dolok Siabu tadi, Asrul sudah menghubungi saudara ibunya yang masih tinggal di Kota Padangsidimpuan, ada dua orang lagi, abang tertua ibunya dan adik bungsu ibunya yang biasa mereka panggil Tulang Kecil.


Tapi dua duanya memang sedang tak ada, sekarang lagi liburan sekolah, kedua paman Asrul itu juga sedang liburan, bahkan Tulang Kecil jalan jalannya ke Bukit Tinggi, pasti tadi malam mereka berselisih di jalan, tapi saling tidak tahu satu sama lainnya.


Kota Padangsidimpuan terlewati sudah, hanya bisa perlahan saja melewati parsalakan, bukan hanya karena jalannya yang menanjak, tapi memang arus sedang padat, apalagi ada tiga truck yang berjalan beriringan di depan mereka, dengan medan jalan yang berliku, akan sulit untuk melaluinya.


Tapi Haris bukan supir sembarang supir. Dengan berbagai upaya mengintip kesempatan, Haris akhirnya mampu melewati tiga truck tersebut sebelum memasuki kawasan wisata Parsariran, Batang Toru.


“Nggak mau beli salak ?”.


Natalia dan Risda saling pandang. “Terserah ayah saja”. Risda yang jawab.


“Kamu Rul ?”.


Asrul menggeleng. “Nggak juga, nggak apa apa Yah”.


Haris tak menjawab lagi, ia terus menjalankan mobil tanpa berhenti, karena Haris juga kurang dengan salak,  tapi memang, untuk melaju kencang tetap tak bisa dilakukan, bahkan macet dan berhenti cukup lama di pusat pasar Batang Toru, tak ada celah untuk berjalan.


Setelah berhasil melewati pasar, Haris sedikit mempercepat laju kenderaan, inginnya tetap sama, ingin sekali cepat sampai, ingin sekali melihat langsung kota kelahirannya, rasa tak sabar Haris semakin meningkat, semakin jauh meninggalkan Batang Toru, laju kenderaan semakin meningkat.


Dengan mudah mobil melewati perbatasan Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah, Anggoli. Sibabangun juga cepat terlewati, Pinang Sori juga begitu, bahkan dengan cepat mereka sudah mencapai Huta Balang, Haris terus meningkatkan kecepatan hingga Huta Balang lewat dengan mudahnya.


Saat melewati pemandangan Hajoran, senyum Risda agak mengembang, melihat laut mengingatkan Risda masa kecilnya yang selalu pergi bersama ibunya ke pantai, hampir tiap minggu malah. Pantai adalah tempat pavorite mereka untuk menghabiskan hari libur di akhir pekan.


Tapi, jantung Haris berdegup sangat kencang saat memasuki Kota Pandan, tangan dan kaki Haris kini malah gemetaran, sudah berupaya untuk menetralisirnya, tapi Haris tak bisa, tangan dan kakinya malah semakin bergetar, hingga hampir tak bisa Haris kendalikan lagi.

__ADS_1


Haris tak sanggup, ia menepikan mobil yang membuat semua bertanya tanya, karena semuanya yakin tujuan mereka belum sampai, Asrul sudah pernah kemari, bahkan sering, sehingga tahu kalau ini belum Kota Sibolga sama sekali.


“Kenapa Yah ?”. Asrul akhirnya bicara juga.


Haris menggeleng. “Ayah gemetar Rul, kamu yang bawa”.


Walau menggeleng, Asrul ikut turun juga, keduanya tukar posisi sekarang, Haris beranjak ke tempat yang tadi diduduki Asrul dan Asrul sekarang yang memegang stir untuk melanjutkan perjalanan. Asrul yakin saja, apalagi ini bukan pengalaman pertama Asrul di daerah ini.


“Kita kemana dulu Yah ?, ke Tukka atau langsung ke Sibolga ?”.


Haris menatap Asrul sebentar. “Langsung ke Sibolga saja Rul”.


“Sibolga kita kemana Yah ?”.


“Jalan Gambolo, kamu tahu ?”.


Asrul anggukkan kepala. “Mudah mudahan Asrul belum lupa”.


Haris hanya tertawa kecil, ia tahu juga kalau Asrul sudah sering kemari, boleh jadi Asrul memang tahu alamat yang Haris maksudkan. Sedang Natalia dan Risda yang duduk di belakang hanya bisa memilih diam, karena keduanya memang sama sekali buta dengan daerah ini, mereka baru kali pertama sampai kesini.


Mata Natalia dan Risda yang terus memperhatikan semua yang bisa dilihat di luar jendela mobil, Natalia menunjuk ke arah gunung, Risda ikut melihat, keduanya sama senyum, ada tulisan besar dipuncak gunung itu, Sibolga Kota Ikan. Itu artinya, mereka sudah sampai ke kota yang tuju.


