Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
Hari Bahagia Yang Tak Terlaksana


__ADS_3

Akhirnya pesta yang ditunggu tunggu Natalia maupun Haris sampai juga. Ya, hari ini adalah pesta resepsi pernikahan Haris dan Natalia, mereka menyimpulkan untuk menikah hanya dua bulan setelah Natalia wisuda. Peresmian pernikahan sendiri dilangsungkan di Kantor Catatan Sipil Jakarta Barat, tempat tinggal Natalia minggu yang lalu. Sayang Paman Jamil tak bisa menghadirinya, sebab masih berada dirumah sakit, sementara waktu pernikahan tak bisa lagi ditunda, ini sudah penundaan ketiga, akhirnya tetap dilangsungkan tanpa ada satu orangpun dari keluarga Haris. Tapi Haris dapat terobati dengan adanya Amang Tua dan Inang Tuanya yang berpakaian begitu rapi. Diacara adat, merekalah yang menjadi ayah dan ibu Haris.


Jamil memaksakan diri hadir, Jamil tak mungkin lagi mengecewakan Haris, kedatangannya pun ke Ibukota negara ini adalah untuk menjadi wakil dari ayah Haris dalam perkawinan mereka. Sudah dipernikahan tak bisa hadir, masa resepsi juga tak bisa. Dengan segala semangat Jamil berangkat, dan ternyata dokter yang menangani Jamil memberi izin untuk itu.


Begitu Jamil masuk kegerbang, langkahnya tertahan oleh Miranda dengan suaminya, Miranda itu teman sekampung Jamil di Sibolga, walau beda kelurahan, Jamil di Aek Manis, Miranda di Kota Baringin, tapi luas Kota Sibolga yang hanya sedikit, kurang lebih 5 Km persegi tak begitu sulit bagi warganya untuk saling kenal. Miranda langsung menyambut Jamil.


“ Wah, Mil, jauh sekali datang kemari, kamu kenapa ?”.


Miranda langsung memegang tangan Jamil yang tampak asing, memperhatikan tangan Jamil yang masih dibalut perban disana-sini. Jamil menerima jabat tangan Suami Miranda yang juga orang Sibolga, tentu saja Jamil kenal keduanya.


“ Eh Miranda, Jul, aku kecelakaan minggu lalu “.


“ Dimana Mil ?”.


“ Di Pasar Senen”.


Miranda mengangguk angguk saja. “ Jauh jauh datang juga Ya Mil “.


“ Demi keponakan “.


“ Oh.. iya.. ya Lia keponakan kamu, aku lupa “.


Kening Jamil berkerut. “ Lia “.


“ Lho, keponakan kamu kan “.


“ Iya.. bukan Lia, tapi Haris “.


Giliran Miranda yang bingung. “ Haris, bukan Lia, Lia lah, sakit ya sakit Mil, tapi sama keponakan bingung ?”.


“ Iya, Haris “. Jamil mengangguk. Tapi Miranda masih dengan wajah bingung.


“ Mil, Lia itu kan keponakan kamu, jangan mentang udah cerai kamu ngga’ mau akuin, ngga’ boleh gitu Mil “.

__ADS_1


“ Maksud kamu ?”.


“ Lia itu kan anak bang Pram “.


Jamil langsung menangkap tangan Miranda, Jamil bagai disambar petir, mukanya pucat pasi. Suami Miranda langsung menangkap dan memegang erat pinggang Jamil yang tampak mau rubuh. Jul Suami Miranda sekarang malah langsung peluk pinggang Jamil dan menaruh tangan Jamil dibahunya agar Jamil tak terjatuh ke tanah karena tongkatnya sudah terlepas begitu saja.


“ Kenapa Mil, kenapa ?”. Miranda jadi bingung.


“ Mir, batalkan pernikahan ini".


Miranda masih menunjukkan wajah bingung. "Maksud kamu apa Mil ?".


Nafas Jamil tampak terengah. "Tolong Mil, tolong batalkan pernikahan ini". Jamil mengurut dadanya yang terasa sakit. "Mereka saudara kandung. Haris itu anak Bang Pram, Mir.. batalkan Mir “.


