Takdir Atau Hidupku

Takdir Atau Hidupku
Episode 107 Kekhawatiran Ibu Lusi.


__ADS_3

***Mansion Tempat tinggal Lusi***


Lusi kembali ke mansion tempatnya tinggal sementara waktu bersama kedua orang tuanya saat ini, hati Lusi masih sakit mengingat akan hinaan mama dari Ardian, walaupun dia tahu kalau nyonya Meli telah terkena hasutan dari Rania Kiandra.


Lusi kecewa akan ucapan dan tuduhan nyonya Meli padanya, belum lagi nyonya Meli sudah mengatakan kalau Lusi tidak pantas menjadi istri dari Ardian, dan juga tidak pantas menjadi mama dari si kembar.


Lusi hanya berpikir tidak apa-apa dirinya tidak pantas menjadi istri dari Ardian, tetapi dirinya tidak terima di katakan tidak pantas menjadi mama si kembar, sampai kapanpun Lusi akan mempertahankan anak-anaknya. Si kembar adalah putra putri kandungnya.


Lusi segera masuk ke dalam kamar, saat ini dia butuh sendiri untuk menenangkan diri. Dia tidak ingin di ganggu oleh siapapun saat ini, tetapi sang ibu yang tidak sengaja melihat mata sembab Lusi dari jauh, sangat yakin bila putrinya itu baru saja menangis.


Dengan pelan ibu Lusi mengetuk pintu kamar putrinya.


"sayang, Lusi…kamu di dalam nak, ibu boleh masuk sayang…!!" ungkap ibu Lusi mengetuk halus pintu kamar Lusi.


Tetapi Lusi yang langsung masuk ke kamar mandi untuk merendam dirinya, tidak mendengar suara ketukan pintu dan panggilan sang ibu. Ibu Lusi menjadi cemas karena tidak ada jawaban sama sekali dari dalam.


"sayang…kamu di dalam kan sayang? ibu masuk ya sayang." ucap ibu Lusi kembali sembari mengetuk pintu kamar Lusi lebih keras lagi.


Tetapi tetap tidak ada jawaban dari dalam, ibu Lusi bertambah cemas, diapun mencoba membuka pintunya, tetapi di kunci dari dalam. Ibu Lusi terus berusaha membuka gagang pintunya seraya terus memanggil nama Lusi, tetap tidak ada balasan dari dalam.


Dengan sedikit berlari ke arah ruang kerja, dimana sang suami berada seraya memanggil sang suami, ibu Lusi terlihat sudah menangis karena cemas akan keadaan Lusi saat ini.


"ayah, ayah…!" panggil ibu Lusi.


Ayah Lusi mendengar jelas panggilan dari sang istri, dengan cepat pula bergegas menghampiri sang istri.


"ada apa ibu?" tanya ayah Lusi saat sudah ada di depan sang istri.


"Lusi ayah, ibu lihat matanya sembab seperti habis menangis, dan sekarang dia mengurung diri di kamarnya, ibu panggil-panggil tidak ada balasan dari dalam." jawab ibu Lusi dengan deraian air mata.


"kapan Lusi pulang?"


"baru saja ayah, ibu lihat dia buru-buru masuk ke kamarnya dengan mata yang sembab, ibu susul dan panggil, Lusi tidak menjawab, pintunya di kunci ayah."


"tenang ibu, tenang…!" ungkap sang ayah berusaha membuat sang istri tenang.


"bukannya dia sedang bersama Ardian?" tanya ayah Lusi.


"tidak ayah, dia datang sendiri dan tidak bersama dengan siapa pun."


"ada apa ini? ayo coba kita cari kunci cadangan kamar Lusi. Ibu tunggu di sini dulu." ungkap ayah Lusi, dan segera masuk ke ruang kerja.


Ayah Lusi mengambil kunci cadangan kamar Lusi, yang ada di dalam salah satu laci meja kerja, dimana tempat khusus menyimpan semua kunci cadangannya.

__ADS_1


Mereka lalu bergegas menuju ke kamar Lusi yang terletak di lantai dua, tetapi belum sempat mereka ingin menaiki tangga. Terdengar suara bel pintu depan mansion, mereka pun berhenti sejenak, ingin tahu siapa yang datang? Pelayan setia dari mansion tersebut membukakan pintu depan untuk tamu yang datang.


