
***Apartemen Mewah Ardian Adhitama***
Beberapa Jam telah berlalu hingga malam pun telah tiba, Lusi merasakan kepalanya yang sangat pusing dan terasa berat, tenggorokannya yang kering ingin segera di beri minum.
Perlahan Lusi menggeliatkan tubuhnya tetapi terasa berat dan terasa ada yang menghimpit tubuhnya, dengan perlahan Lusi membuka matanya untuk melihat ada apa di sekitarnya.
Betapa terkejutnya Lusi mendapati wajah seseorang ada di sampingnya, dengan cepat Lusi mengerjap-kerjapkan matanya untuk melihat lebih jelas lagi
"mengapa ada Ardian di sini?" gumam pelan Lusi melihat wajah tampan Ardian yang masih tertidur dengan memeluk tubuhnya.
Lusi belum mengingat apapun semuanya, Lusi perlahan menyentuh pipi Ardian berharap dia hanya berhalusinasi saja, dan apa yang di lihatnya adalah mimpi.
Mata Lusi membesar setelah tahu apa yang di sentuh tangannya adalah nyata.
"aaaaaaaaa………" teriak Lusi langsung tiba-tiba bangun dari tidurnya, hingga selimut yang menutupi tubuhnya tersingkap.
"aaaaaaaa…………"teriak kembali Lusi saat melihat tubuh polosnya yang tidak menggunakan apapun, dengan cepat dia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Lusi juga langsung menutup kedua matanya dengan kedua tangannya, seraya masih teriak di dalam dekapan telapak tangannya, sedangkan Ardian yang terkejut mendengar teriakkan Lusi seketika langsung bangun dari tidurnya.
"ada apa…ada apa sayang…?" tanya Ardian yang terkejut sekaligus bingung mendengar teriakkan Lusi dengan masih menutupi wajahnya.
Ardian memegang kedua tangan Lusi yang menutupi wajahnya, perlahan Ardian membuka tangan yang menutupi wajah Lusi, dan tatapan mata mereka pun bertemu, lagi-lagi Lusi terkejut melihat wajah dan tubuh polos Ardian.
"aaaaa…apa yang kau lakukan di sini." ucap Lusi memejamkan matanya, dengan terus berusaha mendorong tubuh Ardian menjauh dari tubuhnya, tetapi itu tidak berhasil karena kedua pergelangan tangan Lusi di pegang oleh Ardian.
"tenang sayang…tenang…" ucap Ardian lembut menenangkan Lusi, dan dia tahu Lusi belum sepenuhnya ingat akan kejadian yang baru saja terjadi pada mereka berdua.
"bagaimana mau tenang…kenapa kau di sini dan tidak memakai baju…?" balas Lusi masih memejamkan matanya, dia takut untuk membuka matanya, yang akan dengan jelas melihat tubuh polos Ardian.
"apa kau masih tidak ingat apa yang terjadi…?" tanya Ardian melihat Lusi panik.
"gunakan bajumu dulu, dan lepaskan tanganku karena aku juga tidak memakai apapun, apa kau tidak malu…"
"untuk apa malu…kita sudah sama-sama saling melihat, apa yang harus di tutupi lagi." balas Ardian dengan fullgar, yang membuat Lusi membuka matanya terkejut.
Terlihat jelas senyum senang Ardian, sedangkan wajah Lusi sudah memerah karena malu akan ucapan dan melihat tubuh mereka yang tanpa sehelai benang pun.
"lepaskan tanganku dan pakai bajumu…" perintah Lusi dengan keras menarik kedua tangannya sampai lepas dari genggaman Ardian.
Lusi dengan segera menarik selimutnya lebih tinggi lagi sampai menutupi lehernya, dia berusaha menutupi seluruh tubuhnya, dan Ardian tersenyum lucu melihat tingkah laku Lusi yang malu-malu padanya, Ardian yakin saat ini Lusi belum mengingat sepenuhnya apa yang sudah terjadi pada mereka berdua.
"apa yang kau lihat…cepat pakai bajumu…dan jelas kan di mana ini, kenapa bisa kita berdua di sini…?" ucap Lusi terbata-bata, karena dia tidak mengenali sama sekali kamar ini.
"ini kamar apartemen kita sayang…tenang kan dirimu dan ingatlah perlahan semua yang terjadi." balas lembut Ardian yang mengerti Lusi masih terlihat shock akan apa yang terjadi dan di lihatnya?
