Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
S2 : Hadiah Dari Ayah


__ADS_3

Saat Haris mengucapkan salam di ruang guru, ada banyak orang disana, tapi rata rata hanya menjawab salam saja, tapi Shinta yang juga ada di ruangan itu langsung berdiri, ia mengenal persis siapa yang datang, Shinta awalnya terkejut, tapi ingat ada Risda disini, Shinta senyum saja.


“Pak Haris, lama tak ketemu”.


Haris menerima uluran tangan Shinta. “Bu Shinta masih tampak seperti dulu juga, padahal sudah dua puluh lima tahun lho Bu”.


Shinta tertawa. “Macam betul saja”.


Ada beberapa guru yang memandangi Haris agak lama, bagi mereka yang suka membolak balik album photo sekolah di perpustakaan, pasti sudah sering melihat photo Haris, karena memang koleksi Haris banyak disana, bahkan itu yang menjadi alasan kenapa Risda sering masuk perpustakaan sekolahnya.


“Pak Haris .. benar Pak Haris ?”.


Haris menoleh dan tersenyum lebar. “Nisya Olivia Kunturo. Kamu benar”.


Olivia tampak tersipu. “Sehat Pak Ris ?”.


“Alhamdulillah sehat Bu Oliv”.


Olivia geleng kepala, tak ada satu orangpun didunia ini yang memanggilnya Oliv kecuali Haris, semua guru di sekolah ini, bahkan keluarganya dirumah ramai ramai memanggilnya Via, tapi Haris memang ganjil, mulai awal perkenalan mereka, selalu saja seenaknya memanggil dengan sebutan Oliv.


Ketiganya duduk, masih banyak guru yang terus memandangi Haris, sepertinya penasaran, tapi melihat Shinta dan Olivia mengenal Haris, banyak yang menebak kalau Haris orang lama, apalagi photo photonya banyak di temukan di album sekolah mereka.


“Mau ketemu Risda Pak Ris ?”.


Haris menatap Olivia, tersenyum dan mengangguk. “Bu Oliv ama Bu Shinta tahu Risda ?”.


Keduanya anggukkan kepala, Haris tampak agak lega, setidaknya disini ternyata ada yang mengenal dan mengetahui kisah Risda. Satu sisi Haris senang karena ada orang yang tahu keberadaan putrinya, tapi disisi lain Haris juga ada rasa khawatir, takut Risda malah memikirkan hal lain.


"Sudah lama Pak Ris tahu Risda ?".


Haris menatap Olivia cukup lama, menggeleng. "Belum Bu Oliv, baru sekitar lima bulan ini".


Shinta dan Olivia sejenak saling pandang dan sama sama tampak cukup terkejut, Haris menarik nafas cukup kuat, Haris kemudian sadar kalau Olivia khususnya tahu persis semuanya, bahkan mungkin dekat dengan Natalia, karena mereka juga mengajar di Bimbel yang sama.


Haris kemudian kembali tarik nafas cukup dalam. Tanpa diminta Haris bercerita tentang pertemuannya dengan Risda di Kalimantan, Shinta dan Olivia hanya angguk angguk kepala, ada rasa sedih juga.


“Tapi, Risda sepertinya tidak tahu kalau kami kenal ayahnya”. Jelas Shinta.


Haris menghela nafas. “Saya malah khawatir Risda minder kalau ada yang tahu cerita tentang latar belakang hidupnya Bu Shin”.


Olivia langsung menggeleng. “Risda itu orang yang kuat Pak Ris, sama seperti ayah dan ibunya, saya yakin tidak akan seperti itu, saya sering memperhatikannya”.


Haris tersenyum lebar. “Terima kasih kalau begitu Liv, saya senang”.


Shinta mendehem. “Kalau sayang sama ayahnya, kan harus juga sayang dong sama anaknya, gimana sih ?”.


Haris dan Olivia sama sama tertawa kecil, Haris geleng geleng kepala, ternyata Shinta sama saja dengan Burhan, masih juga membahas apa yang terjadi dua puluh lima tahun yang lalu, Haris bahkan sudah nyaris lupa dengan itu.

__ADS_1


Sebuah kisah lama yang sebenarnya hanya ada di pikiran para guru dan pegawai saja, sedang Haris dan Olivia sama sekali tak ada, keduanya paham kalau mereka hanya dekat sebagai teman saja, tak kurang, tak lebih.


Tak ada hubungan istimewa apapun diantara keduanya, Olivia sangat paham kalau Haris waktu itu sangat mencintai Natalia, Olivia juga senang dan suka dengan kepribadian Natalia, sehingga setuju sekali dengan hubungan mereka walau beda keyakinan.


