
Bak tamu yang datang dari jauh, Risda dan kawan kawan disambut di Kantor Kabupaten, bahkan lengkap dengan seremoni pidato Bupati yang mengucapkan terima kasih atas kesediaan guru guru muda untuk membagi ilmu dengan anak anak yang ada didaerah tertinggal.
Selesai seremoni semua berangkat menuju lokasi sekolah masing masing, masing masing mereka terbagi dalam beberapa kelompok, Risda satu kelompok dengan Asrul menuju Desa Semunying Jaya Kecamatan Jagoi Babang Kabupaten Bengkayang yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Malaysia.
Risda maupun Asrul sungguh sangat resah dan tampak gelisah karena perjalanan yang belum juga tampak ujungnya, menyusuri aliran sungai yang berliku diapit hutan yang cukup lebat kini membuat Risda memiliki rasa takut yang datang menghantui.
“Masih jauh Pak ?”.
Sopir perahu Pak Buang tersenyum kearah Risda. “Capek ya Nak ?”.
Risda akhirnya senyum juga walau tipis. “Iya Pak. Masih jauh ?”.
Buang kembali tersenyum tipis. “Tidak. Ini tak lagi jauh, paling sekitar satu jam setengah lagi aja Nak”.
Risda dan Asrul jelas mendelik. Satu jam setengah dibilang dekat. Risda jadi geli juga, dengan kecepatan seperti ini Risda bisa berhitung, dan artinya perjalanan masih memiliki jarak puluhan bahkan mungkin akan menyentuh ratusan kilo meter lagi kedepan.
Bagi mereka yang sudah biasa jarak itu memang bukanlah jarak yang jauh, tapi bagi Risda dan Asrul itu bukan sekedar jauh, tapi jauh sekali. Risda dan Asrul saling pandang dan akhirnya sama geleng kepala dan saling lempar senyum, terasa lucu walau kurang pasti tahu apa yang sebenarnya yang terasa lucu.
“Dari Jakarta ya Nak ?”.
Risda anggukkan kepala. “Iya Pak”.
Buang senyum lagi. “Kami sudah lama mengharapkan agar anak anak kami mendapat pendidikan yang bagus dari guru guru yang bagus. Tidak seperti selama ini”.
“Memangnya kenapa Pak ?”.
“Bukan tak bagus guru yang sekarang. Tapi jumlahnya tidak cukup, satu sekolah bahkan ada hanya memiliki 2 guru”.
__ADS_1
Risda dan Asrul sama tersenyum dan angguk angguk kepala. Risda maupun Asrul sudah paham dengan cerita itu, karena memang sudah menjadi topik yang hangat dimedia massa, khususnya Televisi.
Keadaan yang demikianlah yang membuat pemerintah mengambil kebijakan ini, agar daerah daerah terluar di NKRI tidak semakin jauh tertinggal. Risda sudah merasa memahami keadaan itu, sejak masih SMP Risda sering melihat berita berita di TV soal ini.
Saat itulah Risda punya niat yang kuat menjadi guru dan mengimpikan bisa berbagi dengan masyarakat perbatasan, memberikan sedikit distribusi kepada pendidikan Indonesia yang masih saja dalam lingkaran dilema yang makin hari makin panjang juga, dan kini niat itu sudah terjadi dan sudah pada tahap dimulai.
“Orang Jawa ya Nak ?”.
Asrul anggukkan kepala. “Iya Pak, saya Orang Jawa, tapi Risda ini tidak Pak, dia orang Batak”.
“Sumatera Utara ?”.
“Iya Pak”.
Buang mangut mangut. Yang terbayang dimata Buang adalah bagaimana nanti anak anak didesanya akan mendapat banyak pengetahuan dari dua guru muda yang tampaknya sangat ramah tersebut.
“Bapak punya kenalan orang batak yang hobby mancing, kami sering mancing sama sama. Tapi dia tinggal di Kecamatan Kotawaringintimur di Sampit, jauh memang dari sini”.
