
Setelah merasa sudah selesai, semua sama sama beranjak, ambal juga sudah di gulung, sekarang hanya tinggal moment bubar, saling bersalaman, ngobrol pendek dan yang terpenting hanya janji Bisma yang akan melakukan lamaran dalam waktu yang tidak lama lagi, bermusyawarah dulu dengan beberapa keluarga.
Mahdan menahan langkah Mutia dengan menggenggam tangannya, Mutia pun ikut saja saat Mahdan memilih sedikit menjauh dari kerumuman, kedua mata mereka bertemu, ternyata memang ada getaran yang menyusup masuk ke relung hati masing masing, Mutia bahkan bingung kenapa perasaannya jadi begini.
"Andai itu benar".
Mutia menoleh. "Apanya Dan ?".
"Andai itu benar Tia, andai benar aku adalah calon suamimu, aku nggak tahu harus mengumbar kegembiraan kemana".
Mutia menggeleng. "Apaan sih Dan ?".
Mahdan menggeleng. "Serius Tia. Aku memang sudah sangat ingin memiliki kedekatan denganmu sejak masih SMP".
Mutia mendelik. "Ada ada saja".
Mahdan mengangguk menyakinkan. "Itu memang benar, aku serius soal itu". Mahdan menatap Mutia yang sekarang menunduk. "Tia, bagaimana kalau itu benar benar kita lakukan, ijinkan aku benar benar menjadi calon suamimu".
Mutia tak menjawab, Mutia juga diam saat Mahdan meraih ponselnya dan mencatatkan nomornya disana, melakukan misscall, sehingga Mahdan bisa menyimpan nomor Mutia, Mahdan merasa cukup untuk ini, sehingga kembali melangkah mendekat ke yang lain.
Mahdan, Iskandar dan ayah ibunya melambaikan tangan saat keluarga Agung lebih dulu meninggalkan gedung. Baru setelah itu semuanya masuk ke mobil Mahdan, tentu Mahdan tak akan membiarkan sepupu almarhum ayahnya kembali pulang naik taksi seperti kedatangan mereka tadi, Mahdan dengan senang hati mengantarnya.
Sampai di rumah Iskandar, Mahdan ikut turun, walau ayah Mahdan dan ibu Iskandar hanya sepupu jauh, tapi mereka sangat dekat, mereka masih berasal dari kampung yang sama, Lumban Dolok, Siabu, Mandailing Natal, Sumatera Utara, ditambah kondisi mereka yang berada di perantauan, membuat mereka sejak awal tinggal di ibukota ini sudah sangat dekat.
Ibu Iskandar yang lebih muda yang selalu mengalah, ia yang terus mengunjungi kediaman Mahdan, terutama setelah ayah Mahdan meninggal dunia, ibu Iskandar minimal sekali sebulan selalu melakukan kunjungan, bukan hanya sebatas merajut silaturrahim, tapi juga menghibur ibu Mahdan yang lebih banyak sendirian, karena anaknya hanya Mahdan seorang.
“Dan …”.
Mahdan menatap Bisma sebentar. “Iya, Amangboru”.
“Amangboru rencana mau ke rumah Reni itu minggu depan, kenapa nggak sama sama saja Dan”.
“Maksud Amangboru ?”.
“Ya, nanti kita barengan kesana sama ibumu juga. Sekali jalan dua tembakan gitu”.
Mahdan jadi tertawa. “Amangboru bisa saja”.
Bisma jadi ikut tertawa. “Harusnya kau yang duluan Dan, yang sama kau kan kakaknya, Iskandar kan kebagian adeknya”.
Tawa Mahdan langsung pecah, ia betul betul menggeleng, tapi menjadi tertarik juga dengan usul Bisma. Tapi, sejujurnya Mahdan belum seberani itu sekarang, Mahdan ingin memastikan dulu kalau Mutia memang mau ikut dalam rencana itu. Yang ada saat ini baru sebatas anggapan, ada rasa bersyukur juga dengan ulah Risda, ini menjadi pintu bagi Mahdan untuk mendekati Mutia secara terbuka.
