
Waktu terus berjalan. Dahrul sudah berlarian di dalam rumah bersama Aditya putranya Reni, sedang Arvia putri kecil Farhan dan Faridha juga sudah belajar berdiri dan merangkak kesana kemari, tak jarang rumah menjadi lapangan bola, Dahrul dan Aditya adu pinalti, Arvia dan Agung menjadi penonton setia, sehingga rumah keluarga Agung sekarang meriah setiap saat, dan sering berantakan bagai kapal pecah.
Agung juga sudah jarang keluar kecuali karena urusan yang begitu penting, bahkan kalau keluar Agung selalu membawa Dahrul dan Aditya, kalau ada Ariana, atau Meeta libur, maka Arvia juga akan ikut serta.
Sekarang Agung lebih senang bermain dengan cucu cucunya. Agung senang walau terkadang sudah seperti pengasuh, tapi Agung malah senang, bahkan saat tidur siangnya gagal total oleh ulah para cucunya.
Sekarang bukan pemandangan yang aneh jika Agung terlihat di supermarket dengan menggendong dua cucunya di ekori Dahrul yang mengikut di belakang. Kondisi yang juga sama seringnya melihat Mahdan dan Mutia memboyong ketiga keponakannya jalan entah kemana mana.
Bahkan kalo di hitung hitung soal jumlah, setahun belakangan, sepertinya Dahrul malah lebih sering keluar dengan Mahdan ketimbang dengan ayahnya, Arvia lebih sering tidur dengan Mutia ketimbang dengan ibunya. Faridha juga sering pasrah saat Arvia malah lebih memilih disuapi Mutia.
Haris juga punya jadwal tetap berkunjung, dua minggu sekali, Haris pasti muncul, bersama dengan Natalia, Haris akan memboyong tiga cucu ini kemanapun Dahrul atau Aditya minta, membeli bola menjadi menu wajib bagi Dahrul dan Aditya, sedang Arvia kebagian boneka. Ini pula yang membuat Dahrul dan Aditya memiliki banyak koleksi bola.
Setidaknya Dahrul dan Aditya menambah koleksi bolanya setiap kunjungan Haris, itu artinya dua minggu sekali jumlah bola di rumah Agung bertambah, seiring waktu bola bola itupun mulai tak terhitung lagi jumlahnya, dimana mana ada bola, mulai dari halaman, taman, ruang depan, tengah, hingga dapur, semua ada bolanya.
Kadang Reni dan Faridha yang suka iseng, membelah dua bola yang sudah kempis, mencat dan memasangi tadi menjadi helm, ini juga di gunakan Dahrul dan Aditya untuk simulasi perang perangan, yang tidak jarang merusak taman. Kadang Arvia juga suka memasangkan helm buatan ini ke kepala ayahnya Farhan atau kakeknya Agung, kemudian tertawa geli.
Untuk hal ini, tetap Reni dan Faridha yang bisa mengomel, tapi yang bisa panjang melanjutkan omelannya hanya Reni. Begitu Faridha mengomel, maka Arvia akan ikut ribut, ngoceh tak karuan seakan mengikuti gaya ibunya yang mengomel. Kalau sudah begitu, Faridha akan memilih diam, membawa putrinya ke dalam, bergurau bersama Farhan.
Sehingga menjadi pemandangan biasa sekarang, jika sedang makan di rumah atau makan diluar, anak anak lebih banyak dengan kakek nenek mereka, dengan Mahdan dan atau Mutia, Aditya yang lengket terus dengan kakeknya, bahkan terkesan cuek ke ayah dan ibunya.
Farhan dan Faridha masih bisa bebas mesra mesraan seperti masih sedang pacaran, karena Arvia lebih memilih berada di atas pangkuan Mutia, Arvia bisa dengan mudah saling manyun dengan ibunya, saling meruncingkan bibir dengan Faridha, tapi Arvia begitu patuh dan nurut dengan semua ucapan Mutia.
Jika Agung membawa ketiganya ke rumah sakit, ruangan kerja neneknya bisa langsung amburadul dalam waktu tak sampai 30 menit, begitu ketiganya turun ke ruangan Mutia dan Reni, kekacauan pasti terulang lagi, para perawat dan pegawai juga suka melihat cucu cucu pemilik rumah sakit ini, apalagi wajah imut Arvia, semua dari yang tua sampai yang muda sama sama gemas melihatnya.
Selintas orang yang pertama melihat bisa salah tebak, karena Arvia malah mirip dengan Mutia, tak ada mirip miripnya dengan Faridha, sehingga banyak pasien Mutia yang mengira kalau Arvia adalah putrinya, dan semuanya pasti terkejut saat Mutia mengatakan itu putrinya Farhan, itu keponakannya.
“Ou itu apa maksudnya dok ?”. Seorang pasien penasaran dengan panggilan Arvia.
