
***** Perusahaan Wirajaya group *****
Pagi ini aku bekerja bersama dengan sekretaris Dewi saja untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Presdir Maria yang kemarin belum di selesaikan, sedangkan asisten Ari pergi bersama Presdir Maria ke rumah sakit Wirajaya ada pertemuan rutin disana setiap 3 bulan sekali, guna membahas perkembangan dan permasalahan yang ada.
Kami melakukan pekerjaan kami dengan tenang tanpa ada gangguan apapun sampai waktunya jam pulang kerja, hari ini aku bisa pulang kerja tepat waktu, aku pulang bersama dengan sekretaris Dewi kebetulan dia membawa mobil sendiri, kami juga berencana untuk jalan jalan dulu sebentar ke mall terbesar yang ada di Jakarta, karena ada keperluan yang kami ingin cari.
Di dalam mall kami masuk ke area supermarket untuk membeli semua yang kami perlukan, terutama mbak Dewi membeli banyak keperluan rumah tangga dan bahan bahan isi dapur.
Selesai berbelanja kami singgah sebentar di cafe yang tidak jauh dari mall, kata mbak Dewi makanan di cafe tersebut enak enak semua, aku yang memang suka sekali memasak jadi penasaran makanan apa yang di katakan mbak Dewi enak.
Sesampainya di dalam cafe, aku terkesan dengan dekorasi klasik cafe yang bagus dan nyaman, apa lagi di tambah di depan cafe ada taman kota kecil yang asri penuh dengan tanaman bunga aneka warna, disana cocok untuk keluarga yang mempunyai anak kecil untuk berjalan-jalan dan bermain bersama.
Aku tersenyum melihat 2 orang ibu yang bermain dengan 2 anak kecil, satu laki-laki dan satu perempuan, anak-anak itu lucu mungkin sekitaran umur 5 tahunan, tapi kalau aku terus memperhatikan 2 anak itu seperti mirip wajahnya, aku yang penasaranpun bertanya sama mbak Dewi.
"mbak Dewi coba deh lihat 2 anak kecil yang ada di taman itu...?" kataku menunjuk ke arah 2 orang anak kecil, mbak Dewi pun melihat ke arah yang ku tunjuk.
"iiii lucunya.... kenapa lusi ?? kamu kenal mereka ?" tanya mbak Dewi tersenyum melihat anak-anak yang lucu menggemaskan.
"ngak mbak...aku ngak kenal mereka, coba deh... perhatikan wajah mereka, mereka berdua mirip ngak sih...???" tanyaku balik,kami pun melihat dan terus memperhatikan ke 2 anak yang sedang duduk bersama ibu mereka masing-masing.
"mereka kembar...!" jawab kami serempak dengan saling berhadapan memandang, dan langsung tertawa kecil, karena jawaban kami sama.
"kok jawaban kita bisa sama sih..??" kataku yang masih tertawa kecil.
"kita kan sehati....hahaha..!"jawab mbak Dewi sambil tertawa.
"mbak nanti mampir sebentar yuk ke taman itu...!" ajakku pada mbak Dewi.
"ayo...kebetulan di sana ada yang jual es cream dan minuman jus buah segar."
"aku mau es cream aja deh... supaya seger habis penat bekerja."
"oke...."
Tak beberapa lama makanan yang kami pesan datang, benar kata mbak Dewi kalau makan di cafe ini memanglah enak, di tambah suasana yang mendukung, kami menikmatinya dengan sesekali bercanda gurau.
Aku bersyukur bertemu dengan mbak Dewi, orangnya baik, cantik, ramah dan terkadang lucu, jadi aku tidak merasa sendiri di kota Jakarta ini, aku merasa nyaman dengan mbak Dewi.
Selesai makan kami dengan segera menuju ke taman kota kecil yang ada di depan cafe, agar bisa menikmati sore hari dengan makan es cream.
Ketika kami ingin duduk di kursi taman, kami mendengar ada yang berteriak meminta tolong, aku dan Mbak Dewi saling memandang apakah kami salah mendengar ? tapi tidak salah lagi, ada yang berteriak meminta tolong.
__ADS_1
Kami dengan segera berlari mencari asal suara teriakan tersebut, seketika kami terkejut melihat ada anak kecil yang sedang di todongkan sebilah pisau lipat di lehernya, anak itu anak yang kami lihat dari dalam cafe, kami segera mendekati mereka.