Olivia ada di Kantor Catatan Sipil saat Haris dan Natalia mengesahkan pernikahan mereka, dan Olivia termasuk orang yang terpukul, terkejut dan lemas seketika saat keributan di resepsi pernikahan Haris dan Natalia.


Karena memang Olivia juga ada disana saat kejadian itu muncul, sehingga tahu persis apa yang terjadi. Olivia termasuk orang yang sedih dan kecewa mengapa itu terjadi, apalagi setelah itu Haris menghilang begitu saja.


Dibilang rindu, iya juga. Olivia tentu rindu terhadap Haris, apalagi pada kenyataan yang ada, setelah Haris pergi, tak ada lagi laki laki manapun yang cukup dekat dengannya, bahkan hingga hari ini, setidaknya dengan dibuktikan hingga kini Olivia masih saja hidup sendiri.


Olivia kembali memandangi Haris cukup lama, bahkan Haris tampak kikuk di pandangi begitu oleh Olivia, tapi Haris berupaya cuek, berupaya seperti tidak merasa apa apa, walau mulai terganggu, tapi terang, Haris juga tak tahu apa yang menjadi alasan Olivia memandanginya dengan begitu lekat.


“Biasanya Risda disini kok Pak Ris”. Jelas Shinta.


Haris mengangguk. “Risda masih ngajar kalau begitu Bu Shin ?”.


Shinta mengambil kertas yang ada di atas mejanya, melihat sejenak. “Risda di ruang VIII F, tapi tinggal sekitar lima menit lagi”.


“Habis itu masih ada jam Bu Shin ?”.


Shinta melihat lagi, anggukkan kepala. “Ada, tapi nanti jam sebelas, setelah ini ada banyak jam kosong”.


Haris angguk anggukkan kepala, semuanya memilih diam, Haris mengitari pandangan kesetiap sudut ruangan, sudah sangat beda dengan yang ia tinggalkan dulu, ornamen sekarang sudah sangat lengkap dan memang terlihat sangat membuat mata sejuk.


Haris tentu saja rindu dengan sekolah ini, ruang guru ini dulu tempat Haris istirahat dan bercanda gurau dengan banyak rekannya, ini sekolah pertama dan terakhir Haris menjadi seorang guru, karena setelah meninggalkan sekolah ini Haris bekerja di perkebunan, tak lagi menjadi guru.


Ada banyak kenangan disini yang berhasil Haris ukir, kedekatan dengan rekan guru dan pegawai, dan tentu saja kedekatan dengan siswa, semua itu menjadi bagian indah yang tak akan pernah bisa Haris lupakan, seandainya tidak ada kesalahan itu, bisa mungkin Haris masih mengajar disini, masih menjadi guru disini seperti Shinta dan Olivia tentunya.


Tak Cuma Haris, Shinta dan Olivia yang mengarahkan pandangan ke Risda, tapi juga seluruh guru yang ada di ruangan yang sama, ada yang terkejut, ada juga yang semakin menajamkan pandangan pada Haris, karena selain Shinta dan Olivia, yang lain baru tahu kalau tamu itu adalah ayah Risda.


“Sudah selesai ngajarnya Ris ?”.


Risda anggukkan kepala. “Sudah Yah, tapi nanti ada lagi”.


Haris berdiri. “Kita jalan keluar sebentar ya Ris”.


Risda hanya anggukkan kepala dan mengikuti langkah Haris yang langsung keluar setelah permisi pada Shinta dan Olivia, semua mata mengarah lurus pada Haris dan Risda, jika Shinta dan Olivia terus menatap karena punya rasa sedih dan kasihan melihat Risda dan Haris, sejarah mereka yang cukup menyedihkan.


Sedang yang lain, terus memandangi karena rasa penasaran yang tinggi, karena baru tahu itu ayah rekan mereka Risda, dilihat selintas memang antara Haris dan Risda terlampau banyak miripnya.


Risda hanya mengikuti langkah ayahnya dan belum juga bertanya saat ayahnya singgah di bank dan mengajak Risda ikut turun, Risda merasa biasa saja, mungkin ayahnya ada urusan atau lain sebagainya, Risda hanya cuek dan mengekor saja.


Tapi Risda mulai bertanya tanya saat ayahnya menuju costumer servis dan malah meminta KTP Risda, tak bertanya untuk apa, Risda memberikan saja, kemudian pertanyaan Risda bertambah saat tahu kalau ayahnya sedang membuka rekening baru tapi atas namanya.