Mutia tertawa kecil. “Ou itu maksudnya Bou. Itu panggilan bahasa Mandailing Bu, saya kan Bounya Arvia”.
Si Pasien tertawa kecil juga. “Ini anak adik laki laki bu dokter berarti ya ?”.
Mutia anggukkan kepala. “Iya Bu, ini anak adik saya Farhan”.
“Tapi mirip dengan dokter ya”. Si pasien terus tersenyum. “Tapi memang biasa itu Bu Dok, anak perempuan mirip dengan kakak ayahnya itu sangat banyak”.
Mutia hanya tertawa, senang saja banyak yang mengatakan kalau Arvia mirip dengannya, bagi Mutia itu wajar dan sangat biasa, di keluarganya banyak yang begitu mirip antar keluarga, misalnya Ariana dengan almarhumah Bulan, ini bahkan luar biasa mirip, nyaris seperti kembar, apalagi mereka seumuran.
Sayangnya Bulan sudah tak ada, satu kecelakaan merenggut nyawa Bulan, sehingga Ariana menjadi pengobat hati terbesar bagi adik dan adik ipar ibunya yang tinggal di Medan, termasuk Abang Bulan Taufiq yang sangat sayang pada Ariana.
Mutia duduk menghayal, membayangkan semua sepupu dan keponakan keponakan yang sekarang ia punya, tidak hanya dari abangnya Asrul, adiknya Reni dan Farhan, tapi juga dari para sepupunya yang ada di Sidimpuan dan Sibolga, semuanya lucu lucu dan selalu gembira jika melihat wajah Mutia. Sekarang Mutia jadi senyum sendiri membayangkan andai semua keponakannya berkumpul, pasti rusuhnya minta ampun.
“Dok, itu pasien yang baru masuk mertuanya Pak Asrul dok”.
Mata mutia langsung membulat, renungannya langsung buyar. “Mama Lia ?”.
Sang perawat angguk kepala. “Iya Dok”.
Mutia langsung berdiri dan mengejar, benar saja, Mutia menemukan wajah pucat dan tubuh Natalia yang lemah. Mutia langsung melakukan pemeriksaan sebentar sambil menunggu dokter Hisyam yang biasa menangani Natalia. Mutia yang spesialis anak tentu bukan orang yang tepat menangani Natalia.
__ADS_1
Mutia langsung lemas mendengar pernyataan dokter Hisyam, gula Natalia sangat tinggi sehingga membuat Natalia kehilangan kesadaran, apalagi ternyata Natalia diyakini oleh Hisyam tidak mengkonsumsi obatnya secara rutin, kurang perhatian terhadap penyakitnya sehingga berakibat fatal.
Meeta datang dengan begitu terburu buru, bersama Mutia keduanya terus menjaga Natalia hingga akhirnya kembali menemukan kesadarannya. Natalia memang jauh lebih kurus dari biasanya, sekarang bahkan terlihat begitu lemah, ini membuat Meeta dan Mutia terus menggeleng, kecewa karena Natalia seperti acuh denga penyakit yang di deritanya, padahal ini butuh penanganan serius.
“Sudah telephon Ayah Haris Ma ?”.
Meeta tersadar. “Iya, Mama lupa. Sebentar, Paman Lufti juga”.
Mutia menghela nafas panjang, ia terus mengelus kepala Natalia, Mutia tak bisa bicara apa, kondisi Natalia faktanya buruk sekarang, dokter Hisyam dengan tegas mengatakan kalau kondisi Natalia sudah sangat mengkhawatirkan, segala upaya sudah dilakukan, sekarang hanya menunggu, apakah fisik Natalia mampu melawan penyakitnya atau malah menyerah.
Kondisi Natalia makin drop, dokter Hisyam memutuskan memasukkan Natalia ke ruang ICU, Meeta dan Mutia hanya bisa angkat bahu, semua prosedur langsung di jalankan, Dahrul dan Aditya yang memang sedang berada di rumah sakit sama sama menangis keras melihat nenek mereka di pasangi alat bantu pernafasan.
Mutia memeluk keduanya, Mutia tahu betapa dekat dan baiknya hubungan Dahrul dan Aditya dengan Natalia, keduanya tentu saja begitu sedih melihat kondisi sang nenek, sedikit banyak keduanya sudah tahu kalau sudah begitu, berarti nenek mereka dalam kondisi yang sakit parah.
Semuanya muncul sekarang, Asrul dan Risda yang langsung masuk ke ruangan Natalia, Mahdan juga sudah ada, menit berikutnya Iskandar dan Tomy datang bersamaan, baru kemudian di susul Farhan, Faridha dan Ariana. Semua bergantian masuk melihat Natalia, semua sama sama menitikkan air mata, Farhan malah langsung terduduk, pirasat Farhan sedikit buruk.