Setelah mendapat telephon dari klien nya, Mahdan akhirnya permisi pulang, Bisma dan yang lainnya hanya anggukkan kepala. Iskandar masih terus geleng kepala, ia tak menyangka kalau abang sepupunya Mahdan malah dekat dengan Mutia, Iskandar tentu tak banyak tahu soal Mutia, selama ini dengan Reni, mereka juga menjalani hubungan jarak jauh, satu tahun sekali belum tentu ketemu.
Pagi datang dengan begitu cepat, Mahdan sudah komit untuk menemui Mutia pagi ini ke rumah sakit, Mahdan sudah banyak dapat info dari temannya yang bekerja di rumah sakit, Mahdan menjadi tahu kalau Mutia sudah sampai disana paling lama pukul 07.30 WIB, itu juga sudah terlampau lama, biasanya pukul 07.00 WIB Mutia sudah nongol di rumah sakit.
Mahdan mempercepat langkah kakinya saat mendengar ada keributan di lobby rumah sakit, jantung Mahdan langsung berdegub kencang saat melihat seseorang yang mendorong tubuh Mutia hampir jatuh, Mahdan berlari dan berhasil menangkap Mutia dalam pelukannya hingga tak menyentuh lantai.
Begitu Mutia kembali berdiri tegak, Mahdan melepaskan pelukannya dan kini mendekat ke yang mendorong. “Lu kenapa ?, main dorong kenapa ?”.
Melihat Mahdan yang tinggi besar, yang dorong Mutia langsung pucat. “Gua .. gua nggak sengaja Mas”.
Mahdan makin mendekat, si pendorong makin mundur. “Nggak sengaja gimana ?”.
“Maaf Mas, beneran nggak sengaja Mas, nggak tahu kalau itu dokter Tia”.
Mahdan makin mendekat, si pendorong sudah tersudut ke dinding. “Maksud lu ?”.
“Benaran Mas, nggak tahu itu tadi dokter Tia, gua terlampau emosi”.
Mahdan makin mendekatkan wajahnya. “Lantas ?”.
Si pendorong sudah pucat pasi, mata semua orang yang di lobby kini mengarah penuh ke Mahdan dan si pelaku keributan. Yan tahu ceritanya semua tentu menyalahkan si pendorong, ia bermasalah dengan istrinya yang disini bekerja sebagai cleaning servis, ia ingin menampar istrinya, Mutia marah, ia mendorong Mutia, untung ada yang menangkap, kalau tidak, Mutia pasti akan terjatuh ke lantai.
Meeta yang baru sampai langsung meminta penjelasan, setelah tahu jalan ceritanya, Meeta lebih dulu mengelus punggung Mutia yang tampak masih bengong, masih terkejut karena didorong tadi, dan bengong juga karena baru dapat pelukan Mahdan, bingung juga melihat Mahdan yang menekan orang yang mendorongnya.
Meeta mengarah ke Madhan langsung mendekat. “Dan”.
Mahdan menoleh dan langsung mengangguk menunduk. “Ibu”.
Meeta sudah sejajar dengan Mahdan. “Kamu suaminya Irna kan ?”.
__ADS_1
Pria itu anggukkan kepala. “Iya dok”.
“Kenapa kamu mau main tampar segala, ini rumah sakit, bukan rumahmu, main dorong Tia lagi, kalau tadi Mahdan nggak cepat dan Tia jatuh ke lantai, kamu mau tanggung jawab ?”.
“Maaf dok, saya .. saya.. benar benar nggak sengaja”.
Meeta menggeleng. “Kalau tadi Mahdan terlanjur emosi langsung nabok, tahan kamu ?, bisa nahan kamu ?”.
“Maaf dok, saya benar benar nggak sengaja”.
“Nggak sengaja, nggak sengaja, mikir nggak panjang. Sudah, bubar, pulang sana”.
Secepat kilat pria ini melangkah pergi keluar rumah sakit, Mutia sudah berada di samping Mahdan. Meeta hanya menggeleng dan langsung menuju ruangannya, Mahdan langsung mengelus kepala Mutia yang spontan memandangnya.
