
Tak sampai satu jam, heli sudah mendarat di depan rumah sakit, Asrul kembali menggendong Risda, tapi hanya turun dari heli saja, beberapa perawat sudah menunggu, dan dengan segera menyambut Risda lengkap dengan peralatan mereka.
Asrul dan Haris ikut dibelakang, tapi hanya sampai pintu. Keduanya tidak dapat izin masuk selama dokter melakukan pemeriksaan. Asrul tak protes, ia hanya pandangi saja Haris yang tak bisa tenang, sebentar duduk, sebentar berdiri.
Asrul memilih diam saja, ia tahu apa yang dirasakan Haris sekarang, yang terbaring lemah itu putri kandungnya, walaupun Risda belum mengetahui itu. Namun, ayah tetaplah ayah. Asrul juga menemukan itu pada ayahnya.
Ayah manapun tak akan bis bernafas tenang jika anaknya mengalami kecelakaan seperti apa yang Risda rasakan. Apalagi ini berhubungan dengan kepala, tentu itu akan sangat menakutkan, jangan Haris, Asrul saja sangat ketakutan sekarang.
Takut jika terjadi apa apa pada Risda, itu tentu sangat tidak di inginkan Asrul, ia ingin Risda sehat sehat saja, jangan sampai ada yang membuatnya menjadi kurang bersemangat, Asrul tak mau itu, sama sekali tak mau.
Haris langsung memburu dokter Hasan yang baru keluar dari kamar pemeriksaan. “Bagaimana putri saya dok ?”.
Dokter Hasan yang notabene kenal Haris mengerutkan keningnya. “Itu Putri Pak Haris ?”.
Haris langsung anggukkan kepala. “Benar dok, bagaimana keadannya ?”.
Dokter Hasan geleng kepala. “Ayo Pak Ris”.
Asrul ikut mengekor di belakang Haris, Asrul baru tahu kalau Haris yang ia kenal dengan nama Pak Nas punya nama panggilan yang sama dengan Risda, sama sama di panggil Ris, Asrul baru tahu itu sekarang.
Asrul terus mengekor, bahkan ikut duduk di samping Haris menghadap dokter Hasan. Sepertinya baik Haris maupun dokter Hasan sama sekali tak terganggu dengan keberadaan Asrul, sehingga membiarkannya saja.
“Itu Putri kandung Pak Haris ?”. tampaknya dokter Hasan masih ragu.
Haris anggukkan kepala. “Benar dok, itu Risda, putri kandung saya”.
Melihat dokter Hasan yang tampak masih menyimpan ragu, akhirnya Haris terpaksa membuka cerita, kening dokter Hasan terus berkerut mendengar cerita Haris, cerita yang sama sekali tak pernah di sangkanya, tapi dari cerita ini dokter Hasan juga menemukan beberap teori.
“Tapi Risda belum tahu soal itu dok, saya dan ibunya belum kasih tahu”.
Dokter Hasan menggeleng. “Di usianya sekarang sebetulnya sudah tepat kalau ingin menyampaikan yang sebenarnya, mental Risda cukup bagus kok”.
Haris anggukkan kepala. “Maksud saya, biar dia kembali ke Jakarta saja dok, biar ibunya saja yang cerita, dengan ibunya mungkin ia lebih kuat".
Dokter Hasan ikut anggukkan kepala. “Saya setuju itu Pak Haris”.
“Kondisi riil nya bagaimana dok ?”.
Dokter Hasan menunjukkan hasil photo kepala Risda. “Disini ada pembengkakan, ada juga darah yang membeku akibat benturan. Itu yang membuat Risda mengeluh jika menggerakkan kepalanya”.
“Jadi bagaimana dok ?”.
Dokter Hasan angguk kepala lagi. “Kita sudah buang darah kotornya, yang bengkak akan menyusut dalam waktu dekat, tapi hasil lengkapnya mungkin besok Pak Haris, orang laboratorium malam nggak masuk”.
“Apa yang harus saya lakukan dok ?”.
__ADS_1
Dokter Hasan menggeleng. “Besok siang kita lihat hasilnya, jika perlu penanganan, kita akan lakukan penanganan, jika tidak, berarti Risda hanya butuh istirahat saja. Untuk malam ini, biar dia di ruangan itu dulu, besok kita lihat perkembangannya, kita pindah Risda besok”.
“Risda bisa di temui sekarang dok ?”.
Dokter Hasan menggeleng. “Jangan dulu Pak Ris, sabar dulu. Besok setelah di pindah baru ada kunjungan. Sabar dulu Pak Ris”.
Haris anggukkan kepala, ketiganya sama sama berdiri, Haris dan Asrul kembali ke depan ruangan Risda, sedang dokter Hasan langsung keluar rumah sakit, mungkin dia langsung pulang, jam juga sudah Pukul 22.30 WIB.
Haris merangkul bahu Asrul sesaat. “Terima kasih Rul”.
Asrul tertawa kecil, melirik sesaat ke wajah Haris dan menggeleng. “Kenapa harus ada terima kasih Pak Nas ?”.
Haris juga ikut senyum. “Kamu sudah menjaga putriku dengan baik”.
Keduanya sama sama saling lempar senyum. Haris tentu tak bisa katakan apa apa, besarnya perhatian Asrul pada Risda sudah ia lihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana Haris tidak wajar untuk berterima kasih, malah memang harus.
“Saya sangat mencintai Risda Pak Nas”.
Haris langsung mendelik, menatap ke Asrul lekat. “Kau bilang apa Rul ?”.
Asrul anggukkan kepala. “Saya menyayangi dan mencitai putri bapak, itu faktanya”.
