Takdir Atau Hidupku

Takdir Atau Hidupku
Episode 60 Pengakuan Nico.


__ADS_3

***Hotel R.W.C***


…Kamar lusi…


Nico mengajak Lusi untuk masuk ke dalam kamar yang sudah di pesankan Nico untuk Lusi, sebuah kamar presiden suite sama seperti yang di tempati oleh Nico.


Lusi terkejut dan bertanya pada Nico,apa tidak salah dengan kamarnya?


"kak ini ngak salah kan?" tanya Lusi yang terkejut dengan kamar mewah yang akan dia tempati dan sangat jauh berbeda dari kamarnya saat berada di hotel Wirajaya, yang hanya kamar standar.


"iya ini kamarmu? kenapa apa kau tidak puas?" tanya Nico heran apa dirinya membuat Lusi kecewa dengan kamar pilihannya.


"bukannya tidak puas kak, ini berlebihan dan sangat besar untukku, aku cukup kamar standar saja." ucap Lusi yang tidak enak hati karena di pesankan kamar super mewah untuknya.


"ini tidak berlebihan ini pantas untukmu." balas Nico tersenyum yang mendengar ucapan merendah Lusi.


"tapi kak...?"


"sudahlah..cepat kau mandi dan kita akan makan malam bersama di kamarku, oke..?" balas Nico memotong bicara Lusi dan segera berlalu dari kamar Lusi.


Lusi hanya bisa tersenyum pasrah dan berterima kasih dalam hati, sudah di perlakukan baik oleh Nico yang Lusi anggap seorang kakak laki-laki untuknya.


Pria asing pertama yang Lusi izinkan dan merasa nyaman bila di peluk dan di sayangi, bahkan Lusi sadar bahwa mereka tidak ada hubungan darah sama sekali, tetapi karena Nico yang memang memiliki hati yang tulus menganggap Lusi sebagai adik perempuannya yang membuat Lusi nyaman dan dekat dengan Nico.


Lusi segera mengunci pintu kamarnya dan berlalu masuk ke dalam kamar mandi untuk melakukan rutinitas mandinya dan ingin berendam air hangat agar bisa merilekskan tubuh dan pikirannya, karena hari ini hari yang sangat berat baginya.


......................


Lusi merasa tubuhnya segar kembali setelah mandi, lusi menuju ke kamar Nico dengan di jemput oleh sang supir sekaligus bodyguard Nico yang bernama Deo Gusnandi.


…Deo Gusnandi…


Deo blesteran Indonesia Inggris, berusia 30 tahun, pria tampan dan berpostur tubuh tinggi, Deo lahir di Indonesia tetapi besar di Inggris bersama sang nenek, saat umur Deo 12 tahun kedua orang tuanya telah meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas saat akan melakukan perjalanan bisnis, Deo memiliki seorang adik perempuan yang juga tinggal di inggris dan saat Deo berusia 25 tahun sang nenek pun meninggal karena sakit, sekarang hanya tinggal dirinya dan sang adik saja.


Sang adik juga bekerja di tempat yang sama dengannya dan menjadi sekretaris Nico, namanya Grazia Gusnandi, akrab di panggil Zia dan berusia 23 tahun, Zia sangat jenius di usia mudanya sama seperti Lusi.


Kamar Nico juga terdapat ruang makan kecil yang berisi lima kursi, di atas meja makan sudah tersedia berbagai macam jenis makanan.


Mereka berlima duduk di meja makan bersama, Nico, Erick, Lusi, Deo, dan zia. Nico tidak pernah membeda-bedakan mereka, karena mereka adalah rekan kerja yang membedakan mereka hanyalah posisi jabatan kerja masing-masing.


Mereka makan bersama dengan lahap dan bahagia, sampai semua makanan di atas meja habis tanpa tersisa, Lusi bahagia memiliki teman di saat hatinya sedang gundah akibat masih kepikiran dengan hasil tes DNA tadi pagi.


Selesai makan mereka duduk di ruang tamu untuk menikmati sedikit cemilan dan minuman hangat sembari berbincang.


beberapa saat kemudian terdengar ponsel Lusi berdering, Lusi melihat dan itu panggilan dari Bryan.


"haloo...!" sapa Lusi pada Bryan.

__ADS_1


"haloo sayang kamu di mana?kenapa resepsionis bilang kamu sudah check out?" sapa dan tanya Bryan pada Lusi.


"maaf Bryan aku tidak kasih tahu kamu kalau aku sudah pindah hotel, karena tidak ingin di awasi lagi oleh mata-mata kamu dan Ardian." balas Lusi yang membuat Bryan terkejut karena ternyata lusi sudah tahu dan sadar bahwa dia di awasi oleh anak buahnya, untuk menjaga keselamatannya.


"bagaimana kamu tahu kalau kamu di awasi?"


"aku hanya tahu saja dan aku sudah curiga itu."


"baiklah, maafkan aku...aku hanya ingin menjaga keselamatanmu."


"aku tahu niat darimu tapi aku tidak suka dan merasa tidak bebas, aku merasa terkekang, aku bisa menjaga baik diriku."


"mafkan aku lusi...aku mohon kau bisa mengerti maksudku dan bisa memaafkan aku."


"iya aku mengerti tapi aku harap kamu tidak mengulanginya lagi."