“Tia nggak apa apa ?”.
Mutia menggeleng. “Nggak apa apa Dan, Cuma terkejut saja”.
“Sialan itu orang, mau main tampar, emang istrinya salah apa ?, enak saja”. Umpat Mahdan lengkap dengan gelengan kepalanya.
“Ke ruangan Tia saja yok Dan”.
Mahdan anggukkan kepala dan mengikuti langkah Mutia menuju ruangannya. Mutia dan Mahdan tak sadar, apa yang terjadi pagi ini menjadi perhatian seluruh karyawan yang menyaksikan, yang diresepsionis sama sama saling pandang dan saling anggukkan kepala, karena mereka bukan pertama kali melihat Mahdan ada di rumah sakit ini, tapi melihat ada hubungan dengan Mutia, baru kali ini.
“Itu berarti pacarnya dokter Tia ya Kak, ganteng juga”. Bisik Ros.
Sinta yang dibisiki tersenyum. “Kayaknya iya Ros, dokter Meeta juga kenal”.
“Iya kan, soalnya tadi dokter Meeta bilang, untung nggak emosi, berarti benar tu Sin, itu pacarnya dokter Tia kali”.
Semuanya sama sama tertawa kecil, tapi intinya semua tampak senang, mereka juga tadi sempat emosi juga melihat suami Irma, datang datang marah, mau main tampar, dokter Mutia hanya ingin melarang malah dapat dorongan, enak pula bilang nggak tahu kalau itu Mutia, masa nggak jelas di matanya.
Mahdan hanya duduk di sofa yang ada di ruangan Mutia, memandangi sekeliling ruangan, kali ini Reni memang tidak datang, ia ada janji jalan jalan dengan Iskandar, sehingga hanya Mutia yang ada sekarang. Mahdan malah tak tahu Mutia kemana, tapi kemudian senyum merekah saat Mutia muncul dengan segelas kopi.
“Belum ngopi kan Dan ?”.
Mahdan senyum simpul. “Tau aja. Emang belum”.
Mahdan senyum lagi. “Masa sang pujaan hati di dorong saja, siapa yang nggak emosi coba, untung nggak kuputar lehernya tadi”.
Mutia menggeleng. “Jangan mulai dong Dan”.
“Apanya Tia ?, apa yang jangan di mulai”.
Mutia menggeleng lagi. “Kurang suka di rayu soalnya”.
Mahdan memandang Mutia yang juga sedang memandangnya, lama keduanya saling pandang, ditutup dengan senyuman, Mutia lebih dulu memalingkan wajah, tapi entah kenapa, jantung Mutia jadi bergerak lebih cepat dari yang seharusnya, Mutia jadi tampak kikuk, malah kini meremas jarinya sendiri, malah bingung kenapa ia menjadi seperti itu.
Mahdan makin mendekat ke Mutia, sedang Mutia sama sekali tak berani memangdang wajah Mahdan lagi, Mutia juga membiarkan saja saat Mahdan meraih jemarinya, diam juga saat Mahdan mulai membelai pelan jemari Mutia dengan jemarinya juga.
“Aku serius Tia, sama sekali bukan rayuan, apalagi gurauan. Aku memang ingin sekali menjadi bagian dari hidupmu”.
Mutia menggeleng lagi. “Kan, mulai lagi”.
Mahdan tertawa kecil. “Tia …. ijinkan aku menjadi suamimu”.
Mutia masih tertunduk. “Tia lebih tua darimu Dan”.
Mahdan kembali tertawa kecil. “Ah, cuma dua tahun. Memang kenapa ?”.
Mutia menggeleng. “Nggak tahu”.
Telunjuk kanan Mahdan mengangkat dagu Mutia, sedang tangan kiri Mahdan masih menggenggam jemari kanan Mutia, telunjuk Mahdan berhasil mengangkat wajah Mutia hingga keduanya kembali saling pandang, Mutia membalas senyum Mahdan tapi berusaha mengalihkan pandangan.
