Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
S2 : Kenapa Dengan Menantu Saya


__ADS_3

Sejak dua minggu terakhir, Risda sudah benar benar merubah penampilannya, semua pakaian yang selama ini mengisi lemarinya sudah 100% berganti, bahkan jumlah gantinya sudah hampir tak muat dalam lemari, tidak hanya pakaian yang dibeli sendiri oleh Risda, tapi juga pemberian ibu mertua dan Asrul tentunya.


Bahkan Farhan ikut ikutan membelikan pakaian untuk Risda, begitu juga dengan Mutia dan Reni. Sehingga praktis, yang sampai saat ini yang belum membelikan Risda pakaian hanya ayah mertua dan si bungsu Ariana, dua nama yang sangat tidak mungkin tentunya.


Risda yang terlampau sibuk di sekolahan, membuatnya sama sekali belum pernah menginjakkan kaki ke rumah sakit milik ibu mertuanya, kalaupun selama ini Risda ada merasa kurang enak badan, Risda lebih memilih ke Klinik, tapi setelah Mutia tak lagi ke klinik, Risda jadi berkurang juga berkunjung kesana.


Hari ini Risda hanya punya empat jam pelajaran, itupun semua diawal awal, sehingga belum sampai jam 10.00 WIB, Risda sudah tak punya kegiatan lagi di sekolah, ini pula yang membuat ibu mertuanya meminta Risda datang ke rumah sakit untuk kemudian menemaninya belanja keperluan dapur.


Risda sudah di gerbang rumah sakit, seketika Risda menggeleng, ia tak menyangka ternyata rumah sakit ibu mertuanya itu sangat megah, dari luar saja sudah begitu tampak gagah, Risda hanya senyum dan geleng kepala saja, sangat yakin kalau dana untuk membangun gedung ini saja sudah mencapai angka milyaran rupiah.


Risda memarkirkan motornya bersamaan dengan motor para pengunjung atau mungkin pasien rumah sakit. Risda cukup mendelik saat petugas parkir dengan suara agak kuat memintanya memindahkan motornya, Risda sedikit protes, tapi sang juru parkir tetap memintanya pindah parkir.


"Emang kenapa Bang kalo disini ?". Sanggah Risda.


"Nggak boleh mbak, ini jalur ambulan".


Rida agak mendelik. "Ini masih luas, mana ganggu".


"Si Mbak kok bandel sih, di bilang nggak bisa, ya nggak bisa, susah amat".


Risda menggeleng, tak mau banyak debat lagi, Risda kembali naik ke motornya, Risda belum siap betul, Si Juru Parkir menarik motor Risda ke belakang, ini membuat Risda hampir terjungkal, percikan lumpur cukup mengotori pakaian Risda, tapi si Juru Parkir santai saja, menunjuk tempat parkir untuk Risda.


Dengan terus menggeleng, Risda menjalankan motornya menuju parkiran yang ditunjuk, tampak penuh, sehingga Risda makin menjauh, bahkan terkesan cukup jauh, Risda harus berjalan kaki paling tidak dua ratus meter untuk kembali mencapai lobby rumah sakit.


Masih beberapa langkah, Risda menatap Sang Juru Parkir yang bernama Sony, kini dengan wajah yang memucat, disampingnya, satpam yang menjaga pintu gerbang Pak Rohim yang memang mengenal Risda menunduk senyum kearah Risda, tentu Risda dengan mudah membalasnya dengan senyuman yang lebar juga.


"Kau tahu nggak siapa ini ?".


Sony masih tampak gemetar. "Maaf Bu, maaf. Saya nggak tahu".


"Maaf ... Maaf. Enak saja kau minta Maaf". Sanggah Rohim.


Sony kembali agak menunduk. "Saya betul betul nggak tahu Bu, Maaf sekali".


Risda hanya menggeleng, benar kalau Risda memang masih kesal dengan Sony, tapi Risda bukan orang yang suka mengambil moment untuk menunjukkan jati diri, itu bukan sifat Risda, sehingga dalam gelengan kepalanya, Risda masih melayangkan senyum tipis.


"Sekali lagi nggak boleh gitu Bang. Siapapun punya hak untuk parkir dekat dengan lobby, Abang nggak boleh pilih pilih orang, itu salah Bang, sangat salah".


Sony masih tampak pucat. "Iya, iya Bu, maaf".


Risda kembali menggeleng dan berlalu saja meninggalkan keduanya, Sony benar benar sangat ketakutan, ia tak menyangka, kalau wanita yang di perlakukan kurang baik itu ternyata menantu pemilik rumah sakit, andai tadi Sony di maki sekalipun, Sony sudah siap menerimanya.


"Masa menantu Bos pakai motor Pak ?". Sony masih bingung.


Rohim langsung menjitak Sony. "Suka dia dong, mau naik motor kek, mobil kek, mau naik heli kek, urusanmu apa ?. Sana kerja lagi".


