Takdir Atau Hidupku

Takdir Atau Hidupku
Episode 51 Lelah Akan Sikapnya.


__ADS_3

…Lusi…


Selama lima hari sudah aku dan mbak Dewi bersama-sama bekerja, untuk melengkapi kebutuhan yang di perlukan dalam acara penanda tanganan berkas kontrak yang akan di lakukan dua hari lagi oleh tiga perusahaan besar yaitu, perusahaan Wirajaya group, perusahaan Adhitama group, dan perusahaan Aldevaro group.


Selama itu juga aku menghindar dari Bryan untuk tidak berangkat dan pulang bersama, karena aku dan mbak Dewi tidak tentu jam pulangnya, juga menghindari agar hubungan asmara kami tidak di tahu oleh orang lain yang sewaktu-waktu bisa saja melihat kami bersama.


Bryan pun setuju dengan apa yang aku inginkan? kami hanya akan bertemu di saat sarapan pagi dan juga makan malam, itu pun sudah cukup membuat Bryan senang setidaknya kami tetap ada waktu untuk bersama.


Lain halnya Ardian dan anaknya si kembar Nathan dan Nathalia, mereka selalu meminta setiap aku pulang bekerja harus menyisakan waktu untuk mereka bertemu dan bersama walau sebentar, terkadang kalau aku lembur dan pulang kerja malam, Bryan akan selalu menemani ku untuk menemui si kembar.


Iya aku sudah memberitahukan pada Bryan kalau aku dan Ardian memiliki kesepakatan bahwa 'aku akan menjadi mama pengganti untuk si kembar sampai tes DNA hasilnya keluar'.


Awalnya Bryan terkejut dan tidak menerima itu semua, aku dengan pelan memberikan pengertian untuk Bryan.


Aku mengatakan bahwa aku ingin membuktikan kalau diriku tidak seperti apa yang di tuduhkan oleh Ardian? aku juga mengatakan bahwa diriku ingin kejelasan mengapa wajahku sangat mirip dengan Lidya? aku hanya ingin tahu apakah aku ada hubungan darah dengan Lidya atau tidak? dan akhirnya Bryan pun menerima semua alasan ku.


Alasan dari kesepakatan itu juga yang tidak bisa aku utarakan pada direktur Radhika, yang membuat diriku tidak lagi di percaya oleh atasan ku.


Selama lima hari ini juga Ardian ada saja membuat amarah ku terpancing, Ardian selalu banyak mempunyai cara agar membuat aku marah, kesal dan bertambah tidak suka akan sosok Ardian Adhitama.


Tetapi dengan sabar aku menghadapi semua tingkah laku Ardian yang membuat ku kesal dan marah, dengan cara mengalihkan perhatian ku kepada si kembar yang semakin lengket padaku.


Aku pun berpikir kalau si kembar sudah sangat dekat dengan ku bagaimana mereka bisa berpisah nantinya? itu sangat berat bagi mereka terutama si kembar Nathalia yang mempunyai perasaan yang halus dan mudah sedih, tetapi bagaimana pun juga perpisahan itu pasti akan terjadi.


......................


…Lusi…


Saat ini aku duduk di kursi ruang tunggu pasien rumah sakit Sinar Mulia karena tadi sekitar pukul 9 pagi aku mendapatkan telpon dari pihak rumah sakit, kalau hari ini hasil dari tes DNA hasilnya keluar, segera aku meminta izin pada direktur Radhika dengan alasan aku ada jadwal kontrol dan untung direktur Radhika tidak curiga sama sekali.


Aku merasa semenjak bertemu dengan Ardian Adhitama aku banyak berbohong untuk menutupi permasalahan yang aku alami akibat ulah Ardian, aku hanya bisa pasrah dan menguatkan diriku agar bisa bertahan sedikit lagi.

__ADS_1


hari ini adalah hari yang aku tunggu-tunggu, karena hari ini juga kesepakatan ku dengan Ardian berakhir, di dalam hati aku merasa lega karena akan terlepas dari kuasa tuan Ardian Adhitama, tetapi di sisi lain aku sedih akan berpisah dengan si kembar yang beberapa hari ini membuat hari-hari ku bahagia, nyaman, dan hangat bersama mereka.


Sepanjang perjalanan aku ke rumah sakit, hatiku berdebar-debar saat duduk di dalam mobil taksi menuju ke rumah sakit Sinar Mulia, setiap saat aku menarik dan menghembuskan nafas ku agar beban dan debar di dalam hatiku sedikit berkurang.


lagi lagi untuk kesekian kalinya aku menarik dan menghembuskan nafas ku seraya mengelus halus dadaku yang berdebar.


