Takdir Atau Hidupku

Takdir Atau Hidupku
Episode 125. Perasaan Tiga Orang Yang Terikat Kuat.


__ADS_3

***Rumah Sakit***


Satu minggu sudah berlalu, satu minggu juga Lusi Arsinta terkapar lemah tidak sadarkan diri di sebuah rumah sakit yang di miliki oleh keluarga Ardian Adhitama. Mereka masih setia dan sabar menanti kesadaran Lusi, namun tanda tanda itu tidak kunjung datang.


Lusi Arsinta di nyatakan koma.


Ardian dengan setia menemani Lusi di rumah sakit, sedangkan mama Lusi nyonya Nania Mahendra Melviano datang berkunjung untuk beberapa jam saja, karena harus mengasuh si kembar Nathan dan Nathalia.


Ardian lah yang melakukan segalanya untuk Lusi Arsinta, dari membasuh dan membersihkan tubuh Lusi dengan air hangat, menggantikan pakaiannya, menyisir rambutnya, dan membalurkan pelembab kulit pada seluruh tubuh Lusi agar tidak mudah kering.


Ardian menatap sedih sang istri yang tertidur lelap tanpa mau bangun, walaupun hanya satu detik saja. Air matanya tidak dapat tertahan lagi saat melihat wajah Lusi yang pucat dan terpejam rapat.


"sayang." panggil Ardian yang sedang duduk di samping ranjang perawatan Lusi.


"sampai kapan kamu akan tidur seperti ini?" ucap Ardian dengan nada sedihnya yang mulai bergetar.


Air mata Ardian jatuh menyentuh punggung tangan Lusi yang ia cium hangat. Ardian berharap ketulusan dan kehangatan yang ia berikan kepada Lusi, dapat membuat Lusi kembali siuman dan bangun dari tidur lelapnya.


"apa kamu tidak merindukan aku dan anak anak kita." ucapnya sedih. Air mata terus keluar dari pelupuk mata Ardian.


Kehancuran dan kesedihan Ardian saat ini membuatnya jatuh dan tidak dapat melakukan apapun? pernah merasakan kehilangan seseorang yang di kasihi dan dia cintai membuat Ardian setiap saat takut.


Ketakutan yang sungguh menyiksa hati dan bhatinnya, jika bisa memilih lebih baik dia yang ada di posisi Lusi saat ini. Ardian tidak sanggup untuk kehilangan kembali. Dia ingin melakukan yang terbaik untuk Lusi, namun semua itu tidak ada artinya.


Lusi masih setia pada tidur panjangnya, tanpa mau bangun kembali. Tidak, Ardian tidak ingin itu terjadi. Lusi harus bangun dan bersamanya kembali untuk selamanya. Itulah keinginan dan doa yang selalu dia panjatkan kepada Tuhan, agar terkabul dan menjadi kenyataan.


"sayang…" panggil Ardian masih ada getaran tubuhnya karena terisak akan tangisannya yang pilu.


"aku mohon bangunlah. Aku tidak ingin kamu tidur terus seperti ini. Sudah cukup sayang, bangunlah." tangisnya dengan terus mengecup seluruh telapak tangan Lusi yang ia genggam erat.


"sayangku…aku mohon jangan seperti ini. Aku tersiksa melihatmu seperti ini. Aku mohon bangunlah sayangku. Cintaku." ucapnya pilu.


Tanpa Ardian sadari seseorang datang dan tengah berdiri di ambang pintu kamar perawatan Lusi. Orang tersebut dapat mendengar semua yang Ardian katakan, kesedihan Ardian dapat ia rasakan, betapa besar cinta Ardian pada wanita yang kini masih setia pada tidur panjangnya. Wanita yang pernah mengisi hatinya beberapa tahun ini, iya dia adalah Bryan Aldevaro.


Bryan Aldevaro datang untuk kedua kalinya ingin menjenguk Lusi yang tidak pernah menunjukkan tanda tanda siuman sama sekali. Bryan berdiri terpaku melihat pemandangan yang ada di hadapannya, di mana seorang suami terluka dan terlihat rapuh di hadapan istrinya yang lemah tertidur lelap.


Bryan dapat merasakan betapa besar sayang, cinta dan perhatian dari Ardian kepada Lusi. Betapa terlihat rapuh seorang Ardian Adhitama yang dia kenal selalu dingin, kuat, arogan dan kejam terhadap semua orang. Kini pria kuat tersebut jatuh di hadapan istri tercintanya.