Haris jadi tertawa kecil, agak lucu, tapi cukup salut juga dengan pengakuan Asrul yang langsung tanpa keraguan itu. Haris geleng geleng kepala, tapi sebenarnya cukup senang juga, Haris yakin jika Asrul anak yang baik.
Asrul menggeleng. “Belum Pak”.
Haris jadi tambah mendelik. “Maksudnya ?”.
Asrul menggeleng lagi. “Sama dengan Bapak. Kasus saya juga begitu, Risda belum tahu sepenuhnya soal itu”.
Haris malah tertawa kecil dan kembali merangkul bahu Asrul sesaat. “Kenapa kamu tak bilang ?”.
Asrul balik menggeleng. “Sebenarnya sudah. Tapi Risda menganggapnya main main, dia seperti tak percaya kalau yang saya katakan benar”.
Haris kembali tertawa kecil. “Maka perjuangkanlah”.
Asrul tertunduk, senyum terus mengembang dari bibirnya, setidaknya Asrul tahu kalau ia sekarang punya pendukung, sehingga Asrul makin yakin untuk terus berupaya mendekati Risda. Sekarang Asrul yakin, satu saat nanti, Risda akan tahu dan yakin dengan isi hatinya.
Tak ada pembicaraan lagi, keduanya sama sama menyandarkan diri, tak lama, baik Haris maupun Asrul tertidur begitu saja di bangku panjang yang biasa di gunakan keluarga pasien yang menunggu keluarganya di periksa.
Mungkin karena terlalu letih, atau bisa jadi karena sudah punya ketenangan yang cukup karena Risda sudah di tangani dengan baik, membuat beban pikiran keduanya drastis turun dan bisa terlelap, walau dalam keadaan duduk.
Pagi hari, banyak perawat dan dokter yang heran melihat Haris yang sedang tertidur di bangku panjang, mau membangunkan semuanya segan. Siapa yang tak heran, melihat seorang senior manager tertidur di bangku panjang rumah sakit.
Dokter Hasan yang baru datang menggelengkan kepala. Dokter senior ini menggoyang tubuh Haris hingga terjaga, Asrul juga jadi ikut ikutan bangun dari tidurnya, keduanya sama senyum membalas senyuman dokter Hasan setelah mengucek ucek mata masing masing.
__ADS_1
“Saya periksa dulu ya Pak Ris”.
Haris anggukkan kepala. “Silahkan dok, saya tunggu disini”.
Dokter Hasan masuk, Haris juga berdiri dan masuk kamar mandi setelah Asrul keluar, sama dengan tujuan Asrul, Haris juga masuk kamar hanya untuk cuci muka saja, mau mandi nggak mungkin juga, karena jangankan handuk, pakaian saja hanya yang terlekat di badan saja.
Untung ada yang datang jualan sarapan, Haris langsung membelinya dua, dan kemudian sarapan bersama Asrul, sehingga perut keduanya tidak lagi menuntut apa apa, tenang tanpa gangguan apa apa, rasanya nyaman sudah.
Dokter Hasan keluar bersamaan dengan tempat tidur Risda yang didorong oleh dua orang perawat. Risda hanya senyum kecil membalas senyuman Asrul dan Haris yang juga mengikuti hingga Risda sampai di ruang inap.
Haris hanya memandang dengan tersenyum saat Asrul langsung angkat tubuh Risda dan memindahkannya ke tempat tidur pasien yang sudah dirapikan perawat lain sebelumnya. Haris melihat jika Asrul benar benar menyayangi Risda.
Risda sendiri hanya mampu berikan senyum terbaik yang ia punya, hari ini Risda hanya bisa mengucapkan banyak syukur kepada Tuhan, ia di kirimkan orang orang baik seperti Asrul dan Pak Nas, artinya Risda merasa berada di tempat yang benar, berada di antara kumpulan orang orang baik.
Hal ini menurut Risda tak semua orang bisa mendapatkannya. Sampainya Risda di rumah sakit ini juga keadaan yang Risda sendiri tak pernah bayangkan sebelumnya, Risda sudah cukup pasrah kemarin, berharap bisa pulih cepat dengan hanya mengandalkan pengobatan tradisional.
Tapi sekarang Risda disini, semuanya berubah cukup drastis, hanya satu malam, Risda sudah dapat menggerakkan kepalanya, tanpa harus meringis lagi, walau Risda yakin, rambutnya rusak sekarang, ada perban di kepalanya.
Tapi itu bisa tumbuh lagi, Risda tak masalah, yang penting sekarang bisa cepat pulih, walau kemudian menjadi agak bingung, bagaimana Risda bisa mengganti semuanya, jangankan biaya heli, kamar VIP ini saja mungkin tak akan bisa Risda atasi.
“Rul …”.
Asrul mendekat dan duduk di sisi ranjang. “Kenapa Ris ?”.
“Apa rumah sakit ini nggak mahal Rul ?”.
Asrul anggukkan kepala. “Kenapa memang ?”.
“Siapa yang bayar ?. bagaimana aku menggantinya ?”.
Asrul tertawa dan bahkan memencet hidung mancung Risda. “Kenapa ?”.
“Apaan sih Rul, main pencet saja”.
Asrul kembali tertawa. “Lu kelewat sih”.
“Kelewat apa ?”.
“Kelewat Cantik”.
Kini Risda sudah bisa menggeleng, tapi tak terlampau kuat. Risda juga sudah mulai pandai kesal, hanya badannya saja yang belum bisa ia gerakkan bebas, tapi tangan Risda sudah bisa menggerakkan jarinya membalas cubitan Asrul.
Hanya saja Risda agak heran. Denyut jantungnya ini, semakin tahun semakin sering, bahkan setelah kecelakaan ini, konsdisinya makin sangat terasa, sering berdenyut lumayan sakit.
… Bersambung …
__ADS_1