Miranda langsung pucat pasi. Mereka bersama sama mendekat kepelaminan dimana Haris dan Natalia duduk manis. Miranda langsung menarik keduanya dan membawa masuk membuat semua tamu yang sudah ramai terkejut.


“ Mama Kamu mana Lia “.


“ Kok dibawa masuk, belum waktunya, kenapa ?”.


Miranda menatap tukang rias itu. “ Mana Mama Lia ?”.


“ Mungkin dikamar mandi, tadi saya lihat kesana “.


Jamil langsung menuju dapur, dan kamar Mandi, Haris maupun Natalia hanya geleng kepala saja, dan saling pandang, masih juga bingung. Haris dan Natalia duduk saja dikursi depan. Saling pandang dan sama menggeleng.


“ Kenapa Tante ? “.


“ Udah, duduk aja “.


Tentu membuat Natalia maupun Haris tambah bingung, apalagi melihat Miranda dan Jul tak bisa tenang, terus dengan resah, tak bisa duduk. Jul malah hanya duduk 2 detik, kemudian berdiri, kemudian duduk lagi, buang nafas berat, pakai husap muka segala. Haris dan Natalia jelas makin bingung dengan keadaan ini.


Ireth baru aja keluar dari kamar mandi dan sedang bercerita sambil tertawa membelakangi Jamil. Jamil ragu melangkah lebih dekat. Ireth yang dikenalnya langsing, tapi yang membelakangi agak gemuk. Membuat Jamil hanya berdiri terpaku sekitar tiga meter dibelakang Ireth. Ireth berbalik, langkah Ireth langsung terhenti, Jamil yang berdiri didepannya juga tegang. Benar itu adalah Ireth yang dikenalnya.

__ADS_1


“ Kak Ret.. itu kakak kan ?”.


Mama Natalia langsung memeluk Jamil. “ Jamil “.


Semua yang ada diruang belakang itu terpaku. Bagi yang kenal keduanya ikut larut dalam kesedihan itu, bagi yang belum kenal, mereka hanya saling tatap dan saling mengangguk satu sama lainnya. Lama juga mereka saling berpelukan, tentu saja itu sangat wajar, lama tak bertemu membuat Mama Natalia maupun Jamil merasa sangat terkesima bahkan terkesan gugup dengan pertemuan itu. Jamil melepaskan pelukannya. Mereka duduk berhadapan di meja makan, air mata Ireth jatuh tak tertahan, sudah cukup lama ia meninggalkan kota kelahirannya, baru kali ini ia dikunjungi, sudah dikatakan mantan memang, Ireth tidak lagi kakak ipar Jamil, tapi Jamil tetap Paman anaknya. Jamil Paman kandung Natalia.


“ Darimana tahu rumah kakak ?”.


“ Dari kedua anakmu Kak “.


Mendengar kedua anakmu, Ireth sangat terkejut. “Maksud mu ?”.


“ Ya.. kedua anakmu Kak, mereka yang membawa aku kemari “.


“ Mereka ?”.


“ Ya, mereka ada diluar, berduaan “.


“ Diluar ?”. Irteh berdiri. Tapi Jamil menangkap tangannya membuat Ireth kembali duduk seperti semula.


Air mata Ireth kian tumpah. Ireth langsung terkenang anaknya yang baru berusia 2 tahun ia tinggalkan, anak laki-lakinya, pasti sudah besar, berusia 26 tahun. Pemuda yang gagah pasti, segagah ayahnya sewaktu muda.


“ Haris kak, Haris …. “. Jamil tak bisa meneruskan.


“ Haris, maksud kamu. … “. Dada Ireth langsung kacau.


“ Haris, suami Natalia “.


“ Kenapa Mil, Kenapa dia “.


Jamil menatap wajah Ireth lekat. “ Dia Anakmu Kak, dia anakmu “. Jamil tertunduk dan menutup mukanya. “ Haris itu anakmu Arianda Kak, Dia Arianda anakmu Kak, darah dagingmu “.


.... BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2