"iya aku janji tidak akan mengulanginya lagi."


"bisa aku tahu kamu pindah di hotel mana?" tanya Bryan lagi pada Lusi.


"aku belum bisa memberitahukannya padamu, aku hanya ingin sendiri dulu, besok kalau aku sudah siap aku akan beritahu kamu, kamu bisa mengertikan?"


"iy tentu saja yang penting kamu baik-baik saja kan?"


"aku baik..kamu jangan khawatir, aku hanya ingin sendiri saja agar pikiranku bisa sedikit tenang."


"iya Bryan aku tahu, selamat malam Bryan dan sampai ketemu besok." ucap lusi dan hubungan telponpun terputus.


Lusi memandang layar ponselnya, dia bergumam dalam hati 'maafkan aku Bryan, terima kasih selalu mengerti keadaanku dan selalu ada untukku di saat aku perlu teman di tempat asing ini.'


"siapa lusi?" tanya Nico melihat Lusi memandang layar ponselnya.


"itu tadi bryan." jawab lusi apa adanya.


"Bryan....?"


"iya Bryan Aldevaro, kakak pasti tahu karena dia pembisnis yang baru datang dari Inggris."


"oooo iya aku tahu dia.."jawab Nico yang saling melempar pandang dengan tuan Erick.


Nico ingin memberitahukan sesuatu kepada Lusi tentang pekerjaannya, Lusi sama sekali tidak tahu kalau Nico bekerja di mana? Lusi tidak pernah bertanya karena itu menyangkut privasi, Lusi tidak ingin memaksa bila orang tersebut tidak ingin memberitahukannya langsung.


"Lusi ada yang ingin kami sampaikan padamu."


"ada apa kak?"


"apa kau masih ingat saat aku dan tuan Erick meminta bantuanmu, membantu kami menyelidiki situs website virus yang tidak di kenal yang menyerang program komputer perusahan tempat kami bekerja, kau ingat?"

__ADS_1


"Oya aku ingat, apa situs website virus itu menyerang lagi?"


"tidak...kamu tahu perusahaan apa yang kamu bantu itu, maksudku kamu tahu kami kerja di perusahaan apa?" tanya Nico melihat Lusi mengerutkan keningnya melihat kami satu persatu.


"tidak...memangnya perusahaan apa?" jawab Lusi geleng-geleng kepala.


"kami bekerja di perusahaan Faresta Group." jawab Nico yang membuat Lusi terkejut, karena baru tadi siang Lusi mendengar kehebatan perusahaan Faresta Group yang di bicarakan oleh tiga perusahaan besar seperti, Wirajaya Group, Adhitama Group dan Aldevaro Group.


"jadi kalian datang ke pertemuan karena kalian bekerja di Faresta Group? Faresta Group yang bekerjasama dengan perusahaan Wirajaya Group, Adhitama Group, dan Aldevaro Group?" tanya Lusi ingin memperjelas.


"iya kami dari Faresta Group." jawab Nico sembari menganggukkan kepalanya.


"kalian bekerja di perusahaan raksasa dan aku pernah membantu kalian." tanya Lusi yang masih tidak percaya.


"kak Nico bekerja sebagai apa di perusahaan itu?" tanya Lusi curiga yang memicingkan matanya.


"aku wakil presdir Faresta Group, tuan Erick direktur kepercayaan presdir Faresta Group, Deo asisten pribadiku sekaligus bodyguard dan supir khususku, dan Zia sekretaris Faresta Group."


penjelasan dari Nico benar-benar membuat Lusi tidak percaya bertemu dengan wakil presdir Faresta Group yang susah untuk di temui oleh orang yang ingin bekerjasama dengan Faresta Group, dan Lusi sangat dekat dengan sang wakil presdir Faresta Group yang misterius.


"ini benar-benar membuat ku terkejut kak Nico, kau wakil presdir Faresta Group yang misterius itu? yang sangat susah di temui oleh pengusaha yang ingin bekerjasama dengan Faresta Group." tanya Lusi yang masih belum percaya dengan pendengarannya akan penjelasan Nico.


"Iya Lusi." jawab tegas Nico.


"kami ada alasan di balik semua itu, aku tidak bisa sembarangan menerima dan bertemu dengan orang lain, karena akan berakibat fatal bagi tuan R.M."


"Tuan R.M ? apa benar tuan R.M itu presdir nyata Faresta Group?"


"tentu Lusi...beliau nyata Presdir Faresta Group, kenapa kau ragu dan berkata begitu?" tanya heran Nico.


"aku cuma mendengar dari atasanku dan rekan bisnisnya, kalau tuan R.M dan keluarganya tidak pernah muncul di publik, kenapa seperti itu? apa kakak pernah bertemu tuan R.M?" tanya Lusi yang penasaran.


"tentu aku pernah bertemu dengan beliau dan kami masih sering berhubungan walaupun melalui telpon atau video call." jawab Nico apa adanya.


Nico tidak bisa berbicara terlalu banyak pada Lusi tentang tuan R.M karena itu masih rahasia yang harus tetap di jaga, dia akan memberitahukan Lusi seperlunya saja, agar Lusi bisa mengerti, ada rencana yang akan di lakukan Nico dan tuan Erick kepada lusi?


Rencana apa itu? nantikan kelanjutannya ya...


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya....


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.

__ADS_1


__ADS_2