
Asrul dan Meeta sekarang saling memandang cukup lama. Asrul ternyata kalah, ia tak mampu menantang mata ibunya lebih lama, Asrul mengalihkan pandangan, mendesah panjang, memukul mukul pelan stir yang berada di depannya, Asrul kembali menatap kearah Meeta, tapi hanya sekian detik kembali mengalihkan pandangan karena sang ibu ternyata masih memandanginya lekat.
Asrul tertunduk. “Mama tega … Asrul dan Risda sudah lama menunggunya Ma, Mama tega bilang begitu ..”. Asrul tampak lemah.
Meeta juga buang nafas berat. “Hanya kemungkinan Rul, itu hanya kemungkinan terburuk, itu yang membuat Mama memintamu membawa Risda ke dokter Muhli, memastikan apakah memang itu berbahaya, belum tentu juga”.
Suasana begitu hening, dada Asrul sudah sedemikian sesak, debar jantungnya benar benar tak terkendali. Semua impian Asrul bagai melorot jatuh ke dalam jurang yang begitu dalam, Asrul benar benar kecut, nyalinya betul betul ciut. Bahkan tenaga Asrul seperti menghilang, sehingga hanya bisa bersandar lemah.
“Apa kamu pikir mama tidak sakit ?, apa kamu pikir mama tidak menunggu untuk itu Rul ?, semua orang tua punya impian yang sama, menjadi nenek. Itu status paling tinggi dari kehidupan seseorang. Setelah itu, hanya ada satu status lagi, mendiang. Mama terpukul Rul, mama sakit, maka terluka”.
Tak ada jawaban dari Asrul, sama sekali tak ada niat Asrul untuk membalas omongan ibunya, untuk melirik ibunya saja Asrul bagai tak sanggup, Asrul hanya menengadah ke atas dengan deru nafas yang tak teratur, seperti baru saja selesai marathon ratusan kilo meter, terengah engah.
Meeta kembali menghela nafas. “Tapi jika memang kemungkinan terburuk itu kemudian nyata, Mama lebih mencintai menantu mama ketimbang keinginan mama untuk menjadi nenek. Itu bisa dilakukan dengan cara yang lain, untuk saat ini, mama lebih peduli keselamatan dan kebaikan menantu mama dari apapun”.
Asrul tetap tak menjawab, air matanya sudah mengalir perlahan, Asrul membiarkan air itu mengalir begitu saja. Tapi kemudian Asrul mengurut dadanya, ada bahasa kemungkinan, ini yang membuat Asrul kembali sedikit memiliki tenaga, Asrul merogoh kantong mengeluarkan kunci mobil.
“Mama pulang duluan saja. Asrul mau disini dulu”.
Meeta menghela nafas sambil geleng kepala. “Rul .. Mama..”.
Asrul sudah keluar mobil. “Please Ma, Asrul mau disini dulu, Mama pulang saja dulu, Asrul mau disini dulu”.
“Rul, ini bukan akhirnya, semuanya belum berakhir”.
Asrul mendesah. “Asrul paham, Asrul paham. Mama pulang saja dulu, Asrul masih mau disini dulu Ma”.
Tak menunggu jawaban ibunya, Asrul kembali beranjak masuk masjid. Meeta hanya memandangi dari dalam mobil, air mata ibu paruh baya ini juga sudah jatuh. Ia tahu sesakit apa yang kini di rasakan putra sulungnya, Meeta menghusap wajahnya, kini hanya berharap apa yang menjadi kecemasan Laila tak terbukti.
Asrul sudah tak nampak, Meeta turun dan masuk lagi dari pintu yang lain, langsung menghidupkan mobil. Tapi kaki Meeta serasa bergetar untuk menginjak pedal gas, sehingga mobil tak jua berjalan. Meeta terus memandangi ke pintu tempat Asrul masuk tadi, tapi memang tak keluar juga, Meeta sudah berulang kali mengusap wajah agar bisa tenang, tapi memang tak bisa.