Ardian yang datang dengan segera masuk ke dalam mansion, dia bertemu dengan ayah dan ibu Lusi, di ambang tangga bawah. Ardian dengan wajah cemasnya menghampiri sang ibu dan ayah mertuanya.


"maaf ayah… ibu, apa Lusi sudah pulang?" tanya dengan segera Ardian, terlihat jelas mimik wajah cemasnya.


Ayah dan ibu Lusi saling memandang, dan mereka curiga pasti ada yang sudah terjadi di antara mereka berdua.


"ada apa sebenarnya Ardian? apa kalian ada masalah? ibu lihat mata Lusi sembab, di pasti habis menangis." ungkap ibu Lusi.


"maaf ibu, ayah…kami tidak ada masalah, sebenarnya Lusi seperti itu akibat mama saya." ungkap Ardian terus terang, tetapi dia belum mau menceritakan detailnya.


Ardian ingin memastikan dulu keadaan Lusi saat ini, dia ingin Lusi yang menceritakan semuanya. Ardian hanya ingin Lusi tidak salah paham padanya akibat ulah dari sang mama.


"ada apa Lusi dan mamamu?" tanya ibu Lusi mengerutkan keningnya heran, karena kemarin saat terakhir bertemu Lusi dan nyonya Meli baik-baik saja.


"sebaiknya kita tanyakan pada Lusi, dan saya ingin tahu keadaan Lusi saat ini. di mana dia Bu…?" tanya Ardian yang mengingatkan ayah dan ibu Lusi akan keberadaan Lusi yang mengurung diri di dalam kamarnya.


"kami sampai lupa, Lusi sedang mengurung dirinya di dalam kamar, ini ayah bawa kunci cadangan untuk membuka pintu kamarnya." balas sang ayah seraya menunjukkan kunci di tangannya.


Mereka bergegas naik menuju ke kamar Lusi, dengan cepat tanpa basa basi ayah Lusi membuka pintu kamar Lusi, tapi sayang tetap tidak bisa terbuka. Lusi ternyata memakai mengait pintu untuk menutup double pintu kamarnya.


"biar saya coba dobrak." ungkap Ardian.


Ayah dan ibu Lusi hanya menganggukkan kepalanya, dan memberikan jalan untuk Ardian mendobrak pintu kamar lusi. Beberapa kali pintu kamar tersebut harus di dobrak oleh Ardian menggunakan tubuhnya, dalam hati Ardian ikut cemas karena melihat mimik sedih dan air mata ibu Lusi, yang khawatir akan keadaan sang putri.


Beberapa saat kemudian pintu kamar mandi pun terbuka, saat ini sangat beruntung Lusi memakai jubah mandinya keluar dari kamar mandi. Lusi terkejut melihat ayah, ibu dan Ardian bisa ada di dalam kamar, seingat dia sudah mengkunci double pintu kamarnya, agar tidak ada yang bisa masuk.


Dengan cepat pula Lusi melihat ke arah pintu, dan dia lebih terkejut lagi melihat pintu kamarnya sedikit hancur. Lusi bisa menebaknya, pintu itu sudah di dobrak paksa.


"ada apa?" tanya Lusi heran melihat ayah, ibu dan Ardian secara bergantian.


Ayah, ibu dan Ardian melihat seksama kondisi Lusi saat ini, mereka sedikit lega melihat Lusi baik-baik saja dan baru habis mandi. Saat Lusi di dalam kamar mandi, Lusi tidak bisa mendengar apapun? karena ruang kamar mandi memang di buat kedap suara, sehingga tidak mendengar ibu mengetuk pintu dan memanggil nama Lusi berkali-kali.


"kamu baik-baik saja nak…?" tanya ibu Lusi dengan mimik wajah yang masih cemas.


"Lusi baik Bu…ada apa?" tanya Lusi melihat kecemasan di wajah sang ibu.


"tadi ibu lihat matamu sembab seperti habis menangis, dan ibu susul kamu ke sini, ibu panggil-panggil kamu tidak menjawab, ibu jadi takut. Makanya ayahmu mengambil kunci cadangan, tapi kamu kunci double pintunya dari dalam, untung Ardian kuat untuk mendobrak pintunya. ada apa sayang?" tanya sang ibu panjang lebar, mengutarakan semua kejadian dan kecemasan yang dia alami.