__ADS_1
"apa yang terjadi…?" tanya Lusi membesarkan matanya melihat Ardian masih tersenyum padanya.
Dalam pikiran Lusi takut kalau mereka telah melakukan sesuatu berdua, yang sangat di tolak oleh akal sehatnya saat ini.
"apa kau tidak ingat kalau kau menghubungiku, karena ada yang sudah memberikan mu minum obat perangsang, dan aku terpaksa membawamu ke apartemen yang terdekat dengan hotel itu agar kau bisa cepat mendapatkan pertolongan." ucap Ardian menjelaskan dan Lusi masih melihat intens Ardian.
Dengan perlahan Lusi mengingat semua dari awal dia bertemu dengan Rania di sebuah restoran hotel, setelah kepergian Rania tubuhnya mulai memanas dan terasa tidak nyaman, lalu dengan kesadaran yang masih tersisa dia menghubungi seseorang untuk menolongnya, saat berusaha keluar dari hotel Lusi di bawa pergi oleh seorang pria yang tidak jelas Lusi ingat, dan saat Lusi mendapatkan serangan yang hebat dari obat perangsang pada tubuhnya, Lusi perlahan ingat dan terlihat jelas wajah Ardian yang menciumnya lembut dan membantu untuk menghilangkan reaksi dari obat perangsang pada tubuhnya.
Seketika Lusi terkejut dengan mata yang membesar dan menutup mulutnya yang terbuka, Lusi mengingat semua di saat dia merasakan rasa nyaman dan kenikmatan yang di berikan oleh Ardian pada dirinya, agar tubuhnya yang panas dan tidak nyaman akan pengaruh obat perangsang hilang.
"apa kita benar sudah melakukan itu…?" tanya Lusi terbata-bata karena masih tidak percaya.
"iya sayang…dan kita melakukannya atas dasar suka sama suka, dan kita melakukan tidak atas dasar keterpaksaan, kita melakukan karena saling membutuhkan." balas lembut Ardian.
"aaahhh…tidak…!!" gumam sedih Lusi, dia tidak percaya apa yang sudah terjadi.
Air mata Lusi tidak bisa di bendung lagi, Lusi tidak bisa percaya kalau dia sudah melakukan hubungan percintaan dengan Ardian.
"tidak…seharusnya ini tidak terjadi…" ucap Lusi menggelengkan kepalanya masih tidak bisa menerima apa yang sudah terjadi pada mereka.
"tenang sayang…tenang…" ucap lembut Ardian berusaha menenangkan Lusi yang mulai menangis.
Lusi menjauhkan tangan Ardian yang ingin memeluknya, Lusi masih berontak dan menangis karena masih tidak bisa menerima apa yang sudah terjadi padanya.
"tenang sayang…"
"tidak sayang…walaupun kau meminum obat dari dokter sekalipun, obat itu akan berpengaruh pada otak dan kesehatan tubuh mu, karena hanya cara kau bisa melakukan pelepasan dan hanya berhubungan badan yang bisa melepaskan efek dari obat perangsang itu."
Lusi semakin menangisi keadaannya saat ini, nasi sudah menjadi bubur dan semua sudah terjadi, Lusi juga sadar apa yang di katakan oleh Ardian adalah benar, hanya berhubungan badan saja satu-satunya cara Lusi bisa mendapatkan pelepasan dan menghilangkan reaksi dari obat perangsang yang dia dapatkan.
"ini salah Ardian, ini dosa…kita berdua…!!"
"sayang…jangan menangis, kita masih sah suami istri, dan kita wajar melakukannya, itu tidak dosa dan tidak menyalahi aturan." balas Ardian menatap lembut Lusi dan berusaha memberikan pengertian pada Lusi.
"sayang…!" ucap Ardian mencakup kedua pipi Lusi dengan lembut." hubungan kita masih sah sebagai suami istri, dan kita tidak salah ataupun dosa bila melakukan hubungan itu." ucap Ardian menjelaskan dengan nada lembutnya dan menatap mesra Lusi.
Lusi hanya bisa terisak dan menatap mata Ardian yang terlihat tulus memberikan pengertian padanya, Lusi berusaha berpikir dan mengingat saat dialah yang mengizinkan dan memaksa Ardian melakukan hubungan percintaan itu padanya, Lusi masih ingat Ardian dengan jelas dan lembut meyakinkan dirinya apakah Lusi siap dengan apa yang akan mereka lakukan? Lusi dengan jelas ingat dialah yang terus memaksa Ardian melakukan nya untuk membuat tubuhnya menjadi nyaman.