Meeta ambil ponselnya dan menghubungi Farhan, resah Meeta bertambah, karena sudah tiga kali tak diangkat juga. Meeta kembali merenung, ambil ponsel lagi, telephon Farhan lagi, tetap tak ada jawaban. Meeta akhirnya pencet nomor Tomy, hanya beberapa detik, Tomy langsung angkat.
“Iya Ma ..”.
“Farhan mana Tom ?”.
“Lagi ngajar ngaji Kakak Ipar Ma. Atau bentar Ma, biar Tomy kesana”.
“Nggak, nggak usah Tom, nanti saja”.
“Iya Ma”.
Telephon mati. Meeta kembali buang nafas berat dan geleng kepala, pantas Farhan tak angkat panggilannya, lagi mengajar ngaji dengan Risda. Ini yang membuat Meeta makin tak mampu menahan air mata. Ia sayang sekali pada menantunya, sehingga kecewa dengan semua ungkapan Laila.
Akhirnya Meeta beranjak juga, ia begitu pelan menjalankan mobil, jantung Meeta tak terkontrol sama sekali, debarannya begitu kencang, sangat kencang. Sampai sampai Meeta terkejut mendengar ponselnya berdering. Meeta meminggirkan mobil, melihat Farhan yang telephon, Meeta langsung angkat.
“Kenapa Ma ?, Mama dimana ?”.
Meeta mendesah. “Kakak Iparmu mana ?”.
“Sudah balik ke kamarnya Ma”.
Meeta kembali mendesah. “Far. Kamu ke masjid besar sama Tomy ya, abangmu disana, dia nggak tenang itu”.
Kening Farhan jadi berkerut. “Memang kenapa Ma ?”.
__ADS_1
“Sudahlah. Kamu sama Tomy kesini saja, soal kenapa, tanya kakakmu Mutia”.
Telephon mati. Farhan dan Tomy saling pandang dan sama sama menggeleng, karena Tomy juga mendengar tadi apa yang dikatakan Meeta. Tanpa komando keduanya langsung menuju kamar Mutia, melihat dua adiknya muncul, Mutia langsung menarik keduanya masuk, melihat kiri kanan dan mengunci pintu, ini juga membuat Farhan dan Tomy bingung.
Menjawab kebingunan Farhan dan Tomy, dengan tegas dan jelas Mutia memberikan penjelasan tentang apa yang sedang menimpa abang dan kakak ipar mereka, Farhan dan Tomy sama sama tercekat dengan muka yang sama sama langsung pucat. Farhan dan Tomy berulang kali mengucapkan Istiqhfar sambil mengelus dada mendengar semua ungkapan Mutia.
“Jadi Far, Tom. Kamu berdua susul abang ke masjid besar, dekati abang. Tapi Cuma temanin saja, nggak usah ngomong apapun, nggak usah tanya tanya apapun, diam saja, kawal saja. Jelas ?”.
Farhan dan Tomy sama sama anggukkan kepala. Sudah seperti sedang ada misi penting, keduanya begitu pelan membuka pintu kamar Mutia, keluar dengan cara mengendap endap, keduanya sama takut ketemu Risda, jika Risda bertanya, tentu Farhan maupun Tomy tak akan berani berdusta. Keduanya tampak lega saat sudah berhasil keluar rumah.
Farhan dan Tomy sama sama mengelus dada, seperti baru keluar dari kejaran musuh yang membahayakan. Mendengar sudah mendekati adzan isya, Farhan yang mengemudi mempercepat laju kenderaan. Untungnya jalanan tak begitu macet, sehingga keduanya sudah sampai di masjid besar saat adzan belum usai.
Asrul sedikit mengecilkan matanya melihat Farhan dan Tomy ada di shaf tepat di belakangnya, tapi akhirnya Asrul cuek saja. Yang ada di kepalanya sekarang bagaimana cara agar Risda bisa membawa Risda ke dokter tanpa ada rasa takut akan menghadapi adanya kemungkinan buruk.
