
***Apartemen mewah Ardian Adhitama***
Kamar apartemen mewah milik Ardian Adhitama terasa panas karena pergerakkan dua insan yang sedang terbakar api asmara, padahal AC dari kamar tersebut berada pada suhu yang sangat terasa dingin.
Sentuhan lembut yang Ardian lakukan pada seluruh tubuh polos Lusi, membuat Lusi sangat menikmatinya dan tubuhnya yang berada di bawah pengaruh obat perangsang, terasa nyaman dan berangsur-angsur berkurang.
Ardian dan Lusi menikmati setiap gerakan yang saat ini mereka lakukan, Ardian secara perlahan menuntun tubuh Lusi yang berada di bawah kungkungannya, untuk menikmati permainan yang mereka lakukan dan butuhkan saat ini.
"sayang…apa kau siap…?" bisik mesra Ardian seraya menatap lembut dan mesra Lusi yang menjawab dengan hanya menganggukkan kepalanya saja.
Terlihat tatapan lembut dan hangat Lusi menatap Ardian, yang membuat Ardian semakin bertambah semangat akan tatapan yang lama tidak pernah dia lihat.
Perlahan Ardian menyatukan tubuh mereka dengan lembut dan penuh cinta, Lusi terlihat sangat menikmati apa yang di berikan dan di lakukan oleh Ardian pada penyatuan tubuh mereka, perlahan tapi pasti kenikmatan yang mereka butuhkan menjadi kesatuan yang seirama yang mereka dambakan saat ini.
"ooooo…sayang…" bisik mesra Ardian di sela-sela gerakkannya yang lembut.
Lusi masih menatap Ardian dengan hangat dan lembut, serta terus menikmati apa yang di berikan oleh Ardian padanya, dengan perlahan Ardian memberikan ciuman ringan pada bibir Lusi, yang juga dapat balasan dari Lusi dengan membuka sedikit mulutnya, agar Ardian bisa mengabsen setiap bagian di dalamnya dan menikmati bibir Lusi yang terasa manis dan candu baginya.
Kedua insan yang sama-sama menikmati dari penyatuan mereka, terlihat sudah basah pada seluruh tubuh mereka bermandikan peluh, olah raga nikmat yang membuat mereka melayang dan lupa akan apapun saat ini. Hanya mencapai klimaks kenikmatan terakhir yang mereka dambakan bersama.
Hampir satu jam lebih Ardian dan Lusi mengarungi kenikmatan hidup yang hanya bisa di ciptakan oleh dua insan berpasangan, Ardian masih terlihat sangat kuat dan tangguh memimpin permainan olahraga tubuh mereka, tubuh Lusi menggeliat beberapa kali akan klimaks yang dia rasakan oleh permainan Ardian yang sangat kuat, tangguh dan mendominasi, Lusi puas akan apa yang dia dapatkan dari permaianan Ardian padanya.
"Sayaaang……!!!" ucap Ardian saat mencapai puncak kenikmatannya sembari memeluk tubuh Lusi lalu mencium lembut bibir Lusi dengan sedikit kecupan- kecupan panjang yang mereka lakukan.
Dengan nafas yang terengah-engah mereka saling menatap lembut dan hangat, terlihat jelas di mata mereka yang sama-sama puas akan kenikmatan yang mereka berdua ciptakan dan dapatkan.
"terima kasih sayang…" bisik Ardian lembut menatap Lusi lalu mencium sayang kening Lusi, lalu berakhir dengan ciuman panjang dan dalam pada bibir Lusi yang sangat manis bagi Ardian.
Perlahan Ardian merenggangkan dan membaringkan tubuhnya di samping Lusi, terlihat Ardian enggan melepaskan tubuh Lusi yang sudah tertidur pulas, karena lelah dan berakhirnya pengaruh dari obat rangsangan yang ada pada tubuhnya.
Ardian dengan perlahan mendekap tubuh polos Lusi masuk ke dalam pelukkannya, Ardian menutupi tubuh mereka dengan selimut, dan ikut tertidur pulas karena tubuhnya juga lelah dari aktivitas yang baru saja mereka berdua lakukan.
Ardian sangat senang saat ini sang istri yang sudah lama dia rindukan kembali ke dalam pelukannya lagi, dan Ardian berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan pernah melepaskan Lusi dari dekapannya karena mulai sekarang Lusi adalah, hanya miliknya seorang.