Arvia naik ke pangkuan Farhan, Arvia berulang kali menunjuk ke arah kamar Natalia memberi tanda kalau juga pingin masuk, Farhan menggeleng dan menciumi pipi putrinya, Arvia berontak, Farhan gendong Arvia, berdiri dan membawa Arvia ke jendela kaca, mengintip Natalia dari luar, karena tak mungkin masuk.
Entah apa isi kepala anak kecil ini, tapi kedua telapak tangannya ada di kaca, wajahnya juga begitu rapat dan memandangi ke dalam dengan begitu serius, bahkan ia berontak saat Farhan sedikit melangkah mundur, akhirnya Farhan kembali ke posisi semula, Arvia kembali memandangi Natalia dari kejauhan.
Arvia benar benar berontak saat Farhan memilih menjauh karena letih berdiri, tapi Arvia tak terima, ia terus meronta di gendongan ayahnya, bahkan tampak emosi dengan mencubit pipi Farhan sekuat tenaga. Melihat ini Iskandar maju, ambil Arvia dari gendongan Farhan dan kembali ke tempat yang tadi, hebatnya Arvia langsung diam dan kembali seperti yang tadi, memandangi Natalia dari kejauhan.
Semua yang menyaksikan ini menggeleng, tapi Mahdan punya firasat yang berbeda, naluri anak kecil kadang tak bisa di pandang enteng, entah kenapa Mahdan malah menduga Arvia tak ingin melewatkan sesuatu, jantung Mahdan malah berdegub kencang, jangan jangan … ah, Mahdan tak sanggup memikirkannya, ia benar benar tertunduk lesu.
Mahdan benar benar tak bisa berpikir jernih, ia melangkah menjauh dan mengeluarkan ponsel dari sakunya, mencari nomor kontak Haris dan langsung menghubunginya, tiga kali upaya panggilan baru Haris angkat ponselnya.
“Paman sudah dimana Paman ?”.
“Ini paman sudah di bandara, sebentar lagi terbang”. Haris agak tegang. “Bagaimana Bibimu Dan ?, bagaimana ?”.
Mahdan mendesah. “Paman sesegara mungkin ke rumah sakit Paman, sesegera mungkin. Perasaan Mahdan tak enak Paman”.
“Iya, iya Dan, Paman sudah mau berangkat ini”.
Telephon terputus, Mahdan membuang nafas berat, perasaan Mahdan benar benar tak enak, sangat tidak enak. Ini yang membuat Mahdan begitu kasak kusuk, sesaat berdiri, sesaat kemudian duduk, tapi tak lama berdiri lagi, entah apa yang membuat Mahdan demikian, tapi ia merasa akan ada sesuatu yang membuat semua keluarga terpukul, Mahdan sangat yakin itu.
Mahdan baru benar benar bisa duduk saat Dahrul dan Aditnya mengapitnya, dua keponakan ini merangkul Mahdan dan menyandarkan kepala di bahu sang Paman, mengantuk. Mahdan akhirnya mencoba tenang, ia merangkul bahu kedua keponakannya agar mendapatkan posisi yang terbaik untuk istirahat.
Tak butuh waktu lama, Dahrul dan Aditnya benar benar tertidur. Farhan inisiatif angkat Aditnya, dengan begitu Mahdan yang angkat Dahrul, keduanya menuju ruang kerja Mutia, karena di sana memang ada tempat tidur, Mahdan dan Farhan meletakkan Dahrul dan Aditya di samping Faridha yang sudah lebih dulu tertidur disana, kemudian kembali ke ruang ICU.
“Arvia nggak biasa seperti itu Bang, seperti ada yang dia lihat”.
Mahdan menghela nafas panjang. “Abang juga merasa begitu Far, perasaan abang sudah benar benar tak enak”.
Keduanya kembali menggeleng, Iskandar masih menggendong Arvia dengan posisi yang sama, putri kecil Farhan itu masih terus memandangi Natalia dari balik kaca, sama sekali tak ada perubahan gaya, jika dihitung dengan yang tadi di temani Farhan, Arvia melakukan itu sudah lebih dari satu jam setengah, tentu membuat Mahdan dan Farhan heran, kenapa Arvia seserius itu, Iskandar juga sudah mulai letih.
Farhan mendekat. “Sama Papa yok”.
Arvia hanya menggeliat, melirikpun tidak. Iskandar dan Farhan yang saling pandang sama sama menggeleng. Makin bingung dengan sikap Arvia yang benar benar tak mau melepaskan pandangan dari Natalia.
__ADS_1
“Nggak apa apa Far, Via mungkin belum capek”.
Farhan menggeleng. “Via mungkin nggak, abang yang capek”.
Iskandar tertawa kecil. “Nggak apa apalah itu”.