“Yang begini jadi trand sekarang ya Ma, dimana mana ada”.


Natalia anggukkan kepala. “Tapi memang bagus kan ?”.


Risda ikut anggukkan kepala. “Tapi kasihan yang buat Ma, pasti capek bawa bahannya sampai ke atas itu, kan pasti berat bahannya”.


Natalia menggeleng. “Namanya juga kerja, ya, begitu. Mau bilang apa, mereka juga kan karena sanggup sih Ris, kalau nggak, mana mungkin juga”.


Risda angguk kepala juga, tapi tetap saja membayangkan betapa mereka yang mengerjakan itu pasti begitu sulit, gunungnya tinggi dan tampaknya curam. Pasti butuh perjuangan untuk mencapai kesana, sedang jalan hanya bawa badan saja sudah entah bagaimana, ini bawa bahan pula, Risda menggeleng, tak bisa membayangkan.


Ternyata Asrul masih ingat, buktinya ia belok kiri dan masuk ke Jalan Gambolo, jantung Haris makin tak menentu, ia melihat kiri dan kanan, semuanya sudah sangat tampak berubah, Asrul memperpelan jalannya mobil, bahkan sangat pelan, karena yakin ayah mertuanya sedang mencari alamat.


“Lanjut Yah ?”. Asrul bertanya saat sampai ke persimpangan jalan.


“Lanjut Rul, terus saja”.


Asrul membawa mobil menyeberangi jalan R. Suprapto, Asrul juga tahu kalau disini ada uniknya, jalan yang dibelah oleh Jalan R. Suprapto tidak merubah nama jalan, sehingga dikenal ada arah gunung, ada arah laut, jalan Gambolo ini misalnya, yang arah ke SM Raja namanya Gambolo arah gunung, yang mengarah ke laut namanya Gambolo arah laut, hebatnya lagi, kelurahannya juga sudah beda.


Jalan Gambolo arah laut itu berada di Kelurahan Pancuran Pinang, sedang jalan Gambolo arah gunung itu berada di Kelurahan Pancuran Kerambil, dan tidak hanya jalan Gambolo, ada beberapa jalan lagi yang demikian, Jalan Aso Aso, Jalan Kakap, Jalan Hiu dan beberapa jalan di Kelurahan Pasar Belakang dan Kelurahan Pancuran Gerobak.


“Kita di rumah yang pagar hijau Rul, yang ada jambunya itu”.


“Bisa masuk ke halamannya Yah ?”.


Haris menggeleng. “Nggak Rul, parkir di pinggir jalan saja”.


Asrul ikut mengangguk, menghentikan kenderaan tepat di pinggir pintu pagar rumah yang di tunjuk Haris, Asrul melihat sekilas sebelum benar benar mematikan kenderaan, memang sama sekali mobil tidak akan bisa masuk, halaman sangat kecil yang hanya dapat menampung sepeda motor saja, apalagi disana terdapat banyak tumbuhan yang mempersempit lahan.


Asrul menutup semua kaca dan menjadi orang terakhir yang turun, untung Risda menunggu, kalau tidak Asrul bisa berjalan sendiri masuk pekarangan rumah. Asrul menatap sekeliling, ada rasa iba juga, jika tahu sebelum ini, kenapa rumah adik kakek mertuanya ini di perbaiki saja, batin Asrul.


Jantung Haris belum sama sekali tenang, ia serasa gamang saat menginjakkan kaki ke tanah, Haris cukup lama memandang rumah ini, rumah dimana ia dibesarkan, Haris juga menatap rumah disebelahnya, rumah kontrakan ayahnya dulu, rumah dimana ia dilahirkan, rumah yang punya banyak kenangan bersama ayah dan ibunya, walau masih kecil dulu saat pergi dari sini, tapi Haris masih ingat semuanya.


Bagaimana tidak, hanya tumbuhan yang memadati pagar saja yang berubah, pohon jambunya juga, ini dulu masih sangat kecil. Tapi selebihnya masih sama, bahkan pintu rumah itu belum berganti, daun jendelanya juga masih sama, itu artinya, pintu dan daun jendela itu sudah berusia lebih dari 45 tahun, bahkan lebih tua dari Natalia.


Haris memang senyum, tapi sudut matanya ada yang berontak keluar, Haris tak menyangka, setelah sekian tahun lamanya, bahkan saat ia sudah nyaris menua, ternyata ia masih bisa menginjakkan kaki kesini, ke tanah kelahirannya, te tanah masa kecilnya.


…. Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2