Bryan mencoba mendekati Ardian, perlahan dia menyentuh pundak Ardian yang masih bergetar karena tangisannya. Sentuhan yang dapat Ardian rasakan tulus dan hangat.


Ardian menatap ke arah sampingnya, karena dia dapat merasakan seseorang berdiri di samping kanannya. Ardian menghapus jejak air matanya melihat Bryan yang tengah melihat Lusi.


"kuatlah Ardian, dia bukan wanita yang lemah. Kau harus kuat dan terus bersabar untuknya." ucap Bryan dengan ketulusan pada ucapannya dan tatapan Bryan padanya, lalu beralih melihat kembali ke arah Lusi.

__ADS_1


"Lusi bukan wanita yang lemah, dia adalah wanita kuat yang pernah aku kenal selama ini." ucapnya kembali, sembari menepuk-nepuk lembut pundak Ardian.


Ardian dapat melihat masih ada cinta pada sorot mata Bryan saat memandang Lusi. Ketulusan akan dukungannya dapat Ardian rasakan. Tidak akan mungkin seseorang bisa menghapus rasa cinta dan sayangnya yang tulus begitu saja dalam waktu singkat.


Semua itu memerlukan waktu yang panjang, dan kesabaran serta keikhlasan yang besar. Bryan sedang melakukan itu demi kebahagiaan dan kedamaian wanita yang pernah dia cintai dan sayangi setulus hati, yaitu Lusi Arsinta.


Takdir dari hidup seseorang, tidak ada yang tahu begitupun Bryan Aldevaro, Lusi Arsinta dan Ardian Adhitama. Tiga orang yang terikat akan takdir hidup dan cinta segitiga di dalam hidup mereka.


"terima kasih." balas Ardian tulus. Tidak ada permusuhan sama sekali saat ini di hatinya.


Ardian tahu cinta tidak bisa memilih akan berlabuh ke hati siapa? Ardian sadar dan mengerti jika cinta Bryan kepada Lusi bukanlah salah mereka. Keadaan yang mempertemukan mereka, di saat Lusi tidak mengingat apapun?


"Bryan…bujuklah Lusi bangun dari tidurnya." ucap Ardian tanpa melihat ke arah Bryan. Tatapan mata Ardian intens ke arah wajah Lusi.


Bryan menatap heran ke arah Ardian, dia tahu jika Ardian sudah tidak menganggapnya musuh dan saingannya lagi. Itu di lakukan karena untuk membuat senang dan tenang hati Lusi. Ardian rela meredam rasa egois dan keangkuhan pada Bryan demi Lusi.


Bryan mengerti maksud dari Ardian, dia pun melihat ke arah Lusi.


"Lusi…apa kabar…?" ucapnya terhenti. Ada rasa sedih yang mulai dia rasakan. Bryan menelan salivanya dengan susah payah karena rasa sedih yang mulai dia rasakan.


"bangunlah, sampai kapan kamu akan tidur seperti ini." ucapnya terhenti dan terus menahan kesedihan di dalam hatinya.


"kami semua menyayangimu. Bangunlah lusi…lihat di sini ada suami yang terus ada untukmu, aku datang untuk mendukungmu. Si kembar terus bertanya tentangmu. Apa kau tidak ingin melihat kami…?" ucapnya. Mata Bryan telah berkaca-kaca karena menahan air mata kesedihan melihat kondisi lemah Lusi.


Suara Bryan mulai serak karena berusaha menahan getar nada dan air matanya. Ardian tahu Bryan juga tidak kuasa melihat kondisi dari wanita yang pernah mengisi hatinya. Ardian mengerti bagaimana perasaan Bryan saat ini? karena dia juga merasakan hal yang sama.


"Lusi…kamu adalah wanita yang sangat kuat yang pernah aku kenal. Kamu adalah wanita yang tidak mudah putus asa. Jadi kami mohon bangunlah." ucapnya dengan getar suara yang tidak bisa dia tahan lagi.


Bryan maupun Ardian terdiam pada pikiran dan larut akan kesedihan yang sama-sama kuat mereka rasakan. Dua pria tampan yang sama-sama mencintai satu wanita yang mampu membuat mereka terlihat rapuh dan tidak berdaya. Hanya mampu memandang wajah Lusi yang terlihat semakin pucat dari hari ke hari.


...--------------------------------...


…Taman Bunga Dan Padang Rumput…


Suasana mendung menyelimuti sebuah taman bunga dan padang rumput yang sangat luas. Angin tertiup pelan namun terasa dingin, menyapa setiap yang ia lalui. Di mana tidak ada satu orangpun yang datang pada taman tersebut?