"Lusi baik Bu." balas Lusi dengan senyum tipis, Lusi sangat tahu ibunya tidak bisa di bohongi sama sekali, pirasat sang ibu selalu benar.


"tapi Ardian bilang, kamu dan mama mertuamu ada masalah, masalah apa nak?"

__ADS_1


Lusi melihat sekilas ke arah Ardian, yang juga melihat Lusi cemas saat ini.


"kami tidak apa-apa ibu, kami hanya kurang komunikasi saja." jawab Lusi ingin membuat tenang suasana hati sang ibu.


"apa benar?" tanya tidak percaya sang ibu.


"benar ibu, berikan Lusi waktu berganti pakaian dulu, nanti Lusi akan jelaskan di bawah, bisakan?" ungkap Lusi yang sedikit risih akan keberadaan Ardian di dalam kamarnya sedangkan dia hanya memakai jubah mandi saja, tanpa dalaman sama sekali.


"baiklah…" balas ibu Lusi yang mengerti kondisi sang putri, yang terlihat risih.


Mereka bertigapun keluar dari kamar tersebut, Lusi perlahan menutup pintu kamarnya yang sudah rusak.


"aduh…pintu bagus-bagus di buat rusak, harus ganti rugi juga ini." gumam Lusi melihat kondisi pintu yang sudah rusak.


Lusi sadar itu bukanlah mansionnya, dengan terpaksa Lusi harus mengganti rugi kerusakan yang sudah di buat oleh Ardian. Dengan cepat Lusi berganti pakaian, dia tidak ingin membuat ayah dan ibunya semakin cemas, Lusi akan menjelaskan semuanya.


Beberapa menit telah berlalu, Lusi turun dengan dress santainya dengan rambut yang tergerai setengah kering, karena tidak bisa lama mengeringkan rambutnya, Lusi tidak ingin membuat ayah, ibu dan Ardian menunggu lama.


Mereka bertiga sudah duduk santai berkumpul di ruang tengah mansion ini, dengan suguhan teh hangat dan beberapa cemilan di atas meja kaca. Lusi mengambil duduk berhadapan dengan Ardian, Lusi hanya ingin menjaga jarak mereka saat ini.


"jadi ada masalah apa yang terjadi sama kamu dan mamanya Ardian?" tanya lembut ibu Lusi melihat pada sang putri.


"itu hanya kesalah pahaman ibu, karena hasutan seseorang yang tidak suka padaku, Bu…!!"


"hasutan, hasutan siapa?" tanya ibu ingin tahu lebih jelas.


"seorang wanita yang tidak suka melihat aku dan Ardian bersatu Bu, seorang wanita yang menyukai dan mencintai Ardian saat ini." balas Lusi, yang membuat ayah dan ibu seketika melihat pada Ardian, sedangkan Ardian hanya diam saja dengan tatapan matanya masih melihat pada Lusi.


"maksud kamu apa?" tanya ibu Lusi ingin penjelasan.


"Jadi begini ibu…!!" ungkap Lusi, lalu menceritakan semua kejadian yang kemarin di alaminya.


Walaupun ceritanya membuat malu dirinya, tetapi Lusi hanya ingin keterbukaan pada kedua orang tuanya, Lusi tidak ingin menutupi apapun pada ayah dan ibunya? Lusi menceritakan semua dari awal pertemuannya dengan Rania Kiandra, sampai akhirnya berakhir bermalam bersama Ardian Adhitama, yang menolongnya sembuh dari pengaruh obat perangsang, yang di berikan oleh anak buah Rania Kiandra.


Kedua orang tua Lusi kini dapat mengerti, apa yang membuat nyonya Meli salah paham pada Lusi? Hanya saja kedua orang tua Lusi terlebih lagi ibu Lusi, yang sama-sama seorang wanita, juga marah dan kecewa akan perkataan dan penghinaan dari nyonya Meli, terhadap Lusi.


Ibu Lusi juga kecewa dan sedih akan sikap dan penghinaan nyonya Meli, yang lebih percaya akan perkataan dan hasutan dari Rania Kiandra. Ibu Lusi hanya bisa memandang nanar wajah sang putri, yang mulai mendapatkan masalah dan halangan pada pernikahannya bersama Ardian. Pernikahan yang baru saja bersatu dengan keluarga kecil mereka berdua.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…

__ADS_1


Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya.


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2