Sony menghusap kepalanya yang lumayan sakit mendapatkan jitakan Rohim. Tapi, Sony masih geleng kepala, sama sekali belum mengerti mengapa menantu pemilik rumah sakit ini malah naik motor, bebek pula. Cantiknya memang okey punya, tapi masa begitu, batin Sony.


Risda sudah mencapai lobby, karena memang buta dengan keadaan disini, Risda tampak agak bingung mau jalan kemana, ibu mertuanya juga nggak bilang kalau ruangannya ada dimana, Risda sudah telephon, tapi ibu mertuanya tidak angkat, Risda yakin pasti karena ada pekerjaan.


Setelah menghela nafas cukup panjang, Risda memilih duduk di bangku panjang, resepsionis dari tadi ternyata sudah memperhatikan Risda, mereka memang sama sekali tak kenal siapa Risda, sehingga mereka saling angguk, saling kerutkan kening dan saling geleng kepala.

__ADS_1


Mata Risda berhenti di pakaian bagian bawahnya yang berlumpur, tampak jelas, karena Risda pakai pakaian berwarga orange, polos pula, sehingga percikan lumpur tampak sangat jelas menimpa pakaian dan sepatunya. Risda agak mendesah, pandangan Risda mencari sesuatu, tapi tak ada yang ia cari.


Menit kemudian, Risda melihat ada kolam kecil di sudut ruangan, entah mengapa, Risda malah menuju kolam dan seenaknya saja mengelap sepatunya dengan air kolam, dua resepsionis Lina dan Lisa langsung mendekat dan agak membentak Risda, yang di bentak hanya senyum saja.


"Eh Mbak. Itu kolam, itu hiasan, bukan tempat nyuci sepatu Lu".


Risda agak mengerutkan keningnya. "Kan nggak ganggu, nggak buat kotor juga".


"Eh, Mbak. Mau nggak kotor kek, mau apa kek, emang pikiran Lu dibuat dimana Mbak, bersihin sepatu disana, nggak ada otak namanya itu".


Risda tertawa kecil. "Mungkin Situ berlebihan, nggak sebegitunya kali". Risda masih tampak tenang.


"Mbak. Lu sebenarnya kesini mau ngapaian, buat kotor ?".


Risda menggeleng. "Mau ketemu Ibu Mertua saya, kenapa ?".


Resepsionis yang bernama Lina tertawa. "Mertua Lu sakit ?, di ruangan mana ?".


Risda menggeleng lagi. "Bukan begitu".


"Lantas apa ?". Sambut Lina. "Jumpai mertua, mana mertuanya ?".


"Saya mertuanya. Kenapa dengan menantu saya ?".


Lina dan Lisa berbalik, keduanya langsung pucat. Yang berdiri di depan mereka adalah dokter Meeta, pemilik rumah sakit. Keduanya langsung ciut, mata Lisa dan Lina sekarang sudah sepenuhnya menatap lantai, dengan tubuh gemetar dan debar jantung yang berdegub kencang.


"Kenapa Menantu saya ?, kenapa ?".


"Kenapa Ma ?".


Reni dan Mutia tiba tiba muncul. Ini tentu membuat Lisa dan Lina makin gemetar, muka keduanya sudah benar benar putih, keringat dingin sudah mulai mengucur di tubuh keduanya, sudah menggapai rasa takut stadium tertinggi, apalagi Reni malah mendekati keduanya.


"Lu bentak Kakak Ipar Gua Ha ?. Berani Lu bedua". Reni sudah emosi.


Risda langsung menarik tangan Reni menjauh. "Apa sih Ren, sudah ah".


"Entar dulu Kak".


Risda kembali menarik Reni. "Sudah, sudah, ayo".


Reni sempat mengacungkan tinjunya sebelum akhirnya memilih ikut dengan tarikan tangan Risda, setelah buang nafas berat dan mengeleng berulang kali, Meeta juga meninggalkan keduanya dan mengikuti Risda dan Reni, Meeta yakin Reni membawa Risda ke ruangan mereka.


Mutia mendekati Lisa dan Lina, keduanya agak tenang karena Mutia masih memberikan senyuman. "Kalian nggak kenal Kak Risda ya".


Keduanya menggeleng. "Maaf dok, kami memang nggak tahu". Lina yang jawab.


Mutia masih senyum. "Jujur Lin, Lis. Saya sakit hati dong, iya kan ?. masa saya nggak sakit hati istri abang saya di bentak karyawan saya, menurut kalian gimana, saya salah ?".


Lisa sudah menangis. "Nggak dok, dokter nggak salah".


"Maafkan kami dok, kami memang nggak tahu". Sambung Lina.

__ADS_1


Mutia masih menggeleng. "Dalam hal ini, Kakak Ipar saya juga mungkin salah, kenapa nggak kenalkan diri, kenapa pula cuci sepatu di kolam. Tapi, hari ini Kakak Ipar saya ketiban sial dua kali".


"Maksud dokter ?". Tanya Lisa.


Mutia masih menggeleng. "Sudahlah". Mutia mengibaskan tangannya. "Kembali ke posisi Lis, Lin. Nanti setelah Reni tenang, saran saya kamu berdua minta maaf ke Kak Risda. Boleh kan ?”.