"jangan teriak dan jangan mendekat kalau tidak anak ini aku bunuh...??!!" teriak si penodong pisau karena melihat aku dan mbak Dewi mendekat.
"tenang mas...kita bisa bicara baik-baik...!!" kataku membujuk berusaha menenangkan si penodong.
"kau gila suruh aku tenang..."katanya lagi tambah menggertak dengan menggerakkan pisau lipatnya kearah leher anak perempuan yang menangis ketakutan.
"apa yang anda inginkan ??"tanyaku yang berusaha jalan mendekat.
"jangan mendekat atau aku bunuh dia sekarang juga." ancamnya yang membuat aku seketika diam di tempat, sedangkan mbak Dewi dan yang lainnya ada di belakangku.
orang-orang yang kebetulan ada di area taman dekat kami hanya bisa melihat dari jauh, tidak ada yang berani mendekat apa lagi mau menolong.
"apa yang harus aku berikan agar kamu mau melepaskan anak itu, kasihan dia masih kecil ???" tanyaku setenang mungkin padahal dalam hati aku sudah geram melihat laki-laki yang tega mengancam anak kecil dengan senjata tajam.
"melepaskannya karena kasihan...hhahahaha..."kata si penodong dengan tawa kejamnya.
"aku kasihan pada anak ini, terus siapa yang akan kasihan pada anak dan istri ku setelah ayah dari anak ini menghancurkan hidup kami...haa...???" katanya dengan nada marah sampai muka dan matanya memerah.
"kita bisa bicarakan baik-baik, mungkin aku bisa membantumu untuk bicara pada ayah anak ini, agar meminta maaf dan bertanggung jawab atas perbuatannya padamu."kataku tetap tenang tapi siaga melihat kesempatan yang ada untuk menyelamatkan anak kecil yang ada pada gendongannya.
"kau pasti tidak tahu ayah anak ini sangat tidak mempunyai hati sedikitpun pada kami yang hanya dia anggap sampah Tak berarti baginya, dia hanya perlu membuang dan menghancurkan kami orang kecil."katanya menerawang melihatku dengan aura marahnya.
"lebih baik kalian menyingkir dari sini, dan biarkan anak ini bersamaku, akan ku buat ayahnya merasakan apa yang aku rasakan. "katanya yang mengayunkan pisaunya kearahku.
Saat si penodong mengayunkan pisaunya dengan cepat ku tendang keras tangannya yang memegang pisau lipat hingga pisau yang dipegangnya terlepas, dan ku tinju dengan keras wajah si penodong, sehingga dia oleng jatuh kebelakang karena kesakitan, dengan segera kurebut anak kecil itu dari gendongannya, dan langsung kupeluk erat, dengan marah si penodong bangun dan mengambil pisaunya dan berlari ingin menusuk ke arah anak yang kupeluk, segera aku menghindar ke samping dan menendang pinggangnya yang tepat ada di sampingku, diapun terjatuh, dengan cepat aku berlari ke arah mbak Dewi untuk menyerahkan anak yang ku peluk, agar tidak ada kesempatan lagi bagi si penodong untuk melukainya.
"mbak Dewi menjauh dari sini !" perintahku cepat padanya, mbak Dewi hanya mengangguk tanda mengerti dan langsung lari membawa anak itu dalam pelukannya.
"kurang ajar kau....ku bunuh kau sekarang juga...!!" teriak marah si penodong berlari ke arah ku dengan pisau nya.
Aku dengan cepat menahan tangannya yang memegang pisau, tapi perutku malah di tendangnya, aku melangkah mundur sambil memegang perutku yang sakit ditendang, belum siap aku menghindari serangannya sehingga lengan kanan atasku luka terkena pisaunya, aku marah dan tidak mau mengalah lagi, dengan cepat ku tendang keras tangannya agar pisau yang dia pegang terlempar jauh, ku tinju berkali-kali wajahnya sampai babak pelur, begitu dia ingin melawan dan membalas, aku dengan cepat dan lihai menghindar, tak akan ku biarkan dia mengenaiku lagi, terus ku tendang dan ku pukul, saat dia ingin memukulku dengan kepalan tangannya, dengan cepat kupegang tangannya kuputar badanku dan segera ku angkat dipunggungku dan kubanting keras badannya ke tanah, dengan cepat kupegang tangannya dan kulipat di belakang punggungnya badannya kutindih dengan lutut kakiku agar dia tidak bisa bergerak lagi, dengan cepat kupukul keras tengkuknya sampai akhirnya dia pingsan.