Dari dalam Asrul beranjak ke teras masjid, hanya melirik sesaat saja saat Farhan dan Tomy sekarang sudah duduk mengapitnya, Asrul belum bisa mengeluarkan kata apapun, lidahnya masih sedemikian kelu, hanya Asrul begitu yakin, kalau kedua adiknya ini datang pasti atas perintah ibunya.
“Farhan masih semester dua, jadi belum tahu banyak Bang. Namun yang jelas, ungkapan Tante Laila itu baru sebatas perkiraan, peluangnya masih 50-50, justru kalau abang begini, bisa membuat kakak jadi bertanya tanya”.
Asrul hanya melirik sebentar, kemudian kembali mengarahkan pandangan ke halaman masjid, Asrul malah merasa, sebaiknya Farhan diam saja, nggak perlu juga bicara, karena setiap pembicaraan mengenai hal itu, sekarang membuat kepala Asrul langsung berdenyut, jantungnya langsung tak tenang.
“Bagaimana membuat kakak periksa tanpa ia tahu apa yang terjadi”. Masih Farhan. “Pasti ada caranya, tapi bagaimana ya ?”.
Tomy menggeleng. “Apa jujur tidak lebih baik Far ?”.
Farhan ikut menggeleng. “Iya sih Tom. Tapi, apakah kakak ipar kuat kalau kita jujur. Farhan rasa, lebih baik cari cara lain, kalau tak ada, baru kita jujur. Itu sebaiknya menjadi alternatif terakhir”.
Semuanya jadi terdiam. Asrul bahkan respon saja tidak, ketiganya tampak sama sama mengerut kening masing masing, masih mencoba mencari jalan terbaik bagaimana agar semuanya dapat berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan bersama, tanpa harus ada yang tertekan.
“Bang Asrul pura pura sakit saja, kemudian periksa ke dokter Muhli, baru kemudian abang bilang, kakak ipar ikut periksa saja, sekedar lihat lihat gitu. Tapi ya, Mama harus calling dulu dokter Muhlinya, supaya nyambung. Bagaimana ?”. Tomy tampak bersemangat.
Farhan sedikit memiliki senyuman, sepertinya ide Tomy lumayan bagus. Tapi, kalau memang mau periksa, ngapaian juga Asrul harus ke spesialis jantung. Tapi, Farhan juga punya ide untuk itu, sakitnya pura pura di dada saja, Farhan mulai sumringah, merasa ide Tomy layak untuk di laksanakan.
Akhirnya Farhan dan Tomy memilih diam, keduanya kini melakukan hal yang sama dengan Asrul, sehingga ketiganya sama sama saling diam diaman, hanya sesekali Farhan dan Tomy saling pandang, tapi Asrul tetap sama, tetap tanpa ekspresi, tetap tanpa suara, membuat Farhan dan Tomy makin tak berkutik. Bahkan kini perlahan lahan berubah ciut, menjadi tak berani bicara karena Asrul masih mempertahankan diamnya.
“Kita balik”.
Farhan dan Tomy bahkan hampir melonjak. “Iya, iya, siap Bang”. Tomy yang bisa mengeluarkan suara.
Tak ada kata kata apapun, ketiganya sama beranjak, Farhan menyerahkan kunci mobil ke Tomy, sehingga Tomy yang bawa kenderaan, Asrul ambil duduk di depan, dengan begitu Farhan duduk sendirian di belakang. Tomy menjalankan kenderaan cukup cepat, sehingga hanya beberapa menit sudah mencapai rumah.
Farhan dan Tomy kembali saling pandang dan sama sama menggeleng saat melihat Asrul keluar mobil dan berlalu begitu saja, bicara apapun tidak. Ini bukan kebiasaan Asrul, ini pula yang membuat Farhan dan Tomy semakin merasa kasihan, Asrul tak pernah pakai gaya begini, meninggalkan mereka begitu saja, ini benar benar di luar kebiasaan Asrul.
