
***Aula Hotel R.W.C***
episode sebelumnya…
Nico di persilahkan turun dari panggung terlebih dahulu, dan saat ke empat pria petinggi dari empat perusahaan besar tersebut turun dari panggung, terdengar suara tembakan yang mengenai sisi bahu kiri Nico yang mengakibatkan Nico langsung jatuh terpental ke belakang dan membuat semua orang di dalam ruangan terkejut dan terjadi keriuhan di dalam ruangan.
...----------------...
Nico jatuh tepat di depan Ardian, Ardian dengan segera menopang badan Nico agar tidak menyentuh lantai di atas panggung, Bryan dan Radhika langsung menunduk untuk melindungi diri dan melihat di sekitar apa yang sebenarnya terjadi, dan dari mana asal tembakan itu.
Semua yang ada di ruangan riuh dan berlindung menunduk di bawah meja, Deo langsung memasang earphone di telinganya untuk memberitahukan kepada semua anak buahnya yang ada di luar untuk masuk ke dalam aula, tetapi malah sialnya beberapa anak buahnya sedang berkelahi menghadapi anak buah musuh.
"Zia kau pergi ke arah nona Lusi dan beritahu dia untuk tetap tenang dan waspada pada musuh yang kita tidak tahu." perintah bisik Deo pada Zia yang ada di sampingnya.
Zia dengan segera berlari ke arah Lusi dan Dewi yang sedang berlindung di samping panggung, Lusi nampak berusaha tenang sedangkan Dewi sudah panik dan menangis.
"tenanglah mbak Dewi." ucap Lusi memeluk menenangkan Dewi yang sedang menangis karena ketakutan.
"maaf permisi apa kalian tidak apa-apa?" tanya Zia pada Lusi dan Dewi, Zia sengaja seolah tidak kenal dengan Lusi, agar Dewi tidak tahu kalau Zia dan Lusi saling mengenal.
"aku tidak apa-apa, mbak Dewi cuma ketakutan." balas Lusi yang tahu isyarat dari Zia untuk pura-pura tidak kenal dengan Zia.
"Lusi aku takut sekali…" ucap Dewi menangis di dalam dekapan Lusi, Lusi berusaha menenangkan Dewi dengan mengusap halus punggung Dewi.
"tenang mbak dewi…kita akan baik-baik saja." jawab Lusi menenangkan Dewi.
"apa yang terjadi?" tanya Lusi melihat ke arah Zia yang sedang ada di depannya siaga dan melihat kesekitar.
"aku juga kurang tahu, kami masih melihat situasinya dan kondisi nya." jawab Zia menoleh ke belakang.
"tuan Nico tertembak.…apa dia terluka parah?" tanya Lusi khawatir akan keadaan Nico.
"tenang…tuan Nico sudah memakai baju Anti peluru yang melindunginya, jadi dia selamat dan baik-baik saja, dia hanya ingin mengecoh musuh agar keluar, karena kita tidak tahu siapa musuh di antara mereka." jelas Zia yang masih waspada dan berjaga menjadi tameng di depan Lusi dan Dewi.
__ADS_1
"apa kau yakin?" tanya Lusi ragu karena dia benar-benar khawatir akan keadaan Nico.
"yakin sekali…tuan Nico tidak akan mudah untuk tertembak dan di habisi musuh."
"baiklah." lega Lusi.
"kau siapa?" kali ini Dewi yang bertanya karena dari tadi Dewi melihat dan menyimak Lusi dan Zia berbicara seperti orang yang sudah kenal.
Zia dan Lusi saling bertatapan mata.
"saya sekretaris tuan Nico, tadi saya ada di dekat sini, saya melihat anda berlindung di sini dan saya juga ikut berlindung." balas Zia mencari alasan yang tepat untuk membuat Dewi percaya kalau dia dan Lusi tidak saling mengenal.
Dewi hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti, karena masih merasa takut akan suara tembakan tersebut, sedangka Lusi lega kalau Dewi tidak curiga apapun padanya dan Zia, tapi dia berpikir lambat laun semua akan tahu kalau Lusi mengenal rombongan dari Faresta Group, terutama mengenal baik tuan Nicole Richie wakil presdir Faresta Group.
Terlihat semua para tamu masih menunduk dan berlindung di bawah meja, termasuk juga tuan Erick, Rania, Yani dan Lukas, mereka tidak tahu apa ini ulah anak buah Lukas apa bukan.
