Takdir Atau Hidupku

Takdir Atau Hidupku
Episode 81 Menahan Lusi.


__ADS_3

…Episode sebelumnya…


"Ardian ternyata dalang di balik penculikkan tante Meli adalah wanita itu." tunjuk Rania ke arah Lusi.


Lusi semakin mengerutkan alisnya mendengar aduan Rania pada Ardian yang menuduhnya dalang dari penculikkan ini.


Ardian melihat pada Lusi yang masih menodongkan pistolnya ke arah pintu gerbang, dimana ada dua teman Rania dan seorang sandra, Lusi pun melihat ke arah Ardian yang menatapnya dengan tatapan tidak percaya dengan apa yang Ardian lihat saat ini?


...----------------...


Sekarang Lusi mengerti, dia curiga akan sikap Rania padanya dari awal yang tidak suka akan kehadiran Lusi, penculikkan ini adalah jebakkan untuknya dan Lusi semakin curiga pada Rania yang sebenarnya adalah dalang di balik semua ini, Lusi menurunkan todongan pistolnya dan akan mengikuti alur cerita yang akan di buat oleh Rania Kiandra.


Lusi berjalan santai mendekati Zia dan nyonya Meli yang belum sadarkan diri, setelah selesai mengecek keadaan nyonya Meli, Lusi sendiri yang mendorong kursi roda nyonya Meli menuju ke arah Ardian dan Rania yang ada di luar gudang.


Ardian menatap Lusi yang berjalan mendekati mereka dengan mendorong kursi roda nyonya Meli, Ardian melihat keadaan mamanya yang tidak sadarkan diri pun segera mendekati sang mama ingin tahu keadaannya.


"mama…mama…" panggil Ardian seraya membelai lembut pipi sang mama, tetapi tidak ada respon apapun.


"apa yang kau lakukan sama Tante Meli?" ucap keras Rania mendorong pundak kanan Lusi sehingga Lusi melangkah mundur selangkah.


Ardian yang tidak dapat respon dari sang mama pun berdiri dan menatap Lusi dengan wajah datar dan dinginnya.


"nyonya Meli tidak sadarkan diri karena beliau di bius oleh penculiknya." balas Lusi dengan nada biasa, dia bertahan agar tidak terbawa emosi akan tindakan Rania padanya.


"kau penculiknya, masih juga belum mau mengaku?" tuduh Rania kembali dengan mendorong kedua pundak Lusi hingga dia melangkah mundur beberapa langkah.


"sudah aku katakan, bukan aku yang menculik nyonya Meli, aku datang kesini untuk menyelamatkan nyonya Meli karena aku dapat video kiriman penculikkan nyonya Meli." balas Lusi membela dirinya.


Ardian tidak merespon atau menjawab pembelaan Lusi pada dirinya, Rania pun memanfaatkan situasi tersebut untuk memprovokasi Ardian dan Lusi kembali.


"Ardian…bukti sudah menunjukkan bahwa di sini tidak ada siapapun selain mereka berdua." tunjuk Rania pada Lusi dan Zia secara bergantian.


"jadi sudah jelas bahwa dia yang sudah menculik tante Meli." tuduh Rania terus memprovokasi Ardian agar percaya bahwa Lusi adalah dalang dari penculikkan ini.


Lusi hanya geleng-geleng kepala saja, dia tahu pasti bahwa Rania akan terus menuduhnya sampai Ardian percaya dan bertindak untuk menghukum Lusi.


"terserah kalian kalau kalian tidak percaya dengan apa yang aku katakan, yang pasti aku katakan sekali lagi…bukan aku dalang di balik penculikkan ini, tuan Ardian anda bisa menyelidiki kasus ini dan bila terbukti aku adalah dalangnya aku akan siap bertanggung jawab, aku tidak akan lari dari kesalahanku dan melempar tuduhan pada sembarang orang tanpa bukti yang jelas." bela Lusi seraya menatap tidak suka pada Rania yang menatapnya tajam dan bergantian menatap pada Ardian yang masih hanya diam.

__ADS_1


"apa maksud perkataan mu? kau menyindirku karena menuduhmu tanpa bukti, apa kau buta semua bukti menunjuk padamu, apa lagi pembelaan yang akan kau lakukan? aaaa…" ucap Rania kesal yang terus mendorong Lusi.


Tetapi saat dorongan kedua, Lusi menangkap kedua tangan Rania dan meremasnya keras untuk melampiaskan kekesalannya akan tuduhan Rania padanya.


"cari bukti yang kuat dulu baru kau bisa menuduhku, dan jangan menyentuhku lagi, kau mengerti…" ucap Lusi melepaskan kasar kedua tangan Rania setelah puas meremas dan melihat Rania kesakitan.


"lebih baik anda bawa mama anda ke rumah sakit terdekat untuk mengetahui kondisi beliau lebih lanjut, anda bisa menghubungiku kapan saja akan kasus ini aku siap membantu." ucapnya menatap pada Ardian yang masih tetap diam memandangnya dengan wajah datar.


"saya permisi tuan…ayo Zia." pamit Lusi pada Ardian dan ajak Lusi pada Zia.


Baru saja Lusi ingin melangkahkan kakinya di cegah oleh teman laki-laki Rania yang menodong pria Sandra tadi.


"jangan coba-coba kau untuk lari." peringatan dari Rania.


Lusi dan Zia hanya diam melihat pada laki-laki yang ada di hadapannya itu, Lusi mulai kesal akan tindakkan Rania padanya.