"tenang Lusi...semua akan baik-baik saja dan semuanya akan berakhir hari ini." gumamku seraya mengelus dadaku yang merasakan beban dan debaran yang menyesakkan.


Aku duduk bersandar di kursi tunggu rumah sakit, kepalaku tertunduk dan pandangan mataku ke bawah melihat ujung sapatuku.


"ya Tuhan semoga semua berjalan seperti semestinya, semoga semua baik-baik saja, apa pun yang akan terjadi dan apa pun hasil tes hari ini hamba percaya ini semua sudah takdir hidup darimu Tuhan." ucapku berdoa dalam hati seraya meremas-remas tanganku yang gugup di atas pangkuanku.


Terdengar suara sepatu pantofel yang melangkah di atas lantai keramik rumah sakit, dan berakhir tepat di depanku, aku pun melihat sepasang sepatu pantofel hitam mahal yang bersih mengkilap tanpa debu sama sekali, berada tidak jauh dari ujung sepatu yang aku pandang.


"apa yang kau lakukan di sini?" tanya seorang pria yang suaranya sangat familier di kupingku.


Aku mengangkat kepalaku yang tertunduk dan melihat ke arah pria yang menyapaku seperti musuh, dia adalah tuan sok kuasa Ardian Adhitama.


"apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya lagi karena aku tidak menjawab.


"apa kau tidak lihat tuan? aku sedang duduk menunggu di sini."jawabku ketus, saat Ardian akan menjawab aku lebih dulu berucap.


"seharusnya kau menyapa dengan sopan tuan, bukannya menyapa dengan pertanyaan ketus, tatapan tajam dan dingin." jawabku menghalangi Ardian yang ingin menjawab.


tatapanku langsung kesal melihat Ardian yang seakan memandangku seperti musuh bebuyutan.


"kau berharap aku akan ramah padamu?" tanya Ardian dengan masih memasang mimik dingin di wajahnya yang tampan, dan aku sama sekali menganggap wajah itu bukan tampan tapi sangar.


Aku menarik dan menghembuskan nafasku yang berat.


'dadaku sudah sesak karena khawatir akan hasil tes, di tambah lagi melihat wajah dinginnya membuat dadaku bertambah sesak.' gumamku dalam hati yang melihat tajam ke arah Ardian.

__ADS_1


"kau benar tuan, aku tidak butuh keramahanmu, tetaplah seperti ini, dingin, angkuh dan bertampang sangar kejam lebih pantas untukmu." ucapku sembari bangun dari dudukku.


"apa kau bilang? berani-beraninya kau mengataiku !" tunjuknya padaku, dia mulai kesal lagi padaku.


Aku sudah sampai hapal akan sikapnya yang tidak akan pernah baik padaku, karena memang kenyataannya begitu? setiap dia melihatku dia pasti akan marah, emosi dan tidak pernah berkata baik dan halus padaku.


kebencian dan ketidak sukaannya padaku sudah besar dan seakan sudah melekat di hatinya.


"aku tidak mengataimu tuan, karena itu memang kenyataannya." ucapku dengan pandangan angkuhku padanya.


"kau...." tunjuknya.


"tuan sudah, ingat ini rumah sakit." cegah asisten Gavin yang refleks memegang lengan Ardian.


Ardian melihat tajam sekilas pada asisten pribadinya itu, dan segera menarik lengan yang di tarik Gavin lalu merapikan jasnya yang sedikit berantakan.


"tuan...begitu bencinya kau melihat wajahku yang mirip dengan wajah nyonya Lidya? sampai-sampai kau tidak pernah sekalipun berkata halus padaku." ucapku dengan suara lirih.


Aku lelah dengan sikap kasar Ardian padaku, karena ini untuk pertama kalinya dalam hidupku ada yang benar-benar tidak suka dan membenciku seperti sekarang yang Ardian lakukan padaku.


"kau harus ingat tuan ini untuk terakhir kalinya kita bertemu dan aku harap kau menepati janjimu tidak akan mengusikku lagi, karena hari ini juga kesepakatan perjanjian kita berakhir." ucapku yang benar-benar tidak tahan akan sikap arogan Ardian padaku.


Mataku mulai terasa panas karena ingin menangis, tapi dengan sekuat tenaga aku menahannya, aku tidak ingin terlihat lemah di depan Ardian.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya...


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 dukungannya semoga suka dengan ceritanya dan di tunggu terus up nya ya....

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2