Terdengar dari arah luar aula suara perkelahian dan beberapa tembakan, sedangkan beberapa anak buah dari Ardian, Bryan, Radhika, dan juga Nico ada yang sudah masuk ke dalam aula dengan masing-masing pistol di tangan mereka untuk berusaha melindungi diri dan segera menuju ke arah panggung untuk mencari atasan mereka yang harus di lindungi.
Semua asisten pribadi mereka sudah bersama dengan tuannya masing-masing dengan memegang pistol untuk berjaga-jaga.
"Lukas apa anak buahmu gila? hampir saja tembakan itu mengenai Ardian." bisik marah Rania pada Lukas.
"sepertinya bukan nona, ini bukan ulah anak buahku…" kilah Lukas berbisik.
Lukas mendapatkan info bahwa serangan itu bukan dari anak buahnya, tetapi dari anggota lain.
"apa maksudmu?" tanya Rania heran.
"anak buahku baru saja melaporkan kalau serangan itu bukan ulah mereka, serangan itu dari anggota lain." bisik Lukas menjawab.
"siapa?" tanya Rania penasaran dan sedikit geram karena hampir saja Ardian yang tertembak jika saja tidak ada Nico di depan Ardian.
"sepertinya itu ulah dari anggota mafia Black Lion." balas Lukas masih berbisik agar tidak banyak yang mendengar.
__ADS_1
"Black Lion? apa kau yakin?" tanya Rania mengerutkan keningnya melihat Lukas.
"Yani apa kau tahu Black Lion akan ikut membantu kita menyerang ke sini?" tanya Ranai pada Yani yang ada di sampingnya.
"tidak nona…mereka tidak bisa di hubungi dan aku juga tidak bisa meyakinkan temanku itu." jawab Yani menggelengkan kepalanya.
"lalu siapa yang memerintahkan mereka dan apa tujuan mereka?" tanya Rania kesal karena ulah Black Lion Ardian hampir saja tertembak.
"Lukas perintahkan anak buahmu selain menangkap wanita itu, mereka harus berusaha melindungi Ardian juga, aku tidak mau Ardian terluka." perintahnya pada Lukas dan di jawab anggukkan kepala oleh Lukas tanda mengerti.
'nona anda belum tentu tidak dalam bahaya malah melindungi orang lain, yang sama sekali tidak peduli dengan anda.' gumam Yani dalam hatinya mendengar perintah Rania yang meminta Lukas melindung Ardian yang nyata-nyata membawa anak buah juga.
'nona Rania kau sudah di butakan akan obsesi cintamu pada Ardian, sehingga tidak peduli akan keselamatanmu lebih dulu.' gumam Lukas dalam hati.
Beberapa sisa anak buah dari mafia King Dragon yang selamat memasuki aula, dan di ikuti oleh anak buah Black Lion, mereka masuk saling menodongkan pistol yang mereka pegang, tidak beberapa lama kemudian layar besar yang ada di atas panggung pun hidup secara tiba-tiba.
"hallo semuanya…!" sapa seseorang muncul di dalam layar yang ada di atas panggung.
Dalam layar nampak seorang pria yang memakai topi dan masker wajah hitam menutupi wajahnya, semua mata tertuju pada layar yang tiba-tiba hidup dan seorang pria menyapa di sana.
"maaf sedikit hiburan yang menegangkan dari ku untuk kalian…aku hanya menginginkan satu orang tetapi susah sekali aku dapatkan, jadi terpaksa aku harus berbuat onar sedikit di sini, aku harap kalian mengerti, aku hanya menginginkan satu orang itu !! apakah aku bisa mendapatkannya? " ucap dan tanya pria yang ada di dalam layar seraya tertawa dan tidak ada rasa bersalah sama sekali.
Suasana menjadi tegang karena pemberitahuan pria tersebut, dan mereka semua tahu bahwa layar dan ruang editor penjagaan CCTV pasti sudah di bajak, sehingga pria tersebut dengan mudah dan leluasa berbicara pada layar untuk mengumumkan kehadirannya.
Semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut hanya bisa diam dan pasrah apa yang akan terjadi selanjutnya, mereka masing-masing hanya bisa berdoa agar ini cepat berlalu dan mereka bisa selamat.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.