“Kita sudah saling mengenal jauh sebelum ini. Kenapa malah ada ragu ?”.
“Ragu ?, maksudnya apa Dan ?”.
Mahdan angkat bahu. “Aku benar benar ingin membangun hubungan denganmu Tia, aku tentu berharap Tia nggak ragu dengan keinginan itu”.
“Hubungan apa ?”. Tia menantang.
__ADS_1
Mahdan menebar senyum. “Kita menikah”.
Mutia menggeleng, tapi ada senyuman yang menghiasi bibir Tia. Lama Tia memandang Mahdan, ini membuat pandangan mereka kembali berbenturan, dan lagi lagi Tia yang kalah, ia lebih dulu memalingkan wajahnya sambil masih terus menggelengkan kepala.
“Please Tia, aku serius. Tak perlu Tia ragukan itu”.
Mutia kembali menggeleng. “Siapa yang ragu ?”.
Mahdan jadi sedikit tertawa. “Coba panggil Abang kalau begitu”.
Mutia melirik sebentar, meruncingkan bibirnya. “Apaan ?”.
“Iya, Panggil Abang, artinya sepakat, begitu”.
Mutia kembali menggeleng. “Iya Bang. Iya Bang Mahdan, …. ganteng”.
Mahdan tertawa lebar, tapi jelas ia sangat bahagia, sudah sejak Kelas VII SMP Mahdan suka melihat Mutia yang waktu itu sudah kelas IX. Tak sampai satu tahun Mahdan terus mencuri pandang ke Mutia.
Sayangnya mereka tak satu SMA, tapi Mahdan yang aktif di Palang Merah Remaja, sering ketemu dan berbincang dengan Mutia yang juga aktif di Organisasi yang sama, saat kuliah juga begitu, Mahdan sering pergi ke Kedokteran hanya untuk mencoba mencari wajah Mutia.
Walau sebenarnya itu makan waktu, karena jarak kampus Mahdan di Hukum, cukup jauh dengan Kampus Mutia, tapi penguntit itu selalu saja mencari celah, walau pada faktanya jarang berhasil menemui sasarannya, sangat jarang berhasil menikmati wajah Mutia, walau dari jarak yang cukup jauh.
“Abang sudah lama jatuh cinta padamu Tia”.
Mutia senyum dan geleng kepala. “Apa itu cinta ?, Tia nggak ngerti”.
Mahdan agak mengerutkan keningnya. “What ?, kok bisa ?, bagaimana kita membangun hubungan tanpa cinta ?”.
Mutia menggeleng. “Tia nggak paham itu Bang. Jika memang Abang ingin menikahi Tia, silahkan lamar, selesai. Kita sama sama menghadapi dunia, saling menutup dan saling melengkapi, Tia nggak ngerti yang lain”.
Mahdan angkat bahu. “Ok, nggak masalah, nggak masalah”.
“Ya sudah kalo gitu, lamar saja, selesai”.
Mahdan bingung, tak paham juga akhirnya, masa Mutia sama sekali tak ada romantisnya, tapi sejurus kemudian Mahdan tertawa juga. Yang penting, menikah dulu, soal cinta atau yang lainnya diurus belakangan, pacaran setelah menikah akan lebih baik, batin Mahdan.
Mutia sejak omongan Farhan semalam memang sudah kepikiran juga, usianya sekarang sudah 26 tahun, bukan lagi usia yang muda, bahkan banyak teman Mutia malah ada yang anaknya sudah dua, terkejut juga saat kakak iparnya ngomong begitu, tapi Mutia juga tak mengerti mengapa ia malah tak keberatan dengan apa yang Risda katakan.
Semalaman Mutia nyaris sulit memejamkan mata, Mutia sudah cukup lama kenal dengan Mahdan yang memang dulu adik kelasnya, ungkapan Mahdan yang mengatakan kalau ia memang ingin dugaan itu benar juga menjadi bahan pikiran Mutia, dan begitu terkejut dengan apa yang terjadi pagi ini, apalagi Mutia tahu, kalau Mahdan datang memang spesial ingin bertemu dengannya.