"maafkan aku Ardian… bila aku sudah memaksa mu…maafkan aku…!!" ucap Lusi menatap mata Ardian.
"tidak sayang…kita sama-sama saling membutuhkannya, dan aku senang kau menghubungiku bukan orang lain." ucap Ardian dengan tatapan lembutnya, dia bersyukur Lusi menghungi dirinya bukan orang lain, bila saja Lusi menghubungi orang lain, Ardian pasti sangat kecewa dan marah sekali.
Ardian perlahan mencium sayang kening Lusi, dia meresapi ciumannya lama dan dalam, Lusi pun dengan repleks memejamkan matanya karena merasakan rasa nyaman pada perlakuan Ardian padanya, mata mereka saling menatap dengan lembut dan mesranya.
Dengan perlahan Ardian memeluk tubuh Lusi, dan mendekapnya lembut seraya membelai rambut panjang Lusi.
__ADS_1
"terima kasih sayang…karena kau sudah memilih ku untuk membantumu, terima kasih kau mempercayaiku." ucapnya lembut masih membelai rambut panjang Lusi.
"apa kau sudah merasa baikan?" tanya Ardian dan di jawab anggukkan kepala oleh Lusi.
"aku berharap reaksi obat itu benar-benar hilang."
"apa reaksinya akan bisa muncul kembali?" tanya Lusi terkejut karena perkataan Ardian.
Lusi melepaskan dirinya dari pelukkan Ardian, dia takut reaksi panas dan tidak nyaman pada tubuhnya kembali lagi, karena Lusi masih bisa mengingat bagaimana tersiksanya dia saat itu?
"entahlah…tergantung dosis dan kualitas dari obat perangsang yang kau minum, bisa hilang dengan sekali berhubungan dan bisa juga kembali di rasakan beberapa jam kemudian karena dosis yang lebih dan kualitas obat yang bagus." ucap apa adanya Ardian karena itu yang dia tahu tentang pengaruh obat perangsang.
Ardian juga gemas melihat mimik wajah takut Lusi yang terlihat lucu di matanya, Ardian selalu berharap kedekatan ini terus berlangsung, mereka berdua benar-benar bisa bersama dan tidak akan terpisah lagi.
"terus bagaimana dengan obat yang aku minum? apa bisa terasa lagi?" tanya Lusi dengan mimik wajah takutnya, yang membuat Ardian gemas melihatnya.
"aku tidak tahu…!! apa kau ingin mencoba cari tahu…?" ucap Ardian mencoba menggoda Lusi.
"caranya…?" tanya Lusi yang langsung terdiam karena ciuman lembut pada bibirnya.
"itu caranya…" balas Ardian terseyum senang bisa menggoda Lusi.
Lusi yang masih terkejut tidak percaya membesarkan matanya melihat Ardian.
"kau bohong…itu sih maumu…!!" balas Lusi dengan tatapan curiganya.
"tidak sayang…aku tidak bohong."
"tapi buktinya tidak ada yang terjadi?"
"karena itu hanya sekilas…" ucap Ardian menatap mesra Lusi.
"tapi…!" ucap Lusi tertahan.
Karena Ardian sudah membungkam bibir Lusi kembali dengan ciuman lembutnya, Lusi ingin menolak tetapi tertahan oleh tangan Ardian yang memegang tengkuk Lusi, Ardian memperdalam ciumannya dan menikmati rasa manis pada bibir Lusi yang sudah menjadi candu baginya.
Pertahanan Lusi pun runtuh, ciuman dalam dan lembut Ardian membangkitkan kembali gairah yang ada didalam tubuh Lusi, Lusi pun membalas ciuman lembut Ardian dengan membuka sedikit mulutnya dan mengizinkan Ardian mengabsen setiap bagian dalam mulutnya.
Ciuman mereka berdua sudah berubah menjadi ciuman yang panas dan memburu, Ardian melepaskan ciumannya karena terlihat Lusi sudah kehabisan nafas kerena ciuman mereka yang terus saling memberikan kenikmatan, tatapan lembut dan mesra mereka pun bertemu, tatapan yang sudah berubah menjadi gairah yang panas yang ingin segera di tuntaskan.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.