“Orang Batak. Sudah lama tinggal disini Pak, menikah dengan orang sini atau gimana Pak ?”.
Buang hanya menggeleng. “Kalau itu Bapak kurang tahu, sudah lama atau belum Bapak tidak tahu, kalau menikah tidak Nak, setahu Bapak dia hidup sendiri, dia bekerja di Perkebunan Kelapa Sawit disana. Yang Bapak tahu, Namanya Haris marganya Nasution, kami manggilnya Pak Nas”.
Asrul angguk anggukkan kepala. “Berapa jauh dari sini Pak tempat tinggal Pak Nas itu”.
Pak Buang senyum kecil dan geleng kepala. “Jauh sekali jaraknya, Bapak juga belum pernah kesana”.
“Kok bisa kenal Pak ?”.
__ADS_1
“Pak Nas sering kesini, mancing. Dia kan kerja di perkebunan, ada kebun yang letaknya sudah dekat kemari, biasanya kalau Pak Nas tugas kesana, ke kebun itu, dia pasti singgah kerumah Bapak”.
Asrul angguk angguk kepala. Risda menatap wajah sang sopir agak lama, tapi kembali lagi mengalihkan pandangannya kesungai yang belum juga terlihat ujungnya. Risda agak terkesan karena marga itu, itu marga yang sama dengannya. Risda juga punya marga seperti itu, lengkapnya Risda Nalia Nasution.
“Tapi Pak Nas Muslim”.
Asrul tertawa kecil. “Kok pake tapi Pak ?”.
“Biasanya kan kalau bermarga itu …”.
Asrul tertawa agak kuat. “Nggak juga Pak, Batak itu ada dalam agama apa saja, Cuma memang yang paling banyak Islam dan Kristen, apalagi kalau Nasution”.
“Maksudnya ?”.
Asrul kembali hanya bisa tertawa. “Memang anggapan itu berlaku luas Pak, orang selalu memandang kalau Batak itu identik dengan Kristen, sama dengan Jawa yang identik dengan Islam, Bali yang identik dengan Hindu dan atau lainnya”.
Pak Buang angguk anggukkan kepala, setidaknya memang apa yang dikatakan anak muda itu benar juga, karena selain Pak Nas, Pak Buang juga mengenal setidaknya dua orang lain yang sama dengan Pak Nas.
“Padahal pada kenyataannya kan tidak, Batak yang Islam itu jutaan, sama dengan Jawa yang Kristen, juga jutaan. Masalahnya mungkin, karena pusat Kristen ada di Tanah Batak sedang pusat Islam ada di Tanah Jawa, begitu juga Bali yang merupakan pusat Hindu di Indonesia, itu yang membuat anggapan itu ada”.
Buang tampak angguk angguk kepala mendengar penjelasan Asrul. Apa yang disampaikan Asrul cukup berterima dalam pikirannya. Anggapan itu mungkin benar terjadi karena keadaan itu.
Buang kembali angguk angguk kepala, ia merasa sangat beruntung dapat berbincang dengan guru yang bakal mengabdi di desanya, ia kini malah membayangkan kalau betapa akan sangat gembiranya anak anak mereka memiliki guru yang masih muda dan berpikiran luas, santun dan ngomongannya enak didengar, ini membuat perasaan sang sopir tidak hanya sebatas bahagia, tapi kini sudah berbunga bunga.
Akhirnya sampai juga, perahu bersandar di dermaga kecil yang terbuat dari kayu, begitu melihat perahu mendekat, penduduk desa langsung mendekat, mereka ternyata sama dengan Risda dan Asrul, menunggu cukup lama.
Begitu Asrul dan Risda naik para ibu ibu menyambut mereka dengan wajah sangat gembira, mereka bertepuk tangan sambil menyanyi dan menari. Risda dan Asrul saling pandang dan sama buang senyum, bermacam perasaan bercampur dihati masing-masing, tapi harus diakui, Risda dan Asrul merasa gembira dan mulai merasa nyaman dan tenang dengan semua sambutan itu.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...