Keduanya sama anggukkan kepala. “Iya dok, iya”.


Mutia masih menggeleng. “Kalian tahu tidak ?, itu menantu pertama mama, seisi rumah menyayanginya, mohonlah supaya Reni tidak merembes. Saya malah takut jika cerita ini sampai ke telinga Ayah, Bang Asrul, atau Farhan".


"Maafkan kami dok, kami memang salah". Masih Lisa.


“Kalian tahu tidak, abang saya itu sangat mencintai istrinya, bahkan sering lebih peduli pada istri ketimbang dirinya sendiri. Coba kalian bayangkan, jika sampai abang tahu kalian membentak istrinya, apa kira kira isi kepalanya”.


Lina dan Lisa kembali memucat. “Maafkan kami dok, kami benar benart tidak tahu”.


Mutia kembali menggeleng. "Sudahlah. Ayo, kembali ke posisi".


Mutia hempaskan nafasnya, menggeleng lagi, tepuk jidat dan ikut menghilang, tentu saja ingin menemui Kakak Iparnya yang mengalami kejadian yang tak perlu saat kunjungan pertamanya ke rumah sakit ini. Mutia tentunya sangat menyesalkan itu terjadi, sebenarnya Mutia sudah cukup kesal.


Mutia tak tahu, di bangku tunggu keluarga pasien, ada yang dari tadi memperhatikan gerak geriknya, Mahdan. Pengacara muda ini dulunya adalah adik kelas Mutia di SMP, tapi Mahdan menyukai kakak kelasnya itu, rasa suka yang terpendam.


Melihat dan mendengar perlakuan Mutia pada dua karyawannya, Mahdan tersenyum penuh arti, wanita yang selama ini disukainya ternyata jauh lebih luar biasa dari yang ia duga, penuh ketenangan, penuh kesabaran, wanita idaman yang dipastikan akan menjadi incaran banyak orang.


Lina dan Lisa kembali ke posisi mereka, keduanya masih tertunduk lesu, tak menyangka orang yang mereka marahi ternyata menantu pemilik rumah sakit, Lina maupun Lisa memang sama sekali tak kenal Risda, bukan hanya mereka sebenarnya, dua resepsionis yang lain Ros dan Shinta sama, sama sama tak kenal Risda.


Dari semua resepsionis, hanya Shinta yang pernah sekali bertemu Risda, itupun saat akad nikah Risda dengan Asrul, saat itu Risda tentu dengan riasan pengantin dan tidak pakai jilbab, sehingga Shinta sedikit lupa, walau seperti kenal, tapi Shinta sama sekali tak kepikiran ke menantu dokter Meeta.


Ros menatap Lisa dan Lina bergantian, ada rasa kasihan, ada rasa bersyukur, kasihan karena keduanya begitu tampak ketakutan, ada peluang juga kalau keduanya bisa kehilangan pekerjaan, utamanya soal Reni, calon dokter itu yang paling garang di antara anak anak pemilik rumah sakit.


Ada rasa bersyukur, karena Ros tak ikut ikutan dengan tindakan Lisa dan Lina, seingat Ros, Risda bukan orang pertama yang memanfaatkan air kolam untuk membersihkan sepatunya, setidaknya Ros ingat ada dua orang sebelum ini, ada dokter gigi Risman dan dokter Smith, dokter asal Inggris yang punya jalinan kemitraan dengan rumah sakit ini.


“Itu tadi namanya Bu Risda kan Kak Ros ?”.


Ros menoleh ke Shinta dan anggukkan kepala. “Iya, istrinya Pak Asrul”.


“Cantik juga ya ?”.


Ros menggeleng. “Itu bukan cantik lagi Shin. Cantik sekali”.


Shinta senyum lebar. “Iya juga sih. Lha, Pak Asrul juga tampan”.


Ros hanya menggeleng, pengen ketawa sebenarnya, tapi segan. Nggak mungkin juga ketawa di depan Lina dan Lisa yang baru saja mendapat ceramah dari dokter Mutia hampir 4 SKS, pasti keduanya sekarang belum hilang rasa takutnya, nggak mungkin juga mengeluarkan tawa.


Tapi jauh dari itu, Ros semakin suka dan menghormati dokter Mutia, rasa kagum Ros pada dokter muda itu semakin memuncak, sikap tenangnya yang begitu bersahaja membuat Ros salut luar biasa, saat mengaku sakit hati, sang dokter bicara dengan senyuman, tapi sebenarnya itu lebih tajam, lebih menyayat, lebih dalam.


Ros sepakat dengan ungkapan banyak suster dan perawat di rumah sakit ini yang mengatakan dokter Mutia akan menjadi dokter idola berikutnya setelah dokter Meeta sang pemilik rumah sakit.


Pilihannya saat ini yang sedang mengambil spesialis anak dipandang banyak orang sebagai pilihan yang tepat, nyambung dengan sikap dan gayanya yang tidak hanya tenang, tapi juga menenangkan.


…. Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2