Aku duduk pada sebuah batang pohon yang sudah usang, tua dan terpotong pendek. Ranting rantingnya yang sudah kering menadakan jika pohon tua itu tumbang dan sudah mati.


Aku membelai lembut kulit pohon yang mulai mengering dan terkelupas. Tanganku dapat merasakan betapa kasar dan keringnya kulit pohon yang aku duduki.


"mengapa aku di sini? tempat apa ini? mengapa aku duduk dan tidak dapat bangkit lagi?" itulah yang aku tanyakan, namun mulutku tetap setia terkatup rapat tidak bergerak sama sekali.


Aku merasa di paku kuat dan tidak dapat terlepas dari tempatku duduk. Perlahan aku rasakan angin dingin menyeruak menyentuh seluruh tubuhku yang menggigil seketika. Rambutku yang panjang tergerai menari lepas dan bebas mengikuti alur angin yang berhembus.

__ADS_1


"sayang." suara yang dapat dan tiba-tiba aku dengar. Suara seorang pria yang terdengar sangat sedih.


"aku mohon bangunlah. Aku tidak ingin kamu tidur terus seperti ini. Sudah cukup sayang, bangunlah." kembali suaranya ku dengar.


"siapa itu?" tanyaku melihat ke sekeliling, namun masih sepi tidak ada siapapun?


"sayangku…aku mohon jangan seperti ini. Aku tersiksa melihatmu seperti ini. Aku mohon bangunlah sayangku. Cintaku." ucapnya pilu.


Air mataku menetes begitu saja, rasa sedihnya dapat aku rasakan. Pria itu menangis dan tulus pada ucapannya.


"Ardian." ucapku. Aku mengenalinya. Iya itu adalah suara Ardian, namun sosoknya tidak dapat aku lihat.


Di mana? dimana dia berada? aku mencarinya sepanjang taman bunga dan padang rumput tempatku berada sekarang. Tidak ku temukan yang aku cari, di mana dia? tetapi suaranya jelas di telingaku.


Aku menangis, aku merindukannya. Aku merasa jika sudah lama sekali aku tidak melihat sosoknya, rinduku besar untuknya, suami yang sangat aku cintai dan sayangi sepenuh hatiku. Suami yang mencintaiku dengan sepenuh hatinya. Namun sosoknya hilang tanpa bisa aku temukan di mana keberadaannya.


Ada yang terasa kosong di dalam hatiku, kehampaan ini sudah sangat lama aku rasakan.


"mengapa…apa yang terjadi selama ini padaku?" tanyaku mencoba mengingat semuanya.


"Ardian…!" panggilku. Namun suaraku tidak ingin keluar dari dalam mulutku.


"Ardian, sayang…!" panggilku, namun sama suaraku tidak keluar sama sekali.


"Lusi…apa kabar…?" suara lain dapat aku dengar kembali. Tetapi lama langsung menghilang.


Aku terdiam, aku ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya saat ini?


"kami semua menyayangimu. Bangunlah lusi…lihat di sini ada suami yang terus ada untukmu, aku datang untuk mendukungmu. Si kembar terus bertanya tentangmu. Apa kau tidak ingin melihat kami…?" ucapnya. Kembali aku dapat mendengar suara yang aku tahu milik siapa itu?


"Ryan, kau kah itu…?" tanyaku, namun lagi-lagi suaraku tidak keluar sama sekali.


"Lusi…kamu adalah wanita yang sangat kuat yang pernah aku kenal. Kamu adalah wanita yang tidak mudah putus asa. Jadi kami mohon bangunlah." ucapnya, kembali suara Ryan dapat aku dengarkan. Namun untuk membalasnya suaraku tidak keluar sama sekali.


Dapat aku rasakan perasaan sedih hati Ryan kepadaku. Ketulusan dan keikhlasan yang ia salurkan dari ucapannya dapat aku rasakan. Dua orang pria sama-sama mengasihi, menyanyangi dan mencintaiku. Aku ingin melihat kalian, tapi di mana kalian berdua berada saat ini?


Ini bagaikan mimpi yang menyiksa bathinku. Aku terpaku diam tidak bergerak, mulutku terkatup rapat tidak dapat bersuara. Namun hatiku terus mengenali suara-suara yang aku dengar, hatiku dapat berbicara untuk membalas dan memanggil mereka. Namun itu hanyalah sia-sia saja.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…

__ADS_1


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2