Debar dada Farhan dan Tomy meningkat tajam, jantung keduanya semakin berdegub kencang saat melihat Risda menyambut Asrul di pintu, spontan keduanya malah seperti sedang bersembunyi, setelah merasa aman, Farhan dan Tomy berjalan begitu pelan, sehingga saat masuk rumah Asrul dan Risda sudah sama sekali tak tampak.
Farhan dan Tomy kembali terkejut saat masuk kamar, di dalam kamar ada Meeta, Mutia dan Reni. Farhan dan Tomy mendekat dan duduk pinggir ranjang, menghadap ke Meeta, Mutia dan Reni yang duduk di sofa. Mata ketiganya lekat memandang ke Farhan dan Tomy, keduanya seperti mengerti dan langsung memberikan penjelasan.
“Jadi, Mama harus calling dokter Muhli ?”.
Farhan anggukkan kepala. “Idenya begitu Ma, tapi …”.
Kerut kening ketiga perempuan ini jadi tampak dalam saat Farhan dan Tomy malah saling pandang, saling angguk, saling geleng kepala dan sama sama angkat bahu. Ini tentu menjadi pertanyaan ketiganya, semua masih di liputi tanya, malah sudah mulai pusing melihat Farhan dan Tomy yang terus menerus melakukan hal yang sama.
“Tapi apa Far ?”. Mutia tak sabar.
Farhan menatap Tomy yang langsung menggeleng. “Tapi Kak ..”. Tomy juga seperti tak punya kekuatan meneruskan kalimatya.
__ADS_1
“Tapi apasih Tom ?, kenapa ?. Lama lama Kakak Jewer juga nanti ini”. Reni sudah mulai tampak panik.
Tomy kecut dan menggeleng,ia tahu Reni tak pernah main main dengan ancamannya. “Kita hanya sampaikan itu ke Bang Asrul, abang sama sekali tak jawab, sehingga kita tak tahu, apakah abang mau atau nggak, begitu Kak, Ma”.
Tomy malah jadi lemas. Farhan juga tampak sama, untuk sekian kalinya keduanya kembali saling pandang, saling angguk, saling menggeleng dan kembali ditutup dengan saling angkat bahu. Ini membuat Meeta, Mutia dan Reni sama sama tersandar dan sama sama memegang kening masing masing.
“Jadi bagaimana Far, Tom ?”.
“Iya, begitu Ma. Abang nggak respon apa apa. Setelah Tomy ngomong gitu, Farhan setuju, abang nggak respon gitu Ma, kami diam diaman lama. Tiba tiba abang ngajak pulang, sudah, kita pulang, gitu”. Jelas Farhan dan diamini Tomy.
Suasana menjadi hening, detak jantung semuanya semakin kencang, Meeta bahkan sudah berulang kali menghela nafas panjang, kini malah merasa begitu tertekan, untuk memastikan apakah Asrul mau dengan usulan Tomy, maka harus bertanya langsung ke Asrul, sekarang cara nanyanya bagaimana, Asrul sekarang sudah berduaan dengan Risda di kamar mereka.
Tapi bukan hanya Meeta, Mutia dan Reni juga merasa kalau usulan Tomy itu sangat baik dan memang ide yang paling nyaman saat ini, sehingga ada harapan yang besar agar Asrul sepakat untuk menjalankan ide itu, dengan begitu, nantinya semua akan tahu bagaimana kondisi jantung Risda dan bagaimana keadaan itu untuk kondisinya yang saat ini sedang mengandung calon anak mereka.
“Sudahlah. Kita sama sama lihat besok saja, bagaimana respon Asrul soal ide Tomy, mudah mudahan Asrul mau. Kita berdoa saja sama sama, semoga Asrul siap, dan kita besok bisa lihat hasil pemeriksaannya”.