Mata Risda baru benar benar melotot saat menerima buku tabungan plus dengan ATM nya, yang mebuat mata Risda melotot adalah angka yang tertera pada tabungan barunya, Risda malah berhayal saja tak pernah memiliki tabungan sebanyak itu.


“Ini apa Ayah ?”.

__ADS_1


Haris tersenyum dan anggukkan kepala. “Hadiah dari ayah”.


Kening Risda agak berkerut. “Hadiah ?”.


Haris anggukkan kepala. “Iya, ini hadiah dari ayah”.


Risda masih menatap ayahnya lama lama. “Sebanyak ini ?”.


Haris kembali tersenyum dan anggukkan kepala. “Menurut ayah, itu bahkan seharusnya kurang”.


Risda hanya menggeleng pada akhirnya, tapi Risda merasa sepatutnya ia bahagia, sekarang Risda punya tabungan yang cukup banyak, sehingga untuk membeli sesuatu Risda tak harus berpikir panjang. Akhirnya Risda tersenyum lebar dan memeluk lengan ayahnya erat.


“Terima kasih Yah”.


Haris tersenyum lebar. “Tidak perlu berterima kasih, semua milik ayah adalah milik putrinya ayah, kenapa berterima kasih saat mengambil milik sendiri”.


Risda jadi tersenyum lebar. “Ayah ada saja”.


Haris dan Risda sama sama mengumbar senyum lebar, setelah semuanya usai, keduanya keluar dari bank, Haris kembali mengantar Risda ke sekolah tempatnya mengajar, hanya sampai pagar, Risda turun dari mobil setelah menyalami dan mencium kedua pipi ayahnya.


Risda melambaikan tangan saat Haris kembali menjalankan mobil menuju jalan raya, tentu ada rasa sedih kembali harus berpisah dengan sang ayah, padahal Risda merasa belum puas ngobrol, Haris juga masih melirik ke arah Risda sampai benar benar tak bisa melirik lagi, ada sesuatu yang menyusup dalam ke hati Haris, ternyata sama, Haris juga begitu berat ingin berpisah dengan putrinya.


Tapi kemudian Haris mempercepat laju kenderannya, tujuan Haris saat ini ke sekolah tempat Natalia mengajar, mengantarkan mobil, baru kemudian naik taksi menuju bandara, waktu yang harus dikejar sudah terlampau sempit.


“Jam ngajar Lia banyak Bang, nggak bisa ngantar”.


Haris membelai rambut Natalia. “Nggak apa apa Dek, abang naik taksi saja”.


Natalia senyum kecut. “Nggak apa apa Bang ?”.


Haris menggeleng. “Nggak apa apa".


"Benaran Bang ?".


Haris menggeleng. "Sudah ah. Abang pergi dulu ya”.


Natalia langsung memeluk Haris erat, Haris juga melakukan hal yang sama, setiap ingin berpisah begini, Haris selalu saja lemah, walau masih ada senyum di bibirnya, tapi sebenarnya hatinya sudah rapuh, matanya juga sudah pedas.


“Abang pergi dulu ya”.


Natalia anggukkan kepala. “Hati hati Bang, sehat. Kalau sudah sampai telephon Lia”.


Haris anggukkan kepala, kemudian langsung berbalik dan berjalan menuju jalan raya untuk mencari taksi yang bisa membawanya menuju bandara, Natalia masih berdiri di teras ruang guru sampai Haris masuk taksi dan menghilang.


Begitu tak melihat Haris lagi, Natali berbalik dan kembali menuju meja kerjanya, Natalia duduk dan menghusap air matanya yang keluar begitu deras, Natalia selalu sedih saat akan berpisah dengan Haris, tapi Natalia selalu begitu, ia baru akan menumpahkan air matanya saat Haris tak lagi ada di depannya.


Natalia selalu tetap tersenyum saat Haris masih terlihat, tapi begitu Haris hilang, rasa haru itu sama sekali tak terbendung oleh Natalia, air mata Natalia langsung berebut keluar tanpa mampu ia tahan, tak ada kekuatan apapun yang dimiliki Natalia untuk bisa menahan tangisnya.

__ADS_1


Natalia sebenarnya hanya ingin Haris tak melihat air matanya, Natalia tak mau Haris mengetahui kesedihannya, Natalia takut Haris malah menjadi sedih dan kehilangan konsentrasi jika tahu ia bersedih, Natalia tak mau itu terjadi, sehingga memilih menangis di belakang Haris, tetap senyum di depan Haris.


…. Bersambung …


__ADS_2