Farhan kembali menggeleng. “Via lihat apa sih sayang, udah dong, ayo”.
Arvia benar benar tak bergeming, walau Farhan sudah dua kali mencoleknya. Farhan pasrah, mundur dan kembali duduk di samping Mahdan. Farhan memandangi semuanya, tak ada wajah yang tenang, semuanya tampak tegang, tiba tiba Farhan merasa takut, bahkan mulai gemetaran, Farhan bahkan bingung mengapa ia seperti itu, benar benar khawatir tingkat tinggi.
Suasana begitu hening, yang terdengar hanya langkah kaki para perawat yang lalu lalang dengan berbagai kesibukan, suasana benar benar senyap, tak ada satu orang pun yang mengeluarkan kata kata, benar benar larut dalam diam. Iskandar masih setia menggendong Arvia yang juga masih setia memandangi neneknya Natalia.
Semua terkejut saat Arvia tiba tiba menangis, Mutia langsung berdiri dan ambil Arvia, tapi tangisnya tak reda juga, Farhan ambil alih, tapi tetap sama, Arvia belum mau diam juga. Mutia kembali ambil keponakannya dari gendongan Farhan, membujuk seperti biasanya, tapi Arvia tak jua menghentikan tangisnya, membuat semuanya bingung.
Mata semuanya langsung menuju dokter Hisyam yang keluar dari ruangan Natalia, Asrul, Agung dan Meeta langsung mendekat, ketiganya langsung pucat saat menemukan wajah lesu dokter Hisyam, apalagi sang dokter menghusap muka dan menggeleng panjang.
“Ibu saya bagaimana dok ?”. Kejar Asrul.
Dokter Hisyam menggeleng. “Kita sudah maksimal Rul, semua sudah kita lakukan, tapi kehendak Tuhan berbeda. Kita sudah kehilangan Ibu Natalia”.
Meeta langsung lemas, andai Agung tak cepat menangkapnya, Meeta sudah pasti akan menyentuh lantai. Seluruh sendi Meeta rasanya patah, ia tak punya kekuatan yang cukup untuk sekedar menahan tubuhnya, bahkan mata Meeta terasa berkunang, ia begitu terpukul mendapati khabar Natalia.
“Kakak … Kakakkkkkk …”.
Semua beralih mendengar jeritan Faridha yang baru mucul dari kamar kerja Mutia dan berlari mengejar Risda. Melihat Risda yang tergeletak di lantai, Farhan langsung mengejar. Faridha terduduk di lantai sambil memeluk kepala Risda dalam pangkuannya, Faridha menangis sejadi jadinya, Farhan langsung angkat tubuh kakak iparnya dan melarikannya ke ruang periksa.
“Cari dokter Muhli, cari dokter Muhli …”. Meeta begitu gugup.
“Dimana Ma ?”. Tanya Iskandar.
“Di lantai empat, depan ruangan Mama”.
Iskandar langsung berlari menuju lift, Asrul terduduk di lantai sambil menyandar di dinding, Asrul tak tahu harus melihat yang mana dulu, apakah melihat ibu mertuanya, atau melihat istrinya Risda, Asrul benar benar tak tahu harus bertindak apa, Lufti yang baru tiba langsung mendirikan Asrul.
“Lihat Risda saja Rul, biar paman yang urus Lia”.
Asrul memeluk Lufti dan menangis. “Terima Kasih Paman”.
Lufti menepuk pelan bahu Asrul. “Sudah, sudah, cepat lihat Risda”.
Asrul tertatih menuju ruangan tempat Risda tadi dibawa Farhan. Iskandar langsung memapah Asrul yang tampak begitu limbung, dokter Muhli sudah berhasil menyadarkan Risda, saat Asrul mendekat, Risda langsung memeluk Asrul lekat, tangisannya pecah, tapi tak lama, Asrul menggoyang tubuh Risda, tak ada perlawanan, Risda ternyata kembali pingsan.
“Dok, dok, apa ini dok, istri saya kenapa dok ?”. Asrul benar benar gugup.
Dokter Muhli menggeleng dan tepuk pelan bahu Asrul. “Bu Risda punya riwayat jantung, kita sama tahu itu. Kematian Bu Natalia tentu membuatnya syok, terkejut, itu membuat aliran darah Bu Risda terlampau kencang, nanti tenang, aman itu”.
Asrul tak bisa menjawab apapun, Faridha sekarang terus menerus mengelus kening Risda lengkap dengan tangisan panjangnya. Tak ada yang bisa melarang, semua hanya bisa memandang saja. Disini, Risda memang orang paling penting nomor dua setelah Farhan bagi Faridha, ia belum pernah melihat Risda seperti ini sebelumnya, sehingga Faridha benar benar panik.
…. Bersambung …
__ADS_1