"aaaahhh....maafkan aku pak, terpaksa aku melawanmu ."kataku berdiri dari atas tubuh si penodong, aku membersihkan bajuku dan segera menahan darah yang terus keluar dari lengan atasku.
"Lusi kamu terluka..."kata mbak Dewi mendekatiku setelah melihat si penodong pingsan.
"saya ngk apa apa mbak, cepat telpon polisi, oya anak itu bagaimana ?" kataku menahan darah dari luka dan rasa sakitnya.
"dia baik-baik aja, dia masih menangis disana, tunggu sebentar aku telpon polisi dulu." jawab mbak Dewi menunjuk ke arah anak-anak dan ibu-ibu yang tadi di todong.
__ADS_1
Aku masih mengawasi si penodong takutnya dia siuman, sedangkan Mbak Dewi menelpon polisi, 15 menit kemudian datang mobil polisi yang kami tunggu karena kebetulan di dekat sini ada yang sedang melakukan patroli, dengan cepat para polisi membawa si penodong yang masih pingsan.
selesai menjelaskan kejadiannya kepada petugas polisi, mereka pergi dan aku segera mendekati anak-anak dan ibu-ibu yang ku tolong tadi ingin melihat anak perempuan yang sangat ketakutan saat kejadian.
Mereka diam terkejut melihatku dari dekat, aku yang di pandang menjadi heran, apa ada yang aneh dengan wajahku sampai mereka terkejut dan diam mematung.
"hai...kalian ngak apa-apa ?" tanyaku yang membuyarkan lamunan mereka.
"mama...." kata anak laki-laki itu memanggilku, akupun heran mendengarnya.
"mama mama....!" sekarang giliran anak perempuan yang ku tolong yang memanggilku 'mama'.
"kalian bukan mama mereka ?" tanyaku pada ibu-ibu yang bersama anak-anak, mereka yang di tanya hanya geleng-geleng kepala.
"di mana mama kalian ?" tanyaku pada ke 2 anak itu dengan bersimpuh mensejajarkan tinggi kami, anak-anak yang di tanya malah memelukku menangis dan terus memanggil 'mama' , aku yang jadi heran atas tingkah laku anak-anak ini melihat ke arah ibu-ibu dan mbak Dewi yang juga terkejut dengan tingkah laku anak-anak.
"anak-anak dimana mama kalian ?" tanyaku lagi setelah menghela nafas berat, sedangkan yang di tanya tidak ada yang menjawab, akhirnya aku mundur selangkah agar pelukan anak-anak lepas.
"dimana mama kalian ?" tanyaku halus pada anak-anak yang masih menangis terisak.
"ini mama...! " jawab mereka berdua secara bersamaan menunjuk ke arahku.
Aku jatuh terduduk dan mulutku terbuka menganga karena terkejut, 'aku mamanya' ?? tanyaku didalam hati. ku geleng-gelengkan kepalaku agar aku sadar.
Aku bertanya sekali lagi dan aku masih mendapatkan jawaban yang sama, aku tidak percaya ada yang mendadak memanggilku 'mama' , ya Tuhan apa ini ??? aku pikir mereka hanya bercanda tetapi anak-anak ini tidak mau melepaskan pelukannya.
Aku dan mbak Dewi tidak bisa berbuat apa-apa lagi otak kami tidak bisa berpikir, rengekan dan pelukan anak-anak yang tidak mau lepas dariku, membuat kepalaku pusing di tambah lagi sakit di lukaku tambah terasa sakit karena terus mengeluarkan darah.
Aku hanya bisa meminta tolong pada ibu-ibu yang ternyata baby sitter anak-anak itu untuk membujuk mereka agar aku bisa segera mengobati lukaku, merekapun mau mengerti karena kasihan melihatku kesakitan.
Mereka mau melepaskan ku dengan catatan aku akan pulang ke rumah mereka, walaupun tidak tega untuk membohongi mereka akupun mengiyakan, demi aku bisa lepas dari mereka yang entah anak siapa ??? yang terpenting mereka sudah aman karena sudah masuk ke dalam mobil jemputan mereka.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya....
...sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya yang baik ya...
Jangan lupa vote dan like nya
__ADS_1