“Jadi, nggak masalah kan Tia, kalau kita menikah tahun ini”.
Mutia senyum tipis saja, entah kenapa, Mutia serasa memang sudah bulat siap menyerahkan diri untuk hidup bersama Mahdan. Mutia menggeleng. “Minggu depan juga nggak apa apa Bang”.
Mahdan jadi tertawa. “Kok aku jadi pengen cepat cepat ya ?”.
Mutia ikut tertawa. Sering keduanya bertemu pandang, ditutup dengan senyuman dan selalu Mutia yang kalah, lebih dulu memalingkan wajah, kulit putih Mutia sekarang sedikit memerah, ada perasaan lain yang seperti berlari mengejarnya, di saat yang sama, Mutia tak bisa berlari menghindar.
“Dok, ada pasien”.
Mutia anggukkan kepala. “Iya Bu, suruh masuk saja”. Mutia berdiri. “Bentar ya Bang, Tia periksa dulu”.
Mahdan hanya anggukkan kepala, begitu Mutia menghilang, Mahdan sekarang penuh dengan senyuman, padahal pagi ini Mahdan ada jadwal untuk ketemu dengan klien nya, tapi rasanya Mahdan lebih tertarik duduk disini menunggu Mutia, sehingga kirim SMS penundaan pertemuan, Mahdan makin lebar senyumnya karena sang klien malah menginginkan hal yang sama.
Ternyata pasien Mutia datangnya silih berganti, sehingga terpaksa membiarkan Mahdan sendirian di ruangannya, tapi yang namanya baru membangun kesepakatan, Mahdan bahagia bahagia saja walau hanya mendengar suara Mutia yang berbincang dengan pasiennya dari balik dinding.
Saat adzan dzuhur terdengar baru Mutia keluar dari ruang periksanya, Mahdan sambut dengan senyuman, keduanya sepakat makan siang di luar saja, tapi sebelumnya terlebih dulu ke musholla rumah sakit untuk shalat dzuhur, masih sempat mengejar untuk ikut berjamaah.
Para pegawai yang melihat Mutia dan Mahdan yang keluar dari ruangan Mutia membalas senyum Mutia dan Mahdan sambil anggukkan kepala, melihat Mutia yang mengamit lengan Mahdan, semua sekarang yakin dan paham kalau memang pria tampan itu memang calon suami Mutia.
Semuanya juga sepakat kalau keduanya tampak sangat cocok, keduanya masing masing memiliki kelebihan, ada rasa bahagia bagi semua orang yang melihat, karena mereka semuanya suka pada Mutia, sehingga melihat Mutia sudah ada calonnya, membuat semuanya tampak senang dan gembira.
Meeta yang melihat keduanya keluar dari rumah sakit ikut menebar senyum, bahagia. Meeta tak tahu apa yang sebenarnya sedang berlangsung, Meeta sama dengan anggota keluarga yang lain, yang menganggap kalau Mutia memang sudah punya hubungan khusus dengan Mahdan sebelum ini.
Melihat keduanya di acara makan makan saat wisuda Reni, semua anggota keluarga merasa kalau hubungan itu sudah lama, hanya saja keduanya tampak tak melakukan publikasi seperti Reni misalnya. Tapi, Meeta khususnya berharap, ungkapan Farhan di sambut kedua putrinya, akan lebih baik jika keduanya menikah sebelum Faridha datang dan menikah dengan Farhan.
Apalagi Mutia, usianya sudah menginjak 26 tahun. Satu usia yang seharusnya sudah menjadi seorang ibu, Meeta malah sudah mulai khawatir dengan putrinya yang satu ini, sehingga berharap ada keseriusan dengan Mahdan.
Ada kemungkinan juga laki laki minder melihat Mutia, bahkan sebentar lagi akan meraih gelar spesialisnya, ini mungkin menjadi beban juga, orang akan berpikir mendekati Mutia, sedang orang yang sepadan dalam artian sempit dengan Mutia sudah rata rata berumah tangga.
…. Bersambung …
__ADS_1