"minggir…" peringatan Lusi seraya menatap tajam pria yang menghalangi jalannya.


"apa yang kau tunggu, tangkap dia…" perintah Rania pada pria yang menghadang Lusi.


Pria itu pun ingin meraih tangan Lusi, tetapi dengan cekatan Lusi menangkis tangan pria tersebut yang ingin menangkapnya, Lusi lalu memasang kuda-kuda untuk menyerang bila pria tersebut masih ingin menangkapnya.


Rania tersenyum kemenangan karena berhasil memprovokasi Ardian untuk percaya bahwa dalang di balik penculikkan ini adalah Lusi, sedangkan Gavin dan Zia tidak percaya akan apa yang di perintahkan Ardian untuk menahan Lusi.


"Gavin apa yang kau tunggu…tahan nona Lusi sekarang juga…!" perintah Ardian dengan nada membentak dengan masih menatap datar Lusi.


"baik tuan…" balas Gavin tergagap karena bentakkan dari tuannya.


"kau tidak percaya padaku tuan Ardian?" tanya Lusi dengan mengerutkan keningnya melihat Ardian.


Gavin masih ragu akan keputusan tuannya dan dia masih diam di samping Lusi, Gavin hanya melihat wajah Lusi yang menatap tuannya tidak percaya bila ingin menahannya.


"mengapa kau hanya diam Gavin? bawa nona Lusi ke dalam mobil ku, kau bawa teman wanita dan mobil yang dia kendarai, kita kembali ke mansion." perintah mutlak Ardian menatap ke arah Gavin yang hanya diam saja.


"baik tuan." balas Gavin mengerti.


"maaf nona Lusi, tolong kerjasamanya." ucap Gavin menatap Lusi yang melihatnya juga.

__ADS_1


Lusi menghembuskan nafasnya yang berat, dia mengerti tatapan Gavin yang memintanya untuk bekerjasama, agar dia tidak mendapatkan masalah dengan Ardian.


Semua tidak senang akan keputusan Ardian yang ingin menahan Lusi yang artinya Ardian percaya kalau Lusi lah dalang di balik penculikkan ini, hanya Rania dan teman-temannya saja yang senang akan keputusan Ardian menahan Lusi dan ingin membawa Lusi untuk menghukumnya.


Lusi pun pasrah ikut melangkah ke arah mobil Ardian tanpa harus Gavin menahan tangannya, Lusi di biarkan berjalan sendiri, Ardian menggendong mamanya untuk masuk kedalam mobil belakang agar bisa di tidurkan.


"tuan…biarkan aku masuk dulu supaya bisa memangku kepala nyonya Meli." ucap Lusi repleks mencegah pundak Ardian.


"tidak perlu biar aku saja." cegah Rania yang menarik tangan Lusi agar tidak masuk ke dalam mobil untuk memangku kepala nyonya Meli.


"tidak perlu…biarkan dia saja agar dia tidak bisa kabur kemana-mana." perintah tegas Ardian melihat pada Rania dan Lusi secara bergantian.


Lusi melongo mendengar perkataan Ardian yang menuduhnya berniat kabur.


'enak banget ngomongnya, bisa kabur kemana lagi aku?' gumam kesal lusi dalam hati melihat tajam pada Ardian.


Lusi mulai dongkol juga pada Ardian mau berbuat baik pada Ardian, selalu saja Lusi salah dan di tuduh yang tidak-tidak, tetapi Lusi menahan kekesalannya karena dia tidak ingin bila dia marah menandakan bahwa dia benar-benar bersalah.


Ardian melihat Lusi sekilas. "cepat." perintahnya kemudian.


Lusipun masuk terlebih dahulu lalu Ardian dengan hati-hati masukkan tubuh mamanya, dengan bantuan Lusi yang memangku kepala mamanya, sang mama pun terlihat nyaman.


Rania sangat kesal dengan penolakkan Ardian pada bantuannya, dia mengepalkan tangannya kuat untuk menahan amarahnya.


Ardian mengemudikan sendiri mobilnya dengan hanya membawa serta sang mama dan Lusi saja, sedangkan Gavin mengendarai mobil yang di bawa Lusi bersama Zia.


Rania dengan perasaan yang menahan amarahnya, hanya bisa melihat kedua mobil tersebut pergi meninggalkannya bersama kedua temannya, Rania pun ingin segera menyusul Ardian, segera dia memerintahkan teman prianya yang sebenarnya adalah bodyguard yang menjaganya, untuk segera menyusul Ardian ke mansionnya.


Mereka semua meninggalkan gudang penyekapan tanpa mengetahui keberadaan Nico, Tuan Erick, dan semua anak buahnya mengamati dan melihat semua kejadian yang terjadi dari kejauhan, mereka juga bisa mendengar apa yang mereka bicarakan karena sampai sekarang sambungan telpon mereka dengan Lusi belum terputus.


Nico dan tuan Erick tahu trik macam apa yang di permainkan oleh Rania Kiandra pada Lusi, dan tentu saja Nico dan tuan Erick yang sudah sangat berpengalaman di dunia mafia tahu harus berbuat apa untuk membantu Lusi mengungkapkan kasus penculikkan ini? agar Ardian tidak salah paham, percaya dan terus menuduh Lusi adalah dalang dari penculikkan ini, semua akan mereka bereskan secara rapi.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…

__ADS_1


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2