Mereka berdua tertidur pulas karena sama-sama lelah, dengan masih saling mendekap dan perpelukkan.
......................
__ADS_1
…Rania Kiandra…
Dua insan yang bersama-sama telah selesai mengarungi puasnya kenikmatan yang luar biasa bagi mereka, dan saat ini sedang tertidur pulas bersama, lain halnya dengan Rania Kiandra yang tidak tahu apapun saat ini?
Rania Kiandra mengira bila Lusi sudah pergi bersama dengan Bryan Aldevaro saat Lusi berada di bawah pengaruh obat perangsang, Rania mendapatkan kabar dari salah satu anak buah pelayan restoran yang dia sewa di restoran tersebut, pelayan tersebut melihat dengan jelas Lusi di jemput di depan lobby dan pergi bersama dua orang pria dengan mobil mewahnya.
Tetapi pelayan tersebut tidak mengetahui bahwa Ardian Adhitama lah yang telah menjemput Lusi di depan lobby, Rania Kiandra yang percaya akan kata-kata dari pelayan tersebut, segera memerintahkan anak buahnya segera meluncur ke apartemen mewah milik Bryan Aldevaro, karena Rania curiga kalau Lusi pasti di bawa oleh Bryan ke apartemennya untuk menghindari berada di dalam hotel bersama Lusi, dengan keadaan Lusi yang berada di bawah pengaruh obat perangsang.
Anak buah Rania melakukan apa yang di perintahkan oleh atasan mereka? kini mereka telah berada di depan lobby apartemen mewah yang di tempati oleh Bryan, mereka masih mengintai dan mencari tahu keberadaan Lusi dan Bryan, Rania telah mengetahui di mana kamar apartemen Bryan berada?
Saat ini Rania berusaha menghubungi nomer ponsel Ardian ingin memberikan kabar tersebut, karena Rania sangat yakin bila Lusi dan Bryan kini berada bersama di kamar apartemen mewah bryan Aldevaro.
Lama ponsel Ardian Adhitama berada di nada sambungan, tetapi sang pemilik ponsel hanya menggunakan nada getar saja pada ponselnya, sehingga Ardian yang sedang tertidur pulas bersama Lusi tidak mendengar dan tidak tahu ponselnya yang memiliki panggilan dari Rania.
Rania sedikit tidak sabar dan mulai kesal karena Ardian tidak menerima sambungan telepon darinya, akhirnya Rania memutuskan menghubungi nyonya Meli, untuk melancarkan rencananya yang ingin merusak nama Lusi di depan nyonya Meli, itu sudah cukup bagi Rania.
Rania berencana ingin pergi bersama-sama nyonya Meli, untuk memergoki Lusi dan Bryan yang sedang tidur bersama di apartemen Bryan, saat nyonya Meli yang terkejut mendapatkan kabar tersebut, hati Rania tersenyum bahagia karena rencananya berjalan lancar.
Rania dengan senang hati menunggu kedatangan nyonya Meli yang akan segera datang ke apartemen mewah milik Bryan Aldevaro.
"Tante Meli…!!" panggil Rania saat melihat nyonya Meli turun dari mobilnya di depan lobby apartemen.
Rania menceritakan cerita palsu pada nyonya Meli, Rania mengatakan bahwa dia melihat Lusi yang sedang mabuk berat bersama Bryan Aldevaro keluar dari sebuah hotel dan pergi menuju ke apartemen mewah milik Bryan.
Rania juga mengarang cerita, bahwa dia tidak sengaja melihat Lusi dan Bryan di hotel tersebut saat Rania menemui seorang rekan bisnisnya di hotel tersebut, dan Rania mengucapkan bahwa dia langsung pergi untuk membuntuti mereka sampai ke apartemen ini, dan melihat Lusi dan Bryan masuk ke sebuah kamar apartemen.
Nyonya Meli sangat terkejut, kecewa dan marah mendengar apa yang di ceritakan oleh Rania?dengan segera dia datang untuk membuktikan semua ucapan Rania, karena nyonya Meli tidak ingin Ardian sang putra mendapatkan kekecewaan, karena kelakukan sang istri yang lupa ingatan sedang melakukan hubungan perselingkuhan dengan pria lain.