Semua anggukkan kepala mendengar kesimpulan Meeta. Mutia dan Reni juga ikut berdiri bersama dengan Meeta, menuju kamar masing masing. Farhan dan Tomy kembali saling pandang, dan balik lagi sama sama geleng kepala. Keduanya sama sama masih dalam posisi bingung, belum tahu mau katakan apapun.
Untuk tidur saja Farhan dan Tomy tampak begitu sulit, entah sudah berapa kali keduanya berbalik, bergeser dan hingga berguling, tapi sepertinya tampak begitu sulit menemukan posisi yang tepat, tapi akhirnya keduanya berhasil tidur juga, walau harus mengorbankan banyak waktu.
Pagi muncul dengan begitu cepat, pagi ini suasananya tampak sedikit berbeda, sudah pukul 07.00 WIB masih banyak yang belum muncul di meja makan, bahkan Ariana sudah bosan dan meminta Satpam mengantarnya ke sekolah, karena abangnya Farhan dan Tomy belum muncul juga.
Meeta, Mutia dan Reni juga masih tampak bermalas ria di meja makan, menyuap dengan begitu pelan, Asrul juga tampak melakukan hal yang sama, hanya Risda yang masih layaknya biasa, dan tampaknya Risda sama sekali tak menyadari ada banyak yang berubah di pagi ini.
Meeta dan Mutia langsung respon saat Asrul mengeluh memegangi dadanya, Reni bahkan menghentikan suapannya. Farhan dan Tomy yang baru muncul saling colek dan tampak ada senyum di sudut bibir keduanya, tampaknya Asrul sudah memulai aksinya, tapi kemudian Farhan dan Tomy pura pura saja dan ikut mendekat.
Risda tampak mulai panik. “Abang kenapa Bang, kenapa ?”.
Asrul kembali mengeluh. “Dada abang sakit”.
“Iya, iya, kenapa Bang ?”.
Asrul menggeleng. “Nggak tahu kenapa”.
Meeta dari tadi terus berulang kali memandang layar ponselnya, sangat berharap dokter Muhli membalas pesan WA nya. Begitu ada balasan, Meeta langsung melakukan panggilan ke dokter Muhli, langsung pakai speaker supaya semua mendengar obrolannya dengan dokter Muhli.
“Iya dok, ada apa ?”.
“Dokter ada janji dengan pasien pagi ini ?”.
“Nggak ada dok, kenapa ?”.
“Dokter sudah di rumah sakit ?”.
“Ini mau jalan dok”.
“Okey dok, ini anak saya mau periksa, dokter tunggu di rumah sakit ya dok, kita juga akan langsung meluncur ini”.
Telephon selesai, Meeta langsung tampak sibuk dan meminta Asrul ikut ke rumah sakit, tentu saja Risda mana mau di tinggal, wajahnya malah sudah mulai pucat, terus menempel Asrul, naik mobil dan langsung beranjak menuju rumah sakit, Mutia yang nyetir, Reni duduk di depan, dibelakang Asrul di apit oleh Meeta dan Risda.
Begitu menghilang, Farhan langsung menyalami Tomy. “Sukses Tom. Sekarang kita tinggal tunggu hasilnya”.
Agung mendekat. “Ayah mau ke rumah sakit, kalian ikut ?”.
Farhan dan Tomy langsung anggukkan kepala, siapa pula yang mau ketinggalan info tentang kakak iparnya. Bertiga mereka langsung berangkat menyusul ke rumah sakit, karena Tomy membawa cukup kencang, mereka berhasil menyusul yang lain, sehingga semuanya sama sama sampai di rumah sakit.
__ADS_1
Rumah sakit tentu menjadi heboh, kenapa tidak, seisi rumah pemilik rumah sakit minus Ariana sekarang datang bersamaan, semua juga saling pandang dan ikut terkejut mendengar anak sulung Asrul mengalami serangan jantung, semua langsung berdoa mudah mudahan Asrul tak apa apa.
…. Bersambung …