Nyonya Meli sendiri yang akan membuktikan perselingkuhan tersebut dan memberikan peringatan pada Lusi, bila berita tersebut benar nyonya Meli sendiri yang akan melarang sang putra untuk mengharapkan wanita yang tidak pantas untuk Ardian, dan juga tidak pantas menjadi mama dari kedua cucu kembarnya.
"benar Tante, dan aku juga sudah tahu di mana kamar mereka, saat masuk bersama tadi." jawab Rania bersandiwara dengan mimik wajah seriusnya.
Terlihat wajah nyonya Meli yang sedikit memerah karena menahan marah dan kecewanya, seraya mengepal kuat kedua tangannya melihat Rania, sedangkan Rania bersorak gembira karena sudah berhasil memprovokasi nyonya Meli untuk membenci Lusi, dalam hati Rania sangat bahagia akan apa yang dia rencanakan berjalan lancar.
"antarkan aku melihat wanita itu…" ucap nyonya Meli dengan nadanya yang sedikit menahan rasa kesalnya.
"mari tante." ajak Rania yang berjalan lebih dulu dan di susul oleh nyonya Meli.
__ADS_1
Mereka berdua berjalan ke dalam lift yang akan membawa mereka ke lantai paling atas dimana kamar apartemen Bryan berada, mereka terus menyusuri lorong menuju ke kamar tersebut.
Saat di depan kamar Bryan Aldevaro, dengan gerakan cepat Rania menekan bel apartemen Bryan, dua kali di tekan dan tidak ada jawaban dari dalam maupun tidak ada yang membuka pintu apartemen tersebut.
'bagaimana mau cepat membuka pintunya, mereka pasti sedang bersenang-senang di dalam? atau sedang kalang kabut menyembunyikan diri mereka, yang sedang bermain bersama.' gumam Rania di dalam hatinya seraya diam-diam tersenyum tipis.
Rania dengan sabar menekan bel kamar apartemen tersebut, dan tidak ada jawaban sama sekali dari dalam.
"mengapa tidak ada jawaban Rania?" tanya heran nyonya Meli melihat ke arah Rania.
"tidak tahu tante…benar kok tadi aku melihat mereka masuk ke kamar ini berdua saja, dengan kondisi Lusi yang sedikit mabuk tante…mungkin ada sesuatu yang sedang mereka lakukan di dalam…"ucap Rania menekan dengan sengaja kata-kata terakhirnya.
"sehingga membuat mereka lama untuk membukakan kita pintu ini." ucap Rania kembali ingin memanas-manasi nyonya Meli, dan Rania berhasil karena terlihat dari wajah nyonya Meli yang semakin memerah menahan amarahnya.
Semakin memburu nyonya Meli yang menekan bel kamar tersebut, karena dia sudah tidak sabar untuk membuat perhitungan dengan Lusi yang sangat di puja-puja oleh sang putra, dan nyonya Meli tidak terima sang putra di permainkan oleh wanita jalang seperti Lusi, itu yang ada di dalam pikiran nyonya Meli saat ini, karena terbakar akan provokasi dari Rania.
Beberapa saat kemudian, pintu yang tadinya tertutup kini terbuka oleh seorang pria yang terlihat segar dan tampan dengan hanya memakai baju santai, dan terlihat baru saja mandi karena rambut yang masih basah.
Bryan menatap heran pada dua wanita beda usia yang ada di depan pintu kamar apartemen nya, dan Bryan sangat mengenal kedua wanita yang ada di hadapannya ini.
"ada yang bisa aku bantu…?" tanya Bryan mencoba ramah.
"di mana wanita itu?" tanya nyonya Meli tidak ingin berbasa-basi.
"wanita…? wanita siapa?" tanya heran Bryan seraya mengerutkan keningnya.
"jangan banyak bicara dan jangan coba-coba menyembunyikan dia lagi." balas nyonya Meli, sedangkan Rania hanya diam menyaksikan apa yang dia rencanakan.
Rania berpikir bahwa apa yang dia rencanakan berhasil? karena melihat penampilan Bryan yang terlihat segar habis mandi dengan rambut yang masih basah, Rania berpikir kalau Lusi dan Bryan baru saja melakukan aktivitas yang menyenangkan, karena aktivitas itu saja yang bisa menyembuhkan Lusi dari pengaruh obat perangsang.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.